
"Harus nya lo puas Mas, sudah memperlakukan Cysa seperti tadi hingga akhirnya tidak sadarkan diri." Ucap Satrio dengan menggebu.
"Cukup! gue tahu, gue salah! tapi stop nge judge gue!" Nervan berdiri menghampiri Satrio.
"Apa? mau pukul gue lagi? pukul! Sampai titik darah penghabisan, gue ladeni. Ingat Mas! Mbak gue meninggal karena kekejaman suami nya! nah lo yang dulu nangis untuk Mbak gue. Lalu kemana Nervan yang dulu. Di mana sisi manusiawi yang lo miliki?" tanya Satrio.
"Gue khilaf. Mulai saat ini, gue akan menjaga Cysa dengan sebaik mungkin." Ucap penyesalan Nervan.
"Gue harap! ingat ya Mas! Kalau sampai lo sakiti Cysa lagi, gue akan berdiri tegak di samping nya. Gue yang akan melindungi nya. Siapapun Cysa, saat ini sudah menjadi keluarga gue." Ancam Satrio.
"Awas saja kalau sampai berani Lo Sentuh Cysa!" Nervan menarik kerah kemeja Satrio dan menuding wajah nya dengan telunjuk. "Woow woles kali Mas! maka nya jaga Cysa nya." Cibir Satrio.
"Mas! Mas Evan!"
Nervan menoleh pada arah sumber suara. Tarnyata Crystal sudah siuman. "Sayang!"
Nervan melepaskan Cengkraman tangan nya dari kerah Satrio lalu ia berjalan menuju Crystal.
"Cysa sayang! ka- kamu baik-baik saja kan?" tanya Nervan cemas plus lega.
"Mas! koq aku ada di sini?"
"Maafkan aku! tadi kamu pingsan setelah aku tinggalkan. Maafkan aku sayang! maaf!" Nervan tergugu, bahunya sedikit terguncang karena menangis.
"Sudahlah Mas! yang penting aku baik-baik saja." ucap Crystal dengan mengelus wajah Nervan.
"Iya sayang?"
Terdengar hangat di telinga Crystal dan ada yang menghangat di dalam hati nya mendengar ia di panggil sayang oleh Nervan. Ah tapi mana mungkin sungguhan di situ ada Tio, fikir Crystal.
"Aku panggil dokter sebentar!" tawar Tio. Di anggukan kepala oleh Nervan.
"Mana yang sakit?" tanya Nervan. "Pinggang dan kepala ku sakit Mas." aku nya Crystal dengan jujur.
"Maafkan aku! maafkan aku!"
"Mas, sudah! aku sudah memaafkan mu," ucap Crystal.
"Terima kasih sayang!" ujar Nervan dengan berbinar.
Tio kembali bersama dokter dan dua orang suster. Setelah serangkaian pemeriksaan maka kini Crystal sudah berada di ruang perawatan VIP lantai lima, hanya terhalang satu kamar dari kamar Mami nya Nervan.
Papi Nervan sudah kembali ke kamar Mami nya Nervan sebelum Crystal siuman.
__ADS_1
"Oke Mas, aku balik ke kamar Bude ya, sudah terlalu lama aku keluar dari kamar itu." Pamit Satrio.
"Baik Tio, terima kasih!" ucap Nervan.
"Terima kasih Mas Tio." tukas Crystal.
"Lho koq Mas! Tio saja kali Mbak Cysa. Aku kan adik nya Mas Nervan." Ucap Tio dengan tertawa.
"Hehe iya deh Tio." ucap Crystal kembali. Akhirnya Tio kembali ke kamar Mami Nervan.
"Sayang mau minum, atau makan sesuatu, biar aku pesan di kantin rumah sakit?" tanya Nervan.
"Tidak perlu Mas, terima kasih. O yah, sudah Mas pura-pura nya. Toh di kamar ini sudah tidak ada orang!" pinta Crystal.
"Lokh pura-pura apa?" tanya Nervan tidak mengerti.
"Panggil Sayang! itu pura-pura kan?" tanya polos Crystal.
"Sayang! itu tidak pura-pura, itu sungguhan. Mulai saat ini, aku akan menjadi suami sungguhan untuk mu." Ucap Nervan.
Deg! deg! deg!
Crystal terkejut mendengar itu. Jantung nya berdetak lebih kuat.
"Mas?" Panggilan Crystal menyiratkan sebuah pertanyaan dan ketidak percayaan.
"Sungguh Mas?" Crystal mencoba menggapai pipi Nervan dengan tangan nya.
"Sentuh lah sayang, silakan! ini milik mu," ucap lembut Nervan.
Dengan ragu namun pasti, Crystal menyentuh pelan pipi Nervan. Lalu mengelus nya lembut. "Mas!"
Crystal nampak berkaca-kaca. "Iya sayang! ini aku suami mu."
"Mas, terima kasih!" hiks hiks. Crystal akhir nya menangis terharu, rasa bahagia menyeruak tanpa permisi di dalam relung qolbu nya.
Crystal dan Nervan pun berpelukan. Nervan ingat akan ancaman Papi nya, bahwa ia akan kehilangan Crystal. Nervan merasa tidak rela.
Kesepakatan Papi nya pula. Untuk merahasiakan kejadian tadi pada Crystal dan Mami nya. Untuk itu Papi Nervan pergi sebelum Crystal siuman, agar Crystal tidak malu, kalau sebetulnya Papi Nervan sudah mengetahui semua rahasia Nervan.
"Mas!"
"Yah!"
__ADS_1
"Mengapa Tio yang menemukan ku pingsan?" tanya Crystal. Saat ini Nervan berbaring di sebelah nya, sedang memeluk nya dan mengelus pinggang Crystal yang katanya sakit.
"Tio tidak sengaja keluar dari ruangan Mami dan dia melihat kamu tergeletak di lantai, lalu ia menolong kamu. Aku sempat naik kembali untuk mencari mu, namun aku tidak menemukan mu, hingga aku mendapat telepon kalau kamu di IGD." Penjelasan Nervan.
"Ouh seperti itu. Untung ada Tio yah Mas!"
"Huuumm," gumam Nervan.
"Mas! Mas!" panggil Crystal. "Yah koq tidur Mas?" tanya Crystal.
"Am .... Maaf sayang, aku ngantuk!" jawab Nervan. "O ya sudah, tidur saja." Akhirnya ruangan itu hening.
Di tempat berbeda,
"Pih! sudah ada kabar belum dari orang rumah, tentang Cysa?" tanya seorang wanita cantik yang sedang menikmati teh sore nya.
"Belum Mih! Pergerakan Cysa pun tidak ter lacak!" jawab laki-laki setengah baya yang nampak tampan dan masih gagah.
"Cysa, Mami khawatir ancaman nya hari itu betulan Pih!" ucap wanita itu lagi. Ternyata Wanita itu adalah Mami nya Crystal.
"Sabar Mih! Papi sedang memantau nya terus, Account nya sudah Papi blokir, kalau kehabisan uang juga dia akan pulang." Ucap santai sang Papi.
"Bagaimana sih kerja nya para bodyguard Papi! hanya bawa Cysa pulang saja tidak becus." ucap kesal Mami Crystal.
"Loh biasa nya juga mereka berhasil kan, sudah beberapa kali Cysa mencoba kabur dari pantauan kita. Namun bodyguard Papi selalu dapat membawa nya pulang. Biarkan mereka bekerja, kita menunggu saja." ujar Papi Crystal.
"Baiklah Pih! tapi Mami rindu Cysa." ucap Mami Crystal. "Tumben!" ledek Papi Crystal.
"Ikh Papi koq bicara begitu, sungguh Mami rindu. Mami rindu Kristal nya Mami. Cysa kamu di mana sayang?"
Sedangkan di ruang rawat inap Crystal,
"Selamat sore Nyonya Skyner!" sapa dokter yang baru saja tiba hendak melakukan pemeriksaan.
"Sore Dok! maaf suami saya tidur di sini." Ucap Crystal dengan senyum malu-malu.
"Tidak mengapa Nyonya. Itu sudah biasa! apalagi pasangan baru menikah," Dokter tersenyum.
Posisi Nervan sedang berbaring miring memeluk Crystal. Ia terlelap di satu tempat tidur dengan Crystal.
"Ada keluhan lain Nyonya?" tanya dokter. "Hanya sakit kepala dan pinggang dok." Jawab Crystal.
"Baik! jika hingga besok sakit nya tidak mereda. Maka kami akan melakukan pengecekan ulang." Ujar dokter.
__ADS_1
"Baik dokter, terima kasih." Dokter dan suster pun akhirnya berpamitan, setelah pemeriksaan selesai.
Bersambung ....