Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
75. Papi Tega Sekali.


__ADS_3

Mbak Muti di buat kebingungan. Saat mendengar Baby Akhtar menangis di lantai atas, tepatnya di kamarnya. Cukup lama ia berpikir harus menghampiri atau tidak? ia tidak mau melanggar privasi sang Nyonya. Akan tetapi, mendengar tangis Baby  Akhtar yang tidak juga berhenti, Mbak Muti merasa khawatir.


Tanpa pikir panjang, dia pun berlari ke lantai atas. "Loh, Mas Akhtar!"


Pekik Mbak Muti. Akhtar hampir saja jatuh.Ia sedang menaiki pembatasan tempat tidurnya. "Ya Allah, Ibu kemana sih? koq membiarkan Mas Akhtar  menangis sendirian." Mbak Muti segera berlari dan menggendong Baby Akhtar. Ia pun ikut menitikan air mata, melihat Tuan kecilnya terabaikan.


Menjelang sore hari, Nervan pun pulang, satpam di depan rumahnya tidak ada. Mungkin sedang ke toilet pikir Nervan. Ketika masuk ke dalam rumah, nampak sepi. Biasanya ia akan disambut hangat oleh sang istri beserta putra mahkotanya.


Akan tetapi, kali ini tidak! Nervan nampak berpikir, kemana mereka? ia gegas ke kamar. Di kamar Crystal pun tidak ada, di kamar Akhtar pun tidak ada orang. Nervan berkeliling ke ruangan lain. Namun, di mana pun tidak ada Crystal maupun Akhtar.


"Sayang, kalian di mana?" gumam Nervan. Saat ia masih dalam mode kebingungan. Terdengar suara tangisan Akhtar dari lantai bawah.


"Sayang! rupanya kalian di bawah." ujar Nervan dan segera turun ke lantai bawah. Nervan mencari sumber suara tangisan Akhtar. Dari arah belakang.


Nervan bergegas ke area belakang. Tepatnya di samping kolam renang.


Nervan terkejut melihat Mbak Muti juga sedang menangis sembari membujuk Akhtar yang berada didalam pelukannya.


"Ia Mas AA , sudah jangan menangis. Mbak juga sama bingung, Mama Mas AA kemana?" terdengar Mbak Muti bicara pada Akhtar.


Nervan mengerutkan dahi "Mama? berarti itu Cysa, Kan? apa maksud Mbak Muti?" batin Nervan.


Nervan segera menghampiri Mbak Muti dengan berjalan pelan, ia takut mengejutkannya jika terburu-buru.


"Mbak ...." panggil Nervan pelan, hingga Muti menoleh kepadanya.


"Bapak! Alhamdulillah ... akhirnya bapak pulang." ucap Mbak Muti. Namun, ia kembali menangis, kali ini nampak tangisan kelegaan. "Ibu Pak ... Ibu ... hilang! hiks ... hiks ...." Muti diam sejenak, tangisan yang tidak bisa berhenti, membuatnya sulit untuk bicara.


"Hilang?" Nervan terkejut, "hilang bagaimana Mbak?" tanya Nervan kembali, akan tetapi Muti masih menangis.


Nervan menghela nafasnya pelan, tidak mungkin dia harus mencecar Muti dengan pertanyaan. Sedangkan Muti sendiri masih menangis, ia nampak syok.


Setelah tenang. Akhirnya Muti menceritakan perihal ada Papi Harsyal datang dan tiba-tiba Crystal hilang, menyisakkan baby Akhtar di kamar.

__ADS_1


Nervan sempat curiga kepada ayah mertuanya, tapi dia mencoba berpikir positif dengan menjauhkan pikiran buruk itu.


Nervan mencoba menghubungi kedua orang tuanya, menanyakan kepada Papi dan Mami. Mungkin Crystal sempat menghubungi mereka. Akan tetapi mereka tidak menerima telpon ataupun pesan dari Crystal.


"Ada apa Van? kalian bertengkar?" tanya Papi di balik telpon.


"Tidak Pih! tapi Cysa hilang dari rumah." jawab Nervan.


"Astagfirullah ... koq bisa, Van?" suara Papi, terdengar juga suara Mami di belakang Papi yang menanyakan, mengapa Papi khawatir.


"Entahlah Pih! Evan juga baru pulang. Baiklah, kalau begitu Evan lanjut mencari Crystal. Mau menelepon Kak Zafier dulu." tandas Nervan.


"Ok Van. Papi dan Mami segera ke situ." suara Papi Aarlic.


Sambungan telepon terputus, Nervan segera menghubungi Zafier. memberitahukan hilangnya Crystal yang kemungkinan dibawa pergi oleh Papi Harsyal. Caranya membawa pergi, itu sudah menunjukkan penculikan.


Sekitar satu jam kemudian, Zafier beserta Mami Angelita tiba di rumah Nervan. Tak selang lama Papi Aarlic dan Mami juga tiba di rumah Nervan.


Nervan memutuskan untuk menunggu hingga malam ini, mungkin Crystal akan pulang setelah hari beranjak malam. Mereka masih menunggu keajaiban, semoga Papi mengembalikan Crystal.


***


Crystal baru saja sadar dari pengaruh obat bius. "Aduh kepalaku, koq pusing sekali." gumam Crystal.


Ia masih mengerjapkan matanya dan berusaha untuk membuka matanya secara sempurna. Akan tetapi, berkali mencoba ia gagal.


Tubuhnya terasa lemah. Telinganya menangkap kesunyian. Ia tahu ini malam hari, karena tadi sempat silau oleh cahaya lampu di kamar tersebut.


Crysta mengingat kejadian tadi pagi menjelang siang. "Papi," gumam Crystal. Ia tahu siapa yang berbuat ini terhadapnya, "Papi jahat! ia ternyata berpura-pura baik selama ini. Niatnya memisahkan aku dan Mas Nervan, masih menjadi ambisinya."


"Mas, Dek Akhtar. Tolong Mama," gumam Crystal, air matanya mulai menganak sungai. Ia menangis sejadi-jadinya, mengingat perlakuan Papi yang tidak manusiawi, menculik dirinya dengan cara membius dan saat ini ia tidak tahu dirinya ada di mana.


"Dia sudah sadar?" terdengar suara laki-laki di luar kamar itu. Sepertinya itu papi Harsyal.

__ADS_1


"Belum, Tuan!" jawab suara laki-laki lainnya.  Crystal memperkirakan itu adalah salah satu Bodyguard Papinya.


"Lama sekali dia sadar, dari siang! kamu memberikan dosis tinggi ya?" terdengar suara Papi bertanya kembali.


"Tidak Tuan, dosis seperti biasanya," suara Bodyguard lainnya.


"Baik! pantau terus, setelah dia sadar, beritahu Saya. Saya akan menemui calon suaminya, sebentar lagi tiba dan lusa mereka akan melangsungkan pernikahan. Jadi kalian pastikan jaga dan rawat Putri Saya dengan baik." ujar Papi Harsyal.


Setelah terdengar Bodyguard itu mengiyakan, suara orang bicara di luar pintu tidak terdengar lagi dan keadaan kini hening.


"Astagfirullah Papi ... masihkah berniat menikahkan aku dengan Gibran, ataukah ada laki-laki lain? Ya Allah Papi tega sekali, tolong hamba ya Rabb, bukakan pintu hati Papi, agar membatalkan niatnya. Hamba tidak mau berpoliandri." Crystal merapalkan doa-doa di dalam hati.


"Mas tolong aku!" ratap Crystal. Tubuhnya betul-betul terasa lelah sekedar untuk menggerakkan badan berpindah posisi saja rasanya tidak sanggup, lemah itu yang terjadi.


Sepertinya Bodyguard itu berbohong, dengan mengatakan tentang obat bius dengan dosis seperti biasanya. karena tubuh Crystal selemah ini. Ia tahu, jika obat bius itu berdosis normal tubuhnya tidak akan merasakan selemah dan seletih ini. karena beberapa kali, Crystal pernah mendapatkan bius dari mereka saat memaksanya pulang.


Di kediaman Nervan,


Zafier dan Nervan sibuk melacak keberadaan Papi, dari sejak sore hari. Hingga kini, sudah pukul sebelas malam. Namun, hasilnya nihil, beruntung Akhtar tidak rewel, Ia mau diajak bermain oleh orang tua mereka.


"Bagaimana, Kak?" tanya Nervan.


"Nihil Van! dari beberapa tempat yang aku telepon pun, tidak menunjukkan tanda-tanda Papi menyambangi tempat itu. Aku juga tidak tahu, apakah Papi memiliki tempat baru." balas Zafier.


Nervan nampak termangu. Ia mengingat-ingat tempat yang sekiranya akan didatangi Papi Harsyal. Namun, ia pun gagal mendapatkan gambaran.


***


Keesokan hari,


Crystal sudah merasa jauh lebih baik dari semalam, kini tubuhnya lebih segar setelah ia sarapan. Akan tetapi, dari sejak ia bangun tidur, Crystal tidak menemukan Papinya di rumah tersebut. Malah pagi-pagi sekali ia dibuat muak dengan wajah Gibran yang dengan santainya muncul di hadapan Crystal.


Menyapa Crystal dengan ucapan selamat pagi dan pura-pura ramah. "Mas Gibran, aku mohon! urungkan mengikuti keinginan Papi untuk menikah dengan ku. Sebagaimana Mas Gibran tahu, aku sudah memiliki suami dan juga seorang Putra." Crystal mencoba mencari simpati Gibran, beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Aku tahu dan tidak peduli, walaupun kamu telah memiliki suami dan anak. Kita akan tetap menikah! bahkan, setelah kita menikah. Aku akan berusaha merebut anakmu dari pria itu, kita akan hidup bahagia di luar negeri sana, Sayang! itu sudah menjadi ketetapan dan rencana kami." seringai Gibran membuat Crytal mengumpat dengan berbagai sumpah serapah di dalam hati. Ingin sekali Crystal melempar pria itu dengan apa saja yang ada di dekatnya, akan tetapi ia masih menahan diri.


Bersambung ...


__ADS_2