Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
60. Suicide attempt


__ADS_3

Hampir pagi, di mana keadaan alam masih di selimuti sisa malam. Dengan malas, Nervan bangkit dari tempat tidur. Sepagi ini, ia terpaksa harus meninggalkan Crystal kembali.


"Sayang! maafkan aku tidak dapat menemani kamu tidur, hingga siang," ujar Nervan dengan berbisik. Crystal hanya menggeliat pelan.


Nervan segera menuju kamar mandi, setelah mengecup kening Crystal. Beruntung, Papi Harsyal mengunci Crystal di dalam kamar berukuran besar dan dengan fasilitas lengkap. Kamar mandi yang cukup besar, home teather, taman kecil di balkon dan ruang mini untuk bersantai serta membaca, lengkap dengan kulkas kecil berisi makanan ringan.


"Mas...!" Crystal memanggil Nervan saat ia menyadari, Nervan sudah tidak ada di sisinya lagi. "Mas, koq kamu pergi tidak pamit."


Crystal segera bangun dari tempat tidur. Lalu ia membuka jendela tempat Nervan naik semalam.


"Sayang! sedang apa di situ? masih gelap, bahkan Azan Subuh saja belum." Nervan yang baru keluar dari kamar mandi merasa panik melihat istrinya melongok ke arah bawah.


"Mas Evan!" Crystal segera berbalik badan. "Astagfirullah... aku pikir, Mas sudah pergi tanpa berpamitan padaku."


Crystal menghampiri Nervan yang masih menggunakan handuk di area pinggang hingga ke atas lutut.


"Maaf Sayang! aku baru saja mandi, aku tidak tega saat hendak membangunkan kamu tadi." Ujar Nervan dan berjalan menghampiri Crystal.


"Tidak apa-apa Mas! ku pikir Mas pergi, baiklah! aku mandi sebentar, sebelum Mas pergi. Jadilah Imam Salat Subuh ya?" tanya Crystal.


"Tentu! mau, aku antar mandinya?" tanya Nervan.


"Tidak perlu Mas! aku bisa sendiri," Crystal tersenyum, lalu ia beranjak ke kamar mandi. Nervan segera bersiap untuk Salat.


Baju Nervan bersih, jadi bisa di gunakan untuk Salat. Semalam, ia menggunakan kaus dengan celana panjang yang di padukan dengan jaket. Dan setelah melakukan per-duelan asmara. Nervan dan Crystal tidur tanpa berpakaian, mereka hanya menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


Setelah Crystal selesai mandi, lalu mereka salat berjamaah. Setelah selesai Salat. Kini saatnya Nervan pergi dari kamar itu. Crystal malah enggan melepas Nervan. Ia memeluknya erat di depan jendela yang terbuka.


"Mas! aku masih rindu." ucap Crystal.


"Aku pun Sayang!" Nervan mengecupi pelipis Crystal.


"Mas, jangan pergi. Please, tetap di sini bersama ku dan calon anak kita." Crystal begitu mengiba meminta hal itu.


"Sayang! nanti malam aku akan kembali. Untuk saat ini, aku harus pergi." bujuk Nervan.


Walaupun dengan merajuk dan cemberut. Crystal mengiyakan dengan syarat, nanti malam Nervan kembali menemaninya.


Akhirnya Nervan dan Crystal Kembali berpelukan, sebagai tanda perpisahan sementara, di hiasi derai air mata Crystal.


"Ssstt ... jangan menangis, kasihan dedeknya nanti ikut menangis," ujar Nervan dengan tersenyum.

__ADS_1


"ia, Mas!" balas Crystal.


Cup!


Crystal mengecup bibir Nervan. Maka kecupan yang terbalas itu berubah menjadi ciuman hangat di pagi hari.


"Baik-baik ya, jangan menyiksa diri dengan mogok makan, ingat! hatiku selalu bersauh erat dengan hatimu."


Nervan menangkup pipi Crystal dengan kedua telapak tangannya. Crystal mengangguk, lalu Nervan mengecup kening Crystal dengan mendalam.


"I love you Cysa! I love Putri Luna ku!" ucap Nervan dengan menatap hangat Crystal.


"Love you more, Mas Evan. Love you More Pangeran penyelamat ku." balas Crystal dengan tersenyum.


Walupun susah payah namun, tetap hati-hati Nervan kembali turun ke dari kamar lantai dua itu, dengan bantuan seprei yang di ikat. Dengan aman, Nervan berhasil pergi dari rumah Papi Harsyal. Di ujung jalan, sudah ada Iwang yang menunggunya.


Siang hari,


"Non Cysa, tolong jangan lakukan itu!" seorang bodyguard menahan Crystal agar tidak melakukan hal gila, yaitu memotong nadinya.


"Peduli apa kalian? terhadap ku, hah?" tanya Crystal dengan berteriak. "Jika kalian di pisahkan dengan orang yang kalian cintai, lalu di kurung? apa yang akan kalian lakukan? jawab!" teriak Crystal kembali.


"Akh!" Crystal meringis pelan. Tatapannya nyalang kepada para bodyguard Papi-nya. Darah segar, mengalir dari pergelangan tangan Crystal.


"Nona, Anda terluka. Sebaiknya di obati dulu, mari kembali ke kamar," ajak sang Art yang melihat tangan Crystal terluka.


"Tidak perlu! aku ingin Suami ku yang mengobatinya." Crystal bersikeras ingin Nervan yang mengobati luka tersebut.


"Maaf Nona, tidak bisa!"


"Kalian jahat!"


Crystal luruh ke lantai. Ia makin sesenggukan sembari memegangi perutnya. Tangan yang terus mengeluarkan darah tidak ia pedulikan.


"Pak, bagaimana ini?" tanya sang Art kepada salah satu Bodyguard.


"Saya telepon Tuan Zafier. Karena Tuan besar pasti sedang tidak bisa di ganggu. Di sana masih tengah malam." Jawab sang Bodyguard.


Zafier yang tadi berangkat bekerja, kini ia malah sudah pulang ke apartemen tunangannya. Katanya ia merasa tidak enak badan. Ingin menumpang istirahat sebentar, karena apartemen sang tunangan lebih dekat ke kantornya.


"Bagaimana, keadaan Cysa?" tanya Verline.

__ADS_1


"Kondisinya tidak stabil. Terkadang mau makan, terkadang tidak. Tak jarang berteriak histeris. Hanya pagi ini, Crystal lebih tenang. Semalam Nervan menyelinap dan memanjat ke kamar Crystal." jawab Zafier.


"O... So sweet, Honey. Salut untuk Nervan. Cinta sekali terhadap Cysa."


"Yes Baby, baiklah... aku tidur sebentar, jangan pergi dari sini." ucap manja Zafier. Ia sedang merebahkannya kepalanya di atas pangkuan Verline dan Verline duduk di sofa.


"Tidurlah! aku tidak akan kemanapun Honey."


"Thank you," Zafier mengecup singkat bibir sang tunangan. Lalu setelahnya, ia memejamkan matanya.


Lima belas menit berlalu, telepon Zafier berdering. Verline melirik ponsel Zafier yang tergeletak di sisinya. Panggilan bertuliskan 'Home'


"From home? what happen?" gumam Verline. Di antara ragu akan menjawabnya atau tidak. Walaupun mereka telah pacaran lama dan baru-baru ini bertunangan. Namun, Verline amat menghargai privasi Zafier.


Telepon pun terputus. Namun, tidak berapa lama ponsel Zafier kembali berdering, masih dari panggilan yang sama. Akhirnya Verline terpaksa menerima telepon tersebut.


Seorang laki-laki yang bicara dan Verline tidak mengenal suara tersebut. Tentu saja itu adalah salah satu Bodyguard Papi Harsyal.


"What?" tanya Verline setengah menyentak. Orang itu mengabarkan jika Crystal terluka, karena melakukan percobaan bunuh diri.


Zafier yang mendengar Verline berbicara tidak selembut biasanya. Ia terbangun dan segera menajamkan pendengarannya masih dengan mata tertutup.


"Bagaimana keadaannya? ok kami akan segera ke sana. Tolong panggilkan dokter," pinta Verline pada orang di balik telepon. Setelahnya Verline memutuskan sambungan telepon begitu saja.


"Beib, ada apa?" akhirnya Zafier membuka mata.


"Hon, sudah bangun?" tanya Verline dan Zafier mengangguk.


"Cysa, Hon!"


"What happen, with Cysa?" tanya Zafier sembari langsung duduk karena ia mendengar Cysa di sebut oleh Verline. Matanya menyorot wajah Verline dengan serius.


"Suicide attempt!"


"What? Astagfirullah... I must go to home now, Baby," ucap Zafier.


Zafier segera berdiri dengan limbung. Kepalanya masih terasa pusing, walupun sudah minum obat.


"Honey, biar aku yang menyetir. Kamu sedang tidak sehat," tawar Verline dan tanpa kompromi atau penolakan. Zafier mengiayan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2