Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
78. Ijab Qobul Kembali.


__ADS_3

"Maafkan Papi!" kata pertama yang terlontar dari mulut Papi. Crystal, Nervan, Zafier merasa terkejut namun, setelahnya mereka tersenyum.


Crystal merenggangkan pelukannya dari Nervan, Zafier menghampiri sang Papi. "Kak Maafkan Papi? Pipi khilaf." ucap Papi Harsyal sekali lagi, ditujukan kepada Zafier.


"Sudahlah Pih. Seharusnya Papi meminta maaf pada Cysa dan Nervan. Bukan padaku, karena yang terdzolimi dan tersakiti di sini adalah Crystal bersama Nervan." Zafier mengingatkan sama Papi.


"Tentu Nak!" Papi Harsyal mulai merendahkan tubuhnya tidak ada yang menyangka apa yang akan dilakukannya, hingga kedua lututnya menyentuh lantai kamar hotel. Papi Harsyal berlutut di hadapan Crystal dan Nervan


"Maafkan Papi sekali lagi!" ujar Papi Harsyal dengan nada penyesalan.


"Papi ... tidak begini." pekik Crystal berusaha meraih tangan sang Papi agar berdiri. Nervan mundur beberapa langkah. Ia pun tidak mau mertuanya melakukan itu, berlutut di hadapannya untuk meminta maaf.


"Kemarilah Nak!" ucap Papi Harsyal Kepada Nervan. kali ini Papi Harsyal sudah terdiri, atas permintaan Crystal yang memaksanya untuk berdiri.


Dengan ragu, Nervan berjalan menghampiri Papi mertuanya, yang kini tengah merangkul Crystal.


"Mungkin ini terlambat! atau tidak pantas. Akan tetapi, Papi harap kamu mau memaafkan Papi." ucap Papi Harsyal, "mulai saat ini, Crystal Papi serahkan padamu. Papi merestui pernikahan kalian namun, jika boleh Papi meminta, maukah kamu kembali menikahi Crystal di hadapan Papi. Berikan kesempatan kepada Papi untuk menjadi walinya."


Nervan menganga tidak pernah. "Bagaimana Nak?" tanya Papi Harsyal kembali.


"Saya sudah memaafkan Anda O-om, ma-maafkan Saya juga, telah menikahi Putri Anda tanpa persetujuan Anda. Saya akan menikahi Crystal kembali dengan Om, sebagai walinya." Nervan betul-betul tidak tahu harus bicara sesantai apa? karena saat ini, ia nampak kaku sehingga bicara begitu formal.


Papi Harsyal menghampiri Nervan.


"Panggil aku Papi." tegas Papi Harsyal dengan menatap Nervan penuh kesungguhan. Nervan menelan salivanya, ia berusaha menyiapkan diri. Lalu ia menyebut kata Papi dengan tergagap.


"Pa-Papi ...." ucapnya Nervan. Papi Harsyal tersenyum haru, lalu ia merangkul Nervan.


Semua orang yang ada di kamar hotel itu merasa terharu, terlebih Crystal. Akhirnya Crystal dan Zafier ikut memeluk mereka berdua.


Beberapa menit setelah kekacauan itu di rapikan, Papi Harsyal, Nervan, Zafier, penghulu dan beberapa saksi sudah saling berhadapan sebuah meja panjang. Papi Harsyal menjabat tangan Nervan di hadapan sang penghulu.


Video call dari ponsel Zafier tersambung ke ponsel Mami Angelita. Mereka menyaksikan yang terjadi di layar ponsel dengan haru.


Lalu sang Papi mengucapkan ijab untuk putrinya, saat ijab selesai Papi ucapkan, makan dengan satu tarikan nafas Nervan menyambutnya dengan qobul.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Crystal Lunara Ryzer binti Bapak Harsyal Ryzer dengan mas kawin teresebut di bayar tunai."

__ADS_1


Mereka saling pandang. Hingga pada akhirnya ...


SAH!


Kata Sah bergema di kamar hotel tersebut dari para saksi dan lainnya. Crystal menitikan air mata. Ia dari setadi duduk di sisi tempat tidur. Ijab qobul yang amat sederhana. Namun, tidak mengapa. Yang terpenting, orang yang ia cintai yang menikahinya di hadapan sang Papi sesuai impian mereka.


Terdengar doa dari sang penghulu, lalu dilanjutkan oleh seorang Ustadz. kini semua rangakaian ijab qobul selesai sudah. Papi meminta maaf kepada sang istri atas kesalahannya lewat telepon, sebelum meminta maaf secara sungguhan nanatinya.


Tiga puluh menit kemudian, semua orang sudah membubarkan diri dari kamar tersebut. Termasuk sang Papi dan Zafier yang pergi ke kamar lain. Orang tua Nervan, Mami Angelita, Verline serta Akhtar sedang di dalam perjalanan menuju hotel yang berada di Sukabumi, yaitu tempat untuk nanti di adakannya resepsi pernikahan Crystal dan Nervan.


Kini di kamar tersebut hanya menyisakan Crystal dan Nervan duduk berdampingan di sisi tempat tidur dengan canggung. sesekali mereka saling melirik dengan tersenyum kikuk. Aneh, mereka seperti baru saja bertemu.


"Ahahhaha ... aku belum percaya, kalau Papi sudah merestui kita dan kini kita kembali menikah. Sayang, ini mimpi ya?" tanya Nervan dengan tertawa sebelumnya, ia merasa lucu dengan kejadian baru saja.


"Ini betulan Mas! kita memang menikah kembali, dihadapan Papi dengan restunya." jawab Crystal dengan tersenyum ke arah Nervan.


"Astaghfirullahaladzim!" harus melalui drama seperti inikah, untuk menikah?" tanya Nervan pada Crystal dengan mimik yang lucu.


"Maka dari itu, jika Mas mau menyeleweng, ingat kesulitan ini. Mungkin itu sebagai peredam, agar Mas tidak berselingkuh." ujar Crystal dengan memiringkan wajahnya menatap Nervan.


"Apa sih kamu? enak saja! aku ingin setia padamu, sampai akhir hayat kita." tegas Nervan.


"Sama-sama, Sayang!" Nervan membalas pelukan Nervan. "Kamu cantik, Sayang!" Nervan menatap intens wajah cantik Crystal yang kini makin bertambah cantik, efek makeup dan Crystal tersenyum malu.


Nervan mendekati bibir Crystal, ia mendaratkan bibirnya lalu menyesap bibir istrinya dengan perlahan namun, pasti. Nervan meraba dan menarik lembut tengkuk Crystal untuk memperdalam ciumannya.


Kini Nervan membawa Crystal ke atas tempat tidur. Kembali mencumbui Crystal dengan apik di atas kasur itu. Memasuki Nduk Jhen dengan perlahan namun, pasti pada akhirnya. Maka siang itu, pengantin lawas yang kini telah di perbarui itu, kembali melakukan hal yang harusnya di lakukan. Memadu asmara di siang hari. Maka ******* dan erangan dari mulut mereka pun terdengar memenuhi kamar hotel tersebut.


***


Orang tua Nervan, Mami Angelita, Verline serta Mbak Muti, sudah sampai di Sukabumi, sebelum acara resepsi dimulai.


Nervan menyambut kedatangan mereka di lobby hotel, ia langsung menggendong Akhtar. "Hai, Sayang! Papa rindu."


Baby Akhtar berceloteh, saat Nervan bicara padanya. Entah ia bicara apa dengan bahasa bayinya. Yang pasti membuat Nervan gemas. Ia mengecupi dan sedikit mengigit pipi bakpao itu.


"Ditunggu Papi di restoran Pih, Mih, Mam." ujar Nervan dan mereka pun mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya Nervan mengantarkan kedua orang tuanya dan Mami mertuanya ke restoran di mana Papi Harsyal sedang menunggu mereka.


Mereka sampai di restoran, Zafier pun ada di sana. Hanya Crystal yang tidak ada di restoran, karena ia sedang istirahat di kamar. Sebentar lagi ia akan kembali di rias. Terjadi tatapan yang tidak mereka mengerti dari dua sahabat lama yang belum lama ini terlibat ketegangan, kini mereka bertemu kembali dalam suasana lebih baik.


"Aarlic! maafkan aku." Papi Harsyal langsung menghampiri Papi Aarlic dan memeluknya.


"Sama Syal! Maafkan aku juga. Terima kasih sudah menerima anakku sebagai menantumu."


"Memang sudah sepantasnya anakku mendapatkan seseorang sebaik anakmu. Aku tahu dia tulus, orang tua kita tidak salah dalam menjodohkan mereka," ucap Papi Harsyal.


"Jangan pergi lagi Syal! kita harus kembali bersahabat hingga maut memisahkan dan persahabatan kita ini sekarang sudah menjadi keluarga." Pinta Papi Aarlic dengan memohon.


"Tentu!"


Kedua sahabat itu, akhirnya berpelukan mereka larut dalam tangisan, disaksikan anak dan juga istri mereka.


Akhtar ikut menangis, sehingga mengalihkan perhatian Papi Harsyal.


"Cucuku!"


Papi Harsyal menghampiri Akhtar yang ada di dalam gendongan Nervan. "Boleh Papi gendong Van?" tanya Papi Akhtar.


"Boleh Pih! Sayang di gendong Grandad ya." ucap Nervan kepada Akhtar dan Akhtar seakan mengerti, ia berhenti menangis lalu berusaha menggapai Papi Harsyal dengan tangan mungilnya.


"Masya Allah, cucuku." Papi Harsyal segera mengambil Akhtar dari gendongan Nervan. Akhtar nampak nyaman di dalam gendongan Kakeknya.


"Tuh Pih lucu kan?" goda Mami Angelita.


"Ia Mih, menyesal Papi tidak menyadari ini dari sejak awal. Maafkan Grandad, Sayang! Grandad hampir saja menghilangkan nyawamu." Papi Harsyal mengecupi pipi gembil Akhtar.


"Mih! maafkan Papi." ucap Papi Harsyal.


"Sudahlah Pih! semua sudah berlalu bersyukur Papi dapat terselamatkan dari kebodohan, sebelum semuanya terlambat." Balas Mami Angelita dengan tersenyum manis ke arah suaminya. " lalu bagaimana dengan mereka?" tanyanya.


"Sudah dibawa ke kantor polisi. Tadi Papi sudah memberikan keterangan sebagai korban, dan Zafier memberikan keterangan sebagai saksi. Karena hari ini adalah hari kebahagiaan putri kita, maka semua Papi limpahkan kepada pengacara kita, tinggal menunggu hasil akhirnya saja. Sepertinya proses akan mudah, karena bukti-bukti sudah lengkap. Berkat Zafier, Mih!" ujar Papi Harsyal.


"Syukurlah Pih. Harus berterima kasih nih sama Kakak. Loh mana dianya?" Mami Angelita mengedarkan pandangannya, mencari Zafier. Namun, Zafier tidak ada di tempat itu. Verline pun turut tidak ada, berarti mereka sudah pergi dari situ. Sepertinya Zafier mengajak Verline untuk di rias di kamar Crystal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2