Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
36. Kaus Warna Putih.


__ADS_3

"Sungguh!" Nervan mengekeh, ia mengingat kelakuan nya beberapa tahun lalu.


"Mas main perempuan atau apa?" Crystal penasaran.


"Tidak! Aku anti main perempuan. Paling ke club, mabuk dan party party gak jelas. Namun setelah Mami sakit, dan penyebab sakit nya Mami itu kelakuan ku! maka aku mulai membenahi diri, dengan hidup lebih sehat. Membatasi diri dari teman- teman yang berkelakuan buruk. Lalu aku putuskan untuk bekerja. Dengan bekerja dan menyibukkan diri dengan pekerjaan, maka aku merasa menjadi seseorang yang berguna." Tutur Nervan.


Crystal mendengarkan Nervan bercerita tanpa ada niat untuk menghentikan nya. Ia menatap Nervan dengan mata yang berkaca-kaca, memandang wajah nya dengan seksama. Guratan lelah nampak di sana.


"Mas lelah dengan semua ini?" tanya Crystal.


"Awal nya ia, aku lelah, aku jenuh. Akan tetapi melihat senyuman Mami dan pancaran kebahagiaan serta kebanggaan dari Papi, semua beban ku terasa hilang. Terlebih setelah aku menikah dengan mu. Semangat untuk ku bekerja dan menafkahi kamu dengan layak, maka beban apapun terasa ringan."


"Terima kasih Mas! aku akan selalu berada di sisimu. Jangan bosan dengan sifat manjaku."


"Sama-sama sayang! hidup ku lebih berwarna, sejak ada kamu."


"kasih sayang dari Mas, telah membuat aku merasa di hargai dan menjadi manusia yang di inginkan." ujar Crystal Kembali.


"Aku tidak ingin Mas terlalu lelah bekerja keras, sehingga mengorbankan kesehatan Mas Evan. Aku hanya ingin Mas tetap ada untuk orang tua Mas dan juga untuk ku! serta menyayangi ku. maka, hidup sederhana, bagi ku sudah cukup. Asal kebahagiaan kita tidak akan sirna. I love you Mas!" ujar Crystal.


Nervan tersenyum, ia merasa tersanjung. Di luar dugaan nya, Crystal akan mengatakan hal demikian.


Jika dari cerita nya Crystal, ia di anggap sebuah kristal yang perlu di jaga setiap saat dan ia adalah Tuan putri dari seorang pengusaha kaya yang sudah sukses membentangkan sayapnya ke luar negeri, maka kata-kata Crystal baru saja terdengar klise.


Rata-rata perempuan seperti Crystal Hobby nya berfoya-foya dan ingin selalu hidup glamor. Namun Jika di lihat dari sifat Crystal. Memang ia berbanding terbalik dengan perempuan- perempuan kaya pada umumnya. Seperti nya Crystal hanya butuh kasih sayang.


"Terima kasih sayang, kamu memang perempuan yang baik. Aku bersyukur di pertemukan dengan mu dan menikah dengan mu adalah pilihan terbaik." Ungkap perasaan Nervan.


"Mas! walaupun awal pernikahan kita di warnai kegaduhan dan perbuatan aneh kamu, namun aku bahagia dapat menikah dengan orang seperti kamu." Crystal memeluk Nervan makin erat.


"Hehe!" tiba-tiba saja Nervan mengekeh. Membuat Crystal bingung.


"Ikh mas sakit yah?" Crystal meraba kening dan leher Nervan.


"Apa sih sayang? kamu fikir aku demam?" Nervan menggenggam tangan Crystal.


"Nah itu tiba-tiba tertawa. Jika bukan karena demam lalu karena apa?" tanya Crystal.


"Karena kamu!" jawab enteng Nervan dan berhadiah sebuah cubitan di pinggang nya.


"Awsh sakit, sayang!" Nervan meringis.


"Memang nya, aku ini hantu gentayangan, yang membuat Mas kerasukan? hingga tertawa tiba-tiba." ketus Crystal


"Hihi, Jangan ngambek dong!" Nervan mencuil dagu Crystal. "Aku merasa lucu, ingat ketika kamu mengenakan kaus milik ku, waktu awal-awal pernikahan kita, Sayang."


"Ummm, kamu sengaja Mas, mana mungkin kamu tidak mampu membelikan ku Pakaian perempuan." Protes Crystal.

__ADS_1


"Ahahah. Ia, memang aku sengaja melakukan nya. Aku suka ketika kamu marah- marah, malu-malu, yang terutama, Aku suka, kamu nampak seksi dengan menggunakan kaus milik ku yang tanpa dalaman kalau malam. Tanpa kamu sadari, aku sering ngintip kalau kamu mau ke kamar mandi, berdiri di ambang pintu agak lama, karena nguap dan kucek- kucek mata. Dari kaus putih milikku, pantulan siluet tubuh polos kamu nampak sekali menerawang, karena biasan dari sorot lampu." Ungkap jujur Nervan dengan tertawa.


"Mas! jadi kamu .... ikh jahil. Berarti sudah tahu bentuk tubuh ku dari awal? pantas saja kamu suka sekali memberikan aku kaus warna putih yang kebesaran dan malah lebih mirip daster di tubuh ku." Pekik Crystal.


"Hehe. Maaf sayang! awal nya aku tidak sengaja dapat rezeki pagi dengan melihat siluet tubuh polos mu di balik kaus. Namun aku ketagihan, makanya aku sengaja meminta anak produksi untuk membuatkan beberap kaus warna putih yang agak tipis, yang besar nya dua kali lipat dari ukuran kaus ku. Jadi ketika di tubuh mu, nampak kebesaran dan ketika tersorot lampu dapat menerawangkan isi di dalam nya, berasa nonton di layar bioskop." Penjelasan Nervan.


"Mas jahat ikh. Dasar otak ngeres. Masa Istri sendiri di intip dan di kerjain seperti itu. Nih rasa pembalasan ku!" Crystal mengelitiki Nervan.


"Ampun sayang .... ampun! geli." teriak Nervan sembari tertawa.


Crystal pun ikut tertawa dengan tetap mengelitiki Nervan. Kini tubuh nya sudah di atas Nervan dan sedang merangkak di atas tubuh Nervan.


Begitu menyadari posisi dirinya, Crystal pun menghentikan aksi nya dan ia nampak salah tingkah. "Maaf Mas!" ucap nya.


"Tidak apa-apa! aku suka," Nervan menarik tubuh Crystal hingga jatuh dan mendarat pada tubuh bagian depan nya. Dengan cepat, Nervan berguling, kini posisi Crystal berada di bawah Nervan.


"Mas!" Crystal menatap wajah Nervan yang juga sedang menatap nya dengan tersenyum.


"I love you!" ucap Nervan dengan mengecup kening Crystal.


"Love you juga Mas!" balas Crystal. Hingga bunyi perut Crystal yang lapar, menghianati nya dan mengganggu momen romantis tersebut.


"Heuh!" Nervan tertegun sejenak. "Ahahaha, kamu lapar sayang?" tanya Nervan.


"Hihi." Crystal malu untuk mengakui.


"Aku lupa! karena kamu sibuk nangis, tadi pagi hanya minum saja. Mari makan, mau keluar atau makan di kantin Pabrik?" tanya Nervan, ia sudah berdiri dan sedang mengenakan kemeja yang sempat ia lepas.


"Ok, mari!" Nervan mengajak Crystal turun ke kantor nya, lalu mereka keluar dari kantor Nervan, melewati ruang produksi yang luas dan langsung menuju kantin, banyak pasang mata karyawan nya memperhatikan mereka berdua. Di seberang kantin terdapat sebuah bangunan Mesjid yang cukup megah. Crystal begitu tertegun. Berarti Nervan dan keluarga nya yang memiliki darah Jepang dari Ayah, begitu mementingkan tempat ibadah untuk para karyawan nya.


"Mari sayang, koq bengong!" Nervan mengajak Crystal masuk ke dalam tempat yang lebih mirip restauran.


"Loch Mas, Koq masuk sini. Aku mau nya makan di sana," tunjuk Crystal pada tempat yang lebih luas dari tempat itu, tempatnya hampir sama, berlapis dingding kaca besar, namun bedanya kursi dan meja di tempat tersebut berbaris tidak melingkar seperti tempat yang Crystal masuki.


"Itu khusus Karyawan. Kita makan di sini, ini khusus para staf dan leader," ucap Nervan.


"Koq kesan nya membeda- bedakan antara atasan dan bawahan?" protes Crystal.


"Hehe. Bukan membeda- bedakan Sayang, namun kami hanya tidak ingin membuat mereka merasa tidak nyaman dengan kehadiran para atasannya ketika makan. Lain hal ketika kami beribadah. Maka kami akan berada di dalam satu tempat, yaitu Mesjid, bahkan satu Syaf." Penjelasan Nervan.


"Ok! Baiklah!" Crystal pun tidak banyak bertanya. Dengan di bantu Nervan ia mengambil nasi dan lauk nya di stand makanan dengan sistem prasmanan.


***


Sudah hampir satu Minggu. Setiap hari, Crystal datang ke kantor Nervan, membawakan makan siang untuk nya. Biasanya Crystal akan membawa makanan agak banyak, karena sesekali, Satrio, Rendra dan Rendy pun ikut makan.


Seperti siang ini. Jam menunjukkan pukul sebelas tiga puluh, Crystal agak terlambat. Karena biasanya ia akan datang pukul sebelas. Para staf, team security dan beberapa orang karyawan sudah mengenal nya sebagai Istri Nervan. Tentu saja membuat Crystal makin merasa bahagia.

__ADS_1


"Mas Evan!" Crystal terkejut ketika membuka pintu kantor Nervan, tentengan makanan yang ia bawa jatuh begitu saja.


Crystal tidak percaya dengan penglihatan nya. Namun itu nyata, Nervan sedang bercumbu dengan seorang perempuan di atas sofa.


"Tidak! Mas Evan, mengapa kamu melakukan ini?" gumam Crystal, ia mundur perlahan dan berlari meninggalkan nya sembari menangis.


Crystal tidak ingin memaki mereka, karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan di pabrik.


Di saat yang bersamaan Rendra baru saja tiba setelah dari ruang produksi dengan beberapa sampel kain di tangan nya.


Rendra berpapasan dengan Crystal yang sedang berlari dan nampak menangis. "Cysa! kamu kenapa? apa Evan menyakiti mu?"


"Tidak!" ucap Crystal sambil terus berlari. Rendra bergegas menuju kantor Nervan untuk mengetahui apa yang terjadi, sehingga Crystal menangis.


"Astaghfirullah! Van! Woi. Lo gila ya? ngapain lo mesum dengan perempuan lain di kantor lo sendiri?" teriak Rendra dengan nada yang berapi-api dan kesal.


Rendra melihat Nervan sedang tidur terlentang di atas sofa dan seorang perempuan sedang duduk di sisi nya dengan mengecupi wajah Nervan. Itu yang juga Crystal saksikan tadi.


Nervan terkejut mendengar teriakan Rendra, hingga ia jatuh dari sofa, Ketika hendak bangun.


"Aduh!"


"Apa sih lo Upin, teriak-teriak gak jelas! ganggu orang tidur saja! gue lagi nunggu bidadari gue bawa makanan." Teriak Nervan dengan posisi duduk di lantai, dan mengusap wajah nya kasar.


Ketika Rendra berteriak, perempuan yang sedang menelusuri Pipi Nervan pun terkejut dan segera berdiri.


"Van! sadar Van! bidadari lo, sudah terbang ke khayangan sambil nangis!" pekik Rendra.


Nervan pun membuka matanya lebar-lebar. Dengan sempoyongan Nervan berusaha berdiri. Kepala nya terasa pusing dan jantung nya berdebar karena terkejut dari teriakan Rendra tadi.


"Maksud lo apa, Ren? Eh, koq ada perempuan ini?" tanya Nervan. Ia makin terkejut, ketika mantan nya yaitu Diandra Angela berada di dalam ruangan nya dan sedang berdiri menghadap nya.


"Lokh! bukan nya lo, yang bawa masuk nih perempuan dan lo bercumbu dengan perempuan ini, hingga Crystal melihat kelakuan lo berdua." ucap Rendra.


"Gila aja kali, gue bercumbu siang bolong begini dengan selain mahram gue. Gak! gue gak tahu apa-apa." pekik Nervan. "Cysa nangis Ren? di mana dia sekarang?" tanya sarkas Nervan.


"Ia, Istri lo nangis dan tadi lari menuju luar. Gue tanya juga gak jawab apa-apa! malah nangis nya, makin jadi." Penjelasan Rendra.


"Cysa. Ma'afkan aku!" gumam Nervan. Ia merasa gagal dalam menjaga diri.


"Eh kamu ngapain di sini?" bentak Nervan pada Diandra.


"Aku .... Aku .... rindu padamu!" jawab jujur Diandra tanpa malu.


"Aaarrggghh! Ren, urus nih perempuan! mengapa dia masuk tanpa seizin pemilik ruangan ini. Gue mau nyusul Crystal. O yah! tolong lihat Cctv. Apa yang sebetulnya terjadi. setelah dapat, bawa ke rumah gue, sebagai bukti untuk Crystal, bahwa gue gak melakukan apapun dengan perempuan ini." Tuding Nervan dengan geram.


"O-Ok Van!" Rendra yang awalnya emosi pun menjadi gagap.

__ADS_1


Dengan cepat, Nervan menyambar kunci mobil nya dan ia segera keluar dengan setengah berlari. Tujuan nya hanya Crystal. Pasti Crystal sudah berfikir ia menghianati nya dengan berselingkuh.


Bersambung ....


__ADS_2