
Setelah tercyduk di dalam kamar berduaan dengan Crystal tanpa busana. Maka setelah kehebohan itu, Nervan pun disidang oleh Papi. Nervan mengaku bahwa Ia memang mengendap saat masuk ke rumah itu. Bertemu Crystal dan akhirnya mereka berbaikan setelah Crystal tahu bahwa ia adalah Putri Luna yang Nervan cari selama ini. Hingga mereka menutup malam itu dengan kemesraan.
"Baiklah. Papi tidak mempersalahkan, tidak mempersoalkan tentang kamu yang ingin memperbaiki rumah tangga dan menemui istrimu. Hanya saja, Papi terikat janji dengan kakaknya Cysa, bahwa sebelum orang tuanya kembali ke tanah air dan mereka bertemu dengan kalian berdua. Maka, kami tidak diperkenankan untuk kamu dan Crystal hidup bersama untuk sementara. Itu karena perbuatan kamu tempo hari Van!" tutur Papi dengan amat jelas.
"Baiklah kalau begitu Pih! Evan pergi sekarang, berharap orang tua Crystal secepatnya kembali ke tanah air." ujar Nervan.
Setelah Nervan berpamitan kepada Mami juga Crystal dan acara pamitan tersebut dihiasi oleh tangisan Crystal. Walaupun dengan berat hati, maka Nervan pun memutuskan untuk pergi dari rumah papi.
Kini Nervan sudah berada di dalam perjalanan. Setelah ia mengambil mobilnya di sudut jalan dekat rumah Papi, karena ia menyembunyikan mobilnya di sana.
Nervan enggan pulang! tujuan utama Nervan kali ini adalah, kantornya. Setelah sampai kantor ia segera membuka bekal sarapan yang dibuatkan Crystal untuknya. Untungnya Papi membiarkan ia mandi terlebih dahulu di sana.
Walaupun Nervan belum dapat hidup serumah kembali dengan Crystal namun, pagi ini keadaannya lebih baik dari kemarin. Ia terlihat ceria, sesekali ia bersiul dan senyum-senyum sendiri.
Rendra yang baru saja masuk ke kantor Nervan dibuat tercengang, melihat Nervan yang asik sendiri senyum-senyum di kursi kebesarannya. Bahkan sudah hampir lima menit Rendra duduk di sofa namun, Nervan yang berada di meja kerjanya tidak menyadari kehadiran Rendra.
"Oi Van! bagi-bagi lah tawanya." Rendra mengejutkan Nervan.
"Heis, Upin! sejak kapan lu disitu? ngintip gue ya? gua sumpahin bisulan."
"Sekate-kate lu! dari lima menit yang lalu, gue sudah ngucapin salam. Elunya yang teler, sampai nggak sadar ada gue di mari." tukas Rendra.
"Hihi... Ok! ok Ren," Nervan malah cengengesan.
"Lu sedang bahagia, Van? dapat undian lotere di mana?"
"Iya gue bahagia! sembarangan lu! ini... lebih dari sekedar undian lotere." jawabnya Nervan masih dengan wajah bahagianya.
"Nih berkas kerjasama dari pengusaha Arab di tanah Abang!" Rendra menyodorkan beberapa map. Lalu ia menatap Nervan dan mencium aroma Nervan. Sedikit aneh, wangi Crystal. Rendra tahu itu.
"Ouh gue tahu, apa yang membuat elu senyum-senyum enggak waras! lu habis ketemu Crystal kan?" tanya Rendra.
"Ah sok tahu lu!"
"Tahu lah, wangi lu ga kayak gini, kecuali lu ngecer perempuan."
"Haits, amit-amit! ga punya bini aja, gue ogah ngecer. Apalagi punya bini. Ia malam gue masuk rumah Papi dan gue tidur sama Crystal. Puas lo?" tanya Nervan sedikit sarkas.
"Aahahaha, pantas pagi-pagi sudah senyum-senyum ga jelas. Lo ga di usir si Om?"
"Di usir sih pas paginya, apalagi gue kepergok kekepan sama Cysa." Rendra makin tertawa, melihat wajah polos Nervan bercerita mereka tercyduk sedang tidur bersama.
"Tawa aja lu! lama-lama mulut lu, gue jejelian kertas."
__ADS_1
"Ya gua lucu aja. Elu tercyduk sama orang tua lu! dan di usir, gua bayangannya lu masuk ke kamar anak perawan orang. Kepergok orang tuanya dan lu di sidang. padahal lu masuk kamar istri lu sendiri, parah banget," Rendra masih terpingkal-pingkal.
"Puas lo! eh itu bokap gue sendiri. Bagaimana kalau Bokapnya Crystal yang memergoki gue ya?" Nervan bergidik ngeri.
"Di cincang kayaknya!" jawab enteng Rendra.
"Ah gila lo Ren, nakutin gue aja." wajah Nervan berubah pias. kali ini ia betul-betul mempertimbangkan tentang Ayah Crystal, karena sepertinya setelah ia pulang dan tahu Nervan adalah menantu yang telah menikahi Anaknya, tanpa sepengetahuan dirinya. Maka keadaan mereka mungkin akan bertambah rumit.
Nervan dan Rendra mengakhiri bercengkrama serta bercanda tawa. Kini keduanya kembali pada pekerjaannya masing-masing.
Hari-hari pun berlalu, Nervan nampak gelisah. Ia pun harus menepati janji kepada sang Papi, untuk tidak menemui Crystal. Nervan menahan diri untuk tidak pergi ke rumah itu, dengan cara mengendap. Sesekali ia akan menelpon Crystal hanya untuk sekedar mengobrol dan menanyakan keadaannya.
Keadaan Nervan pun kembali memprihatinkan, ia kembali sakit karena sindrom couvad yang di alaminya.
Siang ini Nervan tidak pergi ke kantor. ia memilih berdiam diri di rumah, sungguh ia tidak baik-baik saja. Ia ingin sekali ditemani Crystal sebetulnya. Namun, masih terikat janji.
"Kapan orang tua Cysa pulang? lebih baik aku berjuang melawan mereka. Asalkan Cysa dapat ku jangkau, daripada seperti ini. Aku sakit dan harus hidup sendiri. Miris sekali." ujar Nervan, berbicara sendiri. Tubuh lemahnya ia sandarkan di sofa.
Beberapa hari kemudian,
Sudah hampir lima hari tidak ada kabar apapun dari Nervan. Teleponnya pun tidak dapat dihubungi, hari kemarin Rendra serta Rendy pernah datang ke rumahnya Nervan. Namun, rumah itu kosong.
Ini hari ke tujuh. Rendra sungguh bingung dan menjadi uring-uringan, setumpuk berkas menunggu persetujuan dan tanda tangan Nervan.
Tak selang berapa lama, Rendy pun masuk kedalam ruangan Nervan, dengan setumpuk berkas dan file-file di tangannya.
"Loh, Pak Rendra?"
"Kepala gue pening Ren! Bos lu itu kemana sih? lihat kerjaan dia! gue sendiri udah nggak bisa menghandle." tunjuk Rendra pada tumpukan tumpukan file dan juga berkas, sembari berjalan ke arah sofa dan ia duduk di atas sofa tersebut dengan menghempaskan tubuhnya asal.
"Ia ya? saya sudah mendatangi rumahnya beberapa kali. Nampak kosong dan sepi. Atau... Mas Nervan berada di rumah orang tuanya?" Rendy pun ikut duduk di sofa setelah meletakkan berkas-berkas yang ia bawa di atas meja kerja Nervan.
"Hum... begini terus, perusahaan terancam gulung tikar." Rendra menghela napasnya pelan.
"Pintu kaca ruangan Nervan terbuka dan itu Satrio. "Loh Mas Rendra dan Rendy di sini?"
"Ia Tio. Lesu, kami lagi di fase bingung. Tuh lihat...!" tunjuk Rendra ke meja kerja Nervan. Satrio mengerti arah pembicaraan Rendra.
"Ya sama! aku sedang galau nih, proyek kerjasama dengan mister Singapura itu seharusnya berjalan hari ini. Team produksi juga sudah siap. Nah karena belum ada tandatangan Mas Nervan, terpaksa di pending. Beruntung client mau mengerti dan memberikan batas waktu."
"So... kita nggak bisa begini terus!" ucap Rendra.
"Atau kita ke tempat Mas Nervan saja. kita lihat keadaan di dalam. Jika tidak ada orang termasuk Mas Nervan, berarti memang dia pergi ke suatu tempat." saran Rendy.
__ADS_1
"Ya Ren, gue juga khawatir banget. Tidak seperti biasanya, Mas Nervan seperti ini. Di rumah Pakde dan Budhe juga tidak ada. Crystal pun sama, tidak dapat menghubungi Mas Nervan." timpal Satrio.
"Baiklah, mari menemui Crystal. kita libatkan Crystal dalam hal ini, lagipula sepertinya, ia memiliki kunci cadangan rumah Nervan." Sambung Rendra.
Pada akhirnya, setelah tercapai kesepakatan, yaitu mereka memutuskan untuk membuka rumah Nervan. maka Rendra, Satrio dan Rendy, bergegas menuju kediaman orangtuanya Nervan. tujuannya mengajak Crystal ikut serta, bersama Mereka melihat keadaan rumah Nervan.
Hingga hampir sore hari, empat orang nampak sedang berdiri dan sedikit berbincang di depan rumah Nervan.
"Mas! kamu saja yang buka pintunya," ucap Crystal kepada Rendra.
"Tio saja, aku takut." tolak Rendra sembari nyengir kuda.
"Baiklah...baiklah." Ucap Satrio, sembari menyodorkan telapak tangannya kepada Crystal minta kunci. Dan Crystal memberikannya dengan tangan bergetar. Pikiran dan perasaannya sudah tidak keruan mengingat suaminya, yang tidak ada kabar dalam, beberapa hari ini.
Pintu sudah terbuka lebar, bau yang tidak sedap tercium dari dalam. Karena sepertinya, rumah itu tertutup rapat dalam beberapa hari dan tidak mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
Keempat orang itu, segera memeriksa ke dalam rumah.
Setiap sudut ruangan tidak luput dari perhatian mereka sembari memanggil-manggil Nervan namun, tidak ada jawaban.
Crystal langsung naik ke lantai atas menuju kamar Nervan, dengan perlahan, saat ini ada bayi di dalam perutnya yang harus dijaga.
"Mas Evan...!"
Teriakan Crystal yang terdengar hingga lantai bawah. membuat Rendra, Satrio dan Rendy terkejut, mereka segera berhamburan berlari ke lantai atas. Ingin memastikan apa yang terjadi.
"Astaghfirullah, Van!"
Nervan tergeletak di atas lantai beralaskan permadani yang berada di dekat kaca jendela, pintu kaca yang mengarah ke balkon kamar terbuka lebar.
"Mas! Mas kamu kenapa?" Crystal menangis dan bersimpuh di samping tubuh Nervan yang terlihat diam saja.
Rendra segera mendekati Nervan ia segera memeriksa denyut nadi dan napas.
"Denyut nadi melemah. Panggilkan ambulance. Kita ke rumah sakit!" pekik Rendra. Satrio mengerti apa yang harus dilakukan, yaitu memanggil ambulans dan Rendy membantu Rendra mengangkat tubuh Nervan untuk dibaringkan di atas tempat tidur.
"Mas, ada apa dengan tubuh mu? mengapa kamu nampak tidak berdaya. Maafkan aku Mas!" Crystal menangis lirih.
"Van, sadar Van!" Rendra mencoba membangunkan Nervan. Namun, Nervan bergeming dengan posisi semula, yaitu tidak sadarkan diri.
"Mas, tolong bertahan. Kita ke rumah sakit. Mas ingat! kamu akan memiliki Baby." Crystal masih menangis sembari, mengelus lembut pipi Nervan yang terasa dingin. Wajah Nervan nampak pucat.
Tidak berapa lama ambulans tiba di halaman rumah Nervan. mereka membawa Nervan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung...