
Team dokter berlarian menuju ke ruangan Crystal. Nervan yang tengah terlelap sejenak dengan posisi duduk di bangku tunggu. Ia terkejut. Dengan limbung Nervan berdiri, ia berusaha menghampiri seorang suster yang berjalan agak tertinggal.
"Suster maaf! ada apa ini? kenapa tim Dokter berlarian masuk ke ruangan istri saya?" tanya Nervan.
"Pasien mengalami kejang, Pak! maaf Saya sedang terburu-buru." Suster pun segera berlalu dari hadapan Nervan.
"Astagfirullah! Ada apa lagi ini? Sayang! kamu kenapa?" Nervan pun ikut berlari menghampiri ruangan Crystal, akan tetapi pintu itu dengan cepat tertutup. Menyisakan Nervan berdiri mematung di depan pintu.
Nervan akhirnya mondar-mandir di depan pintu. Ia tidak tahu harus berbuat apa, masuk ke dalam tidak di perbolehkan. Akhirnya dengan tangan yang bergetar ia menelepon Papinya. Mengabarkan, bahwa ada masalah dengan Crystal.
Beberapa saat kemudian, Papi Aarlic baru saja tiba di rumah sakit. Ia segera berlari menghampiri Nervan.
"Papi ... Pih!" Nervan yang melihat Papinya berlari ke arahnya, ia segera menyongsong sang Papi dengan pelukan.
"Tenang Van! tenang." Papi Harsyal berusaha membuat Nervan tetap tenang.
Di saat Nervan dan Papi masih menunggu kabar dari dalam ruangan ICU. Zafier serta Verline baru saja tiba. Tadi Papi Aarlic sempat memberitahukan apa yang terjadi di ruang Crystal, sehingga Zafier dan Verline segera ke rumah sakit.
"Van ... Om!" sapa Zafier. Verline hanya mengangguk tipis dengan tersenyum ke arah Nervan dan Papi.
"Kak Zafier." Nervan dan Zafier saling berangkulan. Keadaan hening untuk sesaat, setelah sebelumnya Nervan menceritakan apa yang ia dengar dari suster tadi mengenai kondisi Crystal.
Selang lima belas menit Kemudian, team dokter keluar dari ruangan Crystal. Nervan dan Semua segera menghampiri dokter.
"Dok! apa yang terjadi dengan istri saya? bagaimana kondisinya saat ini? apakah istri saya baik-baik saja?" serangkaian pertanyaan dari Nervan yang tak dapat ia bendung.
Dokter pun tersenyum, ia mengerti kegundahan serta kekhawatiran Nervan. Yang ia tahu adalah suami siaga dua puluh empat jam, untuk anak dan istrinya. Bahkan keberadaan CEO ganteng yang menunggu Istrinya sadar selama delapan hari dari komanya, siang dan malam itu, kini lagi Viral di seantero rumah sakit tersebut.
"Saudara tenang dulu! tadi istri saudara memang sempat mengalami kejang. Akan tetapi, sepertinya dari kejang tersebut malah memicu istri saudara untuk membuka matanya." ujar dokter.
"Ma-maksudnya, dok?" Nervan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Alhamdulillah, istri Anda sudah sadar. Saat ini sedang dalam tahap pengecekan." jawab dokter.
"Sadar dok?" tanya Nervan lagi. Namun, kali ini terdengar nada bahagia. Dokter mengangguk dengan tersenyum.
"Alhamdulillah ...." serempak mengucapkan syukur.
__ADS_1
***
Waktu berjalan dengan cepat. Crystal sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap VVIP rumah sakit tersebut. Kini Nervan bisa bernapas lega, karena Crystal sudah sadarkan diri dan dinyatakan dalam kondisi stabil. ia segera menemui sang istri.
"Sayang!" mata Nervan berkaca-kaca, ia berdiri di ambang pintu. Crystal yang melihat suaminya sudah berada di dalam kamar tersebut. Ia tersenyum.
"Mas! aku rindu." ucapnya pelan.
Nervan setengah berlari menghampiri Crystal. Lalu ia memeluk tubuh Crystal. "Sayang! akhirnya kamu kembali. Terima kasih sudah sadarkan diri. Aku pun rindu kamu."
Nervan tergugu dalam tangisan. Ia memeluk erat Cryrstal. Begitu pun dengan Crystal, kini dirinya pun ikut menangis, di dalam pelukan suaminya. Dengan melihat kondisi sang suami walaupun hanya sepintas tadi. Crystal tahu Nervan sudah melewati hari-hari yang sulit.
Lingkar mata panda, menandakan ia kurang tidur. Pipi yang nampak tirus menandakan ia tidak memiliki selera makan, bisa saja Nervan jarang makan. Belum lagi bulu-bulu halus yang tumbuh agak berantakan di area pipi hingga dagu, Pakaian yang tidak serapi biasanya, itu pertanda bahwa Nervan tidak memedulikan penampilannya. Sudah dapat di pastikan Nervan berada di rumah sakit siang dan malam demi menunggunya sadar.
"Maafkan aku Mas! telah membuat Mas Evan khawatir." bisik Crystal sembari mengecup ringan leher sang suami.
"Tidak mengapa! yang penting kamu sudah sadar. Tolong jangan pergi lagi." pinta Nervan, air matanya semakin deras.
"Tidak Mas! aku tidak akan pernah pergi darimu, keculi kamu yang memintanya." Crystal pun larut Kembali dalam tangisan. Keduanya hanya bicara lewat pelukan yang semakin erat.
Di luar ruangan rawat inap VVIP.
Crystal baru dasar perutnya sudah rata. Ia berusaha mengingat semuanya di saat dirinya belum sadarkan diri. Ia ingat hari itu Papi Harsyal datang ke rumah Nervan, lalu ia jatuh karena di tarik Papi. Setelahnya ia di bawa ke rumah sakit dan menurut dokter kandungannya kemungkinan tidak selamat.
Lalu ia melewati berbagai rangkaian pemeriksaan. Setelahnya Crystal ingat, ia masuk ke dalam ruangan operasi. Dokter dan team begitu sibuk di dalam sana. Yang pasti mereka sedang berusaha mengeluarkan sang bayi.
Ia masih ingat saat sang bayi tidak terdengar menangis. Perkiraan Crystal sang bayi tidak tertolong. Lalu setelahnya, Crystal merasa lelah yang berlebihan. Samar Crystal mendengar dokter dan suster sibuk menghentikan pendarahan hebat yang terjadi padanya. Crystal sempat melirik sang bayi yang sedang di pompa, di angkat dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Entah apa yang mereka lakukan terhadap bayinya. karena selang beberapa detik kemudian Crystal mulai melemah dan tidak sadarkan diri.
"Maafkan aku Mas! bayi kita ...." Crystal makin sesenggukan. Ia berpikir bayinya tidak selamat.
"Bayi kita, sudah jauh lebih baik dari hari pertama ia di lahirkan, Sayang! terima kasih, kamu telah berjuang menyelamatkan Putra kita." Nervan menyudahi pelukannya, lalu ia menangkup kedua pipi Crystal dan menatapnya hangat.
Crystal nampak kebingungan, menatap wajah Nervan gamang, mencari jawaban. Nervan mengerti hanya dengan kata-kata Crystal baru saja, ia menyangka bayinya tidak selamat.
Nervan mengangguk dengan tersenyum. "Anak kita selamat! ia masih hidup, Sayang!"
"Mas ...." untuk sesaat bibir Crystal menganga tidak percaya. Nervan mengangguk antusias. "Hah ... aam ... Mas!" Crystal kembali menangis dengan memeluk Nervan, setelah ia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kebagagiaannya.
__ADS_1
"Ia Sayang! Putra kita selamat!"
"Putra, Mas?" tanya Crystal kembali.
"Ia, dia laki-laki." Nervan kembali tersenyum lebar.
"Alhamdulillah ... sesuai dengan yang Mas inginkan!" balas Crystal.
"Ia Sayang, walupun sebetulnya laki-laki dan perempuan sama saja." Ujar Nervan.
"Tentu, Mas!"
Nervan yang melihat Crystal sudah lebih baik. Maka ia tidak menyiakan kesempatan ini. Nervan mendaratkan bibirnya di atas bibir Crystal. Tatapan matanya nampak memohon, dengan tersenyum di sela bertautnya bibir mereka. Crystal membalas kecupan Nervan. Namun, balasan dari Crystal terasa kaku.
"Maaf Mas! aku lupa caranya berciuman." gumam Crystal di sela-sela bibir mereka.
"Tidak mengapa. Aku akan membuat kamu kembali mahir berciuman dengan ku." Nervan kembali memagut bibir istrinya. Kali ini Crystal sudah tidak sekaku sebelumnya. Lama mereka berciuman, hingga Nervan dan Crystal terpaksa melepaskan belitan lidahnya, takut tidak dapat mengontrol diri.
"Terima kasih, Sayang!"
"Sama-sama Mas! o yah ... lalu Putra kita sekarang dimana?" tanya Crystal.
"Eum, putra kita ...."
"Mas?" Crystal seakan bertanya kembali.
"Ada, Sayang!"
"Ia, ada di mana? siapa yang merawatnya selama ini? aku ingin menemuinya, Mas! aku ingin memberikannya Asi." ucap Crystal.
"Sabar dulu ya, Sayang!"
"Mas ... ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Crystal akan gelagat aneh suaminya.
Nervan menghela napasnya sejenak. Lalu memejamkan mata untuk sesaat. Ia sedang menguatkan diri. Tidak mudah menyampaikan berita kurang sedap ini kepada istrinya yang baru saja sadarkan diri.
"Mas, jawab!"
__ADS_1
Bersambung ...