Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
74. Di Culik.


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, kebahagiaan terus menyelimuti keluarga kecil Nervan. Akan tetapi Nervan maupun Crystal belum bisa menebak isi hati Papi Harsyal. Terkadang ia nampak baik namun, tidak jarang juga ia nampak tidak bersahabat.


Siang ini Nervan ada pertemuan penting dengan konsumen dari luar negeri. Ia sudah rapih dan bersiap. Nervan tidak dapat menemani Crystal serta Baby Akhtar. Padahal ini weekend. Namun, Crystal memahami akan posisi Nervan, yang harus mempertahankan perusahaan, dalam menggaet para konsumen dari kain ataupun pakaian yang diproduksinya.


"Mas, pulang sore?" tanya Crystal saat ia menyiapkan sarapan untuk Nervan.


"Mungkin agak siang, Sayang. Tergantung Client. Maafkan Papa yang Sayang, harus meninggalkan kamu di saat weekend." Nervan mengecup pipi Crystal. Lalu menyapa Baby Akhtar, "hai jagoan Papa. Jangan ngambek ya, seharusnya hari ini kita jalan-jalan ya Sayang! maaf ya Papa absen dulu. Mau cari uang, kan untuk Dedek." ucapnya kepada sang putra yang saat ini duduk di Babycair.


Baby Akhtar usianya sudah hampir delapan bulan. Ia sudah mampu duduk sendiri dan berceloteh khas bayi. Akhtar nampak tumbuh sehat dengan badan gemuk menggemaskan.


Bagai paham dengan apa yang diucap sang Papa. Baby Akhtar manggut-manggut dan berceloteh manja kepada sang papa. "Apa? Dedek mau bekerja seperti papa? tanya Nervan, "ia nanti setelah besar ya."


Nervan terbiasa mengajak Akhtar bicara layaknya sesama orang yang sudah paham mengenai pembicaraan apapun dan Baby Akhtar itu pandai, dia akan paham dengan apa yang Nervan bicarakan.


"Nah, sekarang Dedek mamam yang banyak, agar pintar dan tumbuh sehat." celoteh Nervan, memberikan satu buah biscuit bayi pada Akhtar. Walupun ia tidak bicara akan tetapi bayi Akhtar nampak kegirangan dengan antusias ia mengambil biscuit itu dari tangan Nervan.


"Sudah Pah! lanjut sarapannya," ujar Crystal yang melihat Nervan malah bercengkrama dengan sang Putra. "Dedek juga, sudah dong! jangan ganggu Papa terus." Crystal melihat kedua jagoannya.


"Mama protes Dek!" Nervan mengekeh, lalu ia menarik Crystal hingga sekarang Crystal duduk dipangkuan, "Mas!" pekik Crystal. Nervan cuek menyuapkan makanan ke mulutnya. Baby Akhtar nyengir ke arah Crystal dan Nervan, dengan memejamakan matanya, ia menunjukkan gigi bawahnya yang baru tumbuh satu. Nampak lucu dan menggemaskan. Sehingga membuat Crystal dan Nervan tertawa.


Setelah sarapan, Nervan bersiap untuk berangkat. Kebiasaan baru Nervan, ia akan menggendong Akhtar sampai ke depan ketika hendak berangkat bekerja dan akan berpisah saat dirinya sudah menaiki mobil.


Nervan dan Crystal mengajarkan agar Akhtar terbiasa untuk bersalaman terhadap orang tuanya, sebelum atau setelah mereka berangkat bekerja atau ke mana pun.


"Anak pintar." ucap Nervan, tanpa di arahkan saat ia hendak masuk ke mobil. Baby Akhtar meraih tangan kanannya lalu ia kecup, setelahnya berceloteh tidak jelas, "Ia Sayang! Papa akan pulang cepat." Nervan menanggapi ocehan Akhtar dengan gemas. Mencubit dan mengecup pipi chubby itu berkali-kali.


Untuk saat ini karena merasa tidak ada ancaman apapun lagi. Nervan hanya menempatkan satpam dan Art saja di tempat itu. Ini merupakan permintaan Crystal. Ia ingin hidup normal selayaknya orang lain, tanpa penjagaan. karena dengan banyaknya penjagaan, Crystal merasa risih, langkahnya seperti terikat.

__ADS_1


"Aku berangkat, hati-hati di rumah," ucap Nervan dengan mengecup kening Crystal dan Crystal menyalami tangan kanannya, lalu mengecupnya. Setelahnya, mereka menyatukan bibir untuk sejenak.


"Mas juga hati-hati, jangan ngebut loh, bawa mobilnya." ujar Crystal.


"Tentu! aku pergi, bye Dedek." Akhirnya Nervan berlalu, setelah mengucapkan salam dan kembali di balas salam oleh Crystal.


Crystal kembali ke dalam bersama baby Akhtar. Nampak sang Art sedang merapikan meja makan.


"Mbak, setelah ini istirahat saja. Sudah tidak ada pekerjaan kan? nanti agak siang, kita jalan ke Mall terdekat. Ngajak Baby Akhtar main." ucap Crystal dengan tersenyum.


"Baik Bu," jawab si Art yang usianya sekitar hampir tiga puluh lima tahun. Namanya Mutinah, dia seorang janda, karena di tinggal selingkuh oleh suaminya, hingga ia memilih bercerai dan mencari pekerjaan ke kota. Ia orang yang santun, dengan pekerjaan rapi serta bersih. Nervan tak segan memberikan bonus, hitung-hitung bantu biaya untuk sang Putri yang katanya saat ini hendak lulus SMA di kampung dan tinggal bersama Neneknya.


***


Baby Akhtar masih tidur, janji dengan Mbak Muti ke Mall, sepertinya akan ngaret karena Crystal tidak tega membangunkan Baby Akhtar, hari ini tidak ada yang datang, biasanya Mami atau Zafier dan Verline datang menemui Akhtar.


"Bu."


tok tok tok ... Mbak Muti mengetuk pintu kamar Crystal.


Mendengar panggilan dan ketukan pintu, Crystal pun keluar dari kamar.


"Eh, Mbak. Ada apa?" tanya Crystal saat melihat Mbak Muti sudah berdiri di depannya.


"Anu Bu! ada tamu." jawabnya.


"Tamu?" tanya Crystal.

__ADS_1


"Iya, Ayahnya Ibu."


"Oh baiklah. Terima kasih Mbak! saya akan turun sebentar lagi, Mbak nanti tolong lihat-lihat Akhtar ya. takutnya, saya ngobrol lama dengan Papi." pinta Crystal.


"Baik Bu!" Mbak Muti kembali ke bawah dan Crystal pun mengganti pakaian yang lebih sopan. Karena pakaian saat ini sangat minim.


"Halo Papi! loh, Papi datang sendiri? kemana Mami?" tanya Crystal.


"Hi Nak! Mami ada, hanya sedang istirahat. Papi ingin bermain bersama Akhtar." jawab sang Papi.


"Yah, Akhtar-nya bobok Pih, gimana dong? Papi tunggu saja dulu ya. Tidak mengapa kan?" tanya Crystal.


"Oh baik! tolong buatkan Papi minum." pinta Papi Harsyal.


"Sebentar, ya Pih!" ucap Crystal dan Papi Harsyal mengangguk.


Saat Crystal berbalik badan dan baru saja beberapa langkah, tetiba saja ada yang membekap mulutnya dari arah belakang, Crystal sempat memberontak hingga dia tidak sadarkan diri.


Papi menyuruh orang untuk membekap Crystal dengan obat bius. Setelah Crystal tidak sadarkan diri, dengan sigap mereka membawa Crystal keluar ruangan. Crystal diculik oleh Papinya sendiri.


Beberapa saat kemudian, Mbak Muti yang tidak mendengar percakapan apapun dari arah ruang tamu, dengan takut-takut dia pun mengintai. Karena tidak berani untuk melihat secara langsung, takut sang majikan merasa terganggu.


Akan tetapi, saat melihat ruangan tamu itu kosong dengan pintu yang terbuka lebar. Mbak Muti hanya mengerutkan dahi, lalu ia berpikir mungkin Crystal naik ke atas, setelah Papinya pulang dan ia lupa menutup pintu.


Sedangkan Crystal, ia masih tidak sadarkan diri. Crystal berada di dalam mobil yang sedang melaju. Mobil itu mengarah keluar kota.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2