Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
63. Laki-laki pilihan Papi.


__ADS_3

Crystal dan Nervan amat terkejut saat melihat Papi Harsyal sudah berada di hadapan mereka. Dan memergoki mereka tengah berciuman.


"Papi koq sudah pulang?" tanya Crystal dengan gugup. Sedangkan Nervan berusaha terlihat tenang.


Nervan harus menghadapi sang Ayah mertua yang nampak sedang menahan amarah. "Pih, Mih!"


Nervan berusaha menegur sang mertua dengan sopan. Ia mencoba mengecup tangan mertuanya. Namun, uluran tangan Nervan di tepis kasar oleh sang Ayah mertua.


Sedangkan Mami Angelita menerima uluran tangan dan kecupan Nervan di punggung tangan kanannya dengan tersenyum.


"Kenapa? terkejut, karena sedang melakukan hal menjijikkan di rumah ku?" tanya Papi Harsyal dengan tatapan datar dan aura wajah yang dingin.


"Ka-kami minta maaf Om, ka-kami tidak tahu, Om dan Tante akan pulang hari ini, tahu begitu. Saya yang akan menjemput Om dan Tante." ujar Nervan dengan sungguh-sungguh.


"Jangan basa-basi, aku tidak mau mendengar kamu bicara. Keluar dari sini sekarang juga! atau orang-orang ku, yang akan memaksa kamu keluar dari sini."


Papi Harsya menunjuk ke arah luar rumahnya."Papi jangan Pih! jangan usir Mas Evan."


Crystal memohon kepada Papinya. Namun, sang Papi tidak menghiraukannya. Ia memberikan kode kepada Bodyguard-nya agar menyeret Nervan keluar dari rumahnya dan membawa Crystal ke kamarnya.


"Saya, bisa berjalan sendiri!" tepis Nervan dengan wajah datar, saat para Bodyguard sudah mulai mencekal lengannya. Ia melirik ke arah Crystal sebentar. Tidak ada waktu untuk berpamitan.


Nervan menghela napas kasar dan mengembuskannya dengan kasar pula. Lalu ia pergi dari tempat itu, meninggalkan Crystal yang menangis dan berteriak memanggil namanya.


Sang Mami yang ikut bersedih, ia berusaha memeluk Crystal. "Mas! Mas kembali. Bawa aku pergi dengan mu, Mas! tolong jangan tinggalkan aku dengan calon anak kita."


Nervan tidak menjawab apapun, ia terus melangkahkan kakinya menuju luar. Namun, tanpa Crystal ketahui, di sela langkahnya, air mata Nervan berjatuhan. Andai ia bisa! maka ia akan berbalik dan memeluk Crystal. Lalu membawanya pergi.


Akan tetapi, Nervan membuang egonya jauh-jauh. Ia Masih memikirkan keadaan Crystal dan kandungannya, ia tidak mau sampai Crystal celaka, atau mengalami hal buruk. Karena bisa saja, tarik menarik antara dirinya dan sang Papi mertua, tidak menutup kemungkinan, akan menimbulkan hal yang tidak mereka inginkan.


"Mas...!" Crystal terus menangis, memanggil Nervan dengan nada pilu. Sedangkan Nervan sudah berada di luar gerbang rumah, Ia segera meminta Iwang untuk menjemputnya. Keberadaan Iwang yang memiliki rumah sewa di sekitaran daerah tersebut, memudahkan ia untuk segera pergi dari sana.


"Papi jahat!" Crystal melampiaskan amarah kepada sang Papi dengan berteriak. Lalu ia masuk ke dalam rumah dan merusak barang apa saja di dekatnya yang ia lewati, sembari naik ke lantai atas. Guci, frame Photo, pajangan-pajangan lainnya yang ia mampu kenai, sudah berjatuhan dan hancur.


"Cysa, Sayang! hati-hati Nak! ingat kandungan mu." Mami Angelita melirik sinis sejenak kepada suaminya, lalu ia berlari menyusul Crystal. Kekawatiran seorang ibu nampak jelas di matanya.


***

__ADS_1


Sudah satu pekan, Crystal Kembali di kurung di dalam kamar. Zafier hari ini pulang dari luar kota. Ia amat terkejut saat pulang ke rumah, semua Bodyguard dan juga para Art nampak asing. Wajah mereka baru bagi Zafier. Tentu saja, Papi Harsyal telah memecat semua yang di anggap telah mengkhianati-nya.


"Hem, siapa mereka?" pikir Zafier. Lalu ia masuk ke dalam rumah dengan tatapan curiga dari para penjaga baru tersebut.


"Siapa kalian?" tanya Zafier, karena merasa risih menerima tatapan kurang bersahabat dari mereka.


"Lalu, Anda siapa?" bukannya menjawab pertanyaan Zafier, salah satu dari mereka malah bertanya balik.


"Hish, ya aku Putra dari pemilik rumah ini! apa kalian tidak mengenal ku?" tanya Zafier dengan sarkas.


"Tidak!" jawab salah satu orang-orang itu. Zafier mencibir disertai gelengan.


"Heh, bisa jadi mereka tidak mengenal mu! karena Papi tidak memasukkan kamu di dalam daftar penjagaan mereka." Tetiba saja, suara orang yang telah Zafier tentang muncul dari dalam. Ya, itu Papi Harsyal.


"Papi?" Zafier nampak terkejut. "Ja-jadi orang-orang ini?" Zafier menunjuk para Bodyguard baru sang Papi. Kapan Papi pulang? koq bisa?" Zafier bergeming di tempatnya. Ia tidak tahu kalau sang Papi sudah ada di rumah mereka.


"Lalu... Crystal dan Nervan?" pikir Zafier. Berbagai pertanyaan berputar di kepala Zafier.


"Pih, koq Papi...?"


"Tidak seperti itu, ta-tapi..."


"Masih percaya diri menunjukkan wajah, kamu? setelah berani mengkhianati Papi?" tanya Papi Harsyal.


"Pih! Kakak tidak bermaksud menentang, apalagi mengkhianati Papi. Kakak hanya merasa kasihan terhadap Cysa." ujar Zafier.


"Itu bukan urusan, kamu!"


"Pih, ayolah... Nervan baik Pih. Cysa bahagia bersamanya." bujuk Zafier.


"Cukup Kak! kalau kamu masih mau tinggal di sini, silakan ikuti peraturan dari Papi. Kalau kamu keberatan, lebih baik kamu kembali ke apartemen mu."


Zafier menggelengkan kepalanya, tanda tidak mengerti dengan jalan pikiran sang Papi. " Papi keterlaluan dan tidak memiliki perasaan. Jika bukan karena Cysa, aku juga tidak mau berada di rumah ini." ucap Zafier Ketus, lalu Zafier meninggalkan Papinya begitu saja.


"Jangan harap usaha mu dalam mempersatukan mereka akan berhasil. Papi sudah menyiapkan laki-laki untuk Crystal. Setelah melahirkan dan bercerai dengan laki-laki itu, maka Papi akan menikahkan Crystal, dengan laki-laki pilihan Papi." ucap Papi Harsyal tiba-tiba dan sukses membuat langkah Zafier berhenti.


"Papi, betul-betul sudah gila!" batin Zafier.

__ADS_1


Zafier bergeming di tempatnya berdiri. Lalu ia kembali menghadap ke arah Papinya, "Papi betul-betul tidak memiliki hati dan belas kasih. Silakan, lakukan saja Pih. Maka penyesalan, akan menggerogoti Papi seumur hidup. Kakak yakin itu!" ucap Zafier dengan smirk di ujung bibir.


Setelah mengatakan hal baru saja, Zafier membalikkan badannya dan berlalu dari hadapan Papi Harsyal.Ia menghampiri Crystal di kamarnya, kini Crystal sedang di temani Mami.


"Mih!" sapa Zafier saat ia masuk ke dalam kamar Crystal dan melihat sang Mami sedang duduk di sisi tempat tidur, nampak Crystal terlelap di kasurnya.


"Kak!" Mami menoleh pada Zafier. "Cysa baru tidur, seharian menangis dan tidak mau makan." ucap Mami dengan suara pelan.


"Kasihan Cysa, di saat ia membutuhkan kehadiran suaminya karena sedang hamil. Papi malah memisahkan mereka." ujar Zafier, Mama Angelita dan Zafier memutuskan untuk keluar dari kamar Crystal. Mereka takut mengganggu Crystal yang baru saja tidur.


Mami Angelita dan Zafier kemudian ngobrol di ruang santai lantai atas. "Kakak, tidak mengenal orang-orang yang berada dibawa, Mih," ucap Zafier.


"Papi mengganti semua orang-orang yang kemarin, dengan orang baru Kak!" jawab Mami.


"Lalu, orang-orang sebelumnya?" tanya Zafier.


"Papi, mengusirnya dan memecat mereka. Begitu ia pulang ke rumah ini."


"Astaghfirullah... Papi betul-betul keterlaluan." ucap Zafier dengan nada kesal. "Kalau begitu, Kakak pergi dulu, Mih."


"Loh, Kakak mau ke mana, Nak?" tanya Mami Angelita.


"Aku mau menemui orang-orang itu, Aku hendak meminta maaf dan memberikan uang terhadap mereka, sebagai ucapan terima kasih dan juga kompensasi pemecatan, Mih!" jawab Zafier.


"Baiklah! lakukan semuanya dengan baik Nak! buat mereka senang, dan tidak merasa di rugikan," ucap Mami Angelita.


"Tentu Mih, o yah! sepertinya Kakak tidak akan pulang malam ini," ujar Zafier.


"Loh Koq tidak pulang, lalu kamu pulang ke mana?" tanya Mami Angelita.


"Mungkin aku pulang ke apartemennya Verline. Atau pulang ke rumah Nervan, Mih."


"Baiklah! tapi Mami sarankan kamu pulang ke tempat Nervan saja, Sayang! tolong kirim ucapan salam dari Mami dan permintaan maaf untuk Papi. Dan bantu Nervan mencari solusi agar hati Papi luluh dan mau menerimanya," ujar Mami Angelita.


"Baik Mih, Kakak coba ikuti saran Mami saja, pulang ke rumah Nervan." Balas Zafier dan ia pun berlalu dari rumah itu tanpa berpamitan kepada Papinya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2