
"Kami butuh penjelasan Van!" seru Rendra. "Iya, Pak Evan kami butuh jawaban!" sambung Rendy.
"Heeemmm!" Nervan menghela nafas nya. Sebelum bicara ia menatap Crystal yang sedang menunduk.
"Sayang sini," panggil Nervan. "Baik Mas!" Crystal bergeser dan duduk di sisi Nervan.
Nervan menggenggam tangan Crystal. "Oke, sayang! perkenalkan ini Upin dan itu Upin. Eh maaf maksudnya Ini Rendra, itu Rendy. Rendra teman dari kecil, dan ia pun masih sepupu ku! sedangkan Rendy, dulunya adik kelas ku! dan sekarang asisten ku." Ujar Nervan
"Heh kalian, dengar baik-baik! ini Crystal, dia Istri ku!" ucap lantang Nervan.
"Hai Crystal!" sapa duo R. "Hai Mas Rendra dan Mas Rendy," sapa Crystal.
"Sejak kapan lo nikah Van? koq kami tidak tahu?" tanya Rendra.
"Dari tiga Minggu yang lalu, Nikah dadakan Ren." jawab santai Nervan.
"Nah betul kan apa kata ku! Pak Evan kesambit perempuan! makanya bertingkah aneh dari tiga Minggu yang lalu," ucap Rendy.
"Ah lo Ren! jangan buka kartu kenapa!" protes Nervan.
"Btw selamat yah! kapan nih peresmian nya?" tanya Rendra lagi.
"Nanti lah! Mami saja baru pulang dari rumah sakit!" jawab Nervan melirik Crystal dengan tersenyum. Crystal membalas senyuman Nervan.
"Pantas saja, begitu masuk! koq ada yang aneh. Lihat Ren! rumah ini bertabur bunga-bunga," Rendra menyenggol Rendy ketika melihat kelakuan Nervan dan Crystal.
"Hooh Pak! saya fikir toko bunga pindah ke sini," sambung Rendy.
"Ekhem Ren! gue rasa doa gue di Kabul Allah!" ucap Rendra lagi.
"Doa yang mana Pak?" Rendy pun bertanya.
"Doa untuk orang yang gue fikir gak suka perempuan, tapi sekarang kena sindrom bucin!" jawab Rendra mengekeh.
"Hed Tarjo, iso ae pean!" Nervan melempar bantal Sofa ke arah Rendra.
Mereka akhirnya tertawa bersama, hingga pesanan delivery food pun sampai dan mereka makan bersama.
Hari-hari Selanjutnya ....
Rutinitas Crystal seperti biasa nya, pagi hari pergi ke rumah orang tua Nervan untuk menemani Mami nya! Sore hari sepulang bekerja Nervan akan menjemput nya untuk kembali ke rumah Nervan.
"Sayang! mau ikut ke kantor ku, atau ke rumah Mami?" tanya Nervan saat sedang sarapan.
"Ke rumah Mami saja Mas! aku jenuh harus duduk di kantor Mas Evan." Jawab Crystal.
"Baiklah! nanti aku antar kamu terlebih dahulu, sore nya ku jemput kembali." Ujar Nervan.
Sesekali, Nervan mengajak Crystal ke perusahaan dan beberapa media bisnis nya.
Semakin hari Nervan semakin sayang dan perhatian, sehingga Crystal pun terlena dengan kasih sayang Nervan serta orang tua Nervan dan sedikit melupakan kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Mas! nanti tidak perlu pulang ke sini yah! aku mau menginap di sana, Mami minta di temani tidur. Kan Papi sore ini terbang ke Jogja." Pinta Crystal.
"Baiklah!" Nervan pun setuju. "Terima kasih Mas!" binar bahagia Crystal. Ia mengecup pipi Nervan. Nervan pun tersenyum bahagia.
Di Negeri seberang sana, Mami Crystal mulai sedikit goyah dengan kesehatan nya, karena memikirkan Crystal yang tidak juga di ketemukan. Padahal Papi Crystal sudah menambah jumlah Bodyguard nya.
"Besok kita akan pulang Mih!" ucap Papi Crystal.
"Syukurlah Pih! Mami ingin mencari Cysa." ujar Mami Crystal.
"Hmmm .... mungkin ini teguran dari Tuhan Mih! saat Cysa ada! kita jauh dari perhatian kepada nya." Ujar Papi Crystal.
"Iya Pih! Mami menyesal, Cysa sampai pernah memohon agar kita menemani nya makan, ketika bulan lalu bertemu dengan nya. Namun nyata nya kita abaikan Pih! semoga Cysa mendapatkan laki-laki yang sayang dengan tulus kepada nya Pih! bukan karena mengincar harta nya Cysa." Mami Crystal mengingat kejadian bulan lalu.
"Hemmm... Papi janji! ketika Cysa kembali, maka Papi akan lebih banyak meluangkan waktu untuk Cysa!" Papi Crystal berucap dengan genangan air mata.
"Mami Pun Pih! Mami harus sudah mulai mengurangi aktivitas di luar. hiks .... hiks ..." Mami Crystal pun menangis.
Siang hari,
Nervan sedang di sebuah restoran bersama Rendra dan Rendy, Satrio pun berada di sana bersama mereka. Karena Satrio sedang ikut belajar berbisnis dengan Nervan.
Hari ini adalah pertemuan dengan client perusahaan, yang berasal dari Singapura. Mereka akan bekerja sama sebagai pemasok kain ekspor untuk beberapa pabrik pakaian dan butik di Singapura.
"Van, Client kita! akan sedikit terlambat!" ucap Rendra. "Tidak mengapa, kita akan menunggu!"
"Mas! terima kasih yah, sudah melibatkan aku di dalam proyek kerjasama ini," ujar Satrio.
Selang lima belas menit, Client yang di tunggu pun tiba.
"Welcome Mr. Andy!" sapa mereka ramah.
"Please!" ucap ramah Nervan, mempersila kan Mr. Andy untuk duduk.
"Thank you!" balas Mr. Andy.
Pria berdarah bule Amerika, Ambon tersebut seperti nya sekitar empat puluh tahunan.
Mereka pun mulai membicarakan bisnis. Namun Nervan terkejut saat ia lihat seorang wanita yang pernah ia kenal. Menghampiri Mr. Andy.
"Perkenalkan ini Istri saya." ucap Mr. Andy.
"Diandra Angela!" gumam Nervan. Seakan ia tidak percaya dengan penglihatan nya. Jantung nya berdebar cepat.
"Halo, saya Angela!" sapa Diandra. Namanya Diandra Angela. Ia mantan kekasih Nervan saat usianya masih sekitar dua puluhan. Mereka pun masih sama-sama kuliah ketika memiliki hubungan.
"Rendra! mengapa, lo gak ngomong kalau kita bekerja sama dengan suami nya Diandra?" bisik Nervan pada Rendra.
"Sorry Van! kita sudah berusaha memberitahukan nya, tapi gagal. Ingat, saat Crystal berteriak dan keluar dari bawah meja. Sebetulnya kami berdua ingin membahas soal ini." Jawab Rendra.
"Huufff!" terdengar nada frustasi dari Nervan. Satrio dan Rendy pun mengenal Diandra.
__ADS_1
"Silakan duduk Nyonya brown!" Rendy mempersilakan Diandra duduk. "Terima kasih," balas Diandra. Tatapannya mengarah pada Nervan. Tersirat kerinduan di sana. Nervan berusaha cuek.
Nervan harus profesional untuk ini. Hatinya gundah, sesekali melirik pada Diandra. Kebencian dan sedikit perasaan di dalam hatinya yang belum sirna menguasai dirinya. Setelah bertahun-tahun lamanya Diandra pergi, menghianati cinta mereka dan melukai perasaan nya, kini Diandra muncul di hadapan nya.
Bagaimana bisa Diandra muncul tiba-tiba, Ketika Nervan sudah mulai melupakan nya karena sudah menikah dan saat ini sedang menata hati dengan menerima pernikahan nya dan mencoba untuk mencintai Crystal.
"Ren! gue pergi duluan, lo handle saja urusan ini. Mulai detik ini, proyek kerjasama ini gue serahkan sama lo dan Rendy." bisik Nervan.
"Sorry Mr. Andy! saya masih memiliki janji lain. Maka dari itu, segala urusan tentang kerja sama kita. Akan di handle asisten saya! permisi Mr. Andy." Pamit Nervan.
"It's Oke! tidak ada masalah yang penting masih berjalan baik!" ucap Mr. Andy.
"Tentu Mr. Andy! saya permisi, selamat siang!" ucap Nervan. Maka setelah berpamitan ia pun segera keluar dari ruangan tersebut dengan mengajak Satrio.
"Mas tunggu! kenapa gak di hadapi saja Mas! aku tahu, ini karena Diandra kan?" tanya Satrio.
"Sudahlah. Mari pergi dari sini," Ucap Nervan dingin. Satrio pun tidak berani bicara lagi. Ia mengikuti langkah Nervan menuju mobil.
"Van tunggu!" suara panggilan seorang wanita menghentikan langkah nya Nervan dan Satrio.
Mereka pun berbalik. "Diandra?" gumam Nervan dan menatap Diandra yang sedang berjalan mendekat ke arah nya.
"Van! aku rindu kamu. Aku mohon maaf! aku tidak bermaksud menyakiti kamu waktu itu! Van, asal kamu tahu! momen ini betul-betul aku nantikan. Bertemu kamu dan aku tahu, kamu tidak menikah karena masih mencinta ku kan? aku dan suami ku sedang di ambang perceraian! mohon tolong aku. Seperti nya hanya kamu yang dapat menolong ku."
Tiba-tiba saja Diandra memeluk Nervan dengan tidak ada rasa canggung nya.
"Lepas! apa-apaan sih kamu! jangan fikir, karena aku tidak juga Menikah, lalu masih mencintai kamu? Aku gak sudi lagi melihat kamu. Jangankan bertemu, dan hingga bersentuhan begini, melihat mu saja, ingin nya tidak!" tegas Nervan.
"Van!"
Raut kecewa Diandra saat Nervan berusaha melepaskan Pelukannya. Hingga kini terlepas.
"Kembali pada suami kebanggan mu itu! aku muak melihat mu! asal kamu tahu, Aku sudah menikah dengan perempuan pilihan Mami ku, dan Aku mencinta nya lebih dari kamu dulu!" Sarkas Nervan sembari mengangkat jari nya. Ia memamerkan cincin pernikahan nya.
"Van! tolong jangan begini." Dengan tidak tahu malu nya Diandra berusaha menghentikan Nervan yang sudah masuk ke dalam mobil nya.
"Toi ayok jalan!"
"I-iya Mas!"
Satrio pun masuk kedalam mobil di depan kemudi. Ia yang akan mengemudikan mobil saat itu.
"Ke mana Mas?" tanya Satrio.
"Pulang ke rumah Mami! aku butuh Cysa." Jawab dingin Nervan.
Fikiran Nervan berkecamuk! antara ingat saat ini ia sudah beristri, ingat saat ia di hina Diandra dan orang tuanya. Namun mendengar Diandra hendak bercerai. Nervan sedikit berfikir lebih keras.
"Cysa ma'afkan Mas, sudah di peluk perempuan lain, tanpa Mas inginkan!" batin Nervan. Ia sadar saat ini telah menjadi milik Crystal, walaupun ia belum menyatakan cinta. Namun Nervan sudah mencintai Crystal Sebetulnya.
Bersambung ....
__ADS_1