Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
7. Parfum Kue


__ADS_3

Hai, Anak kecil bangun!" ucap Nervan menepuk-nepuk pipi Crystal pelan. Namun tidak ada Jawaban. "Dia kenapa, Bu?" tanya Nervan pada ahli therapis.


"Maaf Mas, sepertinya Nona ini pingsan, memang sudah biasa pasien pingsan begini. Karena rasa sakit yang teramat, saat penyatuan engsel tubuh yang terkilir pada engsel semula Mas." tutur ahli terapis.


"Ini tidak, apa-apa kan Bu?" tanya Nervan sembari meletakan Crystal dengan posisi tidur menyandar pada dua buah bantal yang di susun.


"Tidak apa-apa Mas! baiklah ini sudah saya beri ramuan herbal. Dan sudah saya perban. tolong esok pagi lakukan hal yang sama! setelah ramuan herbal ini habis. Maka olesi saja minyak ini pagi dan sore. Insha Allah dalam satu minggu akan kembali membaik, o yah untuk sementara jangan di pergunakan untuk berjalan dulu Mas, takut nya bergeser kembali engsel yang baru saja saya rapikan," tutur ahli terapis.


"Baiklah, Mbok Mah tolong rawat dia ya! pastikan ia sembuh dalam satu minggu ini, agar ia cepat pergi dari sini," pinta Nervan dengan suara datar.


"Ba-baik Mas Evan," tukas Mbok Mah.


"kalau begitu, saya permisi Mas! semoga Non nya lekas sembuh," pamit ahli therapis itu. Dan Nervan memberikan uang dalam amplop sebagai bayarannya. Mbok Mah pun ikut pamit untuk mengantarkan ahli terapis ke luar.


"Baiklah, terimakasih," sahut Nervan datar tanpa menoleh.


Setelah ahli terapis dan Mbok Mah keluar kamar, Kini Nervan mengamati Crystal dari ujung kepala hingga ujung kaki yang sedang berbaring terlentang.


Glek! Nervan tiba-tiba menelan ludah dengan cepat saat pandangan nya jatuh pada paha mulus Crystal dan bagian perut yang tersingkap. "Oh God! apa ini?" gumam Nervan, dengan cepat ia tarik T-shirt yang di gunakan Crystal, namun percuma saja, T-shirt itu hanya dapat ia tarik hingga dekat pusar.


Nervan menghela nafas frustasi, lalu dengan cepat ia membawa tubuhnya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Ingatannya kembali pada kata: 'ISTRI' untuk Mamih.


Otak Nervan terus di penuhi. Mami, janji, Nikah , calon istri. Dalam beberapa menit otaknya terus berputar mengingat satu persatu wanita single yang ia kenal, baik itu teman atau para pekerja.


"Arrrgghh, bisa gila mendadak gue nih! kalau sampai tidak menemukan calon Istri. Tak ada satupun masuk dalam kriteria, walaupun hanya menikah untuk sementara," gumam Nervan sembari mengacak rambutnya. Lalu matanya tertuju pada Crystal yang masih berbaring tak sadarkan diri.


Ting!  sepertinya sebuah ide muncul di kepala Nervan. Karena tiba-tiba Nervan mengangkat ujung bibirnya, yang menampakkan sebuah senyum misterius.


***


Di rumah sakit,


Mami Nervan baru saja melewati serangkaian pemeriksaan. Ia betul-betul dinyatakan telah sadar dan dokter yang memeriksanya pun merasa ini keajaiban.


"Pak, Bu! saya permisi, Syukurlah Ibu sudah sadar , saya turut bahagia," ucap Dokter sebelum pergi.


"Terimakasih kembali Dokter," ucap Papi Nervan.


Dokter dan team perawat pun beranjak dari kamar rawat Maminya Nervan. Alat-alat yang terpasang pada tubuh Maminya Nervan sudah berkurang, hanya menyisakan pendeteksi darah dan infusan, serta selang oksigen dan kateter urin.


"Alhamdulillah Mih, Mamih sudah siuman. Papi amat bahagia, jangan koma lagi ya Mih, Papi kesepian," ujar Papi Nervan.


Mami Nervan hanya tersenyum lemah. "E-van, ma-na?" bisik nya.


"Evan tadi siang kesini, sekarang pulang dulu ke rumah! Mami tahu? Evan berjanji akan membawakan calon menantu untuk Mami. Dan malam ini Evan akan menikahinya di hadapan Mami. Maka dari itu, Ayolah Mih berjuang untuk sehat kembali. Mamih harus kuat, harus lihat calon menantu Mami. Kata Evan cantik Mih," ucap Papi Nervan.


"I-ya P-Pih," ucap singkat Mami Nervan dengan senyum yang di paksakan.

__ADS_1


"Ya sudah, Mami istirahat saja, agar Nanti malam saat Nervan melafalkan Ijab Qobul, Mami terlihat segar," Pinta Papi Nervan seraya menggenggam tangan Mami Nervan, dengan di hiasi senyuman di wajahnya.


Mami Nervan hanya membalasnya dengan senyuman dan dan matanya yang sedikit terpejam lalu terbuka kembali sebagai isyarat mengiyakan.


***


Di rumah Nervan.


"Mbok! belum juga siuman tuh Anak kecil?" tanya Nervan pada Mbok Mah yang baru saja turun dari lantai atas sehabis melihat Crystal. saat ini Nervan berada di ruang tengah sedang menonton televisi dengan ditemani secangkir kopi.


"Belum Mas! ini si Mbok hendak mencari sesuatu untuk membangunkannya," ucap Mbok Mah.


"Sesuatu apa Mbok?" tanya Nervan penasaran.


"Anu Mas, sesuatu bau yang agak-agak menyengat, biasanya orang yang pingsan dapat disadarkan dengan sesuatu yang berbau menyengat saat didekatkan ke hidungnya," ucap Mbok Mah.


"Ouh begitu Mbok," ucap Nervan.


"Iya, Mbok permisi ke belakang, Mas," pamit Mbok Mah.


"Silahkan Mbok!" balas Nervan sembari berfikir keras. "Bau menyengat? bau menyengat apa, agar dapat cepat membangunkan Anak kecil itu?" batin Nervan.


ketika Nervan yang sedang asik dengan pikirannya. Dan mangut-manggut sendiri, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang usianya tidak begitu jauh dari Nervan melewatinya.


"Wang sini!" seru Nervan."Ndalem, kulo Mams'e ono opo?" tanya seseorang yang di panggil Wang oleh Nervan.


Tentu saja yang dipanggil Wang oleh Nervan itu begitu antusias dan matanya berbinar mendengar kata bonus satu juta.


"Wah Mamas'e betulan Iki? Iwang ora mimpi? tapi Mamas'e iku misine opo toh, sulit ora?" tanya Iwang.


"Misi nya mudah, sudah yuk! banyak tanya lu ah, cepat! mau duit nggak?" tanya Nervan yang merasa kesal karena Iwang bertele-tele dan banyak kompromi.


"Sampun Mams'e. Baiklah mari," ucap Iwang. lalu Nervan dan Iwang pun, naik ke lantai atas menuju kamar Crystal.


Saat sudah berada di kamar Crystal. Mata Iwang terbelalak menganga melihat Crystal yang begitu cantik menggoda.


"Maaf Mamas'e, Iki wadon Ayu tenan toh, lantas kulo kudu opo?" tanya Iwang.


"Usap telapak tangan lo, ke ketiak lo! yang banyak ya agar wanginya betul-betul menyengat, lalu telapak tangan lu ya sudah di usap ke ketiak lu itu, tempelkan ke hidungnya," pinta Nervan.


"Ra brani aku Mams'e, wong Ayu tenan iki, kudu ngendus smriwing ketiak e kulo, toh! kasihan Mams'e," tolak Iwang.


"Cepat Wang, atau gua pecat lo! hardik Nervan, keluarlah jawa borjuis nya.


Dengan terpaksa Iwang pun menuruti kemauan Nervan, ia memulai menggosokkan telapak tangannya ke ketiaknya, yang memang sore itu ketiak nya basah akibat pekerjaannya di luar rumah yaitu memelihara taman dan saluran saluran air atau sebagainya.


Nervan menahan tawa, ia bekap mulutnya sendiri, "Iyyuuhh," ucap nya menarik wajahnya agak miring saat Iwang mulai mendekatkan telapak tangan yang sudah berisi racun semriwing ketiak.

__ADS_1


Dengan ragu Iwang mendekatkan telapak tangan nya pada hidung Crystal hanya berjarak 2 mili meter, lalu ia melambaikan nya di hadapan hidung Crystal.


"Satu..dua..ti.." ucap Nervan dan Crystal pun bergerak dengan agak menarik wajah dan matanya mulai ada pergerakan.


"Terus Wang, sedikit lagi," ucap Nervan.


"Iwang masih menggerak-gerakkan tangannya di atas hidung Crystal. Crystal pun sadar lalu ia membuka matanya penuh. Masih dalam diam. Lalu Crystal mencoba mencerna semuanya, dalam beberapa detik ia ingat bawa tadi ia dipijat oleh ahli terapis lalu tak Ingat apa-apa lagi.


Saat ia lirik ada Nervan di sebelah kanannya dan saat melirik ke sebelahnya yang ia lihat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, kulit legam agak berminyak sedang menyeringai ke arah nya.


"Dokter kah?" batin Crystal. Tapi tidak memakai seragam? ah entahlah," gumam Crystal kembali dalam hatinya.


"Uhuuk, uhuk..iisshh wangi apa ini? tanya Crystal, Iwang memang sudah menarik tangannya saat ia lihat Crystal sudah sadar. Crystal mengibas-ngibaskan tangannya di dekat hidungnya dan sesekali menutup hidung nya dengan telapak tangan, karena bau yang menyengat.


Nervan berusaha menahan tawa. Rasanya tawanya akan meledak! ada kebahagiaan dalam relung hatinya dapat mengerjai Crystal dengan parfum alami ketiak milik Iwang.


Nervan bersusah payah menahan tawa. Ia menegakan tubuhnya lalu membusungkan dadanya dan mengambil nafas sedalam- dalamnya lalu menghembuskan nya perlahan agar rasa nya menjadi lebih lega, dan ingin tertawa nya hilang.


Nervan mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebanyak satu juta rupiah, lalu ia berikan kepada Iwang. "Wang nih bonus lo hari ini, misi lo sukses! terima kasih," ucapan Nervan.


"kembali kasih, Mamas'e," kelakar Iwang. Memang Nervan sudah seperti teman bagi Iwang, Nervan itu bukan tuan muda yang sombong, dia hanya sering bersikap dingin saja untuk menjaga wibawa. Namun ada saatnya Nervan akan bersikap hangat kepada para pegawai di rumah nya.


"Kasih-kasih, sudah sana!" gerutu Nervan.


"Baik Mamas'e." Iwang pun berlalu dari kamar Crystal dengan membawa uang dan hati yang berbunga-bunga karena ia mendapatkan bonus dari bosnya yang tidak sedikit.


"Huwek..huwek.. Mas, ini wangi apa sih? koq tidak hilang juga?" tanya Crystal.


"Wangi parfum Kue!" jawab Nervan enteng.


"parfum Kue? parfum model apa itu?" tanya Crystal Kembali.


"Penasaran ya?" tanya Nervan dengan senyuman nya di ujung bibir.


"Hu'uh," jawab Crystal manja sembari bergeser duduk di atas tempat tidur. "Awwsshh," ringis Crystal ia menahan kakinya yang terseret masih terasa linu.


"Parfum Kue...kuetek Iwang," jawab Nervan datar yang intonasi nya ia tekan di hadapan Crystal.


Lalu Nervan ngeloyor keluar begitu saja dari kamar Crystal. Langkah nya cepat masuk ke dalam kamarnya karena ia tak tahan ingin tertawa.


Di dalam kamar nya, Nervan tertawa terpingkal- pingakal hingga ia memegangi perutnya, ia tertawa sekencang-


kencangnya di dekat kamar mandi, karena tidak akan terdengar oleh orang dari luar.


"Mas, Nervaaaaaan," teriak Crystal saat kata-kata Nervan sudah dapat ia cerna dan "Fuih..fuih.. uwhek.. uwhek..iyyuuh," suara Crystal merasa jijik.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2