
Keesokan harinya.
Di Negeri seberang sana. Papi Crystal sedang menerima telepon dari bodyguard nya.
"Apa? kamu menemukan jejak Cysa, Putri ku?" / Papi Crystal.
"Betul Tuan!" /Bodyguard
"Di mana?" / Papi Crystal.
"Di sebuah rumah sakit swasta Tuan! namun Maaf! kami tidak dapat melacak nya lebih, karena itu kejadian dua Minggu yang lalu, dan pihak rumah sakit, merahasiakan identitas si penjamin perawatan Nona Crystal. Satu lagi Tuan! seperti nya orang ini bukan orang biasa, karena ia berani membiayai Nona Crystal dengan fasilitas paling Lux di lantai lima rumah sakit itu." / Bodyguard.
"Baiklah, pantau terus dan pastikan, Crystal kalian temukan dalam waktu singkat! saya harap Crystal sudah berada di rumah sebelum saya kembali. Saya akan kembali, minggu depan," / Papi Crystal.
"Siap Tuan!" / Bodyguard.
Panggilan telepon pun berakhir.
"Pih! Kabar nya Cysa ya?" tanya Mami Crystal. "Ia Mih, namun belum jelas," jawab Papi Crystal.
"Cysa, kamu di mana?" gumam Mami Crystal. "Pih! coba aktifkan saja kembali Account nya, agar Cysa dapat mengambil uang dengan mudah! Mami khawatir Cysa akan kelaparan Pih! Kristal nya Mami, Princess nya Mami. Hiks .... hiks!"
"Tidak Mih! Cysa tidak akan kelaparan," Tukas Papi Crystal dengan yakin.
"Papi koq seyakin itu, kalau Cysa akan baik-baik saja di luar sana?" tanya Mami Crystal.
"Mih. Menurut para Bodyguard yang Papi tugaskan untuk mencari Cysa. Ternyata Cysa sempat di rawat sek ...."
"Cysa di rawat? kenapa Pih, Cysa sakit apa Pih? Kristal nya Mami sakit apa Nak? maafkan Mami, tidak dapat memeluk mu! hiks .... hiks." Mami Crystal memotong ucapan Papi Crystal dengan cepat. Lalu ia menangis meratapi Crystal.
"Mami main potong saja! dengarkan Papi dulu dong." Protes Papi Crystal.
"Maaf Pih, Mami khawatir dengan Cysa! lalu Pih?"
"Dua Minggu yang lalu, kabar nya Cysa pernah di rawat pada sebuah rumah sakit swasta, namun tidak jelas sakit nya apa dan Cysa di tempat kan di ruangan rawat inap VVIP lantai lima rumah sakit tersebut, yang nota bene hanya kalangan elit lah yang dapat berani mengeluarkan kocek tidak sedikit. Itu berarti Cysa bersama orang yang bukan dari kalangan biasa Mam!"
"Papi yakin?"
"Insya Allah, Papi yakin Mih. Karena Bodyguard kita saja begitu sulit melacak keberadaan Cysa. Seperti nya Cysa berada dalam kalangan yang tidak mudah di tembus sembarangan orang." Papi Crystal begitu yakin.
"Kalau Papi sebegitu yakin nya! Mami dapat lebih tenang, namun tetap saja Mami ingin segera pulang!" Mami Cysa bersandar di bahu Papi Crystal.
"Minggu depan kita pulang!" ucap Papi Crystal meyakinkan.
"Betul Pih? lalu apa yang akan Papi lakukan dengan orang yang telah menampung Cysa! kalau orang itu bukan orang baik bagaimana Pih?" Mami Crystal Kembali di landa fikiran negatif.
"Betul Mih! Mami jangan berfikir buruk! kalau orang itu perempuan, maka Papi akan menganggap nya saudara. Kalau orang itu laki-laki, maka jika se usia Cysa atau lebih dan masih single. Papi akan menjadikan nya mantu dan menikah kan nya dengan Cysa," ujar Papi Crystal.
Di rumah Nervan,
Nervan dan Crystal masih asik terlelap, saling berpelukan di dalam satu selimut tanpa berpakaian, semalam mereka langsung tidur.
Nervan yang mendengar kicau burung gereja di balkon kamar nya pun, maka ia merasa itu sudah siang, Nervan membuka matanya secara perlahan.
Saat membuka mata, ia lihat wajah cantik nan polos nya Crystal tanpa makeup. Nervan tersenyum, ia ingat kejadian semalam.
Crystal pun mulai tersadar dari lelap nya. "Pagi sayang!" sapa Nervan.
"Pagi Mas! eh kita bangun kesiangan Mas! ini bukan pagi lagi, sudah siang." Ucap Crystal yang melihat jam di dinding.
"Hehe begitulah sayang, mandi yuk!" ajak Nervan.
"Mas saja mandi terlebih dahulu Aku nanti saja," tukas Crystal.
__ADS_1
"Kamu lapar sayang?" Nervan malah bertanya.
"Ia Mas! lapar sekali," ucap Crystal.
"Baiklah, lebih cepat delivery order saja," ucap Nervan. "Terserah Mas saja!" jawab Crystal.
"Maaf ya sayang, semalam Dek Jhon gagal bertemu dengan Nduk Jhen."
"Tidak mengapa Mas! aku faham sekali dengan perasaan Mas Nervan." balas Crystal.
"Baiklah mandi yuk. Nanti orderan nya keburu tiba." ajak Nervan.
Crystal malah menyembunyikan wajahnya di balik selimut, ia malu, bagaimana pun Nervan telah menjelajahi tubuh nya semalam dan sudah pasti Nervan melihat semua nya.
"Mmmm .... jangan malu! kita sudah saling melihat." Nervan menggoda Crystal dengan menindih tubuh nya yang berbalut selimut. "Mari mandi!"
"Mas saja. Nanti aku Setelah Mas Evan." Crystal membuka selimut dan menampakan wajah nya.
Cup! "Kiss morning sayang," ucap Nervan mengecup bibir Crystal.
Cup! "Kiss morning too." Balas Crystal. Nervan dengan cara nya menyingkirkan selimut yang membalut Crystal. Selimut pun terlepas.
Setelah nya ia beranjak ke kamar mandi dengan mengajak pula Crystal. Mereka pun mandi bersama.
Setelah mandi, Crystal sibuk di dapur, menyiapkan kopi untuk Nervan.
"Upin Ipin, heboh sekali, ada lebih dari sepuluh panggilan masuk dari mereka berdua, ada apa ya?" Nervan sedang memeriksa ponsel nya yang ia silent.
"Nanti saja aku telepon balik setelah sarapan." Gumam Nervan lalu ia menghampiri Crystal.
"Sayang, sedang apa?" Nervan memeluk Crystal. "Membuat kopi untukmu dan teh untuk ku."
Ting nong .... ting nong .... bunyi bel beberapa kali.
Nervan pun berjalan ke arah pintu utama. Setelah sampai, tanpa mengintip dahulu, ia buka pintu dengan cepat.
"Hoooo .... Ka-kalian?"
Nervan menutup pintu kembali dengan cepat, mengunci nya lalu ia menghampiri Crystal setengah berlari.
"Sayang .... sayang! gawat, ada Upin dan Ipin," Nervan sedikit panik.
"Upin Ipin siapa Mas?" tanya Crystal tidak mengerti.
"Tangan kanan dan Asisten ku! nanti aku jelaskan kembali. Maaf, untuk saat ini kamu bersembunyi dulu yah! belum saat nya mereka tahu, kalau aku sudah menikah," pinta Nervan. Ia sedang mencari tempat untuk Crystal bersembunyi.
"Mas! loh memang nya kenapa?" tanya Crystal. "Sayang, nanti aku akan bercerita apa dan mengapa. Sekarang please ngumpet sebentar. Aku urus mereka dulu," Pinta Nervan dengan memelas.
"Van! Van! woi buka pintu nya! koq malah di kunci," gedoran heboh dari arah luar. Makin panik saja Nervan.
"Cepat sayang! nah di bawah meja makan saja ya agar cepat! paling mereka juga sebentar."
"Baik Mas!" Crystal pun menuruti nya. Sebelum pergi, Nervan masih sempat mencuri kecupan pada bibir pink Crystal.
Cklek!
Pintu di buka kembali oleh Nervan secara perlahan!
"Sedeng lu Van, hampir saja hidung hasil operasi aluminium penyok kejeduk pintu." Protes Rendra dengan berkelakar.
"Bahan Panci dong! ada aja lu Upin, masuk!" Nervan ngeloyor ke arah sofa ruang santai. Di ikuti Rendra dan Rendy.
Mata Nervan sesekali melirik ke arah dapur yang masih terlihat dari ruang santai tersebut. Ia memastikan jika Crystal masih aman di kolong meja.
__ADS_1
"Lu berdua ada apa sih? pagi-pagi sudah heboh?" tanya Nervan.
"Ini Bos," ucap Rendy, lalu ia melirik ke arah Rendra.
"Van! ini mengenai client kita yang baru. lu pasti terkejut, dia itu siapa!" tukas Rendra menyambung kata-kata Rendy.
"Memang nya dia siapa?" tanya Nervan sesanti mungkin, berharap duo R segera selesai dan pergi, ia tidak tega pada Crystal yang sedang bersembunyi.
"Dia adalah .... "
"Aaaaaaaa!!! Mas! Mas Evan, tolong! ada sesuatu masuk ke dalam bajuku!" tiba-tiba saja Crystal berteriak yang serta merta menghentikan perkataan Rendra dan membuat mereka terkejut.
Crystal keluar dari bawah meja, ia jingkrak-jingkrak, berusaha mengeluarkan yang sedang merayap di balik pakaian nya.
"Cysa! ada apa?" Nervan berlari dari hadapan duo R, ia tidak perduli lagi dengan mereka. kini fokus nya kepada Crystal.
"Ada yang masuk ke dalam baju ku Mas!"
"Mari aku lihat, hei pejamkan mata kalian!" pekik Nervan pada duo R yang sedang menatap ke arah mereka.
Nervan pun sedikit mengangkat pakaian Crystal dan memeriksa apa yang baru saja masuk ke dalam pakaian Crystal.
"Nah! ini sayang! hanya laba-laba kaki panjang," ucap Nervan setelah apa yang ia cari, di dapat.
Duo R pun masih menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
Nervan memberikan minum kepada Crystal. Lalu ia membawa nya duduk di sofa.
"Sayang! kamu baik-baik saja kan?" Nervan berjongkok di hadapan Crystal.
"Aku baik-baik saja Mas!" jawab Crystal.
"Heh! sini lo!" Rendra di bantu Rendy menarik Nervan ke arah luar.
Nervan di blok oleh kedua nya, ia seperti tawanan di sandarkan pada pintu, Rendra dan Rendy siap mengintrogasi nya.
"Heh Upin Ipin ada apa sih kalian?" tanya Nervan.
"Kita butuh penjelasan!" ucap Rendra dengan tatapan menyelidik.
"Iya Bos! ternyata diam-diam menyembunyikan cewek cantik!" sambung Rendy.
"Jawab Van! siapa dia? jangan bilang, perempuan itu ...." ucap Rendra tidak melanjutkan kata-katanya.
"Amit-amit! maksud lu, cewek bayaran?" sarkas Nervan.
"Heeee!" Rendra menyeringai kikuk.
"Ok! lalu siapa dia?"
"Dia ....?"
"Mas! mas Evan!" panggil manja Crystal dari dalam.
"Iya sayang! sebentar!"
"Asal kalian tahu! gue gak menyembunyikan perempuan gak bener, dia Istri gue! minggir!" Nervan mendorong keduanya.
"Apa? Istri?!"
Rendra dan Rendy saling pandang.
Bersambung ....
__ADS_1