
Hingga pun malam hari, kelakuan Nervan seperti anak-anak. Dari mulai makan ingin disuapi oleh Crystal, kini ia ingin terus dipeluk Crystal.
"Mas, ingat ya! aku dan kamu sebetulnya belum dapat berduaan dengan bebas. Sebelum orang tuaku kembali, itu janji Papi dan kamu sudah menyepakatinya.
"Iya sayang! aku tahu kok, maka dari itu... lihat, kita berdua tidak dapat tidur di kamar seperti biasanya, kan? jadi harus tidur beramai-ramai." rajuk Nervan.
Ide tante Ningsih dan keinginan Crystal untuk tidur secara bersama-sama di ruang keluarga, Karena Crystal takut hanya tidur berduaan saja dengan Nervan.
Nervan menurut saja, karena saat ini ia sedang membutuhkan Crystal dan sekaligus ingin memperbaiki hubungan dengan Crystal sebagai suami istri seperti sebelumnya.
"Sayang. jangan jauh dari ku, aku mual kembali." rengek Nervan seperti anak bayi yang takut ketika akan di tinggal Ibunya.
"Ya ampun Mas! aku hanya ingin ke meja mengambil minum." Crystal mengerlingkan mata malas.
"Ia tapi... Huek..huek." Nervan. berlari ke toilet kamar tamu.
"Ada apa, Nduk?" tanya tante Ningsih, yang baru saja tiba di ruangan itu, setelah melaksanakan salat Isya berjamaah dengan Satrio di Mushola kecil miliknya, sedangkan Crystal dan Nervan sudah selesai dari lima belas menit yang lalu.
"Itu Tan, aku hendak mengambil minuman di meja dan sedikit menjauh dari Mas Evan. Tapi koq Mas Evannya malah mual dan sekarang lagi muntah." terang Cysa.
"Ya ampun Evan, kamu kenapa toh, cah Bagus?" gumam Tante Ningsih.
"Apa, kita ke rumah sakit saja ya Tan?" tanya Crystal, ia pun nampak khawatir.
"Coba kita rempugan dulu dengan Tio. Ini Om kamu telepon toh, se yo ta terima telepon dulu, cah Ayu." ujar Tante Ningsih.
"Silakan Tan." ucap Crystal. Tante Ningsih pun menerima telepon dari suaminya dengan mendaratkan tubuhnya ke atas sofa. sedangkan Crystal pergi menghampiri Nervan.
"Huek... Huek..." Nervan masih saja mengeluarkan isi perutnya.
"Mas, ke rumah sakit saja ya." ajak Crystal. Nervan hanya menggeleng kepala dengan lesu.
"Kenapa, koq tidak mau? aku~" ucapan Crystal terhenti. "Khawatir, Mas!" dalam batin Crystal. sedangkan Nervan menanti kata-kata lanjutan dari Crystal. Namun, sayang tidak terdengar kembali. Crystal hanya membantunya menyeka sisa-sisa muntahan di bibir Nervan dengan tisu.
"Mas, minum dulu." pinta Crystal setelah mereka kembali ke ruang keluarga. Nervan pun meraih gelas berisi air hangat tersebut dan meminumnya.
"Terima kasih, Sayang!" Nervan merebahkan tubuhnya di atas sofa bed yang telah di bentangkan. Nervan tidak banyak bicara, ia berbaring terlentang dengan memejamkan mata dan menaruh sebelah lengannya di dahi.
Crystal merasa serba salah, harus seperti apa dalam merawat Nervan. Sikapnya masih sedikit kaku. Ia masih agak takut dengan sentuhan Nervan. Trauma? mungkin, walaupun hanya sepersekian persen. Rasa trauma akan perlakuan kasar Nervan masih membekas dalam ingatannya. Rasa kemanusiaan lah yang membuat ia kuat berada di dalam dekapan Nervan saat ini.
"Mas, maaf! aku balur minyak angin terlebih dahulu perutnya." izin Crystal dengan ragu-ragu.
"Hmm," balas Nervan. Namun, setelah kaus yang Nervan kenakan tersingkap hingga ke leher, tangan Crystal tak kunjung membubuhkan minyak angin pada area depan tubuhnya. Nervan mencoba membuka matanya walaupun enggan.
"Sayang!" gumam Nervan. Ia terkejut, saat melihat Crystal duduk tegak dan nampak mematung dengan beberapa bulir air mata melewati pipinya. Tatapan Crystal kosong ke arah depan.
"Sayang... Hei," Nervan menepuk pelan pipi Crystal, lalu mengelus bahu samping Crystal.
"Jangan Mas! tolong, jangan..." racau Crystal dengan wajah ketakutan, saat Nervan menyentuh pipi dan bahunya.
Crystal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Crystal menangis dengan menggelengkan kepala dan berkata jangan.
"Tante, Tio..." panggil Nervan dengan nada panik. Ia bangun dengan tubuh terhuyung karena kepalanya pusing.
Tante Ningsih dan Satrio segera berlarian dari arah yang berlainan, Tio dari kamar dan Tante Ningsih dari dapur.
"Ada apa, Cah Bagus?" tanya Tante Ningsih.
__ADS_1
"Ia, Mas ada apa? koq Mbak Cysa nangis?" tanya Satrio penuh selidik.
"Aku juga tidak tahu, tadi Cysa sempat menawarkan aku, untuk di oles minyak angin, tapi Cysa malah bengong dan menangis." ujar Nervan dan ia bingung harus berbuat apa, sedangkan Crystal disentuh saja tidak mau.
Tante Ningsih, meminta Satrio membuatkan teh hangat untuk Crystal dan ia menghela nafasnya sejenak. Melihat kaos Nervan yang naik ke atas dan menampakkan perut datar berototnya. Ia paham apa yang sedang terjadi dengan Crystal.
Rasa trauma dan takut akan Nervan, itu feeling Tante Ningsih. Tante Ningsih meraih Crystal ke dalam pelukannya dengan menyuruh Nervan tetap tenang di tempat duduknya.
Tante Ningsih memberikan belaian lembut di punggung Crystal agar ia tenang. Membiarkan Crystal menangis sepuasnya. Tidak selang lama Satrio membawakan teh hangat madu plus mint, setelah Crystal mau meminumnya, Tante Ningsih mengajak Crystal ke kamar menjauh dari Nervan.
Nervan bergeming di tempatnya. Ia tidak percaya, bahwa Crystal masih mengalami trauma akan dirinya. Nervan menangis pelan dan mendapatkan tepukan lembut dari Satrio di bahunya.
"Sabar Mas! Insya Allah... hanya butuh proses dan waktu. Aku yakin, lambat laun Mbak Cysa akan dapat menerima kembali Mas Nervan. Cinta itu kadang lebih bijaksana daripada logika. Walaupun tersakiti cinta akan mampu pulang pada waktunya." ujar Satrio, Nervan sedikit terkejut dengan kata-kata bijak Satrio.
"Terima kasih Tio!"
Satrio merangkul Nervan. "Ingat kasus Mama dan Papa?" tanya Satrio. Nervan mengangguk.
"Hampir dua tahun, Mama membenci Papa, akibat Mbak Anaya meninggal. Bukan sebab Papa. Namun, laki-laki itu pilihan Papa dan apa jadinya? ia hanya bisa menyakiti dan merusak hidup Mbak Anaya hingga tekanan batin. Sakit-sakitan lalu nyawanya tidak tertolong dan Papa lah sasaran kemarahan Mama. Namun, atas dasar cinta. Maka mereka kembali berbaikan pada akhirnya, cinta Mama tidak lupa pulang Mas! menemui sang pemilik hatinya saat semua sudah termaafkan dan kata ikhlas dapat menerima dengan lapang dada." ujar Satrio. Nervan kembali tergugu dalam tangisan.
Di rumah orang tua Nervan.
Mereka berdua sedang gusar memikirkan Crystal yang di ketahui bukan hanya pergi bersama Santrio untuk menemui Ningsih, akan tetapi ada Nervan di sana.
"Pih, bagaimana ini? dari luar Cysa memang nampak sudah kuat. Akan tapi...Mami tahu, dia masih rapuh dari segi perasaan." ucap Mami Nervan.
"Nervan ini, bikin masalah saja. Dia tidak mengindahkan peringatan Papi! atau kita menyusul mereka ke sana Mih?" tanya Papi.
"Sudah malam Pih! sebaiknya Besok pagi saja, untuk malam ini kita serahkan segalanya kepada Allah. Semoga Cysa malah dapat berbaikan dengan Evan. Bukankah itu bagus?" tanya Mami.
"Iya sih, tapi Papi masih khawatir takut Crystal kembali histeris. Tanggung jawab Papi disini besar, janji kepada Nak Zafier untuk menjaga Crystal sementara orang tuanya belum kembali namun, disisi lain Papi merasa kecolongan dengan anakmu, yang bertindak semena-mena membawa Crystal tanpa pamit terlebih dahulu. Papi takut Crystal merasa tertekan karena tidak dapat menerima kehadiran Nervan."
Di rumah Tante Ningsih.
"Bagaimana Tan?" tanya Nervan, saat melihat tante Ningsih keluar dari kamar dan menghampirinya.
"Sudah tenang dan sudah tidur juga. Lebih baik kamu juga istirahat Cah Bagus. Tidur di kamar Tio saja, Tante titipkan kamu ke Tio. Cysa biar Tante yang menjaga. Maaf Van, tadi Papi telpon dan terpaksa Tante mengatakan keadaan kalian."
"Hem, tidak mengapa Tan! besok pagi, kami akan mengantar Crystal kembali ke rumah Papi," ucap Nervan.
Akhirnya malam ini, Nervan tidur bersama Satrio, dan Crystal tidur bersama tante Ningsih.
Keesokan paginya, Crystal tidak keluar dari kamar. Nervan masih nampak lesu, karena tadi pagi pun ia sempat muntah.
Namun ketenangan di rumah Tante Ningsih sedikit terusik, karena suara teriakan dari arah ruang tamu.
"Nervan, di mana kamu?"
Nervan dan Tante Ningsih saling berpandangan. Mereka tahu suara siapa itu.
"Papi, Tan!" seru Nervan. mereka bergegas menghampiri arah suara.
"Papi..." ucap Nervan saat mereka sudah saling berhadapan.
"Mana Cysa? bisa-bisanya kamu membawa Cysa tanpa seizin Papi dan Mami!"
"Cy-Cysa ada di ka-kamar Pih!"
__ADS_1
"Kamu apakan Cysa, Hah?"
"Tidak Evan apa-apakan Pih. Lagi pula hak Evan, membawa Istri Evan kemanapun." Nervan berusaha membela diri.
"Itu jika dalam keadaan baik! kamu tidak tahu perjuangan Cysa untuk melawan rasa trauma dan sakit hatinya akibat ulah mu? hanya laki-laki tidak tahu diri yang tidak memiliki perasaan terhadap trauma seorang wanita. Apalagi itu Istrinya!" hardik Papi.
"Mas, sabar Mas! mohon jangan begini! kasihan mereka. Mari bicara dengan baik-baik." ucap Tante Ningsih. Berharap mereka berdua saling bicara dengan kepala dingin.
"Dek Ajeng, tolong tidak ikut campur dengan urusan ini. Tanggung jawab Mas, besar di sini. Terhadap orang tua Crystal, kakaknya dan psikis Crystal! mengerti?" Papi Nervan bicara dengan pelan namun, amat penuh penekanan dengan menatap tajam Tante Ningsih.
Tante Ningsih tidak dapat berkutik lagi, ia tahu perangai kakaknya. walaupun kakaknya penuh kasih sayang namun, ia amat tegas pada pendiriannya Maka, jika ia bicara A akan tetap A, jika B akan B, tidak dapat diganggu gugat.
"Pih, Evan juga sakit. Evan butuh Cysa." bela Nervan kembali, berharap hati Papinya luluh.
"Papi tahu! sabar sedikit lagi. Jangan membuat keadaan menjadi tambah kacau, jangan sampai juga luka yang sudah rapat, kembali menganga." nampak mata Papi berkaca-kaca.
"Tapi Pih..."
"Papi, Cysa mau pulang!" terdengar suara lirih Crystal di ambang pintu kamar.
Nervan, Papi dan tante Ningsih serentak menoleh. Papi Nervan tersenyum ke arah Crystal. "Tentu Nak! mari. Cysa tunggu di mobil sebentar ya. Ada sopir di dalam mobil."
Crystal menurut dan tanpa basa-basi, ia langsung melangkah menuju keluar rumah, tanpa menoleh sedikitpun pada Nervan,masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang tengah. Begitupun dengan Papi, setelah pamit kepada tante Ningsih, Papi Nervan mengikuti Crystal dan masuk ke mobil bagian depan, duduk di disisi sopir.
"Cysa..." Nervan mengejar Crystal saat ia telah sadar, tadi Nervan sempat diam di tempatnya berdiri, menyaksikan Istri dan Papinya berlalu dari hadapannya.
"Papi, tunggu Pih! tolong kembalikan Cysa padaku!" rengek Nervan penuh harap.
"Maaf Van, nampaknya kali ini Papi tidak dapat mengabulkan keinginanmu. Keputusan ada di tangan orang tua Crystal. Setelah itu, Papi akan membantu kamu berjuang untuk mendapatkan hati Cristal, bagaimanapun Papi tidak mau Anak dan menantu Papi bercerai-berai." ujar Papi Nervan dengan menurunkan sedikit kaca jendela mobil.
Mengapa harus menunggu esok Pih? saat ini Crystal sudah ada di sini, tolong bantu Evan mendapatkan hati Cysa saat ini saja. Bukan malah membawanya pergi dan memisahkan kami kembali. Evan tidak sanggup berpisah dengan Cysa terlalu lama Pih." mohon Nervan.
"Tidak bisa Van! bukan Papi tidak mau, akan tetapi jika Papi membantumu saat ini. Maka itu hanya akan memperburuk keadaan."
Nervan tidak mengerti dengan kata-kata terakhir Papinya.
"Maksud, Papi apa?" tanya Nervan dengan rasa penasaran
"Andai kamu tahu, Cysa itu siapa?" ucap Papi setengah berbisik.
"Memangnya, siapa?" tanya Nervan kembali, dengan suara pelan.
Papi menoleh sejenak ke bangku belakang. Ia melihat Crystal sedang memalingkan wajahnya ke arah jendela sebelah kanan. Papi menghela nafasnya sejenak, ia menatap Nervan sebentar. "Cysa adalah..."
Nervan menunggu jawaban sang Papi. Namun, ia tidak sabar ingin tahu. "Adalah?"
"Cysa adalah...Putri Luna yang kamu cari selama ini!" ucap Papi Nervan pelan namun, pasti. "Jalan Pak!" setelah ucapan terakhitnya Papi Nervan, meminta sopirnya untuk menjalankan mobil.
"Putri Luna?" gumam Nervan, ia masih berdiri dan bergeming di tempatnya. Belum percaya, dengan ucapan Papinya baru saja.
"Jadi... Cysa adalah Putri Luna yang kucari selama ini?" Nervan menyeringai miris.
"Cysa..." Nervan baru sadar jika mobil Sang Papi, sudah meninggalkan tempat itu.
"Papi tunggu... kembalikan Cysa, kembalikan Putri Lunanya Evan." teriak Nervan dengan mengejar mobil Papi yang sudah menjuh.
"Van! kembali, Papi mu sudah jauh." teriak Tante Ningsih.
__ADS_1
Nervan berlutut di tanah, setelah sadar mobil Papi sudah tidak terlihat, ia duduk di atas aspal dengan menangis tanpa bersuara. "Cysa, Lunaku... maafkan aku." ucap Nervan dengan nada pilu.
Bersambung...