Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
48. Mencari Keberadaan Crystal.


__ADS_3

Nervan sudah sampai di rumah orang tuanya. Ia segera masuk dan orang yang pertama ia cari adalah Papi.


"Pih! Papi...Evan ingin bicara dengan Papi." panggil Nervan dari balik pintu kamar Papinya.


Namun, tidak ada jawaban apapun dari dalam. Sepertinya Papi tidak ada di dalam rumah. Seorang Art menghampiri Nervan.


"Maaf mas Evan. Bapak, Ibu dan Mbak Cysa tidak ada di rumah." ujar Art Nervan.


"Mereka ke mana, Mbak?" tanya Nervan.


"Mbak Asih, kurang tahu Mas! tadi Ibu diantar Pak Amin, entah kemana. Bapak yang meminta." jawab Mbak Asih.


"Jadi...Papi tidak kembali ke rumah ini? malah Mami yang pergi menghampirinya?" tanya Nervan kembali pada Mbak Asih. Dan Mbak Asih pun mengiyakan, Nervan menghela nafasnya pelan, ia lelah.


Kini Nervan nampak frustrasi. Ia tidak memiliki gambaran kemana Papinya membawa Crystal dan juga Maminya.


"Uhek!" Nervan kembali mual. Satrio yang mendengar dari arah luar pun, segera masuk dan menghampiri Nervan.


"Mas mual lagi?"


"Iya Tio. Mari kita ke pabrik saja, sepertinya Papi membawa Crystal dan menyembunyikannya. Percuma aku teriak-teriak di sini mereka tidak ada di rumah ini.


"Baik Mas!"


"Tio... sekarang lo, antar gue lalu buntuti Pak Amin." ujar Nervan ia keluar dari rumah orang tuanya dengan tergesa.


"Oke!"


Nervan menuju ke kantornya ia ingin istirahat di sana. Karena di rumah pun tidak ada yang diharapkan sekarang, rumah orang tuanya pun sepi. Sedangkan Satrio yang ditugaskan mengikuti sopir Maminya, setelah mengantar Nervan, ia bergegas mencari keberadaan Pak Amin.


"Van, saran gue lebih baik lo istirahat di rumah Sakit." ucap Rendra


"Ogah Ren, di rumah sakit bau obat. Yang ada, nanti gue malah tambah sakit." tolak Nervan.


"Aneh lu Van. oo...atau mungkin..." kata-kata Rendra menggantung.


"Mungkin apa, Ren?" Nervan mengernyitkan dahi. Malah balik bertanya pada Rendra.


"Crystal hamil! dan elo kena sindrom Couvade. Atau kehamilan simpatik, itu loh Crystal yang hamil dan elo yang ngidam." jawab Rendra tanpa keraguan.

__ADS_1


Untuk sesaat Nervan diam. "Apakah betul begitu? masa sih sekali tembak langsung kena." ujar Nervan dengan bergumam namun, Rendra masih dapat mendengarnya.


"Ahahaha, mungkin tembakan lu jitu Van! eit itu baru perkiraan gue Van. Kalau mau jelasnya, coba tanya Crystal. Mungkin memang dia hamil dan menyembunyikannya dari lo." ujar Rendra.


"Hem... bagaimana, gue mau nanya. Sekarang gue sendiri, nggak tahu keberadaan Crystal. Papi dan Mami menyembunyikannya." ucap Nervan dengan nada sedih.


"Sabar Van! yakin masalah ini akan cepat selesai kok." Rendra menepuk pelan pundak Nervan.


"Thanks Ren, walaupun rada gila, elo memang sahabat terbaik gue. Kalau gitu gue balik saja deh! dah gak ada mood kerja." Nervan berdiri ia siap-siap hendak pulang.


"Kampret lu! ok, gue antar." tawar Rendra, kali ini Nervan tidak menolak.


Nervan kembali ke rumahnya, di antar Rendra. Ia juga di sediakan banyak makanan dan juga Vitamin oleh Rendra namun, melihat keadaannya, Rendra pun begitu prihatin. Nervan tidak baik-baik saja.


Satrio mencari keberadaan sopir Maminya Nervan, hingga sore hari orang yang di cari belum juga di ketemukannya.


Akhirnya Satrio memutuskan untuk pulang ke rumah Nervan sekaligus menemani Nervan.


**


Satu minggu berlalu dari sejak terakhir bertemu dengan Crystal. Selama lima hari terakhir Nervan tidak menampakan dirinya di tempat kerja.


"Ren, Tio! gue khawatir sama Nervan. Sudah lima hari Nervan tidak ada kabar." ucap Rendra ketika makan siang bersama Satrio dan Rendy.


"Sama, Saya juga bertemu tiga hari lalu saat membawakan berkas-berkas pekerjaan ke rumah Bos Evan." timpal Rendy.


"Lalu... bagaimana sekarang?" tanya Rendra.


"Entah, coba nanti aku hubungi. Sepertinya ia masih mengintai rumah persembunyian Crystal, karena kami pun belum yakin Crystal ada di dalam rumah itu atau tidak." Jawab Satrio.


"Baiklah, kalau begitu lo pantau Nervan ya Tio, Kalau ada apa-apa hubungi gue." pinta Rendra. Dianggukan kepala oleh Santrio, Rendy pun ikut mengangguk.


Beberapa hari berikutnya,


Malam hari. Nervan yakin Crystal ada di sebuah rumah yang sedang ia intai dari kemarin. Tadi sore ia melihat Papi serta Maminya berada di taman depan rumah itu namun, Crystal tidak terlihat.


Rencananya malam nanti Nervan hendak masuk ke dalam rumah itu, untuk mengetahui ada atau tidaknya Crystal di dalam dan menemui Crystal karena ingin menanyakan perihal yang diucapkan Rendra. Betulkah Crystal hamil?


keadaan Nervan nampak kacau dan tidak terawat. Ia masa bodoh dengan penampilannya, ia tidak perduli akan pekerjaannya. Yang ia inginkan saat ini Crystal kembali padanya.

__ADS_1


Malam haripun tiba, Nervan masuk ke dalam rumah itu secara mengendap. Ia tahu situasi rumah itu, Karena ia pernah melihat rumah tersebut saat Papi membelinya. Namun, kemarin-kemarin Nervan lupa akan keberadaan rumah tersebut.


Nervan naik dari pagar, lalu melewati tangga jemuran putar. Ia masuk lewat tangga untuk menjemur.


Setelah berada di dalam rumah, Nervan langsung mencari keberadaan Crystal di setiap ruangan. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Crystal baru saja keluar dari salah satu kamar, Nervan segera bersembunyi di dekat lemari. Mengintai pergerakan Crystal. Entahlah orang tuanya di kamar yang mana.


Crystal mengambil minum, dan di saat Crystal lengah, Nervan masuk ke dalam kamar yang ia yakini itu di tempati Istrinya. Nervan bersembunyi di sisi lemari yang tidak terlihat dari arah luar.


"Sayang betulkah kamu hamil?" gumam Nervan. Tidak berapa lama Crystal masuk ke dalam kamar.


Nervan memperhatikan gerak gerik Crystal, keadaan tubuhnya, ini sudah hampir sepuluh hari sejak ia bertemu dengan Crystal di rumah Tante Ningsih.


Sebelum tidur kembali, nampak Crystal membaca doa dan mengelus perutnya dengan lembut dan tersenyum. Nervan sedikit mengerutkan dahi, hal tidak biasa Crystal lakukan. Kini ia yakin, bahwa Crystal betul-betul hamil.


Nervan pun tersenyum gembira namun, niatnya keluar dari persembunyian ia urungkan. Akhirnya Nervan menunggu Crystal hingga tidur.


Setelah Crystal nampak terlelap, Nervan menghampiri Crystal dengan pelan namun, pasti. Ia meletakkan tangan kanannya di atas perut Crystal. Mengusap lembut dan memejamkan matanya sejenak, ajaib rasa pusing ya ia tahan dari setadi hilang, begitupun dengan rasa mual yang masih mendominasi, lenyap begitu saja.


Nervan tersenyum lebar. Namun, sepertinya Crystal belum terlalu lelap. Ia menyadari adanya kehadiran seseorang di sisinya. Crystal membuka matanya.


"Aaammmmffff..." Crystal hampir saja berteriak. Dengan sigap Nervan memblokir bibir Crystal dengan bibirnya. Alhasil mereka jadi berciuman.


"Mas, Nervan?" tatapan penuh tanya dari Crystal.


"Maaf Sayang, aku harus masuk ke sini dengan cara menyelinap. Tolong jangan takut padaku, jangan usir aku. Aku hanya ingin memastikan satu hal." ujar Nervan dengan tatapan penuh harap.


Crystal bangun di bantu oleh Nervan, kini ia duduk di atas tempat tidur. Nervan juga ikut duduk menghadap ke arah Crystal.


Crystal menatap Nervan dengan sendu. Entah sadar atau tidak, tangan Crystal telulur ke arah wajah Nervan. Lalu ia membelai wajah lusuh itu dengan sayang.


"Mas, kamu tidak merawat diri?" tanya Crystal, tangannya masih menyusuri wajah Nervan yang di hiasi bulu-bulu kasar tak beraturan.


"Hehmm..." Nervan tersenyum miris, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada hal yang lebih penting dari sekedar penampilan ku." ucap Nervan pelan.


Crystal mengerutkan dahi. "Apa itu?"


"Putri Lunaku, betulkah kamu sedang hamil anakku?" tanya Nervan membuat Crystal tertegun untuk sesaat.

__ADS_1


"Maaf Mas. Apa yang Mas katakan? Putri Luna?" Crystal tidak menjawabnya, ia malah balik bertanya.


Bersambung...


__ADS_2