
Di ruang UGD rumah sakit. Nervan Nampak mondar mandir saat sang Papi dan Mami tiba. Sudah satu jam Crystal dalam penanganan dokter. Crystal yang tadi jatuh segera mereka larikan ke rumah sakit.
Papi Harsyal pun ikut mengantar dengan khawatir. Ia nampak duduk di bangku tunggu, tanpa bicara. Tatapan kebencian dari Zafier jelas sekali saat melihat Ayahnya.
"Van, bagaimana keadaan Cysa?" tanya Mami.
"Masih belum tahu Mih, dokter tidak mengizinkan Evan ikut ke dalam. Tadi Cysa meringis kesakitan juga menangis Mih." Mata Nervan nampak berkaca-kaca.
"Papi tidak mengerti Van! apa yang terjadi sebetulnya? tadi Papi telepon kamu bilang lagi di Bandung dan Cysa? tidak sedang bersama mu Kan?" tanya Papi Aarlic.
Nervan menghela napas berat. Akhirnya kebohongan terbongkar sudah. "Asal kau tahu! anak kesayangan mu itu telah berbohong! dia melarikan Anak ku."
Papi Harsyal tiba-tiba saja menyahuti pertanyaan Papi Aarlic pada Nervan dengan nada tinggi.
Papi Aarlic nampak terkejut, lalu tatapannya beralih kepada Nervan, meminta penjelasan. Nervan paham akan itu.
"Evan minta maaf Pih! Evan berbohong tentang ke Bandung itu. Pekerjaan di Bandung di handle Rendy dan Tio. Sudah lima belas hari, Cysa bersama Evan. Aku membawa Cysa pergi, karena merasa kasihan dengan Cysa, dia tertekan, Pih! Evan khawatir terhadap Cysa dan juga kandungannya. Setelah Cysa melahirkan Evan akan memberikan dia pilihan. Tetap bersama Evan atau kembali bersama orang tuanya," Tutur Nervan.
Papi Aarlic tidak bisa berbuat apapun. Toh mau marah pun kejadiannya sudah berlalu. Mau menyalahkan Nervan pun percuma. Ia mengerti kekhawatiran sang Putra.
"Jika ada apa-apa dengan Crystal. Kamu harus bertanggung jawab!" Papi Harsyal berdiri. Dengan emosi yang sedikit naik, ia menunjuk Nervan.
"Papi! jangan lupa, siapa yang menyebabkan Cysa jatuh! itu Papi!" sentak Zafier, tidak ada lagi rasa hormat pada sang Papi.
"Jika laki-laki ini dan kamu tidak membawa Crystal pergi. Kejadian ini belum tentu terjadi." Ketus Papi Harsyal.
"Jangan mangkir dari kesalahan sendiri dan melimpahkannya kepada orang lain. Tindakan Papi selama ini telah salah dan menyakiti Crystal." ucap lantang Zafier.
"Jangan makin kurang ajar kamu Fier, terhadap Papi mu sendiri." sentak Papi Harsyal.
"Nak Zafier, Syal, cukup! jangan bergaduh, ini rumah sakit. Aku minta maaf atas nama anakku. Mari berdoa sama-sama agar Crystal dan calon cucu kita baik-baik saja." Papi Aarlic menengahi.
"Evan minta maaf Om! setelah ini Evan akan kembalikan Cysa pada Om."
"Ahhaahaha, setelah kamu merusaknya?" Cibir Papi Harsyal.
"Brengsek, lu Van! maksud lo akan menyerah begitu saja, setelah semua usaha yang kita lakukan?" kali ini Zafier naik pitam saat mendengar Nervan akan menyerahkan Crystal pada sang Papi.
__ADS_1
"Bukan begitu Kak-"
"Keluarga Pasien atas nama Crystal!" kata-kata Nervan terhenti sebelum selesai saat salah satu dokter keluar dari ruang UGD.
"Saya suaminya, Dok!" Nervan segera menghampiri dokter.
"Saya Ayahnya, Dok!" Papi Harsyal pun ikut menghampiri dokter.
"Baik! mari ikut ke ruangan saya."
"Ada hal serius, Dok?" tanya Nervan karena penasaran.
"Kita bicara di ruangan saya." tandas dokter.
Nervan dan Papi Harsyal pun menuju ruangan dokter. Kini semuanya sudah duduk menghadap ke arah dokter yang terhalang meja.
"Jadi begini, pasien Crystal mengalami kontraksi rahim pada usia kehamilan ke 31. Kami masih menghentikan darah yang keluar, Istri Anda mengalami stress sepertinya. Janin mengalami penurunan detak jantung. Kami harus segera mengeluarkannya dengan jalan operasi." Dokter menjelaskan dengan logika, apa yang sekiranya di mengerti keluarga pasien.
"Operasi Dok?" tanya Nervan.
"Iya, kami khawatir akan keselamatan keduanya. Maka dari itu terpaksa harus melakukan operasi dan kemungkinan besar saat bayi lahir pun, akan mengalami Preterm Birth." Jelas Dokter.
"Ma-maksudnya bayi prematur Dok?" tanya Papi Harsyal.
"Ya, seperti itu. Pak!" jawab dokter.
Akhirnya setelah adanya persetujuan dari pihak keluarga, Terutama Nervan selaku Suami. Maka telah di putuskan bahwa Crystal akan melahirkan dini, lewat jalan operasi.
Nervan dan Papi Harsyal baru saja keluar dari ruangan Dokter. Mami Angelita sudah berada di ruang tunggu, bergabung dengan Mami Nervan, Papi Aarlic dan juga Zafier serta Verline.
"Papi, apa kata dokter?" Mami Angelita menghampiri Nervan dan juga Papi Harsyal, sepertinya ia sudah tahu, Papi dan Nervan sedang berada di dalam ruangan dokter dan dokter sedang berbicara kepada mereka, mengenai kondisi Crystal.
Pada akhirnya Nervan menjelaskan tentang apa yang dibicarakan oleh dokte, bahwa Crystal harus menjalani operasi untuk melahirkan dini.
"Papi keterlaluan! Crystal seperti ini, karena Papi yang menyebabkannya."
"Bukan Papi, dengarkan dulu!" lagi-lagi Papi Harsyal menampik dan membela diri.
__ADS_1
"Mami kecewa terhadap Papi!" pekik Mami lalu Mami Angelita menangis sesenggukan dan Papi Harsyal mencoba menenangkannya. walaupun tidak mengakuinya, rasa bersalah nampak dari raut wajah Papi Harsyal.
Nervan di izinkan melihat Crystal sebelum dilakukan operasi. Kini Nervan sudah berada di hadapan Crystal.
"Sayang!" Nervan tidak banyak bicara, ia langsung mengecup pucuk kepala Crystal.
"Mas, perut ku sakit." keluh Crystal, air matanya meleleh ke samping wajahnya.
"Sabar ya, Sayang! sebentar lagi dokter akan membantu mengeluarkan anak kita."
"Maksud, Mas?" tanya Crystal.
"Dokter akan mengoperasi mu, tolong kuat ya! Insya Allah Sayang bisa, kamu pasti kuat. Aku akan menemanimu di luar ruangan."
"Aku takut, Mas!"
"Tidak perlu takut, Sayang! bayangkan, esok hari kamu akan menggendong bayimu, karena Kamu sudah menjadi Ibu, Begitupun aku, aku akan menjadi Ayah. Sesuai angan-angan kita dalam beberapa bulan lalu." Bujuk Nervan dengan tersenyum.
"Ia Mas! doakan kami berdua baik-baik saja." pinta Crystal.
"Tentu, Sayang!" Nervan kembali mengecup kening dan bibir Crystal.
Crystal sudah di dalam ruangan operasi dan sepertinya operasi pun sudah mulai di lakukan.
Suasana tegang pun terjadi di luar ruangan operasi. Terlebih Nervan, rasa khawatir menjadi satu dengan kesedihan.
Setelah lima jam berjalan dengan lambat, ketegangan bukan mereda. Mereka melihat beberapa perawat dan dokter Obgyn masuk ke dalam ruangan operasi. Terdengar oleh Nervan dan semua orang. Bahwa dokter tersebut mengatakan "Kita harus menghentikan pendarahannya!"
Nervan dan keluarga tidak tahu harus berbuat apa? mau bertanya pun, dokter yang menangani Crysta, belum keluar dari ruang operasi.
"Ya Rabb! tolong selamatkan Istri dan Anak Hamba." Doa Nervan di dalam hati.
Nervan yakin di dalam sana, Crystal sedang mengalami maslah cukup serius. Sayang sekali ia tidak diperbolehkan menemaninya.
Di dalam ruang operasi.
Dokter bedah dan dua dokter Obgyn serta seorang dokter ahli lainnya, sedang berusaha menangani Crysta yang mengalami pendarahan hebat usai melahirkan. Anak yang Crystal lahirkan dengan jalan melahirkan darurat, kini sedang di tangani dokter dan juga suster.
__ADS_1
Detak jantung Bayi Crystal dan Nervan sempat berhenti untuk beberapa saat. Maka dari itu, di dalam ruangan operasi tersebut, sedang terjadi ketegangan yaitu menyelamatkan si ibu dan juga menyelamatkan nyawa bayi yang baru saja dilahirkannya.
Bersambung...