
Mulut Nervan terasa berat untuk mengucapkan keberadaan di mana sang putra saat ini dan bagaimana kondisinya. Hingga suara mengiba kembali terdengar dari sang istri.
"Mas ...."
"Ah, i-ia Putra kita berada di ruang perawatan intensif dan masih di dalam inkubator." jawab Nervan pada akhirnya.
"Ma-maksudnya?" tanya Crystal. Ia tidak paham.
"Putra kita lahir dengan berat badan kurang dan alat reproduksi belum sempurna. Maka dari itu dia tergolong bayi prematur. Untuk membantunya bertahan hidup, maka bayi kita harus berada di dalam inkubator, Sayang," jawab Nervan.
"Ya Allah ... Mas. Lalu, siapa yang menemani bayi kita di sana?" Crystal yang mengetahui kondisi sang bayi ia pun menangis kembali.
"Ada suster jaga yang merawatnya. Aku akan melihatnya setiap ada kesempatan."
Crystal masih menangis. Tidak tega, rasa bersalah, kasihan bayi sekecil itu harus menanggung hal berat, karena keegoisan sang Kakek. "Ini semua gara-gara Papi. Aku benci Papi, Mas!"
Crystal kembali memeluk Nervan. Ia terus meracau menyalahkan sang Papi atas kejadian yang menimpa dirinya. "Sayang, sudah ... ini semua sudah menjadi ketentuan dari sang Maha pemilik hidup." Nervan berusaha membuat Crystal tenang.
"I-iya Mas! tolong jangan tinggalkan aku Mas! aku tidak mau menikah dengan orang itu. Aku ingin selamanya sama Mas Evan." ujar Crystal.
"Tentu, Sayang! kita akan selalu bersama dengan putra Kita juga," jawab Nervan dengan mengecupi tangan Crystal.
"Mas ... aku ingin melihat Putra kita. Bolehkah?" tanya Crysta.
"Nanti sore ya, saat ruangan itu di buka waktu kunjungan. Untuk saat ini tidak bisa lama berada di sana. O yah di luar ada Papi ku dan juga Kak Zafier serta Kak Verline. Mereka ingin bertemu dengan mu."
Crystal nampak diam. Nervan pun tersenyum. Ia paham akan raut wajah khawatir sang istri. "Hanya mereka bertiga, Sayang!"
Perlahan senyum Crystal mengembang. Lalu ia mengangguk dengan senang. "Tentu, Mas! aku juga ingin bertemu dengan mereka.".
__ADS_1
Nervan segera memanggil Papinya dan juga Zafier serta Verline. Hingga tak berapa lama, mereka kini sudah berada di dalam ruangan yang di tempati Crystal. Papi Aarlic menyapa Crystal terlebih dahulu. Menanyakan kabar Crystal, apa yang Crystal rasakan dan setelah di rasa cukup puas dengan jawaban Crystal karena sudah membaik, maka ia pun berpamitan pulang.
Kini waktunya Zafier dan Verline bercengkrama dengan Crystal. Nampak kebahagiaan dari mereka. Hingga beberapa lama kemudian, mereka pun berpamitan. Karena Crystal harus Istirahat.
Nervan pun ikut naik ke tempat tidur pasien. Ia pun butuh istirahat, setelah beberapa hari kurang tidur. Dengan saling berpelukan, pada akhirnya keduanya mulai terlalap. Tangan Crystal berada di wajah Nervan. Ia mengusap-ngusap pipi Nervan yang sedikit kasar Karena bulu-bulu halus tumbuh tidak beraturan di sana.
***
Hingga sore hari pun tiba. Sesuai yang Nervan janjikan. Ia mengajak Crystal untuk melihat bayi mereka. Atas izin dokter, Crystal di antar Nervan dengan duduk di atas kursi roda.
Ketika pertama kali Nervan tiba di ruangan bayi, para suster jaga nampak takjub akan ketampanan Nervan yang nampak lebih tampan dari biasanya. Setiap hari Nervan akan datang untuk melihat keadaan sang putra dan sudah menjadi langganan tatapan kagum para suster jaga, bahkan dokter anestesi yang terbilang muda pun ikut senang jika Nervan datang.
Walupun penampilannya berantakan, akan tetapi tidak meredupkan ketampanan dan kharismanya Nervan sebagai seorang CEO. Terlebih sore ini penampilan Nervan jauh lebih baik dari sebelumnya, karena setelah ia mandi dan berganti pakaian. Crystal membantu Nervan membersihkan wajahnya.
Kini wajah halus nan mulus itu terpampang jelas tanpa bulu-bulu mengganggu di sekitar pipi. Jelas saja membuat para suster dan dokter muda nampak terpesona oleh penampilan baru Nervan.
Bayi mungil yang terlihat lucu itu sedang terlelap nyaman terbuai hangatnya alat inkubator.
"Mas ... Putra kita!"
"Iya, Sayang!"
Crystal menitikan air matanya. Ia merasa sedih melihat kondisi sang putra terbaring di dalam alat itu. Seharusnya sang Putra berada di dalam pelukannya.
"Ssstt ... anak kita kuat! ia akan secepatnya pulih dan akan pulang ke rumah bersama kita, orang tuanya. Mama dan Papanya." Nervan memberikan sebuah kekuatan.
"Tentu Pah!"
Nervan tersenyum aneh, mendengar Crystal memanggilnya dengan sebutan 'Pah'. Namun, hatinya hangat.
__ADS_1
"Iya, Mah!"
Crystal menjengit kaget, ia menatap Nervan sejenak. Setelahnya ia tersenyum salah tingkah. Merasa aneh plus senang di panggil 'Mah' oleh Nervan. Kini ia sadar statusnya sudah menjadi seorang Mama.
"Papa, sudah memberikan nama untuk anak kita?" tanya Crystal
"Belum Mah! Papa ingin memberikan nama untuk anak kita bersama-sama kamu." jawab Nervan.
"Baik, Pah! bagaimana kalau kita berikan nama sekarang?" tanya Crystal.
"Baiklah! silakan kamu yang memberikan dia nama." Nervan mempersilakan Crystal untuk memberikan nama terlebih dahulu.
"Papa saja deh untuk nama depannya. Mama nanti, nama tengah. Karena sudah pasti nama belakangnya akan mengikuti nama keluarga mu kan, Pah?"
"Tentu. Baiklah!" Nervan berpikir sejenak, ia telah menyiapkan nama dari beberapa hari yang lalu. Akan tapi sepertinya lupa.
"Akhtar." ucap Nervan.
Crystal tersenyum senang. Nama Akhtar mamiliki arti yang baik. "Bagus, Pah!" ucapnya.
"Sekarang giliran kamu." Pinta Nervan.
"Mmm ... Akhtar Aileen. Bagaimana Pah?" tanya Crystal.
"Wah ... bagus, Sayang!" ucap Nervan.
"Berarti ... Akhtar Aileen Skyner." ucap serempak keduanya sembari tertawa bahagia.
Bersambung ...
__ADS_1