
Matahari mulai meninggi. Namun, dua insan yang semalam bertempur hebat dengan amunisi asmara, masih terlelap dengan berpelukan.
Nervan mulai menggeliat, saat merasakan matahari cukup menyorot dari balik hordeng yang sedikit terbuka.
"Sayang, bangun! sudah siang," Nervan menepuk lembut bahu terbukanya Crystal. Karena kelelahan, semalam mereka tidur tanpa berbusana. Hanya menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal.
"Nanti Mas, masih ngantuk! aku juga lelah." gumam Crystal, ia kembali menyusupkan wajahnya pada tubuh Nervan bagian depan, mencari tempat ternyaman untuk ia kembali terlelap.
"Sayang! bangun dulu, mandi dulu nanti setelahnya kita sarapan. Aku pesan food delivery online saja." bujuk Nervan.
"Mas... lima menit lagi," Rajuk Crystal dengan nada manja.
Jika sudah seperti itu, apa yang mampu Nervan lakukan, selain pasrah memeluk Crystal makin dalam. Namun, setelah lima menit berlalu, senyuman jahil Nervan pun tercipta di bibir seksinya.
Nervan kembali memperdayai Crystal. Hingga Crystal yang awalnya berkata lelah pun terbuai dan akhirnya mengikuti alur penganiayaan asmara di pagi hari.
**
Sore hari,
kini keduanya baru menikmati makan, mereka baru mengisi perutnya untuk jatah makan pagi siang dan sore, karena beberapa waktu makan mereka lewati setelah melalui pertempuran asmara dari semalam. Keduanya nampak bahagia dengan segala canda tawa.
Setelah makan, Nervan mengajak Crystal melihat kamar yang akan mereka tempati, yaitu di lantai bawah, karena ia pun khawatir jika Crystal yang dalam keadaan hamil harus naik turun ke lantai atas.
"Mas, Masya Allah ini kamar lebih enak loh, lihat viewnya! kolam renang." Crystal berjingkrak kegirangan saat memasuki kamar yang telah lama Nervan kunci. "Mas jahat deh! mengapa harus dikunci segala sih kamarnya?"
"Ya kalau tidak begini, kamu pasti akan minta tidur berpisah deh! aku kan tidak mau! masa sudah punya istri, bubu sendiri! nggak asik dong." balas Nervan, tangannya sibuk menyibak gordeng demi gordeng yang masih menutup.
"Iya juga sih! secara otak Mas Nervan itu kan kotor. Pasti tidak akan mau meninggalkan tubuh ku di kamar lain, secara jika tidur dekat aku, Mas bisa pegang-pegang aku kan?" tuding Crystal dengan tertawa.
"Hem, fitnah yang di benarkan tuh!" Nervan membalas tudingan Crystal dengan tertawa juga.
"Mas! ini sudah bersih koq! boleh dong, malam ini kita mulai bobo ke sini?" tanya Crystal dengan memicingkan mata.
"Boleh koq! akan tetapi, lebih baik aku pel sebentar ya Sayang, kamu tunggu di ruang televisi saja. Aku akan menyapu dan mengepel lantainya terlebih dahulu".
"Sepreinya juga Sayang, sepertinya harus diganti. Karena sudah beberapa minggu ini, aku tidak menggantinya." ujaran Nervan kembali.
"Baiklah Mas! kalau begitu aku bisa bantu apa, Mas?" tanya Crystal.
"Untuk princess ku, duduk yang manis, nonton televisi dan makan camilan. Biar suamimu ini yang bekerja," ucap Nervan, sembari memeluk tubuh Crystal.
"Ouh co cuit, suamiku! oke, terima kasih banyak calon papa anakku." puji Crystal.
"Sama-sama calon Mama dari anakku!" Nervan mengecup bibir Crystal hanya sebentar, itu tidak terlalu dalam namun, sudah cukup untuk membangkitkan bunga-bunga asmara didalam hati keduanya.
__ADS_1
Akhirnya, setelah diantar oleh Nervan ke sofa yang berada di ruang televisi, Crystal dipersilakan menonton televisi dan memakan camilan. Sedangkan Nervan bergegas ke belakang mengambil alat pel, sapu dan lainnya untuk membersihkan kamar.
Kegiatan Nervan membersihkan kamar, akhirnya selesai menjelang Magrib, keinginan Crystal untuk menempati kamar lantai bawah, malam ini terealisasikan sudah.
***
Kehidupan mereka, semakin hari semakin baik. Cinta mereka pun semakin lama kian tumbuh seiring janin yang juga tumbuh di dalam rahim Crystal. kandungan Crystal sudah memasuki bulan ke enam.
Tentu saja, kebahagiaan semakin dirasakan oleh Nervan. Apalagi saat ini, ia sudah mulai dapat mengelus perut buncitnya Crystal.
"Sayang ada telepon tuh," teriak Nervan dari kamar mandi. Sedangkan Crystal, saat ini sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan.
"Iya Mas biarkan nanti saja, Aku sedang nanggung nih!" jawab Crystal dari arah dapur. Di saat mereka berdua saja di dalam rumah, Nervan tidak pernah menutup pintu kamar saat dia mandi, bahkan pintu kamar mandinya sekalipun, karena ia takut terjadi apa-apa dengan Crystal. Sambil mandi, ia dapat memantau Crystal juga, yang sedang berkegiatan di dapur.
Nervan segera menyudahi mandinya, ia tidak nyaman mendengar telepon Crystal yang terus- terusan berdering.
"Dari Kak Zafier?" gumam Nervan saat melihat panggilan masuk. Ia terlambat, karena panggilan itu sudah terputus.
"Dari siapa Mas?" tanya Crystal yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Kak Zafier, Sayang!" jawab Nervan sembari menghampiri Crystal dan memberikan teleponnya.
Crystal meneliti nomor telepon yang ada di dalam panggilan tidak terjawab itu, ya itu memang telepon dari Zafier, kakaknya.
"Mungkin, ada kepentingan Sayang! coba telepon kembali," pinta Nervan.
"Nanti saja Mas! atau aku menunggu Kak Zafier kembali menelepon. Lebih baik, Mas pakai baju. Mari aku bantu," tawar Crystal.
"Baiklah! mari Sayang."
Crystal mengambil pakaian kerja Nervan dari dalam lemari. Nervan menunggunya di sisi tempat tidur, setelah Crystal membawa pakaian lengkap, ia segera membantu Nervan berpakaian. Setelahnya mereka sarapan, dengan makanan yang telah disediakan oleh Crystal sebelumnya.
"Sayang, mau ikut aku ke kantor, atau ke rumah Mami?" tanya Nervan disela-sela makan pagi atau sarapannya.
"Aku... hari ini ke rumah Mami saja deh Mas!"
"Oke, aku antar kamu ke rumah Mami."
"Mas, nanti terlambat! biar minta di jemput supir Mami saja."
"Tidak mengapa Sayang! hari ini aku tidak ada jadwal pertemuan dengan Client Koq."
"Oh begitu! ya sudah, terima kasih ya Mas," ucap Crystal.
"Harusnya aku yang bererima kasih kepadamu. Karena kamu sudah menjadi istri yang baik untukku dan menantu yang terhebat untuk mami," ujar Nervan.
__ADS_1
"Aaa Mas bisa saja! jangan- jangan dibalik pujiannya ini, ada udang dibalik bakwan ya?" tanya Crystal.
"Memang, koq kamu tahu sih?"
"Tuh kan, modus!" ucap Crystal.
"Harus dong, modusin istri itu indah tahu," goda Nervan.
"Ih, Mas suka gitu deh." protes Crystal dengan cemberut, lalu ia meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamar.
"Hahahaha Sayang, jangan marah dong!"
"Aku marah, keterlaluan kamu Mas!" Crystal tidak marah sebetulnya, tujuannya ke kamar untuk bersiap.
Nervan malah tertawa, melihat kelakuan istrinya begitu menggemaskan dan lucu.
"Nanti malam ya Sayang! lima ronde ya Yank!" goda Nervan dari arah meja makan dengan suara kencang.
"Enak saja! sana di dalam ring tinju, kalau mau rondean gitu. Kamu pikir aku samsak bernyawa gitu." ketus Crystal. "Kalau kamu mau, pindahkan dulu nih bayi ke perutmu, baru aku mau diajak lima ronde bahkan lebih, Mas." balas Crystal.
"Ya ampun! jika saja bisa Sayang!" Nervan mengekeh.
Di saat mereka sedang asyik bersenda gurau dengan melempar candaan dari kamar dan ruang makan. Terdengar bunyi bel di luar rumah Nervan.
"Mas, ada tamu!" ucap Crystal
"Iya Sayang!"
"Mas coba tolong lihat, siapa yang datang. Aku sedang memakai lipstik nih." pinta Crystal, yang sedang mematut dirinya di cermin.
Crystal tidak ikut sarapan dengan Nervan, karena selalu mual jika sarapan pagi, maka dari itu ia cukup minum susu Ibu hamil. Nanti setelah ia sampai kantor Nervan atau rumah Mami-nya, baru dia akan memakan sesuatu setelah agak siang.
"Baik, aku lihat sebentar. Paling juga Upin dan Ipin. Ngapain juga pagi-pagi kesini," ucap Nervan sembarin bangkit dari duduknya.
Nervan pun bergegas ke ruang depan untuk membukakan pintu, dan setelah pintu terbuka, betapa terkejut saat Nervan melihat Siapa yang datang.
"Assalamualaikum..." sapa tamu tersebut.
"Wa-Wa'alaikum salam..." balas Nervan.
"Siapa Mas?" tanya Crystal dengan suara yang berasal dari dalam kamar.
"Ini, anu... Sayang!" jawab Nervan dengan suara di kerasakan dan mempersilakan tamunya masuk.
Bersambung...
__ADS_1