
Suara benturan di belakang mobil Nervan terdengar cukup bergaduh dan beberapa mobil serta motor saling menempel. Menandakan telah terjadi nya kecelakaan beruntun.
"Astaghfirullah! Mas, hati-hati!" Pekik Crystal. Tubuh nya terdorong ke depan karena mobil berhenti mendadak.
"Sudah di tabrak dan tabrakan beruntun juga, sayang!" ucap tenang Nervan. Lebih ke pasrah jika di dengar dari nada bicara nya.
"Mas! ma'afkan Aku!" Crystal bersuara lirih, menatap iba Nervan dengan rasa bersalah.
"Sudahlah!" ucap datar Nervan dengan hanya melirik sekilas. Perasaan Crystal, serasa ada yang mencubit, melihat respon kurang bersahabat dari Nervan.
Nervan tidak Panik! walaupun di belakang nya sudah berbaris tiga buah mobil dan empat buah sepeda motor tergeletak di sana, akibat tabrakan beruntun karena mobil nya berhenti mendadak di tengah jalan.
Di dalam benak Nervan hanyalah seputar Ayah mertua nya yang baru saja Crystal sebutkan.
Tok .... tok .... tok ....
kaca mobil Nervan di ketuk dari luar. "Mas dan Mbak, tidak apa-apa?" tanya seorang Pria di luar mobil, saat Nervan sudah membuka kaca.
"Alhamdulillah. kami baik-baik saja, Pak! bagaimana Keadaan di belakang?" tanya Nervan.
"Tidak terlalu parah Mas. hanya kerusakan ringan pada mobil dan cedera ringan untuk pengendara sepeda motor." jawab si Bapak.
"Saya siap bertanggung jawab." Ujar Nervan. Kini tatapan matanya layu ekspresi wajah nya begitu datar.
Setelah menepikan mobilnya. Nervan berusaha berdamai dengan para korban kecelakaan tabrakan beruntun yang tidak begitu parah, karena kecepatan mereka sedang di bawah rata-rata.
Untuk kerusakan mobil, Nervan memberikan ganti rugi perbaikan. Untuk motor, Nervan memberikan ganti rugi pengobatan dan juga perbaikan.
****
Setelah semua urusan damai dan selesai, Nervan membawa Crystal ke Villa miliknya di daerah puncak.
"Mas, mandi dulu yuk! nanti setelah mandi aku obati lukanya. Sudah aku siapkan air hangat juga."
"Kamu, Tuan Putri nya siapa? apakah aku sudah salah dalam memperlakukan mu?" tiba-tiba saja Nervan bertanya dengan posisi nya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Mas! aku putri dari Papi dan Mami ku! dan saat ini, Aku sudah menjadi istri mu." Jawab Crystal sembari menghampiri Nervan yang tengah duduk dengan wajah tetap datar.
"Aku takut! aku khawatir! seperti nya orang tua mu bukan dari kalangan orang biasa. Mengapa kamu berbohong kepada ku?"
"Bohong, apa Mas? lalu, apa yang kamu takutkan serta khawatirkan, mengenai orang tua ku? siapapun mereka! aku akan tetap di samping mu." Ujar Crystal dengan menatap sendu Nervan.
"Bohong! Kamu sudah ber bohong kepada ku, mengenai orang tua mu yang katanya bekerja di luar negeri." Bicara Nervan sedikit meninggi.
"Mas! aku tidak berbohong! hanya saja aku tidak memperjelas apa yang orang tua ku kerjakan di luar negeri." Crystal tanpa segan duduk di pangkuan Nervan dan memeluknya. Kelakuan Crystal sedikit membuat Nervan tenang.
"Memang, apa yang mereka kerjakan di luar negeri sana?" tanya Nervan Kembali karena begitu ingin tahu.
"Mereka berbisnis!" jawab Crystal.
"Bisnis? bergelut dalam kerajaan bisnis yang mana, sayang?" tanya Nervan kembali.
"Mas! aku tidak memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan mu. Besok, orang tua ku pulang ke rumah. Aku akan mengajak mu untuk bertemu dengan mereka. Maka Mas akan tahu siapa Papi ku!" jawab Crystal.
Nervan berfikir sejenak. Ia pun berfikir ulang, mengaitkan rangkaian demi rangkaian yang terjadi, dari pertama kali bertemu dengan Crystal.
"Itu sebabnya, pada siang itu, kamu berada di dalam mobil ku? sebagai penumpang gelap? Karena di kejar para Bodyguard Papi mu, kan?" Pertanyaan menelisik dari Nervan.
"Ia Mas! pada hari itu, aku baru saja menyelesaikan pendidikan S1 ku di Australia. Papi dan Mami, menjanjikan akan menjemput ku di Bandara. Namun kenyataan nya, begitu aku landing. Mereka take-off, menuju Jepang. Impian ku sederhana, di sambut pulang dengan pelukan, kehangatan, makan bersama. Hanya itu. Namun itu bagai mimpi untuk ku! mereka tidak nyata untuk ku! hiks .... hiks." Crystal terisak.
"Pendidikan? bukan nya kamu bilang baru pulang jadi TKW?" jelas Nervan.
"Ia Mas pendidikan Hukum. Aku tidak pernah mengatakan, kalau aku jadi TKW. Empat tahun aku berada di sana, untuk berkuliah." jawab Crystal.
"Hukum? wah hebat juga kamu." Terlihat kekaguman dari Nervan.
"Hehe .... namun, selama empat tahun di Ausi, mereka tidak serta merta memberikan kebebasan untuk aku bersosialisasi. Mami terlalu menganggap Aku sebuah kristal yang harus di jaga, agar tidak hancur. Namun tanpa mereka sadari, dengan uang yang mereka miliki, justru aku sudah mengalami kehancuran dari sejak kecil. Perasaan aku yang hancur Mas!" Crystal terdengar bergetar menahan tangis.
"Hemm .... ma'afkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu! ma'afkan aku, karena sudah menambah rasa sakit untuk mu." Ucap Nervan penuh penyesalan.
"Maaas, sudahlah! aku sudah mema'afkan mu!" Crystal menatap Nervan dengan lembut. "kamu, sudah siap kan, untuk bertemu Papi?" tanya Crystal.
"Harus siap! aku ingin lebih cepat meminta restu kepada orang tua mu."
__ADS_1
"Yang aku gak siap. Aku Takut kehilangan mu! saat nanti orang tua mu tahu. Aku telah menikahi Putri nya tanpa izin, mengambil paksa dirimu dari para Bodyguard nya! dan satu hal lagi! aku telah menghancurkan kaca mobil nya. Apa yang akan Papi mu fikirkan tentang aku!" Nervan membalas pelukan Crystal dengan berlinangan air mata.
"Mas! apapun yang akan terjadi, aku akan memperjuangkan kamu!" ucap lirih Crystal dengan mengusap lembut punggung Nervan.
"Betulkah? but why?" tanya Nervan. "Ofcourse! because .... you are my husband! only you!" jawab Crystal.
"Ada yang lain?" tanya Nervan penuh harap. "Please! kata cinta mu di pesan itu mana Cysa?" batin Nervan.
"Mmmm .... ada!" jawab Crystal sembari berdiri dan melangkah menjauhi Nervan.
"Apa?" tanya Nervan sumringah.
"Karena kamu suamiku!" jawab Crystal dengan tersenyum dan berlalu meninggalkan Nervan.
"Cysa! masa hanya itu? hai kamu mau ke mana? jawab dulu dengan betul!" panggil Nervan.
"Memang hanya itu Mas!" jawab Crystal dengan melambaikan tangan. "Karena.... Aku mencintaimu Mas!" batin Crystal berucap yang sesungguhnya sebagai jawaban dari pertanyaan Nervan. Namun Crystal gengsi untuk mengakui.
Nervan menyusul Crystal! ia merasa kecewa dengan jawaban Crystal. Nervan mencari Crystal di kamar yang akan di tempati mereka. Namun Crystal tidak ada.
"Kamar mandi!" gumam Nervan. Maka ia segera menuju kamar mandi.
"Brak!"
Suara pintu kamar mandi yang Nervan buka secara kencang, karena tidak sabaran.
"Aaaaaaa!"
Crystal yang berada di dalam menjerit karena terkejut.
"Mas! buat Aku terkejut saja!" dumal Crystal setelah meredam detak jantung nya yang bergaduh. Beruntung ia masih dalam berpakaian utuh.
"Maaf!"
Nervan mendekati Crystal dengan menatap nya tajam. "Aku butuh pengakuan." Ujar nya.
Crystal mundur perlahan. Ia menelan kelu saliva nya. Tatapan waspada dari sorot mata Crystal nampak menghunus langsung pada wajah Nervan.
"Eee! mau ke mana? temani aku mandi!" cegah Nervan sembari menahan tubuh Crystal.
**
Di luar negeri sana.
"Apa-apaan ini?" Papi Crystal nampak kesal. Ia sedang mengamati photo di ponsel nya, yang di kirim oleh Bodyguard nya.
Photo beberapa orang sedang tergeletak tidak berdaya dan yang lebih mengejutkan, keadaan mobil kaca mobil yang telah hancur.
Tidak lama ponselnya berdering, itu Bodyguard nya yang menelepon.
"What? mobil kalian di hadang dan Crystal ada yang membawa pergi?" / Papi Crystal.
"Ia Tuan! orang yang menghadang kami, jumlahnya dua kali lipat dan pandai beladiri." /Bodyguard.
"Siapa mereka?"/Papi Crystal.
"Kami belum dapat melacak nya, Tuan! mobil Nona Crystal kaca depan nya hancur." / Bodyguard.
"Koq bisa?" / Papi Crystal.
"Salah satu dari mereka yang menghancurkan nya Tuan. Menggunakan tongkat softball. sepertinya orang ini ketua geng mereka, dan Kalau tidak salah dengar, orang ini menyebut, dirinya sebagai suaminya Nona Crystal."/Bodyguard.
"Gila! saya tidak pernah menikahkan anak saya, mana mungkin dia suaminya."/ Papi Crystal.
Tangan Papi Crystal mengepal dan rona amarah terpancar jelas di wajah nya.
"Tentu Tuan! namun orang ini meninggalkan Cek Kosong, lengkap dengan tanda tangan nya, cek itu untuk biaya perbaikan mobil Nona Crystal."/ Bodyguard.
"Serius?"/ Papi Crystal.
"Betul Tuan! saya sudah mengirimkan photo nya lewat message."/ Bodyguard.
"Baiklah! lacak terus siapa orang ini, secepatnya kirimkan hasil nya."/ Papi Crystal.
__ADS_1
"Baik Tuan!"/ Bodyguard.
Percakapan Mereka pun akhirnya, berakhir.
"Ada apa Pih?" tanya Mami Crystal.
"Cysa dibawa lari seseorang, yang mengaku suaminya," Papi Crystal berusaha jujur.
"Astaghfirullah! betulkah? suami, apa? Pih, kita belum pernah menikahkan nya dengan siapapun." Mami Crystal nampak terkejut. Ia bersandar lemah di bahu suami nya.
"Ini, masih dalam penyelidikan, tapi, Aku salut dengan orang ini,"
"Maksud Papi?" tanya Mami Crystal.
"Setelah menghancurkan mobil Crystal. dia meninggalkan cek kosong, lengkap dengan tanda tangan. Sebagai biaya perbaikan mobil Cysa." Ujar Papi Crystal sembari memperlihatkan sebuah photo Cek, yang dikirim oleh Bodyguard nya.
"Ya ampun, Pih! lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mami Crystal.
"Entahlah! namun, seandainya pun, mereka sudah menikah. Papi yakin, ini pilihan Cysa! hanya belum jelas saja, siapa orang nya yang sudah menikahi Cysa."
"Lalu, Papi merestui mereka?" tanya Mami Crystal kembali.
"Jika orang itu baik! sayang terhadap Crystal. Maka Papi akan merestui nya," jawab Papi Crystal. Kali ini emosinya agak mereda.
"Siapa dia, Pih?"
***
Kembali ke Villa milik Nervan.
"Mas! sudah dong, kamu tidak perlu memikirkan Papi ku terus, aku akan membawa Mas untuk bertemu dengan nya, saat Papi sudah pulang ke Indonesia."
Crystal meletkan gelas berisi kopi, di meja yang ada di hadapan Nervan. Sebelum nya, Nervan mengajak Crystal mandi bersama dengan beberapa sentuhan tanpa berkelanjutan.
Selesai mandi, Crystal mengobati luka lebam pada wajah Nervan.
Setelah meletakkan Cangkir berisi kopi, Crystal duduk di pangkuan Nervan dan bergelayut manja dengan melingkarkan tangannya pada leher Nervan.
"Tetap saja, aku merasa telah mendzolimi mertua ku sendiri. Aku takut kehilanganmu, sayang! saat nanti Papi mu tahu, kalau aku sudah menikahi putri nya tanpa meminta Izin." ucap Nervan menatap wajah Crystal penuh arti.
"Mas! ada satu cara, agar Papi ku, tidak akan memisahkan kita, saat nanti Papi bertemu dan mengetahui kita sudah menikah," ujar Crystal.
"Cara apa itu, sayang?" tanya polos Nervan di balik gundahnya.
"Hamili Aku, Mas!" bisik Crystal.
"No! sebelum Papi mu mengetahui pernikahan kita."
"Iya Mas! Yuk!"
"Maaf sayang, Aku gak bisa!" Nervan masih juga menolak ajakan Crystal.
"Mas jahat! aku faham Mas. Aku tidak boleh mengharapkan lebih dari pernikahan ini. Memang dari awal, menikah dengan ku karena janji kepada Mami. Aku cabut kata-kata cinta yang pernah Aku ucapkan di message tadi."
"Jadi betul, kamu mencintai ku?"
"Tidak jadi!"
"Sayang, ma'afkan aku.. Mengertilah." Bujuk Nervan.
"Tidak mau! tahu begini, aku tidak perlu meminta tolong pada mu! untuk membebaskan aku dari para Bodyguard itu. Lebih baik aku di bawa oleh mereka. agar kamu puas!" ucap Crystal sembari memukul mukul bahu Nervan pelan.
"Sayang!"
Kali ini Nervan membiarkan Crystal berbuat sesuka hati terhadap dirinya.
"Kamu akan di laknat malaikat Mas, karena telah mengabaikan istri nya." Crystal tambah emosi, lalu ia berdiri dari pangkuan Nervan dan beranjak pergi, meninggalkan Nervan. Berlari keluar kamar sambil menangis.
"Ya ampun Cysa! koq gak ngerti." Nervan merasa frustasi.
"Cysa, sayang! kembali lah, kita bicarakan ini baik-baik." Nervan berusaha mengejar Crystal yang sudah turun ke lantai bawah.
Bersambung ....
__ADS_1