
"Emmmm .... apa Mas?" Crystal tidak puas dengan jawaban Nervan.
"Jangan kamu tanyakan lagi pakaian itu."
"Loh mengapa? itu pakaian ku!" Crystal memanyunkan bibirnya.
"Iya kemarin! sekarang jangan kamu harapkan lagi, karena pakaian mu tidak pernah di cuci, tapi Aku meminta tolong Pian untuk membuangnya." ketus Nervan dengan cueknya.
"What! aaaaaaaa Mas Nervan jahat!" buk .... buk ... pak ...pak ...! Crystal murka, ia berteriak dan meninju serta memukul lengan kiri atas Nervan.
"Wei .... Cysa stop it!" Nervan melihat jalan lengang. Dengan terpaksa ia menepikan terlebih dahulu mobil nya di bahu jalan tol.
"Gak! aku benci Mas Nervan! kamu jahat Mas, jahat!"
"Cysa!" Nervan kembali memekikan nama Crystal agar berhenti. Namun Crystal malah makin meracau dan kini kepalan tangan nya berpindah memukul- mukul dada bidang nya Nervan yang sudah melepaskan safety belt dan menghadap ke arah Crystal.
"Arrggghhh nih perempuan nantangin yah!" pekik Nervan.
Dengan tenaga penuh, Crystal ia dorong hingga terjengkang dan bahu nya menumpu pada pintu mobil. Saking terkejut nya Crystal hingga menganga dan tanpa Nervan sia-sia kan pemandangan indah di depan nya, maka dengan cepat ia merangkak naik ke atas tubuh Crystal. Ia menindih nya dan tanpa permisi serta aba-aba, bibir nganga Crystal sudah Nervan kuasai, awal nya kasar namun makin lama, makin lembut dan penuh ke apaikan.
Sedangkan tangan Nervan tidak hanya diam. Ia mengingat kelakuan sensual Crystal yang menggenggam buah anu nya, maka Nervan pun melakukan hal yang sama. Ia memanen buah itu di jalan seperti ancaman nya, tangan Nervan bergerak bebas memanen buah anu, masih dari luar kaus yang Crystal kenakan.
Crystal masih di kuasai kesadaran. Namun anggota tubuh nya ikut mengimbangi permainan Nervan. Nafas mereka saling berlomba berhembus tidak beraturan.
Setelah beberapa menit, Nervan yang tidak mau berbuat lebih jauh pun memaksakan diri mengakhiri kelakuan nakal nya. Ia menatap teduh wajah Crystal dengan kilatan gairah masih nampak jelas namun sepertinya Nervan berusaha meredam itu.
Crystal yang ikut menatap kikuk Nervan, nampak hal yang sama, sorot matanya memancarkan gairah, namun perlahan berganti raut kecewa, mungkin karena Nervan yang menyudahi perbuatan nakal nya, padahal Crystal mampu menerima nya.
"Sudah, duduk yang manis dan diam! kalau masih berkelakuan nyeleneh, maka ku buang kamu di semak-semak jalan tol ini. Aku akan menggantikan pakaian mu dengan yang lebih tertutup! tolong dengarkan keinginan ku, setidaknya hargai aku sebagai suami mu." ucap Nervan penuh penekanan ia masih menatap tajam wajah Crystal yang berada di bawah nya.
Crystal mengangguk cepat. Cup! Nervan mengecup dalam kening Crystal untuk beberapa detik dan ia membantu Crystal pada posisi duduk yang benar, setelah nya Nervan kembali pada bangku kemudi nya. Tanpa bicara, Nervan mengusai kembali kemudinya, hingga sampai lah mereka di rumah sakit.
"Ayuk naik ke punggung ku!" Nervan berjongkok di hadapan Crystal. Namun Crystal hanya berdiri diam bersandar pada mobil Nervan.
"Cysa! cepat donk!"
"Gak mau!"
__ADS_1
"Ya ampun, kamu keras kepala sekali. Apa mau nya sih? tolong lah jangan pancing emosi ku lagi." Nervan kembali berdiri dan menghadap Crystal.
"Aku tidak mancing emosi Mas Nervan. Aku hanya ingin Mas Nervan minta maaf." ucap polos Crystal.
"Hemmm ...." Nervan menguasai dirinya dengan menghela nafas pelan. "Oke, aku minta maaf istri ku! puas?"
Crystal mengulum senyum. "Lumayan, daripada tidak," ujar nya.
"Ya sudah mari naik ke punggung ku. Jadilah istri yang baik dan menurut sama suami." ucap lirih Nervan sembari berjalan menggendong Crystal menuju lift.
Beberapa orang nampak memperhatikan mereka. Namun setelah melihat kaki Crystal yang terlihat di balut kain. Maka mereka banyak yang baper sendiri, menilai pasangan Nervan dan Crystal itu penuh cinta dan kebahagiaan. Kenyataan nya mereka tidak tahu bahwa pasangan ini kerap kali adu mulut.
"Baik Mas! kamu juga harus jadi suami yang baik untuk aku." Nervan hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, mereka telah keluar dari pintu lift di lantai lima, Nervan bergegas menuju kamar rawat inap Mami nya.
"Assalamu'alaikum .... Nervan dan Crystal mengucapkan salam dengan ceria, mereka menampakkan kebahagiaan palsu di hadapan Mami Nervan.
"Wa'alaikum salam! Masya Allah. Evan dan Cysa! sini sayang." Mami Nervan yang sedang di suapi buah oleh Papi Nervan pun tersenyum sumringah. Menyambut kehadiran mereka dengan bahagia.
"Mami! Cysa rindu ...." pekik Crystal, lalu setelah Nervan menurunkan nya perlahan, Crystal memeluk Mami Nervan.
"Mami juga sayang. Terima kasih sudah mau menemani Mami sayang." Nampaknya Mami Nervan sudah lebih baik dari kemarin, buktinya bicara nya saja sudah tidak terbata lagi.
Papi Nervan ikut tersenyum bahagia melihat interaksi Istri dan mantu nya.
"Hanya rindu pada Cysa nih. Pada Evan tidak?" Protes halus Nervan dengan mengecup kening Mami nya.
"Ya tentu dong sayang, sama Evan pun Rindu." ucap Mami nya dengan membelai lembut pipi Nervan.
"Syukurlah Cysa kemari. Papi hendak pergi keluar sebentar, bisa tolong temani Mami kan?" tanya Papi Nervan.
"Tentu Pi, tenang saja! Cysa akan menemani Mami hingga Papi kembali." jawab Crystal dengan tersenyum tulus, menggenggam tangan Mami Nervan.
"Terima kasih!"
"Van, koq Cysa masih memakai, pakaian mu? memang nya belum kamu belikan pakaian untuk nya?" tanya Mami Nervan dengan keheranan karena mantunya masih menggunakan pakaian longgar kebesaran milik Nervan.
__ADS_1
"Cysa lebih suka memakai Pakaian Evan Mih! iya kan sayang?" tanya lembut Nervan dengan mata yang membulat pertanda sebuah ancaman.
"Heeee .... begitu lah Mih. Hemmm." Crystal tersenyum di paksakan lebih mirip ringisan.
"Well. Evan sudah terlambat ke pabrik! so Evan titip Cysa di sini, nanti pulang dari pabrik Evan jemput kembali."
Nervan segera menetralisir keadaan. "Mari ke bawah bersama Nak!" tawar Papi Nervan. "Mari Pih. Sayang baik-baik di sini yah! aku pergi dulu," Nervan mengecup kening Crystal dengan penuh kesungguhan.
"Baik sayang! tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja di sini." Begitu pun dengan Crystal ia mengecup punggung tangan kana Nervan.
Mereka pandai sekali memainkan peran di hadapan orang tua Nervan. "Kami pergi Mih." Pamit Nervan pada Mami nya. Begitu pula dengan Papi Nervan ia ikut berpamitan.
Setelah Nervan dan Papi nya pergi, Crystal dan Mami Nervan pun nampak akrab berbincang.
***
Setelah beberapa waktu.
Nervan telah sampai di ruang kerjanya, Namun Nervan serba salah dalam bertindak, fikiran nya di penuhi hal tentang Crystal. Pada bagian produksi ia lihat para karyawan nya mirip Crystal semua, ia pun di buat pening, maka dari itu Nervan memutuskan kembali ke dalam ruangan nya.
"Aaarrggghh! Cysa .... mengapa semuanya tentang kamu?!" gumam Nervan.
"Apakah kini segala kutukan itu mulai berlaku untuk ku? tidak mungkin kan kutukan itu bekerja secepat ini?" Nervan kembali menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya.
Tanpa Nervan sadari, sahabat beserta asisten nya masuk ke dalam ruangan nya dengan hanya mengetuk pintu satu kali dan Nervan tidak mendengar nya, karena terlena dalam lamunan.
"Van! Nervan!" pekik Rendra karena Nervan tidak merespon sapaan dari Rendy, asisten nya.
"Ah iya sayang!" ucap Nervan dengan lembut nya. Nervan terkejut saat meja di gebrak oleh Rendra. Namun ia lebih terkejut lagi siapa yang ia panggil sayang baru saja.
"Apa? woi gue bukan sayang nya elu Van! teler Lo siang begini? saking lamanya jomblo." Rendra tertawa lepas meledek Nervan.
"Kampret! gue sadar, belum tahu aja lu!" pekik Nervan balik, sembari melemparkan kain sampel yang ada di tangan nya.
"Belum tahu apa?!"
"Iya Bos? ada berita terbaru tentang Bos?" Rendy menimpali Rendra.
__ADS_1
"Ah .... eh .... emmm ...." Nervan tidak berkutik dengan pertanyaan mereka.
Bersambung ....