
Zafier kembali ke rumah sang Papi, keesokan harinya. Setelah ia pulang dari kantornya yang belum lama di rintis. Zafier memang memisahkan diri dari perusahaan Papi Harsyal. Semalam ia tidak pulang dan Zafier menginap di rumah Nervan.
Zafier betul-betul mengandalkan kemampuannya di bidang pekerjaan, tanpa membawa embel-embel nama sang Papi, yang tentunya sudah sangat terkenal di dunia perbisnisan.
Zafier yang baru saja turun dari mobilnya. Nampak tertegun, ketika ia melihat dua buah mobil asing di halaman rumah mereka, baru kali ini Zafier melihat mobil tersebut.
"Mobil, siapa? apakah di dalam sedang ada tamu?" gumam Zafier.
Zafier segera masuk ke dalam rumah. Betul saja, di ruang tamu sudah duduk tiga orang yang tidak Zafier kenal. Sepertinya kolega sang Papi. Seorang perempuan setengah baya, laki-laki yang usianya tidak jauh dari perempuan tersebut.
Lalu, seorang laki-laki cukup tampan dengan tampilan perlente. Sepertinya pria itu lebih muda darinya dan Nervan. Crystal juga berada disana, ia melihat ke arah laki-laki itu, dengan tatapan tidak suka.
Zafier masuk ke dalam rumah dengan mengucap salam. Terdengar jawaban salam dari dalam, "Permisi," ucap Zafier saat sudah berada di hadapan mereka.
Crystal nampak sumringah melihat kakaknya, "Sini Nak!" panggil Papi Harsyal, Zafier mendekat ke arah Papinya, dengan mimik wajah nampak bingung. "perkenalkan, ini Putra Sulung saya. Namanya Zafier," ucap Papi Harsyal, memperkenalkan Zafier kepada tamunya.
"Hai! Om, Tante! salam kenal, Saya Zafier." Zafier pun memperkenalkan dirinya secara resmi.
"Hai Nak Zafier. Saya, Agra Adiningrat. Ini Istri saya, Aftiani Adiningrat dan Putra Saya, Gibran Harlen Adiningrat," sang tamu memperkenalkan diri dan juga keluarganya.
"Oh, hai ... Gibran." Sapa Zafier terhadap Gibran, "apa kabar?" tanya lagi.
"Baik, Kak," Jawab Gibran lirih.
"Kak?" tanya Zafier di dalam hatinya.
__ADS_1
"Duduk, Kak. Mari bergabung bersama kami," ucap Papi Harsyal dengan ramah. Zafier pun mengikuti permintaan sang Papi untuk duduk bersama mereka.
Zafier hanya ingin tahu, siapa mereka dan apa yang sedang mereka bicarakan. Jika melihat dari tatapan Crystal yang kurang bersahabat. Maka ada hal yang perlu Zafier selidiki.
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Pak Arga. Zafier mulai menajamkan pendengarannya.
"Oh, masalah itu?" ucap Papi Harsyal, "jika Pak Arga dan Ibu Afti, serta Nak Gibran sudah setuju. Maka, pernikahan akan kita laksanakan setelah Crystal melahirkan." Papi Harsyal pun, memberikan jawaban atas pertanyaan sang tamu atau Pak Arga.
Crystal nampak terkejut dengan keputusan Papi Harsyal yang di anggap mengambil keputusan sepihak. Zafier pun, nampak terkejut sekaligus geram, mendengar jawaban sang Papi.
"Pih! maksudnya apa? pernikahan? setelah melahirkan?" tanya Zafier bertubi, dengan nada tinggi.
"Oh, kamu belum tahu toh. Bahwa Nak Gibran ini akan menikah dengan Crystal setelah dia melahirkan. Surat cerai sedang dalam proses, beberapa bulan lagi Crystal akan melahirkan. Maka mereka akan bebas menikah." Jawab enteng Papi Harsyal.
"Cysa tidak mau." Crystal berdiri dari tempat ia duduk. Lalu ia menatap Papinya dengan tatapan kebencian.
"Pokoknya, Cysa tidak setuju dan tidak mau!" teriak Crystal, setelahnya ia berlalu dari hadapan mereka dan segera ke kamarnya.
"Cysa tunggu!" Mami Angelita yang dari setadi hanya diam, ia pun mengejar Crystal.
"Pih, tolong pikiran kembali. Betul Papi akan menikahkan Cysa dengan laki-laki ini? sedangkan Cysa mempunyai seorang suami. Calon ayah dari anak yang sedang ia kandung saat ini." Ujar Zafier.
Papi Harsyal hanya diam dengan tersenyum miris. "Dan untuk, Om, Tante, serta Gibran. Tolong di pertimbangkan kembali, akan ide konyol ini." Zafier berlalu dari ruangan tersebut, ia menyusul Crystal dan juga Mami-nya.
Ketiga tamu Papi Harsyal, hanya mengembuskan napas pelan, secara bersamaan. Papi Harsyal hanya diam.
__ADS_1
Zafier sudah sampai di kamar Crystal dan Crystal dengan cepat menghampiri Zafier. "Kak! Papi tega sekali padaku. Ia betul-betul hendak membuat aku dan Mas Evan berpisah."
"Sabar Dek! tenang saja, Kakak dan Nervan akan berusaha menggagalkan perjodohan ini. Justru kamu harus membantu Kakak."
"Membantu apa Kak?" Crystal mengerut dahi tanda tidak paham.
"Ia Nak! memang kamu punya rencana apa Kak, untuk menggagalkan perjodohan konyol ini?" tanya Mami, menghampiri mereka berdua.
"Aku juga belum menemukan caranya. Akan tetapi, Aku membutuhkan bantuan Cysa, agar dia bersikap baik terhadap Gibran. Sepertinya laki-laki itu bisa kita manfaatkan untuk membuat papi membatalkan perjodohan ini," ujar Zafier.
"Maksud kamu ... membuat Papi, merasa kehilangan kepercayaan terhadap mereka?" tanya Mami kembali.
"Tepat, Mih!" jawab Zafier. "tugasku, mencari kesalah dari mereka. Jadi akan lebih mudah untuk menyadarkan Papi."
"Aku yakin, ada yang mereka harapkan dari Papi. Atau Papi menjanjikan sesuatu terhadap mereka. Coba pikir Mam, Dek! tidak mungkin mereka bisa menerima Cysa begitu saja, yang notabene istri seseorang dan saat ini, dalam keadaan hamil pula." sambung Zafier, Ia memiliki logika yang memang masuk akal.
"Betul Kak! sepertinya ... ada yang Papi janjikan terhadap mereka." Mami mengiyakan pemikiran Zafier.
"Berarti, aku harus bersikap baik kepada laki-laki itu, Kak?" tanya Crystal.
"Ya, Dek! tenang saja, Kakak akan memberitahukan Nervan, tentang hal ini." Zafier meyakinkan Crystal. Ia tahu, Crystal memikirkan akan perasaan Nervan.
"Baiklah, aku menyerahkan semuanya kepada Kakak! aku percaya, semuanya akan baik-baik saja di tangan Kakak. Terima kasih Kak! sudah banyak menolong Cysa."
"Dek, Kakak sayang kamu! apapun akan Kakak lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kamu dengan Nervan." Crystal kembali memeluk Zafier dengan haru.
__ADS_1
Mami Angelita pun ikut memeluk kedua anaknya. "Mami mendukung kamu, Kak! Mami akan berada di pihak kalian."
Bersambung ...