Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
40. Hancur sudah.


__ADS_3

Author: Tolong bijak membaca. Ada adegan dewasa 21+ hubungan intim suami istri.


Nervan menghela nafasnya sejenak. Lalu ia menatap lembut Crystal. "Sungguh! aku jatuh cinta, sejatuh jatuhnya padamu Sayang."


"Hum, Mas jadiin aku kelinci percobaan gombalan Mas Nervan ya? dari tadi aku dengar gombal beraksi, betul kata Mas Rendra, Mas Nervan sedang belajar gombal dan Aku korbannya!" protes Crystal.


Nervan mengekeh, "Justru Aku tidak faham dengan yang namanya ngegombal. Aku belum pernah berkata-kata seperti itu, terhadap wanita manapun selain kamu. Suer deh!" ujar Nervan dengan mengekeh.


"Hem, lalu dengan wanita yang tadi sun sun kamu itu, bagaimana? masa sih tidak pernah ngegombalin dia selama pacaran?" dengus Crystal.


"Cheeh!" Nervan menyeringai dengan mengangkat ujung bibirnya. "Baik! jujur saja, aku pernah tergila-gila padanya dari sejak SMP hingga kami berpacaran ketika SMA, tiga tahun kami menikmati masa pacaran kami dengan lancar. Anehnya, aku mengaku menyukai dia, tapi...aku tuh tidak bisa romantis atau berkata-kata manis, seperti aku berkata-kata manis padamu."


"Hingga aku sadar, perempuan itu bukan perempuan baik-baik. Aku banyak di tipu olehnya, baik dari segi materi ataupun perasaan. Dia begitu pandai merayu dengan kata-kata manis dan rayuannya, hingga mataku dan hatiku hanya tertuju padanya." Tutur Nervan.


"Maksud Mas, tentang dia bukan perempuan baik-baik?" tanya Crystal.


Nervan menghela nafasnya pelan. "Sebetulnya aku sudah tidak mau lagi mengingat ini, akan tetapi untukmu, tidak mengapa."


"Di belakang ku, dia tidur dengan beberapa lelaki termasuk om-om beristri, demi uang. Padahal aku sudah banyak memberinya uang. Yang paling parah, dia pergi berlibur ke Villa di puncak dengan teman baikku, alasannya dia bilang menemani ibunya yang sedang sakit, padahal dia....ah menjijikkan!" dengus Nervan.


"Tidak usah di teruskan, Mas!"


"Sini!" Nervan menarik Crystal untuk duduk di pangkuannya. "Aku akan menceritakan semuanya."


Akhirnya Nervan menceritakan tentang mantan kekasihnya itu. Bahwa Nervan sendiri yang memergoki Diandra sedang mesum dengan teman baiknya.


Suatu hari ketika weekend, Nervan menemani Mami ke acara arisan keluarga, acara itu diadakan di kawasan puncak dan di sebuah Villa. Tanpa sengaja Nervan melihat Diandra sedang berjalan mesra dengan seorang pria. Dengan dalih cari udara segar pada sang Mami. Nervan mengikuti Diandra dan laki-laki tersebut, tentu saja dengan susah payah karena menahan amarahnya.


Hal mengejutkan membuka mata Nervan. Kenyataannya Diandra bermesraan dengan teman dekat Nervan. Hal lainnya, Nervan melihat sendiri mereka melakukan hubungan terlarang untuk anak manusia yang tidak memiliki ikatan pernikahan.


Ketika Nervan menelepon, menanyakan dimana Diandra. Dia berbohong dengan mengatakan bahwa sedang menemani Mamanya karena sedang sakit.


Terlebih saat Nervan membongkar aib Diandra, beberapa hari kemudian. Malah Nervan yang di salahkan, karena, walaupun Nervan dari lingkungan berada akan tetapi setiap fasilitas milik orang tuanya. Jadi Diandra tidak puas pacaran dengan Nervan karena Nervan seperti anak Mami. Kemana-mana selalu dalam pantauan Mami dan Papinya.


Puncaknya ketika Diandra menikah dengan suaminya yang sekarang. Nervan di hina habis habisan oleh orang tua Diandra, bahwa Nervan tidak akan mampu membahagiakan Diandra karena segalanya di kuasai orang tua Nervan. Penghianatan dan penghinaan itu yang membuat Nervan menjadi dingin dan selalu waspada terhadap perempuan manapun. Itu yang membuat Nervan enggan menikah, karena berpikiran perempuan itu merepotkan.


Sedikit membuka mata Nervan memang akan Diandra dan keluarganya. Namun, hati Nervan tetap bertekad akan membuktikan pada orang tua Diandra, bahwa suatu hari Nervan akan mampu membahagiakan Diandra dan merebut kembali Diandra dari suaminya, hanya untuk balas dendam.


Namun, Nervan sadar dan pemikiran konyol itu sirna setelah Nervan bertemu Crystal. Bahwa perempuan yang tulus itu ada, yaitu Crystal dan justru kini Nervan membenci Diandra dan hanya ingin membahagiakan Crystal.


"Mas, pernah melakukan itu dengan dia?" tanya Crystal dengan takut-takut dan menautkan kedua jarinya.


"Tidak pernah, Sayang! hanya kamu yang pertama melihat ku tanpa pakaian." jawab Nervan pasti.


"Kalau-," Crystal menghentikan pertanyaannya.


"Ya sekedar peluk dan cium, kami pernah. Jangan marah, Sayang!" ya jujur itu memang serba salah namun, Nervan tidak mau Crystal salah paham apalagi mendengarnya dari orang lain.


"Mas, masih mencintainya?"


"Dulu ia, walaupun aku telah melihat Diandra menghianati ku, aku masih berusaha menerimanya karena aku mencintainya. Akan tetapi rasa itu perlahan menghilang setelah kamu hadir, aku sadari di dunia ini masih ada yang yang lebih baik. Terlebih setelah bertemu denganmu pandanganku terbuka, bahwa ada perempuan yang lebih baik dari dia, tentu saja kamu."


Crystal menghela nafas pelan, "Ma'afkan aku, tadi aku cemburu." Jujur Crystal.

__ADS_1


"Sudahlah Sayang! tidak mengapa. Aku senang jika kamu cemburu, akan tetapi jangan lakukan hal-hal yang membahayakan dirimu jika sedang cemburu padaku." Nervan makin memeluk Crystal.


"Ke rumah Mami yuk, Mas! aku ingin menginap di sana." ujar Crystal.


"Boleh! sekalian aku mau nitip kamu. Lusa aku harus ke Bandung. Melihat PT. tekstil yang di Bandung." jawab Nervan.


"Loh, Mas memiliki PT. tekstil juga di Bandung?" tanya Crystal.


"Ia, Sayang! itu PT peninggalan Kakek dan Nenek aku, kalau yang di sini. Itu hasil Kerja Papi dengan seseorang, tapi sayang, orang itu sudah menganggap Papi musuhnya, karena salah paham." raut wajah Nervan berubah murung.


"Loh ada masalah apa Mas?"


"Hem, dulu Papi memiliki teman akrab ketika masih tinggal di Bandung. Lalu bisnis bareng, ternyata setelah berjalan dan PT tekstil mulai berkembang, ada orang lain menyusup mengatas namakan Papi dan menggelapkan dana teman Papi itu hingga bangkrut. Namun, karena minim bukti Papi-lah sebagai tersangka. Papi sempat masuk penjara selama dua tahun, Alhamdulillah Kakek dan Nenek Aku mendapatkan bukti bahwa Papi tidak bersalah."


"Akhirnya Papi bisa bebas dan merintis kembali usaha Garmen yang hampir gagal itu. Namun, sayang sahabat Papi yang masih merasa di Khianati dia tidak mau berbaikan. Malah ia menganggap kami semua musuh."


"Astaghfirullah'aladzim. yang sabar ya Mas, suatu hari pasti orang itu akan sadar kalau papi tidak bersalah."


"Aamiin."


Nervan mendongak, menatap wajah Crystal. Begitupun dengan Crystal, ia menunduk dan menatap wajah Nervan. Tidak berselang lama bibir mereka sudah bertemu. Perduelan bibir pun tidak dapat di hindari, saling gigit, saling belit dan tarik, hingga napas keduanya saling memburu.


Nervan berusaha melepaskan perduelan bibir tersebut. Ia takut tidak dapat mengontrol diri. "Hum, pergi sekarang?"


"Ah, ia Mas!" Crystal nampak kikuk. Akhirnya mereka pergi ke rumah orang tua Nervan.


Malam ini Nervan dan Crystal hendak menginap di rumah orang tua Nervan. Keduanya di sambut hangat sang Mami dan Papi. Terutama Crystal, ia di sambut sumringah oleh Ibu mertuanya.


Tiga hari kemudian.


Nervan baru saja selesai meeting di sebuah hotel, tepatnya di restoran yang ada di lantai dasar hotel. Karena client yang Nervan temui dari negeri Jiran itu, akan segera kembali ke Negaranya.


Nervan, Rendra dan Rendy serta Satrio berada di tempat itu pula.


"Baik! saya berharap kerjasama kita ini untuk jangka waktu yang lama." Ujar Nervan pada dua orang di depannya.


"Tentu Pak Nervan!" jawab salah seorang Clientnya.


Setelah perbincangan mereka dirasa cukup. Nervan dan Clientnya menyudahi pertemuan mereka. Nervan serta Rendra, Rendy dan Satrio pun segera meninggalkan restoran. Namun, mata Nervan menangkap sosok yang ia kenal baru saja keluar dari lift dari lantai atas, itu berarti mereka baru saja dari kamar hotel.


"Sayang!" Nervan melihat Crystal sedang bergelayut manja pada tangan seorang laki-laki, beberapa kali mengerjakan mata, berharap pandangannya salah. Akan tetapi tidak! itu nyata, hingga Nervan lihat Crystal memeluk laki-laki itu di luar hotel dan laki-laki yang cukup tampan itu mengecup serta mengelus kepala Crystal.


Darah Nervan terasa mendidih.


"Sialan! dasar ****** murahan." umpat Nervan dengan setengah berlari menghampiri Crystal.


"Van, tunggu!" Rendra terlambat.


Nervan sudah membogem laki-laki yang bersama Crystal.


"Mas... jangan!" pekik Crystal. Namun, Nervan tidak memperdulikan teriakan Crystal.


Beberapa pengunjung mulai berkerumun. "Van, tahan Van!" Rendra berusaha melerai.

__ADS_1


"Mas Jangan Mas, cukup! kita bicarakan baik-baik." Satrio pun ikut menghentikan aksi brutal Nervan yang sudah berada di atas tubuh pria tampan nan kekar itu, dan kini wajahnya nampak babak belur karena bogeman Nervan.


Laki-laki itu tidak siap, sehingga ia kalah telak dari Nervan yang memang sedang di puncak emosi.


"Pak Nervan!" Rendy ikut menarik Nervan agar menyudahi pukulannya.


"Diam Kau, aku belum puas menghajar laki-laki bajingan ini."


"Mas Evan! cukup Mas, tolong!" teriak Crystal dengan menangis.


"Heuh ****** murahan! berani juga, kamu membela selingkuhan kamu di depan ku!" teriak Nervan hingga Crystal tersentak kaget karena di bilang ****** oleh Nervan.


"Mas! tidak seperti itu!" Crystal mengiba, menyembunyikan rasa sakitnya.


"Lalu seperti apa?" Nervan menarik kasar tangan Crystal. Api amarah betul-betul berkobar di matanya, wajahnya tegas dengan rahang mengeras dan mata memerah, buku-buku tangannya menonjolkan urat-urat ketegangan.


"Ren, urus orang ini!" perintah Nervan dengan dingin. Dua orang satpam baru saja menghampiri, laki-laki yang di hajar Nervan nampak menatap nanar dengan meringis, ke arah Crystal yang sedang di seret Nervan.


"Masuk!"


"Tidak mau! kamu jahat Mas! semua ini tidak seperti yang kamu lihat!" ucap Crystal, ia berusaha memberontak.


"Hah! kamu bilang tidak seperti yang ku lihat? jelas-jelas kamu berpelukan dengan laki-laki itu di depan umum lagi. Sedangkan suami mu sedang berjuang mencari nafkah untuk mu."


"Mas! kamu salah!"


"Berapa ronde kamu melakukannya dengan pria itu? berapa bayaran yang kau dapat? aku akan membayarnya sepuluh kali lipat!"


Nervan memaksa Crystal agar masuk ke dalam mobil. Lalu ia ikat Crystal dengan Safety belt. Nervan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Tangannya meraih amplop coklat dari Bank di dalam tas, tiga amplop coklat yang ia ambil. Amplop tersebut imasing-masing, berisi uang sekitar sepuluh juta.


Lalu Nervan mengeluarkan uang tersebut dari dalam amplop. Memutuskan ikatan kertas dan melempar uang itu ke wajah Crystal.


"Itu harga untuk tubuhmu ******. Maka layani aku sepuas yang aku Inginkan!" ucap kasar Nevan. Membuat Crystal makin menangis. Sakit rasanya di perlakukan kasar oleh orang yang dia cintai.


"Astaghfirullah, ku mohon Istighfar, Mas! aku bukan ******! aku istri mu. Kamu sudah salah Mas!" Crystal bicara dengan menangis.


Sayang, Nervan sudah tidak perduli, ia di kuasa amarah. Nervan memacu kendaraannya sekencang mungkin. Hingga ia sampai ke rumah dan melemparkan Crystal dengan kasar ke atas kasur.


"Masih kurang, dengan harga segitu? aku akan menambah lagi, jangan khawatir. Berapa kali kau layani laki-laki itu hari ini? maka layani aku dengan jumlah yang sama." Nervan membuka pakaiannya, lalu menarik pakaian Crystal dengan kasar hingga koyak.


"Mas ku mohon, jangan!" rintih Crystal di balik tangisan. Tubuh Crystal sudah tidak tertutup apapun, begitu juga dengan Nervan. Kini Nervan sudah berada di atas tubuh Crystal.


"Mas, ku mohon jangan! nanti Mas menyesal."


"Heuh!" Nervan mencibir.


"Kamu bisa tidur dengan laki-laki lain. Sedangkan dengan suami mu, kamu menolak? b*ngs*t." Lalu tanpa aba-aba dan pemanasan. Nervan memaksakan dek Jhon memasuki Nduk Jhen. Hingga berhasil dengan tiga kali percobaan.


"Akh Mas! ampun, sakit Mas!" teriak Crystal. Air matanya makin deras. Hancur sudah semuanya. harga diri, perasaan, kesucian. Semua telah terenggut oleh suami yang sangat ia cintai.


"Mas mengapa kamu lakukan ini padaku?" batin Crystal, dengan sisa air mata dan sedikit kekuatan di dalam dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2