
Di kantor Nervan,
Waktu menunjukkan jam makan siang. Meeting yang begitu alot baru saja selesai. Sungguh Nervan sudah merasa lapar. Nervan belum makan dari sejak pagi. Ia hanya meminum kopi tanpa gula serta cream, dan menyuap sepotong sandwich.
"Ren, gue duluan balik ke ruangan. Lu rapihin dulu di sini." bisik Nervan.
"Ok! nanti gue nyusul sembari bawa dokumen pemasaran yang lo butuhkan."jawab Rendra juga dengan berbisik. karena peserta meeting masih berada di dalam ruangan tersebut.
Nervan segera berpamitan kepada peserta meeting. Lambungnya berasa di aduk aduk. Tidak nyaman, bukan hanya lapar. Akan tetapi seperti ada sedikit mual. Nervan berpikir harus segera mengisi perutnya.
Akhirnya, Nervan sampai di ruangannya. Ia segera duduk di sofa lalu membuka bekal makanan yang dari setadi ia bawa-bawa hingga ke ruang meeting.
Sungguh perutnya sudah menggerutu. Wangi dari rendang ayam kampung, potongan kentang dan juga kacang merah begitu menggiurkan. Nervan segera menyuapkan ke mulutnya, makan tanpa nasi karena Nervan jarang sekali makan nasi.
"Eeum, enak betul nih masakan Cysa." gumam Nervan.
Beberapa saat kemudian, ketika Nervan tengah asik makan, Rendra masuk ke dalam ruangan Nervan dan ikut bergabung duduk di sofa.
"Wuiih, enak beney makan cendilian." ledek Rendra dengan bahasa seperti anak-anak.
"Enak lah! masakan istri gue." jawab Nervan santai.
"Bagi dong!"
"Enggak! gak boleh. Ini spesial hanya untuk gue." ucap Nervan dengan memangku kotak makannya.
"Hed, selain Bos gak tahu diri. Ternyata pelit juga." dengus Rendra.
"Ahahaha, biarin wle! makan sana di kantin!" seru Nervan masih asik menyuapkan potongan ayam.
"Ya sudah, ini file yang lo butuhkan. Gue ngantin dulu." ucap Rendra tidak semangat.
"Ok ok! Hegh!" Nervan menutup mulutnya. Lalu memijat kepalanya.
Rendra yang melihat kejadian itu pun, segera kembali duduk, lalu ia menanyakan apa yang sedang Nervan alami.
"Van...lo baik-baik aja kan?"
"Enggak ta~," jawaban Nervan terpotong. "Uwek...uwek..." Nervan meletakkan kotak makanannya. Ia bergegas ke lantai atas menuju toilet.
__ADS_1
Nervan mengeluarkan isi perutnya di sana. Peluh mulai membasahi dahi dan sekujur tubuhnya.
"Uwek..." terdengar lagi suara Nervan. Rendra yang khawatir pun lekas naik dan mengikuti Nervan hingga toilet yang memang terbuka.
"Van ada apa? Lo sakit? koq muntah-muntah begitu?" tanya Rendra dengan berinisiatif memijit tengkuk Nervan.
"Entahlah Ren, tiba-tiba kepala gue pusing dan mual, lambung gue berasa di aduk." jawab Nervan.
"Lo kurang istirahat dan telat makan sepertinya, Van." ucap Rendra.
"Mungkin. Kalau begitu, gue balik dulu, Kerjaan lo handle ya." ucap Nervan, nampak wajahnya pucat.
"Ok Van, lo santai aja jangan mikirin kerjaan dulu. Gue panggil Tio ya, biar dia nemenin lo." Nervan mengangguk. Ia dan Rendra kembali ke lantai bawah.
"Yakin gak mau ke dokter, Men?" tanya Rendra. Nervan menggelengkan kepala. "Lo pucat banget. Gue khawatir Men!"
"Gak perlu Men, gue baik-baik aja." tukas Nervan. Rendra bisa apa, ia hanya membantu Nervan membalurkan minyak angin di area perut dan dada.
Tidak berapa lama, Satrio tiba di ruangan Nervan. Tadi Rendra telah menelponnya. "Mas, ada apa?"
"Mas, lo ini sakit Tio. Lo bawa balik ya. Tolong temani dia di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi gue atau langsung bawa ke rumah sakit saja." Rendra menjawab pertanyaan Satrio.
***
Tiga hari berlalu,
Keadaan Nervan belum juga stabil. Terkadang moodnya baik. Terkadang mual, pusing. Ingin makan aneh-aneh. Hingga Rendra, Rendy dan Satrio di buat pening.
Anehnya. Malam kemarin, saat Nervan mengendap masuk ke kamar Crystal dan tidur memeluk Crystal. Perasaan tidak nyaman itu langsung hilang. Wangi tubuh Crystal seketika menjadi penenang untuk Nervan. Padahal sebelum pergi rasa mual itu sedang menjadi.
Siang ini, Rendra dan Rendy sedang di buat pusing. Nervan hanyalah tiduran di sofa. Tidak bergairah untuk bekerja sama sekali. Dari sejak tiba, ia meminta di belikan banyak makanan. Menurut mereka, Kelakuan Nervan aneh.
Bubur Ayam, soto, ketoprak, batagor, rujak, jus mangga, es cendol, hingga Rendra harus mencari martabak di siang bolong dan juga sekoteng. Pada akhirnya makanan itu hanya tergelatak di atas meja.
Si pemesan makanan hanya asik main game dan pergi ke toilet untuk membuang isi perutnya saat satu suapan makanan masuk ke mulut.
"Van, ke rumah sakit aja yuk. Lebih baik lu di opname di sana. Lama-lama gue khawatir, keadaan lu makin buruk aja Men." ujar Rendra dengan menghela napas lelah, melihat sahabatnya semakin kacau.
"Gue ingin pulang ke rumah Mami Ren. Gue juga ingin di peluk Cysa. Malam kemarin, keadaan gue jauh lebih baik saat setelah memeluk Cysa dan setelah gue pergi dari sana, keadaan gue kembali seperti ini." balas Nervan.
__ADS_1
"Lalu apa yang dapat kami lakukan. Pekerjaan lu juga jadi terbengkalai begini. Lu sudah tidak ada semangat untuk bekerja. Lama-lama perusahaan ini gulung dadar."
"Pea! gulung tikar." Nervan menyentak Rendra dengan sedikit tawa. Bisa-bisanya dalam keadaan begini Rendra masih sempat berkelakar.
"Nah itu maksudnya."
"Enggaklah, gue memiliki para pekerja yang loyal pada perusahaan dan juga mempunyai orang-orang kompeten di bidang ini. Gue yakin ini hanya untuk sementara dan gue gak bisa maksain diri sendiri untuk bekerja. Sorry, maka dari itu untuk saat ini tolong handle semua kerjaan. Gue percaya lu Ren." Ujar Nervan dengan penuh harap pada Rendra.
"Thank you Van. Lo dah percaya sama gue. Tenang, gue akan berusaha sekuat tenaga, mempertahankan perusahaan ini agar tetap maju. Semoga hubungan lu dan Cysa kembali membaik. Gue nggak tega, lihat lu kayak gini! seperti Anak sebatang kara tau enggak?"
"Sekarang Anaknya Mami dan Papi itu Cysa, Ren." Nervan mengekeh. "Ini hukuman yang pantas gue dapat Men. Karena gue dah menyakiti istri gue. Ya sudahlahlah, gue mau balik nih." ucap Nervan, seraya bangkit dari duduknya.
"Ok, balik deh! kalau butuh apa-apa, telepon gue." balas Rendra.
"Oke Men, lo emang sahabat terbaik gue."
Akhirnya Rendra kembali meminta Satrio agar mengantarkan Nervan ke tempat yang Nervan inginkan.
Tujuan Nervan tentu saja ke rumah Maminya. Untuk bertemu Crystal. Nervan membeli bunga dan juga coklat untuk Crystal, percis seperti orang yang hendak berkencan.
"Mas, kalau Mbak Cysa tidak mau bertemu? bagaimana?" tanya Satrio.
"Hem, ia yah! duh, tapi gue ingin bertemu. Keadaan gue akan nyaman dalam pelukan doi, Tio." Nervan nampak berpikir.
"Pakai cara lain Mas!"
"Apa itu?"
"Bagaimana, kalau aku membujuk Mbak Cysa agar mau keluar rumah. Nanti setelah di luar aku suruh naik mobil. Alasan ingin bicara gitu, nah Mas minta di peluk gitu di dalam mobil. Aku bawa muter Jakarta sampai sore, coba Mas?"
"Lumayan bagus sih idenya. Lo yang pamit pada Mami dan Papi ya." ujar Nervan.
"Kalem Mas! aku yang atur semua, atau kita ke rumah Bogor saja, nginap di sana. Masa sih Mbak Cysa akan marah. Di sana ada Mama, bukan kah Mbak Cysa dan Mama itu cocok, Mas?"
"Berarti, kita menculik Crystal?"
"Yah masa menculik Mas! ada-ada saja, istri sendiri juga." ucap Satrio. "Hemmm, Aku minta ijin dari Budhe dan Pakde, ajak Mbak Cysa untuk bertemu Mama. Gimana?" tanya Satrio.
Nervan nampak berpikir. Ia menatap kantong kresek yang ada di tangannya, untuk wadah jika ia mual. Rasanya begitu pening, tidak nyaman di area lambung semakin jadi, ia ingin segera memeluk Crystal. Wangi tubuh Crystal mampu menenangkannya. Nervan di landa dilema Namun, saran dari Satrio patut di coba sepertinya. Itu pikir Nervan.
__ADS_1
Bersambung...