Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
57. Sebuah Usaha demi Istri.


__ADS_3

Hari-hari berikutnya,


Nervan tampak termenung di halaman samping rumah orang tuanya. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya menemui Crysta.


Rasanya hampa tanpa Crystal di sampingnya. "Sayang, kamu sedang apa? aku rindu." bisik Nervan sembari menahan air mata yang mulai memanas di pelupuk matanya.


Nyeri di ujung ulu hati, bagai di sayat benda tajam tak kasat mata. Lalu ia meraih ponselnya dari atas meja kecil. Kemudian Nervan mencari nomor Zafier.


Nervan segera mendial nomor Zafier. Tak berapa lama telepon di terima. "Kak Zafier, bagaimana Cysa?" / Nervan


"Cysa belum di perbolehkan keluar oleh Papi. Ia masih di kurung di dalam kamar, Van!" / Zafier.


"Ya Allah! tapi, Cysa mau makan kan, Kak?" / Nervan.


"Aku yang memaksanya dari balik pintu." / Zafier.


"Terima kasih, Kak!" / Nervan


"Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah menjadi kewajiban ku." / Zafier.


"Bisa kita bertemu, Kak? sebentar saja." /Nervan.


"Bisa! di mana?" / Zafier


"Restoran bisanya," / Nervan.


"Ok! satu jam lagi Aku sampai sana." / Zafier.


Setelah mereka janjian, sambungan telepon pun berakhir. Nervan segera bersiap karena harus pergi ke sebuah restoran, tempat ia dan Zafier hendak bertemu.


Sepuluh menit, Nervan sudah keluar dari kamar. Mami Nervan memperhatikan Nervan yang sudah rapi. Ia tersenyum, setidaknya sang Putra sudah mau memakai pakaian rapi. Tidak se-kusut sebelumya.


"Mau ke mana Van?" tegur Mami.


"Eh Mami. Evan hendak bertemu Kak Zafier," jawab Nervan sembari menghampiri Maminya.


"Ouh begitu, baiklah hati-hati di jalan. Salam untuk Nak Zafier."


"Tentu Mih! Evan pergi, Assalamualaikum." Nervan mengecup tangan kanan Mami. Setelahnya Nervan bergegas ke halaman depan, di mana mobilnya terparkir di sana dari sejak beberapa hari terakhir.


Nervan menjalankan mobilnya, membelah jalanan Jakarta yang nampak lengang. Ia mengemudi mobilnya dengan memutar Video Crystal yang ia ambil saat mereka bersama. Kerinduan akan Crystal sedikit terobati. Dengan mendengarkan celotehan manja Crystal di dalam Video.


Setelah tiga puluh menit, Nervan sampai di sebuah restoran yang ia tuju. Nervan segera memarkirkan mobilnya, lalu ia masuk dan mencari tempat yang sudah ia reservasi.

__ADS_1


Nervan segera duduk setelah menemukan meja yang ia reservasi. Lalu ia memesan minuman. Tidak berapa lama, Zafier pun sampai di tempat itu dan ikut bergabung dengan Nervan.


"Bagaimana keadaan mu, Van?" tanya Zafier memulai percakapan.


"Seperti yang Kak Zafier lihat! di bilang baik, aku baik. Di bilang tidak baik, ya memang tidak baik. Aku masih memikirkan Cysa." jawab Nervan.


"Tenang saja Van, Cysa akan aman selama aku pantau. Sekarang bagaimana kalian bisa bertemu. Cysa menangis terus Van! aku enggak tega." Zafier meneteskan air mata.


Zafier tahu apa yang sudah di lewati sang Adik selama ini. Dengan Nervan-lah kebahagiaan Crystal terlihat. Di hati Zafier pun tidak ada keraguan akan kasih sayang Nervan terhadap Crystal.


"Kak! bisa, tidak. Kak Zafier nge-share photo ruangan rumah kalian, setidaknya aku tahu tempat Cysa di kurung, dan photo dari Kak Zafier akan aku pelajari, sehingga aku bisa masuk ke dalam rumah kalian dan menemui Crystal tanpa ketahuan Om Harsyal. Bagaimana Kak?"


"Cukup beresiko sih Van! tapi aku akan membantu mu."


"Terima kasih Kak! aku hanya tidak ingin Crystal sakit. Bagaimana pun calon anakku harus tumbuh baik, walaupun dalam keadaan genting seperti ini."


"Ya Van! aku akan berusaha agar kalian bisa bersama lagi," janji Zafier.


Mereka pun pada akhirnya menikmati makanan yang telah disediakan. Walaupun rasa makanan itu tidak selezat biasanya. Bukan karena makanannya bermasalah. Akan tetapi perasaan mereka yang sedang bermasalah. Jadi rasa makanan pun menjadi hambar.


Duai hari kemudian,


Sejak dari siang hari, Nervan berada di kantor Papi Harsyal. Walaupun tidak di perkenankan masuk, akan tetapi ia tetap menunggu Papi Harsyal keluar dari dalam gedung kantornya.


"Van, lu yakin Papi Crysta mau mendengarkan omongan lu?" tanya Rendra, kebetulan memang Rendra menemani Nervan saat ini. Karena ia tidak bisa melepasnya sendiri, takut ada hal yang tidak diinginkan.


"Gue juga pesimis Ren! tapi gimana, gue memikirkan calon anak dan Istri gue. Kata Kak Zafier, kemarin malam Cysa tidak menyentuh makanannya sama sekali." balas Nervan. "Makin khawatir gue, Men."


"Oke deh! gue akan bantu lu, sebisa gue," ujar Rendra pada akhirnya.


Saat mereka sedang berbincang, nampak Papi Harsyal keluar dari dalam gedung perusahaannya, Ia sedang menunggu mobilnya di depan pintu masuk.


"Ren, gue ke sana dulu ya." pamit Nervan kepada Rendra.


"Oke Van, hati-hati! gue mantau lu dari sini." balas Rendra.


Setelah mengangguki, perkataan Rendra, Nervan berjalan dengan cepat, menghampiri Papi Harsyal yang masih berdiri di depan pintu masuk gedung.


"Om, tunggu!" panggil Nervan, saat Papi Harsyal hendak masuk kedalam mobil yang baru saja tiba di hadapannya.


"Mau apa kamu?" teriak Papi Harsyal ketika melihat Nervan sedang berjalan ke arahnya dan beberapa langkah lagi akan sampai di hadapannya.


"Om! izinkan saya, bicara dengan Om sebentar." ucap Nervana dengan nada memohon.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di bicaraan antara kita." ucap dingin Papi Harsyal.


"Om please ... Om dari kemarin tidak membiarkan saya berbicara apapun! tolong berbijaksanlah, Om!" Nervan mengiba, disaksikan beberapa orang karyawan dan juga security gedung tersebut.


"Om, Saya dan Crystal sepertinya di pertemukan karena memang takdir. Sebagaimana telah kakek nenek kami ucapkan, tentang perjodohan kami. Lihat Om, tanpa sepengetahuan kami, ternyata kami menikah. Itu tandanya, Tuhan merestui Om."


"Bulshit! tapi aku tidak merestuinya. Tunggu surat gugatan cerai dari anakku, karena setelahnya aku akan menjodohkannya, dengan pria pilihanku." tandas Papi Harsyal.


"Tolonglah Om, jangan berkeras hati! setidaknya, izinkan Saya merawat anak Saya hingga lahir." Nervan sudah mengenyampingkan harga dirinya.


"Crystal bukan orang susah! aku bisa merawatnya, gitu aja repot! kamu yang enak membuahkan anak! sekarang aku yang repot, harus mengurus calon anak mu." ketus Sang Papi.


"Ya maka dari itu, tolong om kembalikan Crystal Kepada Saya!" Nervan masih terus berusaha, memohon dan mengiba.


"Jangan harap!" balas Papi Harsyal.


"Ingat! ini peringatan terakhir dariku! jangan pernah datang lagi menemui ku! karena, aku tidak akan pernah, mengembalikan anakku padamu!" ancam Papi Harsyal. "Enyah kamu dari hadapan Ku!" final Papi.


"Om ...."


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Papi Harsyal meraih pundak Nervan, setelahnya ia menonjok perut Nervan tanpa belas kasihan. "Habisi dia." perintah Papi Harsyal kepada para Bodyguard-nya yang berdiri tidak jauh darinya. Lalu Papi Harsyal segera masuk ke dalam mobil.


"Ya ampun Van!" Rendra berlari ke arah Nervan saat melihat Nervan sedang dikeroyok oleh bodyguard Papi Harsyal.


Nervan diam saja. Bukan tidak berani melawan, hanya ia membiarkan sakit hatinya, beralih ke sakit di tubuhnya.


"Cukup! please! jangan sakiti teman saya." mohon Rendra.


"Baik! ini belum apa-apa. Camkan apa yang Bos kami ucapkan!" ancam salah satu bodyguard.


Nervan hanya menyunggingkan senyumnya di ujung bibir, ia menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya. Lalu Nervan duduk di atas lantai pintu lobby tersebut.


"Van balik, atau kita ke rumah sakit ya?" tanya Rendra.


"Thanks friend! nggak perlu, antar gue balik ke rumah gue saja. Nanti biar gua obat sendiri di rumah, ini bukan luka serius koq." jawab Nervan.


"Oke Van! gue bantu mengobati luka lu!" akhirnya Rendra membawa Nervan pulang, dengan perasaan hampa, sakit di hati dan di badannya, Nervan terima hari ini. Dan ia masih harus memikirkan cara untuk bertemu dengan Crystal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2