Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
59. Memanjat Jendela.


__ADS_3

Crystal masih mengamati pesan dari Zafier dengan tersenyum senang.


"Dek, siapkan alat untuk memanjat! sprei, kain atau apapun. Nervan sudah berada belakang kamarmu.


Sekitar lima belas menit lagi, dia akan memanjat naik ke kamar mu!"


isi pesan dari Zafier. Cristal begitu sumringah mendapatkan pesan itu.


Ia mengerti dengan pesan Sang Kakak. Crystal segera menyiapkan keperluan untuk Nervan, mengikat sprei yang di ikatkan dengan kain, setelah di rasa kencang ia menjulurkan kain tersebut ke arah bawah. Di ikat pada kaki tempat tidur.


Lima belas menit kemudian, Nervan berhasil masuk ke area belakang kamar Crystal, suasananya remang, hanya ada sedikit cahaya dari biasan lampu taman belakang dan taman depan.


Entah apa yang Zafier lakukan, pada para Bodyguard-nya. Karena di gerbang kecil, mereka sudah tidak ada. Sehingga Nervan dengan leluasa masuk ke area belakang kamar Crystal.


Nervan melemparkan kerikil kecil, ke arah jendela kaca kamar Crystal. Dan membuat Crystal yang sedang menunggunya pun, mendengar lemparan tersebut, ia segera beranjak menuju jendela.


Crystal segera membuka jendelanya perlahan, dengan bermodalkan senter dari ponsel, Nervan menyoroti wajahnya dan Crystal melihat wajah suaminya yang ia rindukan dalam dua Minggu ini. Crystal tersenyum bahagia sekaligus sedih di ambang jendela.


Nervan dapat melihatnya, lalu dengan gerakan isyarat Nervan mengatakan 'Jangan menangis! aku ku akan naik." Crystal pun mengangguk dengan buliran air mata yang tidak dapat ia tahan dan kini sudah berjatuhan.


Dua minggu bukan waktu yang sebentar, saat terpisahkan dengan pasangan yang dicintai. Tidak melihat dan tidak mendengar suara suaminya, Crystal tersiksa.


Betapa rindunya Cryrstal kepada Nervan. Sepertinya janinnya pun menyambut kehadiran sang Ayah. Saat Nervan hendak naik, janin di dalam perut Crystal pun bergerak, seperti menendang atau entahlah yang pasti sepertinya ia kegirangan.


Dengan susah payah, akhirnya Nervan berhasil naik ke kamar Crystal melalui jendela kamar, ia segera mengambil sprei itu. Menyembunyikannya di bawah tempat tidur, untuk ia nanti turun.


"Mas..." Crystal langsung memeluk Nervan.

__ADS_1


"Sayang..." Nervan membiarkan Crystal menghambur ke dalam pelukannya dan menangis di sana sepuasnya, Nervan memeluk Crystal dengan diam, tanpa bicara sepatah kata pun. Ia hanya ingin menyalurkan rasa rindu dan kasih sayang kepada istrinya lewat pelukan.


"Sayang! kamu tidak apa-apa kan?" akhirnya Nervan buka suara.


"Tidak Mas! hanya saja, aku tidak bisa makan. Aku bosan Mas, ingin keluar. Dua minggu, aku dikurung di sini seperti tahanan." jawab Crystal.


"Sabar ya Sayang! aku akan ke sini setiap malam, untuk menemanimu." ucap Nervan sembari me-ngecupi kening Crystal.


"Kak Zafier, sedang mencari cara, agar kamu di pindahkan ke kamar bawah. Jadi aku lebih gampang masuk setiap harinya."


"Betul Mas?" tanya Crystal dengan sumringah.


"Betul! kita berdoa saja ya, agar semuanya dipermudah." ujar Nervan.


"Iya Mas, Amiin..."


"Oh ya Sayang! aku mengabari Kak Zafier dulu, kalau aku sudah sampai sini." ucap Nervan.


"Di luar gerimis Sayang!" jawab Nervan dengan mengetik sesuatu di ponselnya. Ia mengabari Zafier, bahwa dirinya, sudah berada di dalam kamar Crystal.


"Mas, jadi basah begini rambutnya juga. Aku keringkan ya," Nervan mengangguk dan Crystal membawa Nervan duduk di tepi tempat tidurnya.


Ia segera mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Nervan, Crystal kembali dengan handuk dan menyeka wajah Nervan dari sisa air gerimis.


"Mas, mengapa tidak mencukur kumis dan jenggotnya, jadi berantakan begini?" Crystal membelai lembut wajah Nervan yang di tumbuhi bulu agak kasar karena tidak di cukur setiap hari. Sedangkan, saat Crystal masih bersamanya, ia akan membersihkan wajahnya setiap hari.


"Tidak mengapa Sayang, aku tidak memikirkan wajahku. Aku hanya memikirkan kamu." Nervan memeluk Crystal dan ia membawanya masuk ke sela pahanya.

__ADS_1


Crystal tersipu malu, "Anak Papa apa kabar?" Nervan mengelus perut Crystal. "Masya Allah, bergerak Sayang!" pekik Nervan saat merasakan pergerakan dari dalam perut Crystal.


"Dia bahagia, disentuh Papanya, Mas!" Crystal tersenyum, lalu ia duduk di pangkuan Nervan.


"Papa di sini Nak!" Nervan tersenyum dengan air mata, yang mulai berjatuhan.


Crystal memeluk leher Nervan. "Baju mu, juga basah Sayang! terkena air dari bajuku." ujar Nervan, menatap Crystal genit.


Crystal faham, kemana arah pembicaraan Nervan. "Mas, tolong bukain dong!" pinta Crystal dengan nada manjanya.


"Yakin? kalau aku yang bukain, kamu nggak akan menyesal?" tanya Nervan dengan mengedipkan sebelah mata.


"Enggak Yank! aku yakin."


"Baiklah!"


Nervan pun tertawa kecil, lalu setelahnya, ia membuka kancing piyama Cryrstal, "Aku akan membantu mu dengan penuh cinta." Bisiknya.


"Mau..."


Setelah piyama Crystal terbuka. Sesuatu yang menggoda Nervan dan tidak di jumpai dalam beberapa hari ini, kini nampak di depan matanya. Nervan tersenyum.


"Sayang, boleh?" tanya Nervan dengan mimik wajah yang memelas.


"Tentu boleh dong Mas, Sayang." Crystal tidak mau menunda untuk memberikan hak pada suaminya.


Pada akhirnya mereka terbuai oleh sentuhan jari jemari nakal keduanya, hingga kini keduanya kehilangan banyak tenaga. Nervan dan Crystal terlalap dengan saling berpelukan. Meresapi keintiman yang sudah lama terlewatkan.

__ADS_1


Untuk esok hari, mereka akan menghadapinya dengan cara lainnya. Untuk saat ini Nervan hanya ingin fokus pada Crystal. Menikmati waktu berdua, betul-betul hanya menikmati malam ini hingga pagi menjelang, dengan penuh rasa cinta dan juga pergulatan asmara mereka berdua dengan ronde selanjutnya.,


Bersambung...


__ADS_2