
Pukul tiga sore lewat dua puluh menit. pengantin baru saja turun dari kamar hotel, menuju ballroom tempat resepsi. keduanya nampak tampan dan cantik, Crystal dengan balutan gaun resepsi yang indah. sedangkan Nervan berbalut tuxedo yang membuatnya tambah gagah.
Senyum tidak luntur dari keduanya, para tamu sudah mulai berdatangan. Sepertinya Papi Harsyal menambahkan undangan dadakan lewat media online.
Akhtar pun sudah berpakaian rapi dengan tuxedo kecil, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang lucu. Dia tidak rewel, justru ia terus berceloteh dalam gendongan yang bergantian antara kakek-neneknya Granny dan Grandadnya, serta Om dan tantenya. Mbak Muti juga turut serta, dia ada antara mereka dengan gaun baru, Crystal yang meminta para perias menyiapkannya. Ia sudah siap untuk menjaga Akhtar jika ia rewel.
"Sayang kamu cantik sekali. Selamat ya ... Mami turut bahagia atas pernikahan mu." Mami Angelita memeluk Crystal.
"Terima kasih Mami. Semoga rumah tangga Cysa ke depannya jauh lebih baik." ucap Crystal.
"Aamiin."
"Sayang! selamat, maafkan Papi sekali lagi. Hampir saja, Papi merenggut kebahagiaan mu." Papi Harsyal pun memeluk Crystal.
"Terima kasih sudah menerima mas Evan. Selain Mami, papih dan Kak Zafier, dia adalah kebahagiaan untuk Cysa Pih!" Crystal memeluk Papinya.
"Tentu Sayang! semoga rumah tangga kalian langgeng dan bahagia terus." ucap Papi Harsyal, lalu ia beralih memeluk Nervan.
"Aamiin ...." ujar Crystal.
"Van! Papi tahu, kamu akan selalu membahagiakan Crystal. Papi titip Crystal."
"Insya Allah, Pih! aku akan selalu membuat Putri Papi bahagia. Bukan hanya Papi, yang menitipkan Cysa kepadaku. Ada kakek nenek kami juga yang turut andil di dalamnya, atas perjodohan yang mereka telah ucapkan dahulu. Maka dari itu, Tuhan mendengarnya. Tanpa sengaja kami bertemu hingga seperti telah diatur kami menikah pada hari itu. Maka Evan akan selalu menghargai pernikahan dadakan kami, hingga maut memisahkan."
Nervan dan Papi Harsyal kembali berpelukan. setelahnya, Orang tua Nervan, Mami Angelita, Zafier dan Verline, serta Mbak Muti memberikan selamat kepada mereka.
Pada akhirnya di berikanlah kesempatan untuk para tamu yang semakin banyak memadati ballroom hotel tersebut, untuk naik ke pelaminan dan mengucapkan selamat.
Acara resepsi berakhir pada pukul sembilan malam, targetnya hingga pukul enam sore, akan tetapi banyaknya tamu undangan yang antusias datang, membuat mereka menambahkan jadwal penerimaan tamu undangan tersebut, dengan menambah sewa gedung.
Pukul sepuluh malam.
Nervan dan Crystal sudah berada di kamar hotel. Kini keduanya, sudah merebahkan tubuh di atas tempat tidur Setelah berganti pakaian.
"Akhtar bersama siapa, Sayang?" tanya Crystal.
"Sepertinya bersama Mami dan Papi mu. Dia langsung lengket pada Papi mu!" jawab Nervan dengan memeluk tubuh Crystal.
"Biarkan saja! Papi harus tahu merawat Akhtar." ujar Crystal.
"Ia tapi, sepertinya mereka tidak keberatan! malah mereka senang. Kamu sudah memonpa Asimu? untuk malam ini?" tanya Nervan
"Sudah Mas! tadi diambil Mbak Muti."
"Okelah, mari istirahat! besok pagi kita harus kembali ke Jakarta dan mempersiapkan diri untuk berbulan madu."
"Bulan madu, Mas?" tanya Crystal.
"Iya, Papi kamu sudah menyiapkan tiket pesawat ke Swiss. Kita akan berbulan madu di sana." jawab Nervan.
__ADS_1
"Lalu Baby Akhtar?" tanya Crystal terdengar khawatir.
"Mereka menyuruh kita meninggalkannya, Katanya kita disuruh membuat yang baru dan Akhtar akan di kuasai oleh keempat orang itu." jawab Nervan, maksudnya adalah orang tua mereka.
"Hahaha .... bisa-bisanya! enak betul itu nenek-nenek dan kakek-kakek tinggal mendapatkan kelucuan Akhtar. Aku yang selama ini merawatnya siang malam."
"Entahlah, kita disuruh membuat lagi katanya lima sekaligus, Sayang!"
"Gila ... jebol aku, Mas!"
Akhirnya mereka tertawa bersama, kemudian mereka berdoa dan tidur, mereka harus menyiapkan stamina diri, untuk pergi berbulan madu ke Swiss.
Keesokan harinya, setelah melewati perjalanan dari Sukabumi ke Jakarta. Crystal dan Nervan istirahat sejenak di rumahnya, melepas rindu dengan Baby Akhtar yang akan ditinggal pergi. Sore harinya mereka terbang ke Swiss untuk berbulan madu. Orang tua mereka tinggal di rumah Nervan, agar semuanya kebagian merawat akhtar.
Papi Harsyal dan Papi Aarlic begitu menikmati kebersamaan mereka. Kebersamaan yang telah lama hilang, kini kembali. Mereka melakukan aktivitas bersama, dari mulai olahraga pagi, makan bersama, hingga pergi ke kantor bersama-sama.
Mereka terkadang tertawa saat bercerita tentang kelucuan mereka, dalam pertengkaran. Terlebih saat kemarin ketegangan terjadi.
Mami Nervan dan Mami Angelita pun turut bahagia, mereka berdua secara bersama-sama merawat rumah dan Akhtar saat siang hari. memasak untuk para suami saat pulang kerja.
Kebersamaan itu mereka nikmati, sedangkan Zafier sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Verline, karena saat Nervan dan Crystal pulang dari berbulan madu, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.
"Harusnya dari dulu seperti ini, menikmati kebersamaan ini." ujar Papi Harsyal di sela santai bersam para istri malam ini.
"Ya kamunya, bak mafia! begitu datang langsung menyeret anak!" protesa Papi Aarlic.
"Tidak perlu meminta maaf kembali. Aku sudah bosan!" kata Papi Aarlic, memotong ucapan Papi Harsyal, dia tahu tujuannya untuk meminta maaf. Akhirnya membuat semua orang tertawa.
Di Swiss.
Sudah tiga hari, Crystal dan Nervan di Swiss, menikmati masa bulan madunya.
"Bagaimana perasaanmu, Sayang?" tanya Nervan, memeluk Crystal dari belakang. Mereka berada di hadapan jendela besar hotel yang menghadap ke arah wilayah St. Moritz, yang kini hampir putih tertutup salju.
"Alhamdulillah bahagia, Mas!" jawab Crystal dengan menyandarkan kepalanya di dada Nervan.
"Akan tetapi, aku lihat dari tadi siang, kamu hanya diam, seperti tidak bergairah." ucap Nervan.
"Aku hanya rindu Baby Akhtar, Mas."
"Sabar Sayang! beberapa hari lagi, kita nikmati dulu bulan madu ini. Tidak perlu khawatir, Baby Akhtar sudah ada Nenek dan Kakeknya yang menjaga dan merawatnya."
Setelah itu tidak ada lagi yang bicara. Seperti biasa, kini saatnya Nervan bertindak. Mempertemukan Dek Jhon dan Nduk Jhen, keduanya kembali bercumbu dan berakhir dengan percintaan untuk kesekian kalinya.
Bulan madu telah usai, kini saatnya Crystal dan Nervan kembali ke tanah air. "Sudah siap, Sayang?" tanya Nervan. Saat ia baru saja keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
"Sudah Mas! mari berpakaian, kita harus sampai di Bandara satu jam lagi." ucap Crystal sembari menghampiri Nervan.
Crystal mengajak Nervan ke dekat tempat tidur, lalu dengan senang hati, ia membantu Nervan berpakaian. "Terima kasih, sudah sangat memanjakan ku." Bisik Nervan.
__ADS_1
"Hanya disini, saat sudah sampai ke Indonesia, aku akan sibuk dengan Baby Akhtar." cibir Crystal.
"Ahahahah, wah aku ada saingan." tawa Nervan malah membuat Crystal gemas. Ia mengecup bibir Nervan. untuk sesaat Nervan membalas kecupan itu lebih dalam.
"Mas, sudah! nanti kita terlambat." Crystal menghentikan aktivitas mereka, terlebih tangan Nervan sudah mulai gentayangan masuk ke dalam pakaiannya
"O ia, maaf Sayang! mari." ucap Nervan tersenyum.
Mereka pun akhirnya meninggalkan kamar hotel dan melakukan check out dari hotel. kini keduanya menuju bandara untuk pulang ke Indonesia.
Bersyukur tidak ada rintangan yang berarti, karena salju yang tidak berhenti turun, hanya delay pesawat selama setengah jam. Setelah itu mereka dapat menaiki pesawat dan pulang dengan mudah.
Keesokan harinya, mereka sudah sampai di Indonesia tepatnya di rumah kediaman Nervan dan Crystal.
Mereka begitu kelelahan, sampai siang hari berikutnya Nervan dan Crystal baru keluar kamar.
Mereka disambut kedatangan Rendra, Rendy, Satrio. Tante Ningsih sudah datang dari semalam bersama suaminya. Mereka menginap di rumah Nervan.
"Wah kacau lu Van! resepsi nikah enggak undang-undang kita." Protes Rendra.
"Sorry, Dadakan Men! you know lah ceritanya." jawab Nervan.
Kali ini mereka mengobrol di tepi kolam, karena di dalam ada orang tua mereka. Berbeda saat sedang mengobrol, dua generasi terkadang ingin memisahkan diri karena topik obrolan yang berbeda.
"Akhirnya Mas, selamat ya ... kedua keluarga sudah bersatu kembali!" ucap Satrio sembari menepuk bahunya Nervan, nampak bangga, ia tahu perjuangan Nervan seberat apa.
"Thank you, thank you! ini semua berkat usaha kalian, yang membantu gue dari berbagai aspek." ucap Nervan.
"Kami akan selalu ada untuk lu, Van!" balas Rendra.
"Ya, Mas. Selamat juga dari aku." ucap Rendy
"Thank you Ren. Lu sudah sigap di lapangan, membantu gue di perusahaan. Saat gue lagi ngejar-ngejar Crystal." Nervan mengucapkan terima kasih kepada Rendy.
"Sama-sama Mas Evan!" balas Rendy.
"Terima kasih, kalian semu orang-orang terbaik yang gua miliki. Tanpa kalian, mungkin perusahaan akan hancur. Thanks a lot sudah mensupport gue, sedemikian rupa dengan menghandle perusahaan dan membantu segalanya." Nervan merasa terharu.
"Sekarang, kita bahagia melihat lu bahagia. Karena gue yakin, perusahaan gak akan terbengkalai lagi. Kan udah bahagia, otomatis perusahaan akan kembali lu pegang dengan baik." ucap Rendra
"Ya iyalah, pasti balik ke perusahaan secepatnya oke." balas Nervan.
"Di tunggu bos! jangan kabur-kaburan mulu, kita pusing." ucap Rendy.
"Gak! sekarang mertua guenya sudah jinak." canda Nervan.
"Dasar mantu durjana. Lo pikir mertua lu buaya, apa?" protes Rendra. Membuat mereka pun tertawa bersama, sembari mengambil minuman dan toss gelas.
Bersambung ...
__ADS_1