Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
69. Ancaman Zafier.


__ADS_3

kecemasan dua keluarga, Skyner dan juga Ryzer akhirnya mereda, walapun mereka belum bisa bernapas lega. Setelah perjuangan dokter menyelamatkan Crystal dan juga bayinya selama hampir delapan jam, team dokter keluar dengan wajah lesu, mengatakan bawa Crystal sudah dapat melewati masa kritisnya, akan tetapi saat ini, Crystal belum sadarkan diri.


"Selamat, atas kelahiran Putra saudara!" dokter memberikan selamat kepada Nervan.


"Putra?"


"Yes! Baby Boy! bayi anda laki-laki!"


"Masya Allah." terdengar nada sumringah, bahagia, dan bangga dari Nervan.


Nervan seperti mendengar sebuah keajaiban. Pasalnya, ketika beberapa hari lalu di lakukan USG, jenis kelamin calon bayinya adalah perempuan. Walupun bahagia, akan tetapi Nervan kurang bersemangat saat mengetahuinya.


"Lalu ... bagaimana, dengan keadaan istri saya, Dok?" tanya Nervan.


"Itu Putri saya!" Papi Harsyal tiba-tiba saja ikut bicara. Dokter dan Nervan hanyalah melihatnya sebentar, dokter tersenyum ke arah Papi Harsyal.


"Keadaan istri saudara, mulai stabil! akan tetapi ia masih berada di ruang ICU. Kami masih memantau perkembangannya, usai mengalami pendarahan hebat. Kita lihat beberapa jam ke depan, perkembangan apa yang terjadi dengan saudari Crystal. Dikarenakan kami pun belum dapat memastikannya."


"Subhanallah. Lalu ... untuk putra saya?" tanya Nervan kembali.


"Putra Saudara saat ini berada di ruang NICU. Kami perlu melakukan perawatan intensif lanjutan, kerena kondisinya tidak stabil," jawab dokter.


"Ma-Maksud dokter apa?" kali ini Papi Aarlic angkat bicara.


"Sesuai yang tadi saya katakan! bayi saudara Nervan mengalami kelahiran prematur, di karenakan usia kandungan yang belum cukup matang untuk melahirkan. Maka alat vital dalam dari Putra Saudara Nervan memerlukan perawatan suportif, berupa monitoring tanda-tanda vital bayi, juga penggunaan inkubator."

__ADS_1


"Astagfirullah'alazim ...." ucapan secara bersamaan.


Nervan sudah selesai mengazani putranya dengan linangan air mata. Melihat keadaan bayi yang mungil dan berat badannya kurang, pernapasannya bermasalah, tidak tahan rasanya melihat sang Putra tersiksa karena alat-alat medis yang membantunya bertahan hidup. Namun, bagaimanapun ia harus tegar. Dan percaya akan keajaiban dari Tuhan.


Setelah selesai mengazani putranya, Nervan bergegas ke ruang ICU untuk melihat keadaan Crystal. Nervan sudah masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.


Tubuh yang biasanya aktif, enerjik dan ceria. Kini tergolek lemah di atas brankar ICU. Berbagai alat terpasang di sana. Lagi-lagi Nervan meneteskan air mata. Ia menyesal mengapa tidak membawa Crystal kembali ke rumahnya dari sejak awal. Walaupun harus menentang Papi Harsyal. Betul kata dokter, stres berlebihan yang di alami Crystal selama ini, maka mengakibatkan Crystal mengalami pendarahan hebat saat melahirkan dan sebab jatuh ia pun harus melahirkan dini, dengan kelahiran prematur.


"Sayang! cepat dasar." ucap Nervan lemah, sembari mengecup kening sang istri. Uraian air matanya tak mampu ia bendung, hingga ia tergugu pelan dalam tangisan.


Hari berjalan begitu cepat, ini hari ketiga untuk Crystal dan belum menunjukkan tanda-tanda Crystal akan sadarkan diri.


Nervan belum pulang ke rumah sama sekali selama tiga hari ini. Pekerjaan Nervan setiap hari hanya menunggu Crystal di depan ruang ICU dan sesekali ia melihat Anak-nya di inkubator. Itu menimbulkan rasa kekhawatiran baru untuk keluarga Nervan.


Mereka khawatir akan kesehatan Nervan. Zafier, Rendra, Rendi dan Satrio akan bergantian datang untuk menemaninya. Sudah tiga hari pula akan tetapi masih belum ada perkembangan apapun untuk Crystal dan juga Putra mereka, masih dalam perawatan intensif di ruang NICU.


Keinginan gila Papi Harsyal menikahkan Crystal dengan Gibran masih belum berhenti. Ia masih merencanakan segalanya, setelah Crystal keluar dari rumah sakit, ia sudah mempersiapkan pernikahan Crystal dan Gibran. Saat ini surat perceraian sedang diproses dan sepertinya akan selesai pada waktu yang tepat. Namun, Zafier masih berusaha menggagalkannya.


Hari kedelapan, Crystal belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Kabar baiknya, Putranya Nervan menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. Kini bobot tubuhnya mulai naik. Sesak napas yang ia derita mulai berkurang.


Nervan sudah menyiapkan nama untuk sang Putra. Akan tetapi, ia belum mencetuskannya. Dia ingin memberikan nama untuk putranya bersama-sama Crystal.


Sudah delapan hari pula, Nervan tidak pulang kerumah. Keadaannya begitu berantakan, nampak tak terawat. Sehari- semalam ia hanya duduk terpekur di ruang tunggu depan ICU. Saat malam hari, ia akan diberikan kesempatan menemani Crystal setelah tengah malam hingga pagi.


Orang tuanya Nervan, serta yang lainnya sudah membujuk agar Nervan pulang. Sekedar untuk istirahat. Akan tetapi, Nervan menolaknya. Dengan alasan, ia ingin menjadi orang pertama yang Crystal lihat saat ia sadar.

__ADS_1


***


Siang hari di rumah Papi Harsyal,


"Jadi ... Papi masih bersikeras, ingin menikahkan Cysa dengan laki-laki itu?" tanya Zafier saat sang Papi terdengar menelpon WO untuk mempersiapkan segalanya.


"Tentu! apalagi sekarang Cysa sudah tidak hamil. Itu tandanya harus secepatnya, agar Crystal bisa pergi dari sini."


"Ma-maksud Papi apa? dengan Cysa yang akan pergi dari sini?" tanya Mami.


"Mereka akan menetap di Swiss, Gibran akan mengurus perusahaan yang di sana dan Crystal akan kembali melanjutkan pendidikan S-2 nya." jawab Papi Harsyal. Tekad gila sang Papi terdengar tidak masuk akal.


"Tidak bisa begitu dong! Cysa masih harus merawat Bayi-nya." ucap Mami.


"Untuk bayi itu, Papi akan memberikannya kepada keluarga terkutuk itu. Papi tidak sudi memiliki keturunan dari mereka."


"Papi keterlaluan! tidak memikirkan putrinya, tidak memikirkan Cucunya! Papi harus tahu, siapa Gibran dan keluarganya, mereka itu penipu Pih! buka mata Papi. Pakai hati nurani Pih!" Zafier emosi mendengar penuturan sang Ayah baru saja.


"Jangan mengada-ngada, kamu ya! jelas-jelas mereka dari keluarga terpandang dengan kerajaan bisnis di mana-mana." Papi Harsyal tidak percaya dengan apa yang Zafier katakan.


"Lihat saja Pih, aku akan membuktikannya. kini bukti-bukti sudah Aku kantongi. Akan tetapi, belum tepat waktu aku membukanya. Aku akan membeberkan semuanya saat Crystal sudah siuman. Aku ingin dia tahu, keberhasilan yang ku capai saat mampu menggagalkan pernikahan paksanya ini." ucap lantang Zafier.


"Buktikan saja! tidak usah berkoar-koar." Tantang Papi Harsyal.


"Baik! kita akan tunggu waktunya tiba, saat hari itu tiba dan saatnya tiba, Papi hendak menangis namun, tidak bisa! Papi hendak meminta maaf akan tetapi sudah terlambat! dan mungkin di hari itu, Papi tidak sanggup menunjukkan wajah saking malunya. Sehingga Papi memilih pergi, meninggalkan kami." Kata-kata Zafier sungguh pedas dan harus di akui Papi Harsyal mendadak ciut sedikit, walaupun di wajahnya tetap menunjukkan keangkuhan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2