Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
65. Membawa Pergi Crystal.


__ADS_3

Keesokan harinya, Zafier mulai menjalankan rencananya.


Dengan mengajak Crystal bersama laki-laki pilihan Papi, untuk makan di restoran sebuah pusat perbelanjaan.


Nervan serta Rendra pun, sudah berada di pusat perbelanjaan tersebut. Mereka duduk tidak jauh dari tempat Crystal dan Gibran duduk. Laki-laki yang akan di jodohkan dengan Crystal itu, telah memesan tempat terlebih dahulu sebelumnya.


"Baiklah, Cysa! mau pesan apa?" tanya Gibran.


"Eum, aku pesan minum saja."


"Loh koq, hanya pesan minum. Ibu hamil itu, harus banyak makan-makanan bergizi," ujar Gibran dengan tersenyum.


Crystal hanya diam, ia berusaha menyembunyikan ketidak sukaannya terhadap penjilat itu.


"Ya, terima kasih sudah mengingatkan, " lirih Crystal.


Saat mereka sedang berbincang. Tiba- tiba saja, Zafier sudah berada di antara mereka. "Maaf telat, biasa ada pekerjaan sedikit, dan harus diselesaikan." ucap Zafier dengan menarik kursi dan lalu duduk di hadapan Crystal dan Gibran.


"Oh, tidak apa-apa Kak! silakan mau pesan apa?" tanya Gibran.


"Pesan, sesuai dengan yang kamu pesan saja." jawab Zafier.


"Tentu!" Gibran memanggil kembali pramusaji yang tadi mencatat pesanannya. kini iya kembali memesan makanan untuk Zafier.


Zafier yang melihat Gibran lengah, karena sedang berbicara dengan pramusaji. Maka Ia pun, mengirim pesan kepada Crystal.


Zafier : "Dek, kamu pura-pura ke toilet. Nervan dan Rendra sudah menunggu kamu, di dekat toilet pria. Mereka akan langsung membawa kamu, ke parkiran. Setelahnya, kalian akan menuju Bogor. Katanya akan ke Villanya Nervan yang berada di Cipanas."


Crystal : "Baik Kak! terima kasih. Cysa pergi sekarang."


Zafier, melihat ke arah Crystal. Dan ia mengangguk pelan, tanda mengiyakan jawaban pesan terakhir Crystal.


"Eum, Mas Gibran ... Maaf, Aku ke toilet sebentar," pamit Crystal kepada Gibran.


"Oh ya, silakan! mau di antar?" tanya Gibran.


"Ah, terima kasih. Tidak perlu, Aku sendiri saja." Crystal berdiri dari tempat duduknya dan tidak lupa pamit kepada Zafier. Seakan ini bukan rencananya Zafier.


Crystal pun keluar dari restoran tersebut. Ia menuju toilet yang berada di luar restoran namun, masih berada di area pusat perbelanjaan tersebut.

__ADS_1


Nervan, dengan cemas menuggu Crystal di koridor yang menuju ke arah toilet. Ia sudah berdiri di tempat itu bersama Rendra, dari sejak tiga puluh menit yang lalu.


Crystal baru saja masuk ke dalam koridor tersebut. Nervan begitu sumringah saat ia melihat Crystal sedang berjalan ke arahnya. Crystal yang melihat keberadaan Nervan disana, ia pun tersenyum kearahnya.


"Akhirnya kita bertemu, Mas! Aku rindu," ucap Crystal dan segera memeluk Nervan tanpa melihat situasi sekitar. Bahkan keberadaan Rendra di samping Nervan pun, diabaikan


"Sama Sayang! aku pun, rindu padamu." Balas Nervan.


"Ekheeemm ... Nasib lalat, dicuekin," ucap Rendra dengan berdehem.


"Upin! maklumin dong, baru jumpa nih, lu kan tiap hari ketemu istri. Lah gue hampir seabad, gak ketemu." Kelakar Nervan.


"Pantesan bulukan!" cibir Rendra. Membuat mereka tertawa.


Tanpa sepengetahuan Cryrstal dan Zafier. Gibran telah mengirim chat kepada para bodyguard Papi Harsyal. Gibran memberitahukan,  bahwa Crystal keluar dari restoran dan ia meminta para bodyguard mengikutinya.


"Sayang kita pergi sekarang," ajak Nervan pada Crystal, ia tidak mau berlama-lama di tempat itu.


"Baik Mas!" Crystal pun menurut, mereka meninggalkan koridor itu dan menuju ke parkiran mobil, yang berada di lantai teratas gedung tersebut.


Namun, pergerakan mereka harus berhenti. Tatkala beberapa bodyguar menghalangi jalan mereka.


"Pergi! bukan urusan kalian aku mau ke mana. kembali sana, pada Tuan kalian dan jangan mengurusi hidupku!" ucap Crystal dengan sarkas.


"Tolong Nona, jangan membuat ayah anda marah."  Para bodyguard mulai berjalan mendekati Nervan dan Rendra.


"Sayang! kamu masuk terlebih dahulu ke dalam mobil ya. Sepertinya, mereka bukan tipe orang-orang yang akan mudah diajak bicara baik-baik." ucap pelan Nervan dan Crystal pun menurut. Nervan dan Rendra segera pasang badan dan kuda-kuda.


"Baik Mas! hati-hati!" Crystal segera masuk ke dalam mobil. Nervan sempat menyuruh Rendra untuk menelepon orang-orang sewaanya yang mampu melawan para Bodyguard tersebut.


Perkelahian tidak dapat dielakkan lagi, saling menyerang kini tengah berlangsung, diantara mereka. Nervan dan Rendra melawan tujuh orang secara bersamaan.


"Kembalikan Nona Kami!" seru salah satu Bodyguard kepada Nervan.


"Tidak akan! dia Istriku! aku lebih ber-hak atasnya." Sarkas Nervan.


"Brengsek!"


"Wuzzz ...." Bodyguard itu mulai menyerang Nervan.

__ADS_1


Nervan menghindari pukulan Bodyguard itu. Namun, Bodyguard lain menyerangnya. Rendra yang melihat itu, ia berusaha menghadang orang yang ingin memukul Nervan.


"Wuzzz ... wuzzz ..." bogem si Bodyguard meleset dan hanya meninju udara.


Perkelahian antaran Nervan dan Rendra melawan para Bodyguard Papi Harsyal, berlangsung sengit. Kedua kubu, bersikeras tidak mau mengalah, mereka mempertahankan kekuatan. Saling menyerang, memukul dan menjatuhkan. Mereka ingin sama-sama menang.


"Van, sebaiknya lu pergi dari sini! sepertinya Bodyguard- Bodyguard ini akan makin bertambah. Tidak menutup kemungkinan, sang Tuan pun akan ikut bergabung bersama kita di sini." ujar Rendra dan meminta Nervan untuk segera pergi dari tempat itu.


"Gak Ren! gue nggak mau ninggalin elu di sini sendiri. Ini masalah gue, lalu gua harus mengorbankan elu dan gue berpangkutangan!" balas Nervan di sela-sela pertarungannya.


"Gue enggak merasa di korbankan sama lo. Gue nggak apa-apa di sini. Orang-orang bayaran lu, sudah datang. Gue punya bala bantuan dan elu, sekarang tugasnya menyelamatkanya Crystal!" seru Rendra masih dengan kesibukannya melawan musuh.


"Tapi Ren-"


"Lalu ... untuk apa, gua melakukan ini? kalau lu sendiri nanti terkapar dan Crystal di bawa balik kembali oleh Papinya," ucap Rendra lantang.


Nervan nampak berpikir sejenak, sebetulnya ia tidak mau melimpahkan masalah ini kepada Rendra namun, perkataan Rendra ada benarnya. Maka jalan satu-satunya, ia harus membawa Crystal secepatnya pergi dari tempat itu.


"Oke Ren! thank you sudah bantuin gue, lo memang sahabat ter the best! jaga keselamatan, nanti malam, gue tunggu di Villa. Ajak juga Istri dan anak lo ya. Agar Cysa memiliki teman dan tidak kesepian."


"Baik Van! lu juga jaga diri baik-baik Van! oke, nanti malam gue nyusul elu ke Villa, mengajak anak dan istri gue. baik-baik, jaga Istri lu."


Setelah berpamitan pada Rendra.


Nervan bergegas memasuki mobilnya dengan dilindungi oleh Rendra, agar tidak ada Bodyguard yang menghampirinya untuk menghalangi langkah Nervan.


Orang-orang suruhan atau bayaran Nervan sudah makin bertambah, sepertinya sudah lebih dari delapan orang.


Nervan berhasil masuk ke dalam mobil. "Sayang, tolong kenakan sabuk pengamannya! kita harus pergi secepatnya dari sini." pinta Nervan saat sudah duduk di bangku kemudi.


"Baik Mas! akan tetapi, itu mas Rendra?" tunjuk Crystal ke arah luar jendela mobil dengan nada khawatir, ia melihat Rendra di sana, masih berjibaku dengan para Bodyguard Papi Harsyal.


"Tidak apa-apa Sayang! Rendra bersama orang-orang ku, nanti akan aku tambah lagi orangnya, agar makin banyak bala bantuan untuk Rendra," jawab Nervan.


Crystal mengangguk pertanda paham. "Mas, mari jalan."


"Baik, Sayang." Nervan menyalakan mesin mobilnya dan kemudian ia melajukan mobilnya, untuk keluar dari area parkir tersebut. Nervan segera masuk ke jalan tol menuju ke arah Bogor.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2