Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
41. Kamu Masih...?


__ADS_3

"Sayang, kamu masih...?"


Nervan menjambak rambutnya kasar, meninju headboard tempat tidur beberapa kali. Kini baru ia sadari tuduhan terhadap Crystal tidak Valid. Setelah puas melampiaskan amarahnya dan juga hasrat karena ia pikir Crystal menjual diri.


Ternyata Crystal masih suci. Nervan melihat banyak bercak darah di seprei dan juga terdapat bercak darah di antara dek Jhon dan Nduk Jhen, sebagai tanda kesucian Crystal.


Nervan menutupi tubuh Crystal dengan selimut. "Ma'afkan aku!" terdengar suaranya bergetar dengan mengecup dalam kening Crystal.


Crystal diam. Ia masih merasa lemah hingga pun hanya untuk bicara. Namun, isak tangisnya masih terdengar sesekali. Crystal membenamkan wajahnya pada bantal di sampingnya.


"Cysa! aku mohon bicaralah. Maki aku, pukul aku, balas perbuatan ku." ucap Nervan dengan mengiba. Tangannya berusaha mengelus kepala Crystal namun, kali ini Crystal menepisnya pelan. Rasanya sakit, melihat Crystal lemah seperti ini.


"Untuk apa, Mas? toh semuanya sudah terjadi. Aku istrimu, aku harus ikhlas di perlakukan apapun oleh mu! selama kata cerai belum kamu lontarkan." ucap lirih Crystal dengan tatapan sayu.


Saat ini, Crystal betul-betul tidak berdaya, ia terkulai lemah di balik selimut, tidur miring menghadap Nervan yang nampak frustrasi. Crystal merasa lelah fisik dan juga perasaan.


"Jangan katakan itu! please jangan pernah mengatakan itu lagi. Aku tahu, aku telah salah dan membuat perasaan mu terluka. Namun, sungguh aku mencintaimu, maaf... maafkan aku Sayang!"


"Aku terima, jika kamu hendak melampiaskan amarah padaku. Memakai, mencaci, memukul, menampar, silakan. Yang penting kamu tidak membenci ku, maaf Sayang! maaf..."


"Dengan memaki apalagi memukul Mas Nervan, maka hanya akan menghabiskan tenaga saja. Semarah apapun ku lampiaskan amarah ini, maka semua kemarahan ku, tidak akan mengembalikan kesucian ku, tidak akan menghilangkan rasa sakit yang telah Mas torehkan." jawab lemah Crystal dengan jawaban yang cukup menohok.


Nervan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Nervan menatap iba Crystal, ia amat merasa menyesal, kini matanya sudah berkaca-kaca, hendak menangis.


Ingin sekali Nervan memeluk Crystal namun, jangankan memeluk, baru menyentuhnya saja, Crystal sudah menepis tangannya dengan tatapan jijik.


Sedangkan Crystal nampak sudah memejamkan mata. Dari napas halus teraturnya, sepertinya Crystal tertidur dengan sisa air mata di ujung matanya. Lalu ia raih ponselnya untuk menghubungi Rendra. Namun, Nervan melihat notifikasi pesan dari Crystal. Itu kemarin.


"Mas Evan. Cepat kembali, Sayang!" lengkap dengan emoticon love.


"Mas, mengapa tidak dapat di hubungi. Aku rindu!"


"Mas, jangan lupa makan dan jaga kesehatan."


Di susul keterangan panggilan tidak terjawab sebanyak tiga belas kali. Lusa kemarin memang ada kerusakan tower di Bandung. Sehingga Nervan kehilangan sinyal dan ia belum kembali ke rumah karena banyak pekerjaan yang memaksa Nervan harus menginap di Bandung.


Pulang dari Bandung pun Nervan tidak lantas pulang ke rumah, karena harus bertemu Clientnya terlebih dahulu di hotel tempat ia melihat Crystal berpelukan dengan laki-laki lain.


"Mas! Kakakku pulang dari Jerman dan ingin bertemu kita berdua. Akan tetapi Mas sedang tidak ada di Jakarta. Maka dari itu aku menemuinya terlebih dahulu di hotel Angkasa. Aku sudah meminta ijin pada Mami dan Papi."


"Kakaknya?" bisik Nervan pada dirinya. "Astaghfirullah! ampuni hamba yang telah menorehkan luka pada Istri hamba ya Rabb."


Setelah membaca pesan dari Crystal. Nervan segera mengirim pesan kepada Rendra. Mengatakan bahwa laki-laki yang ia pukul adalah Kakaknya Crystal.


Nervan melihat ke arah Crystal. Ia tidak tahan lagi dengan rasa penyesalannya, setelah membaca pesan dari Crystal terlebih kini ia tahu siapa laki-laki yang bersama Crystal tadi, dia adalah Kakaknya.


Tanpa pikir panjang, Nervan meraih tubuh lemah Crystal ke dalam pelukannya. Nervan tidak peduli saat itu Crystal tengah terlalap.


"Ma'afkan aku sekali lagi." Nervan menangis tersedu-sedu. Crystal sebetulnya terganggu oleh perlakuan Nervan. Akan tetapi ia membiarkannya dengan tetap berpura-pura tidur.


Crystal butuh tenaga lebih kuat untuk ia pergi dari rumah Nervan dan entah hendak ke mana. Hanya Kakaknya yang mampu menolong dirinya. Maka ia berpikir akan menemui Kakaknya setelah tenaga dan suasana hatinya sedikit membaik.

__ADS_1


**


Di hotel, tempat kakaknya Crystal menginap.


"Ja-jadi Anda Kakaknya Cysa?" tanya Rendra setelah mendapatkan pesan dari Nervan dan selesai mengobati luka di wajah Kakaknya Crystal.


"Kan sudah saya katakan. Saya Kakaknya Cysa! kami baru saja bertemu dengan calon istriku beserta keluarganya. Berhubung orang tua kami sedang di luar negeri. Maka dari itu saya dan calon istri saya memutuskan untuk bertemu di hotel, agar memudahkan akses kami saat bertemu." Tutur Kakaknya Crystal.


"Ma'afkan atasan Saya! dia emosi melihat istrinya di peluk dan di cium laki-laki lain. Tapi percayalah, atasan kami itu laki-laki baik dan bertanggung jawab, dia tidak pernah main perempuan dari sejak pun masih single, apalagi saat ini setelah memiliki istri. Dia sayang dan cinta sekali terhadap Crystal." Ujar Rendra membela Nervan, walaupun memang keadaan yang sebenarnya seperti itu.


"Jadi... yang memukul saya dan membawa adik saya dengan kasar, itu suaminya?" tanya Kakaknya Crystal.


"Betul, o yah! perkenalkan Saya Rendra, rekan kerja suami Cysa , ini Rendi sekretaris Nervan dan Satrio," ujar Rendra.


Mereka sedang berada di lobby Hotel. Mengobati luka yang di alami Kakaknya Crystal.


"Saya Zafier. Kakak kandungnya Crystal." Ucap Zafier memperkenalkan diri.


"Honey! what happen with you? O my God." Tiba-tiba saja seorang perempuan cantik menghampiri Zafier. Lalu ia memeriksa wajah Zafier.


"I am not good Baby, someone has attacked me!" (Saya tidak baik-baik saja, Sayang, seseorang telah menyerangku). Jawab Zafier dengan meringis saat tangan perempuan itu menyentuh lukanya.


"Diabolical!" (Jahat) ucap si perempuan nampak geram. Perempuan tersebut adalah calon Istrinya Zafier, yaitu Verline Willow.


"He is Cysa's husband, who has misunderstood me!" (Dia suami Cysa yang telah salah paham padaku!) balas Zafier.


"Oh My God! then... what happen with Cysa?" (Ya Tuhan! lalu... apa yang terjadi pada Cysa?") tanya Verline.


"Brought by her husband, and I don't know what's happened with her." (Di bawa oleh suaminya. Dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengannya.) jawab Zafier dengan sedih.


"Tahu Mas, Zafier. Mau saya antar?" tanya Rendra.


"Jika tidak keberatan."


"Oh tentu saja tidak, Mas! mari."


Rendra mengajak Zafier menuju rumah Nervan. Verline ikut serta, begitu dengan Rendy dan Satrio. Mereka juga turut serta.


**


Plak!


Sebelah telapak tangan Papi mendarat mulus di pipi kiri Nervan. Papi Nervan baru saja menamparnya.


"Papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi manusia hina! melakukan perbuatan hina, terlebih kepada istrimu sendiri." ucap Papi Nervan dengan amarah yang memuncak.


"Maafkan Evan Pih! Evan Khilaf." ucap Nervan, masih berdiri dengan memegangi pipinya yang terasa panas.


"Minta Maaf? mudah Van, sangat mudah kata maaf itu. Akan tetapi tidak semudah dalam memaafkan kejadian ini. Kamu pernah berpikir? Crystal bisa trauma hebat karena perbuatan mu!" bentak Papi Nervan kembali.


Nervan duduk di sofa dengan lesu, menunduk dan menangis. "Evan tahu, kalau Evan sudah salah Pih. Apa tidak ada kesempatan untuk Evan minta maaf?" tanya Nervan pelan di sela tangisan tanpa bersuara.

__ADS_1


"Papi kecewa terhadap mu! Papi menitipkan Cysa dengan kesungguhan. Apa yang harus Papi katakan kepada orang tuanya, kalau ternyata Putra Papi sendiri, suami dari Putri mereka, yang seharusnya melindungi putrinya malah menyakitinya dengan keji." ucap Papi dengan meneteskan air mata.


"Cysa sudah pamit kepada Papi dan Mami. Ketika ia hendak bertemu dengan Kakaknya, yang hendak melangsungkan pertunangan tanpa kedua orang tua mereka. Karena kedua orang tuanya, sulit untuk dihubungi. Maka dari itu, Cysa yang datang untuk menemani Kakaknya bertunangan. Papi yang mengijinkan Cysa pergi, Van! karena ponsel kamu tidak dapat dihubungi." ujar Papi.


Nervan menarik napasnya pelan. Saat ini kata maaf pun sudah tidak ada guna. Kata maaf itu tidak akan pernah mengembalikan keadaan Crystal pada keadaan semula. Rasa sakit yang telah Ia torehkan, akan tetap membekas dalam ingatan Crystal.


Tadi, saat Crystal bangun dari tidurnya, ia tidak mau bicara dengan Nervan. Crystal malah hendak pergi namun, Nervan berhasil menahannya.


Crystal membatalkan kepergiannya. Namun, Ia hanya minta diantar ke rumah Mami Nervan dan Nervan setuju. Lebih baik di rumah papi dan Maminya karena Crystal akan aman.


Namun, karena Crystal menangis saat memeluk Mami. Maka Papi mulai mendesaknya dengan pertanyaan, apa yang menyebabkan Crystal menangis.


Akhirnya Nervan sendiri yang menceritakan kejadian sebelumnya, bahwa ia cemburu dan menodai Crystal dengan paksa. Nervan sendiri akhirnya membuka keadaan rumah tangganya selama ini, bahwa Nervan masih dapat menjaga keutuhan Crystal karena ingin mendapatkan restu terlebih dahulu dari orang tua Crystal.


Akan tetapi, siang ini ia gagal menjaga Imannya, ia lupa akan prinsipnya. Nervan melukai Crystal dengan kata-kata dan perbuatannya Karena rasa cemburu. Nervan melukai batin juga fisik Crystal pada akhirnya.


Maka dari itu Papi yang terlanjur emosi mendengar pengakuan dari Nervan tersebut melepaskan emosinya dengan mendaratkan sebuah tamparan di wajah Nervan.


"Sayang maafkan aku!" Nervan menghampiri Crystal dan ikut duduk di lantai, seperti Crystal yang sedang duduk bersimpuh di dan meletakkan kepalanya di pangkuan Mami yang memang duduk di kursi roda.


"Aku sudah memaafkanmu Mas, kamu dengar kan? dari sejak kita di rumah. Tadi Aku sudah memaafkan Mas, akan tetapi untuk saat ini, aku butuh waktu untuk menenangkan diri tolong hargai keputusan ku." ujar Crystal lirih.


"Sayang, sungguh aku menyesali perbuatanku."


"Pulanglah Nak! Mami tidak tahu harus bicara apa? Mami tidak tahu lagi harus marah seperti apa? Mami sedih Sayang dengan kejadian ini. Namun, lebih baik kamu pulang dulu. Untuk sementara mungkin kalian berjauhan dulu. Biarkan Cysa tenang di sini. Jika kamu begini terus, tidak menutup kemungkinan Mami akan kembali anfal." ucap Mami pelan, dengan berurai air mata.


Nervan menghela nafasnya pelan. "Baik Mih, Evan pulang." ucapnya dengan tidak bersemangat. Nervan juga harus memikirkan kondisi Maminya yang belum sepenuhnya pulih.


Setelah mengecup kening Crystal cukup lama dengan uraian air mata, menandakan penyesalannya dan mencium kedua tangan orang tuanya. Nervan berpamitan dengan berjalan lesu. Nervan terpaksa keluar dari rumah orang tuanya dengan gontai.


Crystal kembali menangis, Mami dan Papi Nervan berusaha menghiburnya. bahkan semua asisten rumah tangga Mami juga ikut menghibur Crystal, akhirnya semua isi rumah itu tahu tentang Nervan yang sudah menggagahi istrinya sendiri secara paksa. Hingga kini Crystal sudah beranjak ke kamar, setelah menangis lama Crystal kembali tertidur di kamar itu.


Sedangkan Nervan kembali ke rumahnya dengan hati yang gundah, dengan perasaan yang tidak menentu. rasa bersalah, sakit, kecewa terhadap diri sendiri bercampur menjadi satu. ketika ia sampai di rumah, Nervan mengerutkan dahi. Beberapa orang telah menunggunya di beranda rumah Nervan.


Nervan segera turun dari mobil, dan ia lihat pria dengan wajah penuh luka akibat ulahnya. Ia tahu, itu kakaknya Crystal.


"Hai laki-laki kurang ajar! kemanakan adik perempuan kami?" sentak perempuan dengan nada ke bule-bulean. Itu adalah Verline tunangannya Zafier. Ia begitu geram ketika melihat Nervan turun dari mobil. Ia tahu itu Nervan, karena Rendra yang memberitahukannya.


"Maaf, anda siapa?" tanya Nervan sopan.


"Tidak perlu tahu siapa saya." ucapnya dengan logat masih keinggris-inggrisan. "Kemanakan calon Adik ipar ku? katakan, kamu buang kemana?" desak Verline


"Saya tidak membuangnya! tenang Nona. Cysa sudah berada di tempat yang aman." jawab Nervan pelan.


Verline mengangkat tangannya hendak menampar Nervan namun, Zafier menahannya.


"Jangan, honey!"


Nervan tertegun saat melihat Zafier menghentikankan aksi kekasihnya.


Jafier berdiri dengan tegap, walaupun dengan wajah yang nampak memar. "Kita perlu bicara," ucapnya dingin dan tegas.

__ADS_1


"Ba-baik! silakan masuk," balas Nervan dengan sedikit terbata. Ia sudah pasrah jika pun Kakaknya Crystal mau menghajarnya kembali.


Bersambung...


__ADS_2