
Sudah hampir seminggu, Nervan bebas keluar masuk rumah Papi Harsyal. Bahkan kini, setiap malam ia menginap di rumah tersebut. Karena Crystal yang memintanya.
Namun, sejak Nervan berada di rumah Papi Harsyal, justru Zafier jarang di rumah. Katanya sedang mengurusi proyek di luar kota.
Ia merasa tenang meninggalkan Crystal di rumah, karena ada Nervan yang menjaganya.
Malam ini Nervan pulang telat. Ia terpaksa harus pergi ke Bandung tadi pagi, karena ada sedikit masalah di pabrik textile yang di Bandung.
" Mas, ini langsung pulang?" tanya Satrio. Kebetulan Nervan pergi berdua Satrio, Rendra dan Rendi mengurusi Garmen.
"Pulang saja Tio. Kasihan Cysa hanya sendiri di rumah Papi-nya.
"Mas, sudah di terima oleh Papi Mbak Cysa, ya?" tanya Satrio.
"Belum Tio, entahlah. Mungkin saat Papi Harsyal tahu, aku berada di rumahnya. Bisa saja ia langsung mengusir ku."
"Kalau aku jadi Mas Evan. Cysa akan aku bawa kabur, ketempat yang jauh dan Papi Cysa tidak bisa menemukan kalian. Mas banyak uang, apapun Mas dapat lakukan. Kalian tidak akan kekurangan apapun tanpa restu dari Papi Mbak Cysa." ujar Tio.
"Ah kamu Tio. Mikir enaknya, tidak memikirkan resikonya. Mas, gak mau melakukan hal itu! tetap saja tidak akan tenang Tio." balas Nervan.
"Hehe, ia deh Mas! pemikiran Mas lebih tertata dari pada aku. Mas Evan keren," ucap Satrio.
Nervan nampak manggut-manggut, dengan tersenyum getir, ia sedang mencerna kata-kata Satrio. Akan tetapi Nervan tidak akan pernah melakukan hal itu.
Restu Papi Crystal lebih penting dari apapun. Nervan tidak mau melakukan kesalahan kedua kalinya. Yaitu menguasai Crystal dari Papi-nya.
Setelah melewati perjalanan selama hampir empat jam. Nervan dan Satrio pun sampai di rumah Papi Harsyal.
"Mobil bawa pulang saja Tio. Aku tidur di sini," ucap Nervan saat sudah membuka handle pintu mobil.
"Baik Mas, salam untuk Mbak Cysa."
"Oke!"
Satrio meninggalkan halaman parkir rumah Crystal, yang terbilang luas. Nervan segera masuk ke dalam rumah dan di sambut sang Art.
"Selamat malam Tuan!"
"Selamat malam, Bik! Nona Crystal sudah tidur ya?" tanya Nervan.
__ADS_1
"Belum, dari setadi nunggu Tuan pulang," jawab sang Art.
"Baiklah, terima kasih Bik! saya langsung ke kamar Cysa saja, kalau begitu."
"Tuan, tidak makan terlebih dahulu?" tanya sang Art, ia nampak kasihan dengan Nervan yang terlihat lelah.
"Nanti saja, mungkin istri saya juga mau makan, biar sekalian saya makan sama-sama istri, saya," balas Nervan.
Sang Art tersenyum tulus dengan mengangguk lemah, pertanda mengiyakan dengan rasa hormat.
Nervan sempat membalas senyuman sang Art dengan tersenyum juga. Setelahnya ia berlalu menuju lantai dua rumah Papi Harsyal, di mana kamar Crystal ada di sana.
Sang Art nampak diam, masih bergeming di tempat, menatap punggung Nervan yang menjauh dan kini sudah menaiki tangga.
"Padahal Tuan Nervan begitu baik dan tulus. Non Cysa juga nampak begitu bahagia saat bersamanya. Tapi koq, Tuan besar sangat menentang pernikahan mereka ya?" gumam si Art di dalam hatinya.
Setelah melihat Suami dari Tuan Putrinya itu tidak terlihat lagi, karena sudah naik ke lantai dua. Maka sang Art pun berlalu dari tempat itu dan kembali ke kamarnya.
Nervan baru saja masuk kamar. Ia lihat Crystal belum tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Sayang! koq belum bubu?" Nervan menghampiri Crystal yang sedang membaca sebuah buku. Sepertinya buku tentang kehamilan.
"Mas, sudah pulang?" tanya Crystal, Nervan mengangguk dengan tersenyum. "maaf Mas, aku belum mengantuk." lanjut Cryrstal.
"Dedeknya lapar Pah, ingin mamam roti bakar buatan Papa." Crystal duduk di dalam pangkuan Nervan yang kini sudah mendaratkan bokongnya di sisi tempat tidur.
"Oh seperti itu, baiklah Dek! Papa buatkan ya, tapi Papa ganti baju dulu," Nervan mengelus perut Crystal dan sang jabang bayi terasa bergerak di dalam sana.
"Dedek senang ya mau di buatkan roti bakar oleh Papa?" tanya Nervan kemudian yang di tujukan pada perut Crystal.
"Senang dong Papa!" jawab Crystal dengan suara yang di kecilkan seperti anak-anak.
"Em, Mama nakal tuh Dek! masa suara Dedek seperti itu." protes Nervan, lalu merekapun tertawa bersama.
Setelah puas bercengkrama dengan Crystal dan tentu saja di hiasi dengan cumbuan-cumbuan kecil. Nervan segera membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelahnya, Nervan dan Crystal menuju ke dapur. Nervan membuatkan roti bakar yang Crystal inginkan.
"Tara... roti bakar isi coklat keju. Untuk Dedek dan Mama," ucap Nervan dan Ia menghidangkan roti bakar buatannya di atas meja tepat di hadapan Cryrstal.
__ADS_1
"Terima kasih Papa, Cayank!"
Crystal mulai menikmati roti bakar buatan Nervan dengan lahapnya. Sedangkan Nervan yang juga merasa lapar. Ia memakan roti bakar isi kornet dan sedikit salad. Keduanya makan dengan lahap.
***
Beberapa hari kemudian,
Papi Harsyal memutuskan mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Ia sudah amat geram mendengar kabar bahwa Nervan begitu bebas keluar masuk rumahnya.
Sedangkan sang Putra yang di tugaskan menjaga Crystal, malah di ketahui tidak ada di tempat. Karena sedang ke luar kota.
Papi Harsyal sengaja tidak memberitahukan tentang kepulangannya. Kini ia sedang berada di perjalanan menuju rumahnya. Setelah beberapa waktu lalu pesawat yang di tumpanginya mendarat di bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten.
"Pih, apa tidak sebaiknya kita terima saja Nervan sebagai mantu kita. Mami dengar dari para Art, dia baik, tulus, sabar dan terutama amat menyayangi Cysa Pih!" bujuk Mami Angelita.
"Tidak Mih! Mami lupa, siapa yang telah menghancurkan perusahaan kita, sehingga kita mengalami kebangkrutan dan menyebabkan Papa ku, kena serangan jantung dan meninggal!" ucap Papi Harsyal dengan nada dingin.
"Tapi Pih... Papa meninggal karena memang sudah takdirnya. Mama sendiri telah mengikhlaskan Papa dan berulang kali mengatakan, bahwa Papa meninggal bukan di karenakan Aarlic dan keluarganya."
"Tidak! semua karena orang itu. Dan aku tidak sudi memiliki hubungan apapun lagi dengan mereka."
"Pih...!"
"Cukup Mih! dan satu hal lagi. Jangan pernah sebut namanya lagi di hadapan Papi." final Papi Harsyal.
Mami Angelita hanya mampu mengembuskan napasnya pelan. Di dalam hatinya berdoa supaya sang suami di lembutkan hatinya, agar mampu menerima pernikahan Putrinya dan Nervan.
Pada akhirnya, Keadaan hening. Hingga mereka sampai ke rumah.
Papi Harsyal turun dari mobil dengan tergesa. Ia ingin membuktikan, apa yang orang kepercayaannya laporkan.
Para bodyguard dan juga Art di buat terkejut dengan kedatangan sang Tuan yang tiba-tiba saja. Mereka menunduk takut saat Tuan besar mereka masuk dengan wajah tak bersahabat.
Papi Harsyal segera memeriksa sekitaran rumahnya, di ikuti Mami Angelita dengan beberapa bodyguard.
Benar saja, saat Papi Harsyal masuk ke dalam rumahnya dan ketika tiba di bagian belakang , Nervan tengah bersantai dengan Crystal di taman belakang rumahnya.
"Apa-apa kalian?" sentak Papi Harsyal yang memergoki Nervan tengah berciuman dengan Crystal di ayunan taman. Kelakuan mesra mereka tercyduk sang Papi.
__ADS_1
"Pa-papi?" keduanya terkejut, saat mereka lihat siapa yang sudah berada di belakang mereka.
Bersambung...