
Beberapa hari kemudian,
Kondisi Crystal memang sudah membaik. Akan tetapi ia memilih untuk tetap di rumah sakit, Kendati dokter sudah memperbolehkannya pulang, ia memilih manambah jumlah biaya inap untuk kamar VVIP yang ia tempati.
Bukan tanpa alasan, Sang Putra belum bisa dibawa pulang. Kondisinya masih harus mendapatkan perawatan dan pemantauan dokter anak, Cryrstal tidak mau jauh dari Putranya, Sehingga memilih bertahan di rumah sakit.
Bisa saja Nervan membawa pulang dengan uang yang ia miliki. Bisa membeli alat-alat medis yang di butuhkan dan menyewa perawat serta dokter. Akan tetapi Crystal menolaknya. Ia takut sang Putra malah kurang nyaman saat di bawa pulang. Karena alat baru dan perawat baru.
Akhirnya Nervan mengalah. Dengan menemani Crystal tinggal di rumah sakit dan ia akan pulang pergi bekerja dari rumah sakit.
Siang ini, seorang diri di dalam kamar tersebut, terasa jenuh juga, pikir Crystal. Ia memutuskan untuk melihat sang Putra yang kini bisa di lihat dari kaca besar ruang perawatannya.
"Nyonya mau ke luar?" tanya sopan salah satu Bodyguard saat Crystal sudah berada di hadapan mereka.
Nervan memang menempatkan beberapa Bodyguard di depan pintu ruangan VVIP tersebut, untuk berjaga-jaga dari aksi nekad Papi Harsyal yang hendak membawa pergi Crystal untuk di nikahkan dengan Gibran, itu yang Zafier katakan.
"Tidak! saya mau ke ruangan Putra saya." jawab Crystal nampak berwibawa layaknya Nyonya dan pekerjanya.
"Baik Nyonya. Silakan! kami akan membayangi langkah Anda." pinta salah satu Bodyguard. Crystal mengangguk. Ia segera berjalan menuju ke ruangan rawat Putranya, tanpa bersuara kembali.
Crystal tersenyum sumringah saat sudah berdiri di luar dinding kaca besar itu. Tatkala melihat sang Putra tengah menggeliat manja.
"Cepat pulih kesayangan Mama dan Papa! mari pulang ke rumah Nak. Kami sudah menyiapkan tempat bermain yang luas untuk mu." bisik Crystal, telapak tangannya menempel pada dinding kaca, ia mengelus dinding kaca tersebut, seolah ia sedang mengelus lembut sang Putra.
__ADS_1
Air matanya mulai berjatuhan. Para Bodyguard yang berada tidak jauh dari tempat itu nampak iba. Namun, mereka tidak bisa berbuat apapun.
Di kantor Nervan. Tepatnya di sebuah pabrik Garmen terkenal. Papi Harsyal sedang duduk menunggu Nervan yang tidak ada di tempat.
"Kalau saja bukan karena Crystal. Tidak sudi aku berada di sini." gumam Papi Harsyal. "Hem, ku akui sih! hebat juga Aarlic bisa membangkitkan kembali Garmen ini hingga sebesar saat ini. padahal waktu itu, Garmen ini sempat di tutup bertahun-tahun karena mengalami kebangkrutan."
Di luar ruangannya. Nervan baru saja tiba di ruang produksi. Ia langsung ke ruangan itu, untuk memeriksa sampel kain pesanan yang akan di ekspor.
"Ini, tolong di periksa kembali. Takutnya ada kain yang kurang bagus tercampur. Nanti reject, kan berabe." ujar Nervan pada leader produksi.
"Baik Pak! kami akan memeriksanya kembali." balas leader produksi tersebut.
Nervan Kembali berjalan ke tempat produksi lainnya. Rendra menyertai di sisinya. Ia menjelaskan apa-apa saja yang Nervan belum ketahui, tentang produksi. Karena selama Nervan berada di rumah sakit. Segala pekerjaan di handle Rendra serta Rendy.
Setelah di rasa cukup, berada di ruang produksi. Nervan dan Rendra kembali ke ruangannya. Namun, sekretaris Nervan menghentikan langkah Nervan. Saat ia hendak masuk ke dalam kantornya.
"Tamu, siapa?" selain bertanya pada sekretarisnya, Nervan pun melihat kearah Rendra. Mencoba mencari jawaban. Renda mengangkat pelan bahunya, pertanda tidak tahu.
"Katanya ... Ayah mertua Anda Pak!"
"Ayah mertua?" alis Nervan terangkat. Ia merasa sedikit terkejut.
"Ren, Om Harsyal?" tanya Nervan.
__ADS_1
"Ya, memangnya lu punya Ayah mertua berapa biji?" tanya Rendra dengan santai.
"Hish Upin! biji? memangnya jeruk pakai biji!" protes Nervan.
Rendra mengekeh. "Cieee, ada yang sensi nih, Ayah mertuanya di samakan dengan biji." ledek Rendra.
"Resek lo! sana balik ke ruangan lu. Gue mau ketemu ayah mertua tersayang. Sepertinya dia rindu berat sama gue, Men!" kelakar Nervan.
"Aahahah, selamat melepas rindu!" ledek Rendra sembari tertawa dan ngeloyor begitu saja ke arah ruangannya.
"Kampret bergadang!" kesal Nervan dengan keras, Rendra pun masih mendengarnya dan ia tambah tertawa. "Huff! sudah lama, ayah mertuaku di dalam?" tanya Nervan pada sekretarisnya.
"Lumayan lama Pak! sekitar satu jam yang lalu." jawab sang sekretaris. Nervan mengangguk paham, lalu ia menarik napas dan mengeluarkannya perlahan, membuang rasa gugupnya.
Dengan langkah pasti, Nervan berjalan menuju ruangannya. Tanpa basa-basi, setelah ia sampai di depan ruangannya. Nervan membuka pintu dengan mengucapkan salam.
Terdengar jawaban salam dari tiga suara berbeda. Sepertinya Papi Harsyal tidak sendiri. Ya, ia bersama dua orang lainnya, yaitu Bodyguard sang Papi.
"Pa-papi? sudah lama? apa kabar?" tanya Nervan, ia menghampiri Papi Harsyal, lalu mengecup tangan kanannya dengan takzim dan tanpa penolakan.
"Belum lama! saya baik."
Nervan sedikit bingung, Papi Harsyal tidak seperti biasanya? kali ini ia lebih tenang dan jangan lupa sikapnya jauh lebih baik walaupun masih terdengar kaku.
__ADS_1
"Mau apa Papi ini?" batin Nervan.
Bersambung ...