
"Eyp.. eyep..Momiii..." tangis gadis kecil sekitar usia lima tahun dengan suara cadel meminta tolong, sukses mengganggu ketenangan anak laki-laki beranjak remaja yang sedang merebahkan tubunya di atas rumput liar di tepian danau.
"Anak kecil, mengganggu saja! berisik." gerutu anak laki-laki tersebut. Namun, matanya terbelalak ketika melihat gadis kecil itu sedang menggantung di tepi danau bagian tebing, dengan hanya tangan memegang akar kecil pepohonan yang tumbuh liar di sekitar dan posisinya berada di tepi danau yang agak curam.
Anak laki-laki tersebut segera berlari dan menghampiri gadis kecil itu. "Hei jangan lepas peganganmu! tetap bertahan, aku hendak mencari bantuan sebentar." ujarnya sedikit panik.
Anak lelaki tersebut berlari ke arah orang tuanya yang tidak jauh dari sana. "Papi...Mami," panggilnya.
"Hai Nak! mari makan, Mami sudah menyiapkan makanan." sapa sang Mami dengan melambaikan tangan ke arah anak lelaki itu.
"Papi, Mami... to-tolong. Ada anak kecil hampir jatuh ke danau." panik anak laki-laki itu.
"Van! bicara pelan-pelan." pinta sang Papi.
"Evan..." Anak laki-laki itu adalah Nervan kecil. Ia segera menceritakan apa yang ia lihat. Bahwa ada seorang gadis kecil sedang menggantung di tepi danau dan hampir terjatuh ke danau.
"Astaghfirullah! mari kita tolong Mih!" ujar Papi Nervan, mereka bergegas ke arah gadis kecil yang Nervan sebutkan tadi.
"Sayang! tetap tenang dan pegang akar itu kuat-kuat." bujuk Mami Nervan.
Nervan yang saat itu usianya, sekitar tiga belas tahun, cukup paham saat di ajak bekerja sama oleh sang Papi untuk menyelamatkan gadis kecil itu.
Dengan susah payah. Gadis kecil itu dapat di tarik ke tempat yang aman. "Alhamdulillah, akhirnya..." ucap Mami Nervan.
"Akak Tapan telim acih. Udan telamatkan atu." (Kakak tampan terima kasih. Sudah menyelamatkan aku). ucap gadis kecil itu, ia langsung memeluk Nervan.
Nervan tidak kuasa menolak pelukan itu, tubuh gadis itu bergetar karena tangis dan efek ketakutan.
"Sama-sama Adik cantik. Sudah jangan takut lagi, kamu sudah aman." ujar Nervan remaja.
"Tentu Akak!"
"Nak! kamu bermain sendirian atau dengan orang tua mu?" tanya Mami Nervan.
"Atu cendili. Mami dan Papi kelja." jawab gadis kecil itu.
"Baiklah, di mana rumah mu? biar kami antar pulang!" Papi Nervan ikut bicara.
Gadis kecil itu hanya menggeleng lemah. "Maaf Oom, Ateu, Akak, atu lapal!"
Kejujuran gadis kecil itu mampu merubah suasana, yang awalnya tegang kini berhias tawa. Sepertinya cepat sekali gadis kecil itu melupakan kejadian mengerikan baru saja.
"Oh kamu lapar. Baik, mari ikut Tante dan Om. Kebetulan kami sudah menyiapkan makanan di sebelah sana." tunjuk Mami Nervan.
Papi Nervan langsung menggendong gadis kecil tersebut. Sedangkan Nervan di rangkul sang Mami menuju ke tempat mereka menggelar kain dan berisikan berbagai hidangan di atasnya.
"Adik cantik, siapa namamu?"
pertanyaan Nervan di sela-sela santap mereka.
"Atu Luna. Bicakah Akak panggil atu putli Luna?" tanya gadis kecil yang mengaku bernama Luna.
__ADS_1
"Loh, memang namamu Putri Luna?" tanya Nervan lagi.
"Butan! atu Luna, Akak Panelan penelamat atu. Jadi pandiy atu putli Luna, Panelan!" serunya dengan nada kesal karena Nervan di anggap tidak mengerti dengan perkataannya.
"Oh jadi nama adik ini, Luna? dan ingin dipanggil Putri Luna oleh Kakak ini? oh yah ini namanya Kak Evan! dan sekarang Luna ingin Kakak Evan dipanggilnya pangeran penyelamat?" tanya Mami Nervan untuk lebih memperjelas.
"Nah, betuy beditu. Akak ini Panelan penelamat Putli Luna. Hihi cepelti dalam celita donen yang peynah atu dengay." jawab Luna dengan senyum senyum sendiri.
Akhirnya mereka pun ikut tertawa, menertawakan keluguan dan kelucuan Luna.
"Oke, kalau itu mau kamu! Kak Evan panggil kamu Putri Luna dan kamu panggil Kak Evan pangeran penyelamat." akhirnya Nervan menyetujui idenya Luna untuk memanggil putri dan pangeran untuk Luna dan untuk dirinya.
"Yeaay. Telima acih Akak, Ateu, Oom!" pekik kegirangan Luna.
"Masya Allah, lucu sekali Mih! boleh tidak, kita bawa pulang?" tanya Papi Nervan, sambil tersenyum kagum sembari memperhatikan Luna yang sedang berjingkrak ria.
"Hush Papi...memangnya barang, dibawa pulang. Ini anak orang lo Pih! Lalu bagaimana nih? kita tidak tahu dia tinggal di mana." sergah Mami Nervan.
"Atau... kita lapor ke kantor polisi Mih?" bisik Nervan karena takut Luna mendengar.
Papi dan Mami Nervan saling pandang, mendengar inisiatif dari Nervan. Namun, di saat mereka sedang kebingungan, terdengar dua orang wanita sedang memanggil atau tepatnya meneriaki Nama Luna. Sepertinya mereka sedang mencari Luna.
"Non Luna...!"
"Non Luna, kamu di mana?"
"Non..."
Teriakan dari dua orang wanita tersebut. Luna nampak terperanjat saat mendengar namanya di panggil.
"Atu tidak mau puyang!" ucapnya Luna dengan mata sudah mulai berkaca-kaca hendak menangis.
"Sayang? kenal dengan suara itu?" tanya Mami Nervan dengan lembut. Luna hanya mengangguk pelan. Bulir air matanya mulai berjatuhan.
"Putri Luna harus pulang dulu ke istana! nanti pangeran penyelamat akan datang menemui Putri Luna." ucap Nervan, ia seperti memiliki naluri, akan keengganan Luna untuk pulang.
"Janji, panelan akan datang?" tanya Luna dengan polos.
Nervan mengangguk sembari tersenyum. "Janji, pangeran akan naik kuda putih. Seperti yang ada di dalam dongeng, ia kan?" tanya Nervan dengan mengacungkan kelingkingnya, sebagai ucapan janji.
"Iya betul," ucap Luna.
"Kalau begitu, Putri Luna harus memberitahu orang-orang itu kalau Putri Luna ada di sini. Biarkan mereka menjemput Putri Luna dengan baik-baik." timpal Papi Nervan.
Luna yang masih menautkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking Nervan pun mengangguk, lalu ia tersenyum dan setelahnya ia berteriak memberitahu kepada orang-orang yang sedang mencarinya bahwa ia berada di tempat itu.
dua wanita itu menghampiri Luna. Lalu mereka memeluk Luna dengan menangis
maafkan kami Non atas keteledoran kami. Tolong Non Luna jangan pergi lagi. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?" ucap salah satu si wanita
"Tidak Mbak!" Luna pun mengangguk dan memeluk kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Maaf, Mbak-Mbak ini, siapa?" tanya Papi Nervan.
"Kami Babysitter-nya Non Luna. Tadi Non Luna terlepas dari jangkauan kami. Alhamdulillah ternyata ada di sini." jawab Baby sitter satunya.
"Maaf Pak, Bu! Non Luna amat tertarik jika melihat ada sebuah keluarga berkumpul. Maka ia akan menghampiri mereka dan ikut bergabung tanpa memberitahukan kami. Mungkin tadi Non Luna melihat kelurga ini sedang berkumpul dan Non Luna ikut bergabung." timpal Baby Sitter satunya.
"Maaf Mbak, bukan begitu cerianya. Tadi Anak ini sudah menggantung di tepi danau dan bergelantungan, hampir saja jatuh ke dalam danau. Untungnya, Putra kami melihat kejadian itu. Sehingga kami dapat bergerak dengan cepat untuk menyelamatkannya." Papi Nervan meluruskan pendapat yang tidak tepat dari Baby Sitternya Luna.
"Astaghfirullah'aladzim." ucap kedua wanita itu, tubuhnya nampak lemas seketika. Mungkin karena mereka terkejut.
"Sudah... jangan sampai kejadian ini terjadi dan terulang kembali, silahkan bawa pulang Nona kalian. Tolong jaga baik-baik, hari ini Alhamdulillah keberuntungannya," ucap Mami Nervan dengan lembut dan tersenyum kepada kedua Baby sitter itu.
"Terima kasih banyak Bapak, Ibu dan Adik. Kalau begitu Kami permisi." ucap keduanya.
Sebelum pergi, Luna berbalik. "Panelan janji akan datang menemui Putli Luna, kan?" tanyanya pada Nervan, ingin memastikan.
"Janji! maka dari itu... bantu pangeran berdoa, agar Allah mempertemukan kita kembali." ucap Nervan.
"Atu akan melayu Allah, Lewat doa." ucap Luna.
"Anak pintar!" Nervan mengacak pelan rambut lembut Luna, dengan gemas. Setelahnya Luna dan Baby Sitternya berpamitan.
Perpisahan itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi Nervan. Entah bagi Luna. Karena Anak sekecil itu terkadang masih plin-plan.
"Mih, anak kecil itu cantik sekali. Apa jika sudah besar masih cantik begitu?" tanya Nervan pada Maminya.
"Mungkin akan bertambah cantik. Ya ampun Pih, Anak kita naksir anak kecil!" seru Mami Nervan.
"Bisa saja Mami. Mm... seiring waktu, dia akan bertumbuh dewasa. Mungkin saat Evan usia dua puluh lima atau tiga puluh tahunan, Anak itu sudah siap dinikahi Pih, Mih!"
"Ngaco kamu!" ucap kedua orang tua Nervan. Lalu mereka tertawa. Karena sudah hampir sore, mereka pun mengemasi barang-barang bawaan dan mereka kembali pulang.
**
"Mas! Koq melamun?" Satrio mengagetkan Nervan yang tengah mengingat kejadian belasan tahun lalu saat pertemuan pertama dengan Crystal atau putri Luna-nya.
"Opss sorry Tio, Aku sedang melamunkan tentang pertemuan pertama kalinya dengan Cysa." jawab Nervan.
"Jadi betul Mas, Crystal itu Putri Luna, yang selama ini Mas ceritakan?" tanya Satrio dengan penasaran.
"Iya, itu menurut Papi dan entah Papi tahu dari mana? mungkin Papi mengenali Zafier waktu Zafier ke rumah Mami," ujar Nervan.
"Wah betul-betul mirip dongeng Mas. Kakek, Nenek Crystal dan Kakek,Nenek Mas Evan, dulu sudah menjodohkan kalian. Namun, karena sesuatu hal, kalian terpisah dan saat ini Crystal malah menjadi Istri Mas, tanpa di rencanakan sebelumnya. Apakah itu bukan suatu keajaiban?" tanya Satrio.
"Bisa dibilang begitu, ternyata jodoh yang telah dipersiapkan dari kecil. Sekarang menjadi jodoh betulan. Ke rumah Papi, Tio. Aku ingin menemui Crystal dan juga ingin meminta kejelasan pada Papi, mengenai Crystal adalah Putri Luna yang kucari selama ini." Pinta Nervan.
"Ok, Mas Bro!" balas Satrio.
Akhirnya keduanya hening. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing, Satrio fokus ke jalanan dalam menyetir. Begitupun Nervan, tatapannya menuju depan jalan namun, pemikirannya entah ke mana.
Bersambung...
__ADS_1