
"Wa'alaikum salam!"
Balas salam dari Mami Nervan, Crystal dan Nervan. Dua orang baru saja masuk.
Satu orang perempuan dan satu orang laki-laki. Usianya tidak jauh dari Nervan seperti nya.
"Tante Ningsih, Tio?!" ucap Nervan saat melihat Tante dan adik sepupu nya itu masuk.
"Lokh Dek Ajeung, Satrio! hanya berdua?" tanya Mami Nervan.
"Bude!" sapa Satrio sembari mengecup tangan kanan Mami Nervan.
"Iyo hanya berdua Tio. Bapak e Tio sedang banyak urusan. Mbak yu! maaf, Aku baru bisa datang kemari, menjenguk Mbak yu." ucap perempuan setengah baya yang masih terlihat sangat cantik.
"Ndak popo Dek Ajeung Ningsih! la wong jauh koq! tapi yo matur nuwun sanget loh, wes jenguk Mbak!" ucap Mami Nervan.
"Yo Mbak! lokh .... lokh iki sopo Mbak? Ayu tenan, ea lah Nduk! wajah mu bening e bak Krystal." celoteh Ningsih.
"Perkenalkan iku mantu ku, jenenge Crystal, panggil saja Cysa!" jawab Mami Nervan.
"Masya Allah, Nama mu se ayu Wajah mu Nak! perkenalkan saya Ningsih, panggil Tante Ningsih saja, Evan biasa memanggil Tante begitu." ucap Ningsih.
Crystal masih berada di atas pangkuan Nervan dengan raut wajah yang sudah betul-betul memerah karena malu. Berbeda dengan Nervan yang malah dengan sengaja mempertontonkan pada kerabat nya yang baru datang itu.
"Hai Tante Ningsih, Apa kabar?" sapa Crystal. Malu sebetulnya itu yang terjadi pada Crystal, karena Nervan yang tidak mau melepaskan dari atas pangkuan nya.
"Alhamdulillah apik Cysa. Yok Wis, Tate tak ngobrol dulu dengan Mami mu." Pamit Ningsih.
"Enggih Tante, monggo." Balasan Crystal. "Lokh kamu bisa bahas jawa sayang?" tanya Nervan.
"Sedikit?" Crystal menyeringai.
"Uuuu .... wes ayu, pandai ngomong jowo. Mbak, tidak salah pilih rupa nya cari mantu iku." celoteh Ningsih yang lagi-lagi memuji Crystal.
"Iyo Dek Ajeung. Iku pilihan ne Evan toh." Akhirnya Mami Nervan dan Ningsih mengobrol dengan sesekali terdengar tawa dari mereka.
"Hai Tio apa kabar" tanya Nervan dengan santai nya. "Hai Mas!" Tio nampak kalem, setelah menyapa Mami nya Nervan, ia duduk di sofa dekat Nervan.
"Mas turunkan Aku!" bisik Crystal. Ingin rasanya Crystal menggigit kuat Bibir Nervan yang sedang tersenyum ke arah sepupunya dengan tanpa rasa risih.
"Diam! biarkan mereka melihat kemesraan ini. Atau ku kupas pakaian kamu saat ini pun." ancam Nervan kembali berbisik dengan tetap nyengir kuda.
"Ada apa dengan kalian berdua Mas?" tanya Tio, yang faham Crystal seperti tidak menikmati apa yang ada dalam pandangan nya.
"Heee .... tidak ada apapun, selain di mabuk asmara! iya kan sayang?" ucap Nervan tanpa ada rasa malu atau canggung nya. Crystal hanya mencibir.
"Pantas mesra sekali. Pengantin baru! lalu kapan resepsi nya Mbak?" terdengar Ningsih bicara dengan Mami Nervan.
Satrio masih mempertahankan Nervan dan Crystal. Pasangan pengantin baru tapi gayanya koq aneh.
"Nanti lah Dek, Setelah aku pulih. Do'a kan saja secepatnya." terdengar Mami Nervan memohon doa.
__ADS_1
"Tentu Mbak! Insya Allah, Mbak akan segera lekas sembuh. Aamiin." balas Ningsih.
"Mas, Aku agak lama di sini! aku hendak belajar cara berbisnis dari Mas Nervan." Tio membuka percakapan. Namun tatapannya tidak teralihkan dari Crystal dengan senyuman manis dari bibirnya.
"Ok! kamu hubungi saja asistenku si Ipin," ucap cuek Nervan. wajah nya sedang berada di balik rambut Crystal dan menyesapi wangi nya.
"Ipin? sejak kapan Asisten Mas Nervan berubah jadi si Ipin?" tanya Tio yang memang tidak mengerti.
"Sejak tadi siang! sudah, jangan banyak tanya, datang saja ke pabrik. Nanti kamu temui dia." Ucap Nervan lagi, tanpa melihat lawan bicaranya. Tio hanya manggut-manggut.
"Mih, Evan dan Cysa pulang yah! kan sekarang Mami ada temannya. Tante dan Tio tidak keberatan kan? kalau Evan minta tolong titip Mami. Sebentar lagi Papi tiba koq!" ucap Nervan.
"Pergilah Nak!" izin Mami Nervan dengan senyum kebahagiaan.
"Tidak apa-apa Cah bagus! Tante dan Tio tidak keberatan koq. Tante juga rindu dengan Mami mu, sudah beberapa bulan tidak bertemu langsung seperti saat ini." ujar Ningsih.
"Baiklah, kami pamit. Terima kasih ya Tante!" ucap Nervan sambil berdiri tanpa menurunkan Crystal dari gendongan nya.
"Sama-sama!"
"Lokh .... lokh. Kamu mau keluar dengan menggendong Cysa, Van?" tanya Mami nya Nervan.
"Ia Mih! sah sah saja kan? maklumi saja Mih, masih anget-anget nya, Evan dan Cysa tidak dapat di pisahkan." jawab Nervan cuek.
Mami Nervan hanya geleng- geleng kepala melihat tingkah Nervan. Crystal meronta-ronta minta di lepas, namun Nervan kukuh mengangkat nya.
"Kami pergi, Assalamu'alaikum!" pamit Nervan. "Wa'alaikum salam!" balas serempak mereka.
"Mas, Cysa tidak nyaman itu, turunkan saja!" ucap Tio.
Setelah sampai di luar kamar,
"Mas biarkan aku turun dan jalan sendiri, toh pura-pura nya juga sudah kan!" pinta Crystal.
"Baik!" bruk!! Nervan menurunkan Crystal di lantai setengah melempar nya.
"Aw! aduuuh sakit! kamu keterlaluan Mas!" sarkas Crystal.
"Lokh, kamu kan yang minta di turunkan! apanya yang keterlaluan?" tanya Nervan.
"Ya ampun Mas! tapi gak gini caranya. Kaki aku masih sakit, sekarang pinggang aku rasanya hampir patah, kamu gangguan jiwa Mas? sebentar baik, lembut, sebentar kasar, kesal." sarkas Crystal.
"Heh! enak saja orang ganteng gini di bilang gangguan jiwa." sergah Nervan.
"Lalu, apa namanya? dasar manusia aneh! Norak!" dumel Crystal.
"Apa kamu bilang?" tanya Nervan sembari jongkok di hadapan Crystal yang masih duduk bersimpuh di lantai rumah sakit.
"Yeah weird! You are a strange human!" ( Ya aneh! kamu manusia aneh). Teriak Crystal.
"Lebih baik Aku yang aneh, daripada kamu gak jelas!" Nervan berucap tepat di hadapan wajah Crystal dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Plak! satu telapak tangan Crystal lepas kendali dan mendarat mulus di pipi Nervan. Nervan memegangi pipi nya, lalu ia menatap dingin Crystal.
"Maaf mas! aku ref ...." ucapan Crystal terputus saat Nervan sudah dengan kasar melahap bibirnya.
Crystal memberontak dan mendorong Nervan hingga Nervan terjerembab.
"Kamu betul-betul tidak tahu diri dan tidak tahu malu!" pekik Crystal dengan menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
"Hei perempuan! kamu itu istri nya Aku! apanya yang tidak tahu diri, hah? aku berhak melakukan apapun terhadap mu, asal kamu tahu! ini salah satu nafkah wajib suami dan istri." hardik Nervan. Lalu ia duduk di lantai dan bersandar pada dinding rumah sakit.
Koridor lantai lima VVIP memang selalu sepi. Lebih mirip kamar hotel ketimbang rumah sakit. Jadi Nervan tidak khawatir akan di usir dari tempat itu.
"Istri? yah istri. Aku adalah istri dari Nervan Abigail Skyner dan hanya sebagai istri yang di nikahi karena janji terhadap Mami. Bukan menikah karena keinginan kamu, Mas!" ucap lemah Crystal lebih terdengar bergumam.
"Ok! memang kamu adalah istri yang aku nikahi karena janji pada Mami. Yes, Married because of promise! tapi kita menikah sah di mata hukum dan Agama."
"Mas, aku sempat tertipu dengan sikap manis mu tadi! ternyata palsu!" ucap Crystal lirih.
"Heh, kan Aku sudah katakan! kita akan bersikap mesra saat di hadapan Mami dan orang yang ada di sekitar kita," ucap Nervan kembali dengan sinis.
"Sampai kapan?" tanya Crystal lagi. "Sudahlah! kamu mau ikut aku pulang, atau tetap di sini?" tanya Nervan dengan lebih lirih.
Crystal tidak menjawab apapun.
"Mas jawab?" pekik Crystal, karena Nervan tidak menjawab pertanyaan nya. Ia malah berdiri dan mulai berjalan meninggalkan nya.
"Entahlah, aku kecewa pada mu! hari ini acting mu jelek sekali, hingga Tio berhasil membaca ke pura-puraan kita. Bisa saja Mami tidak percaya lagi dengan kemesraan yang nampak dan kata-kata Tio sudah menjatuhkan martabat ku sebagai seorang laki-laki serta Suami."
Nervan membalikkan tubuhnya dan menatap Crystal tajam, kali ini ia menjawab pertanyaan Crystal.
"Maaf!"
Crystal merasa bersalah, walaupun ia sakit dengan perlakuan Nervan, namun ia merasa tidak enak hati dengan kelakuan nya yang sudah membuat Nervan kecewa.
"Sudahlah." ucap dingin Nervan. Ia melenggang begitu saja meninggalkan Crystal yang masih berusaha berdiri. Bulir-bulir air mata berjatuhan mengiringi usaha nya untuk berdiri.
Walaupun rasa tubuhnya tidak baik-baik saja, Crystal memaksakan berdiri. Sakit di pinggang hingga kaki begitu menyiksanya.
"Mas! Mas! Aku sudah duga, Kamu menikahi Crystal karena modus tertentu. Mana ada Seorang Nervan dapat luluh begitu saja terhadap perempuan. Aku yakin dia masih mencintai Diandra." gumam seorang laki-laki. Ia adalah Satrio.
Ternyata Satrio mengikuti langkah Nervan. Maka kini rahasia Nervan sudah ada yang mengetahui yaitu Satrio.
Satrio masih berdiri dekat pilar dinding rumah sakit, tempat ia menyelinapkan tubuh nya tadi.
Ia menatap langkah tertatih Crystal dengan cemas. Satrio merasa iba dengan keadaan Crystal dan ada rasa kesal terhadap Nervan yang telah memperlakukan Crystal dengan kasar.
"Aku harus bisa. Ya Allah pinggang ku sakit sekali. Kaki ku juga berdeyut, apakah aku akan kuat berjalan hingga parkiran? atau ku pergi saja! tapi ke mana? Aku tidak ingin kembali ke rumah." Gumam Crystal.
Crystal berjalan merambat pada dinding. Namun apes nya kali ini kepala nya terasa berputar, keringat dingin mulai membasahi tubuh Crystal. Pandangan nya kabur dan gelap. Nervan entah sudah ke mana. Crystal tidak sanggup lagi akhir nya Crystal menyandarkan kepalanya pada dinding dan tidak ada pergerakan lagi. Beberapa detik kemudian, tubuh Crystal luruh ke lantai.
Satrio yang menyaksikan itu, ia segera berlari. Namun terlambat, kepala Crystal membentur lantai.
__ADS_1
"Hoooo .... Cysa! Astagfirullah!" pekik Satrio. Bersamaan dengan itu Papi Nervan baru saja keluar dari lift dan sedang berjalan ke arah Crystal.
Bersambung ....