Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
51. Jatuh Cinta lagi.


__ADS_3

Nervan sudah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan Nervan kelelahan. Dehidrasi, kekurangan gula darah, dan kemungkinan ada masalah dengan lambung. Jika mengenai hal itu Crystal membenarkan, karena Nervan kerap kali mual akibat terkena sindrom Couvade.


"Mas...!"


Nervan nampak menggeliat pelan dengan membuka matanya perlahan, setelah di rawat selama hampir dua hari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tentu saja Crystal antusias dan gembira melihat perkembangan baik dari Nervan.


"Sayang!"


Nervan tersenyum lemah ke arah Crystal. Ia memanggil Crystal dengan suara nyaris tidak terdengar. "Ia Mas, ini aku. Sebentar ya aku panggilkan dokter."


Nervan mengangguk kecil dengan tersenyum tipis. Di luar ruangan, Rendy dan Satrio sedang mengobrol duduk di bangku tunggu tidak jauh dari ruangan Nervan di rawat.


"Mas Nervan sudah sadar! Tio, Mas Rendy, tolong panggilkan dokter," pinta Crystal pada Tio dan Rendy.


"Alhamdulillah..." ucap serempak keduanya.


"Baik Mbak! kami akan panggilkan dokter, Mbak temani Mas Nervan lagi aja." ucap Satrio dan di angguki kepala oleh Crystal.


Crystal kembali masuk ke dalam ruangan Nervan, Sedangkan Satrio dan Rendy bergegas memanggil dokter.


"Mas, sebentar ya. Tio dan Rendy sedang memanggil dokter," ucap Crystal pada Nervan saat ia kembali duduk di hadapan Nervan.


"Te-terima Kasih, Sayang!" ucap Nervan dengan suara yang agak terbata dan masihlah lemah.


"Maafkan aku Mas, karena telah teledor meninggalkan mu di rumah seorang diri." Crystal menangis pelan dengan mengecup tangan Nervan yang ia genggam.


Nervan tersenyum lemah di balik masker oksigennya. Bersamaan dengan itu, dokter beserta beberapa suster baru saja masuk untuk memeriksa kondisi Nervan.


"Maaf Nyonya, kami harus memeriksa keadaan suami Anda!" ucap dokter kepada Crystal.


"Oh tentu dok, silakan!" Crystal mundur sebentar dari hadapan Nervan. Lalu dokter beserta para perawat segera melakukan pengecekan akan kondisi Nervan.


"Alhamdulillah keadaan Anda sudah membaik Pak! kami akan memindahkan Anda ke ruangan rawat inap rumah sakit, karena Anda masih harus dirawat untuk beberapa hari ke depan sebagai pemulihan," ucap dokter dengan suara kelegaan.


"Terima kasih dok, saya minta kamar terbaik rumah sakit ini, agar istri saya nyaman menemani saya." Pinta Nervan.


"Tentu Pak! kami permisi, kamar akan segera di siapkan."


Nervan hanya mengangguk dan tersenyum, dokter serta para perawat pun berlalu dari ruangan tersebut. Crystal kembali menghampiri Nervan dan memeluknya.


"Mas, janji tidak akan seperti ini lagi, aku khawatir!"


"Tentu, Sayang! dalam beberapa hari ini aku muntah terus dan aku tidak ada keinginan lagi untuk menelpon saat itu."


"Aku paham, Mas," Crystal mengelus pipi Nervan dengan sayang.


Kini Satrio dan Rendy sudah bisa masuk untuk melihat kondisi Nervan.


"Mas! Alhamdulillah sudah sadar, gila lu lama amat tidurnya, sampai dua hari." ucap Satrio.

__ADS_1


"Hehe, gua ngantuk Tio." jawab santai Nervan.


"Mas, cepat sehat! kantor kangen Mas Nervan loh." kelakar Rendy.


"Ah lu Ren, baru melek nih! masa sudah di todong urusan pekerjaan." Nervan mengekeh.


"Ahahaha, oke! kalau begitu, karena Mas sudah sadar, kami pamit." ucap Rendy.


"Oke Ren, urusin ladang nafkah gue yang bener ya," ucap Nervan dengan tertawa juga.


"Beres, Mas!"


"Kalau begitu, aku juga pamit Mas, mau memberi tahu Mas Rendra, Budhe dan Pakde serta Mama. Kalau Mas Nervan sudah sadar." Pamit Satrio.


"Baik Tio. Terima kasih ya," Nervan mengiayakan. Pada akhirnya Satrio dan Rendy meninggalkan tempat itu.


Kini tinggal Crystal dan Nervan. Terjadi kecanggungan di antara keduanya. Nervan menatap Crystal dengan binar cinta. Senyuman di bibir Nervan tidak terlepas.


Crystal yang mendapatkan tatapan seperti itu, ia semakin merasa serba salah. "Mas...," lirih Crystal demi untuk mengusir rasa canggung.


"Iya, Sayang! koq diam saja, tidak rindu padaku ya?" tanya Nervan.


"Kata siapa, aku amat rindu padamu, Mas!" akunya Crystal dengan jujur.


"Ya kalau begitu, peluk aku dong! masa suaminya di anggurin begini." ledek Nervan.


"Mas, ikh... aku kan malu!" ucap Crystal dengan nada manja. Namun, tak urung jua, dia memeluk suaminya dengan posesif.


"I Love You Putri Luna."


"Love You too pangeran penyelamat."


"Aku jatuh cinta lagi padamu. Boleh kan?" tanya Nervan.


"Ya tentu, Mas! itu yang aku inginkan. Mas harus jatuh cinta kembali padaku setiap hari." pinta Crystal dengan tertawa.


"Kamu pun, harus jatuh cinta padaku setiap hari." akhirnya mereka tertawa bersama.


Sore hari, orang tua Nervan, Tante Ningsih dan juga Rendra, datang untuk menjenguk Nervan. Sang Papi pada Akhirnya mengizinkan kembali, untuk Nervan membawa Crystal pulang ke rumahnya, setelah kondisinya pulih.


Tentu saja, Nervan dan Crystal amat bahagia. Kini Nervan bisa melanjutkan hidupnya dengan Crystal dan menantikan kelahiran bayi mereka dengan tenang.


***


"Akhirnya... kita pulang ke rumah, Sayang," ujar Nervan, setelah mereka pulang dari rumah sakit dan keluarga serta kerabat yang menjenguknya telah meninggalkan rumahnya.


"Ia, Mas! Alhamdulillah. kita bisa merawat calon Anak kita ini bersama-sama." balas Crystal dengan tersenyum dan bergelayut manja di lengan Nervan.


"Aku rindu, Sayang!"

__ADS_1


"Aku pun Mas," jawab Crystal.


"Ngamar yuk!" bisik Nervan dengan menjahili Crystal, yaitu meniup telinga Crystal.


"Mas, apa sih! jangan nakal ya," kekeh Crystal. Namun, tubuh Crystal terasa melayang tiba-tiba, saat Nervan sudah mengangkatnya menuju kamar mereka.


"Mas, sepertinya kamar kita harus berada di lantai bawah. Aku takut untuk naik turun tangga. Mami pun tidak mengizinkan aku tidur di kamar lantai dua, setelah mengetahui aku hamil."


"Tentu, Sayang! besok kamar bawah, di bersihkan ya, aku cari orang dulu untuk membersihkannya." jawab Nervan dengan santai.


"Loh, memang di bawah masih ada kamar?" tanya Crystal bingung, karena setahu dia di bawah tidak ada kamar lagi.


"Ada dong, Sayang. Kamarnya agak keluar dari ruang utama, yang menghadap ke arah kolam renang."


"Jadi... Mas bohong sama aku? waktu itu, Mas bilang tidak ada kamar lagi, selain kamar Mas, di lantai atas." protes Crystal.


Nervan malah tertawa, "Mas ikh, kamu ngerjain aku ya?"


"Ahahah ia, biar aku bisa tidur sama kamu, kalau kamu tahu, di lantai bawah ada kamar lagi, nanti kamu seperti yang ada di novel-novel, minta pisah kamar. ogah! rugi aku, sudah susah payah membujuk kamu, agar mau menikah dengan ku, masa tidur Harus terpisah."


"Maaaas!!!"


"Ia, Sayang!"


"Turunkan aku! aku tidak mau tidur lagi dengan kamu, ternyata selama ini kamu membohongi aku?"


"Tapi aku yakin, kamu suka di bohongi oleh ku, untuk hal ini."


"Tidak, aku tidak suka!"


"Kamu harus suka!"


"Tidak mau," balas Crystal kembali.


"Kalau sudah begini, pasti tidak akan menolak." Nervan sudah mengunci pintu kamar dan kini tubuh Crystal, sudah dibaringkan di atas tempat tidur.


"Mas!"


"Ayolah, Sayang! kata orang agar dedek bayinya sehat dan agar tumbuh kembangnya bagus. Maka harus sering-sering, dilihat loh sama Dek Jhon." goda Nervan dengan bermain mata.


"Modus!"


"Ahahaha, modus sama istri mah halal."


"Aw! Mas pelan sedikit!"


"Siap, Sayang!"


Akhirnya Nervan dan Crystal kembali menyatukan Dek Jhon dan Nduk Jhen, setelah hampir dua Minggu tidak bertemu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2