Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
43. Mual


__ADS_3

"Mami...?" gumam Nervan yang melihat Maminya baru saja keluar dari kamar tamu dengan menggunakan kruk penyangga.


"Van? kamu di sini? lalu teriakan tadi?" tanya Mami penuh selidik.


"Hem... Ia Mih, Evan masuk dengan mengendap. Yang tadi itu Evan diteriaki maling oleh Mbok Mah. Maaf Mih, malam begini Evan sudah membuat keributan di rumah Mami."


"Ada apa Nak?" Mami menghampiri Nervan dengan jalan perlahan.


"Evan rindu istri Evan, Mih!" jawab jujur Nervan dengan remang air mata di pelupuk matanya.


"Cysa sakit. Sudah dua hari demam, Mami membawanya tidur di kamar tamu, agar dapat menemaninya." ucap Mami Nervan.


"Cysa sakit Mih? mengapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Nervan dengan raut wajah khawatir.


"Selain Cysa menolak. Mami juga sedang menunggu Papi pulang. Ia pergi keluar kota dari tiga hari yang lalu. Papi yang akan memutuskan segalanya," jawab Mami.


"Bolehkah Evan bertemu Cysa, Mih?" tanya Nervan dengan ragu-ragu.


"Silakan Nak! Mami mengizinkan kamu menemani Cysa malam ini. Ia sudah terlelap karena pengaruh obat. Semoga esok hari keadaannya membaik." Ujar Mami.


"Terima kasih Mih! terima kasih." Nervan memeluk Maminya dengan bahagia. Rasa sakit di sekujujur tubuhnya sudah tidak terasa lagi, terobati oleh rasa bahagia.


"Sudah sana, sebaiknya kamu obati dulu lukamu." Mami menatap Nervan dengan rasa iba.


"Nanti saja Mih, dibasuh air hangat." ucap Nervan.


"Jangan kau macam-macam terhadap Cysa, Van! tanggung jawab ada di Mami. Sebetulnya Papi mu belum mengizinkan kamu untuk bertemu Cysa sebelum orang tuanya kembali dari luar negeri. Nak Zafier juga telah menitipkan tanggung jawab penuh, pada Papi atas Crystal." jelas Mami.


"Tidak Mih. Evan janji, Evan hanya ingin memeluk Cysa. karena yang Evan tahu, setiap Cysa demam, ia butuh pelukan." balas Nervan.


"Baiklah, Mami sudah berusaha memeluknya. Namun, sepertinya pelukan Mami kurang nyaman untuknya. Mungkin memang dia butuh kamu." tandas Mami.


Akhirnya, Nervan berpamitan pada Maminya dan masuk ke dalam kamar tamu. "Sayang... ini aku." Nervan berjongkok tepat di sisi tempat tidur yang ditiduri Crystal.


Wajah Crystal nampak pucat. Saat ini wajahnya pun sedikit lebih tirus dari beberapa hari lalu ia melihatnya.


Nervan mengelus lembut pipi Crystal. Lalu ia mengecup dahi Crystal dengan buliran air mata yang sukses terjatuh karena tidak dapat ditahan

__ADS_1


"Sayang maafkan Aku Please!" lirih Nervan. "Jangan sakit, Aku tidak mau melihat kamu menderita." ucapnya lagi dengan halus, berbisik di telinga Crystal yang memang tidur miring.


"Crystal menggeliat pelan kesana kemari, masih dengan mata terpejam. Sepertinya ia sedang mencari posisi yang nyaman. Ketika berbaring terlentang tangan Nervan yang ngasih mengelus pipi Crystal otomatis ikut terbawa ke arah Crystal bergerak.


Nervan bermaksud melepas tangan itu namun, rupanya tangan Crystal dengan tanpa sadar, menangkap tangan Nervan.


Akhirnya Nervan terjatuh di sisi tempat tidur, hampir saja menindih tubuh Crystal namun, ia segera menahannya. Nervan otomatis memeluk tubuh Crystal. Membawa tubuh ringkih itu dalam dekapan hangatnya. Suhu tubuh Crystal terasa lebih hangat di atas normal.


Nervan mencari posisi nyaman dengan ikut bergabung naik ke tempat tidur bersama Crystal. Berbaring di sisi Crystal dalam satu selimut. Kini Crystal nampak tenang dalam dekapan hangat Nervan.


"Sayang! aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maka jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Aku. Maaf!" bisik Nervan dengan suara lembutnya.


Crystal nampak makin mempererat pelukannya pada Nervan. Suhu tubuh Crystal berangsur normal setelah beberapa kali Nervan kecupi dahi Crystal dengan lembut. Air mata Nervan pun ikut menetes.


Malam ini mereka tidur dalam satu ranjang dan selimut yang sama, setelah berpisah selama satu bulan lamanya. Crystal nampak lelap dalam pelukan Nervan. Begitupun Nervan, menjelang pagi ia ikut terlelap tanpa melepaskan pelukannya.


Keesokan pagi.


"Hem..." Nervan menggeliat pelan tatkala kicau burung mulai terdengar. "Huff. Cysa! Alhamdulillah suhu tubuhnya sudah kembali normal." batin Nervan setelah mengeceknya.


Jam digital di kamar itu menunjukkan pukul lima lewat dua puluh pagi. Masih ada waktu subuh pikir Nervan. Setelah ia kembali mengecup pelan dahi Crystal, Nervan segera turun dari tempat tidur dengan perlahan, khawatir Crystal akan terganggu tidurnya. Nervan bergegas ke kamarnya. Mengambil wudhu dan Salat Subuh tanpa mandi karena sudah kesiangan.


"Van!"


Nervan menoleh pada sumber suara, tepat saat handle pintu sudah ia tarik. "Mih! maaf Evan tidak pamit. Sedang buru-buru, takut Cysa tahu Evan ada di sini."


"Heemm, tidak apa-apa. Mami hanya ingin kamu membawa bekal untuk sarapan mu." ucap Mami sendu.


"Terima kasih Mih." Nervan menghampiri Mami yang kini duduk di kursi roda dengan wadah Tupperware di pangkuannya.


"Ini ada rendang ayam kampung. Dua hari lalu, sebelum demam, Cysa memasaknya. Dan ia menangis saat makan. katanya ingat kamu. Ini makanan pavorit kamu. Maka dari itu pagi ini Mbok Mah menghangatkannya untuk mu."


Nervan tersenyum. "Evan akan menghabiskannya nanti. Sekarang Evan pamit." ujar Nervan.


"Tentu!"


"O yah, Mami bantu Evan ya?" tanya Nervan.

__ADS_1


"Apa yang bisa Mami bantu?"


"Izinkan Evan datang ke sini setiap malam. Dengan cara mengendap, tidak mengapa." pinta Nervan dengan nada suara yang bergetar, menahan tangis.


Mami nampak berpikir sejenak. Bagaimanapun Nervan adalah Putranya. Naluri keibuan Mami memberikan anggukan dan senyum sebagai tanda mengizinkan.


"Terima kasih Mih... terima kasih...Mamih memang terbaik. Mami tenang saja. Segala resiko akan Evan hadapi, termasuk mengahadapi kemurkaan Papi." Nervan bersimpuh di lantai, Ia memeluk pangkuan Maminya dengan menangis.


"Sudah... pulanglah! seburuk-buruknya anak Mami, tidak akan pernah melunturkan kasih sayang Mami terhadapmu. kamu tetap Evan nya Mami, yang baik yang bersahaja, penuh tanggung jawab. Mami yakin sifat baikmu tidak akan pernah berubah menjadi iblis. kamu hanya Khilaf. Mami tahu Van, Mami tahu itu." suara Mami pun bergetar, sepertinya ia sedang menahan tangis.


Nervan makin sesenggukan. Merebahkan kepalanya di atas pangkuan Mami. setidaknya kini ia sedikit lebih lega, sang Mami masih mau mendukungnya.


Setelah beberapa menit Nervan menangis dalam pangkuan Mami akhirnya mereda,belaian lembut tangan Mami di kepalanya membuat Nervan jauh lebih tenang, ia begitu merasa berharga dengan kasih sayang Mami.


"Evan pamit Mih." ucap Nervan setelah berdiri dan menenteng kotak Tupperware untuk bekal makannya.


Mami mengangguk dengan tersenyum "Pergilah, hati-hati! tetap semangat, jangan putus asa. Ingat! saat ini kondisi rumah tangga kalian mungkin sedang dalam keadaan kurang baik, akan tetapi Mami yakin, cinta kalian akan mampu mempersatukan kembali rumah tangga kalian dengan utuh." ujar Mami.


Nervan mengangguk dan tersenyum, lalu mengecup kedua belah pipi Maminya dan setelah berucap salam. Nervan pergi keluar rumah dengan langkah lebih semangat.


Di ambang pintu kamar tamu, Crystal menyaksikan interaksi Mami dengan Nervan. Ia pun ikut menangis di sana. Hanya saja Crystal belum mau untuk bertemu secara langsung dengan Nervan.


Bahkan tadi ketika Nervan bangun, Crystal mengingatnya. Karena ia sebetulnya sudah bangun. Namun, Crystal membiarkan Nervan berpikir bahwa ia tidak tahu jika semalam Nervan, menemaninya tidur.


Mami tahu Crystal berdiri di sana. "Pagi Sayang! bagaimana keadaanmu?" tanya Mami sembari menghampiri Crystal dengan menjalankan kursi rodanya.


"Pagi Mih, Cysa sudah baik Alhamdulillah. ternyata betul kata Mami. Anak ini ingin tidur dipeluk sama papanya." ujar Crystal dengan tersenyum. Seraya mengelus lembut perut datarnya.


"Ia sayang! jangan tolak kehadiran Evan. berpura-puralah tidak tahu, jika ia datang setiap malam menemuimu." pinta Mami.


"Tentu tidak Mih. Hanya saja Cysa masih belum dapat berinteraksi langsung dengannya, biarkan waktu yang akan membuat kita kembali menghangat." ucap Crystal dengan mendorong kursi roda Mami menuju taman belakang.


Mami Nervan hanya menyentuh tangan Crystal, dengan lembut sebagai tanda support untuknya.


Kemarin, saat dokter memeriksa Crystal karena kondisinya yang sering mual dan juga terkadang demam, maka dokter mengatakan jika Crystal sedang hamil dan ketika di tes menggunakan tespek serta menghadirkan dokter obgyn kenalan Mami. Ternyata betul Crystal sedang mengandung dengan usia kandungan dua minggu.


berita bahagia untuk Crystal dan Mami. Papi Nervan pun sudah ditelepon Mami, bahwa Crystal saat ini sedang mengandung cucu mereka.

__ADS_1


Tentu saja, sambutan bahagia dari sang Papi di ujung telepon sana. Namun, Crystal memutuskan untuk tidak memberitahukan Nervan terlebih dahulu. Hingga Papi dan Maminya kembali ke Indonesia.


Bersambung...


__ADS_2