Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
66. Kawan Lama.


__ADS_3

Akhirnya Crystal bersama Nervan, sampai di Villanya, yang ada di daerah Bogor dengan selamat. Crystal sebelumnya telah mengabarkan lewat pesan kepada Zafier bahwa mereka berhasil kabur.


Zafier segera meninggalkan Gibran, yang akhirnya kelimpungan mencari Crystal. Sedangkan Rendra, ia pun memilih kabur setelah para orang Nervan telah sampai di tempat itu dan menggantinya berkelahi dengan para bodyguard Papi Harsyal.


Di tempat Papi Harsyal.


Plak!


Plak!


Bukh!


Bukh!


Rupanya tentang Nervan yang membawa kabur Crystal, sudah sampai di telinga Papi Harsyal. Kini ia sedang melampiaskan amarahnya kepada para Bodyguard-nya.


"Bodoh! hanya mengejar anak ingusan itu, Kalian gagal? untuk apa aku membayar mahal kalian, kalau hanya sebuah kegagalan yang ku terima!" Papi Harsyal murka, ia menampar dan meninju para orangnya dengan arogan.


"Maafkan kami, Tuan!"


"Masih berani bicara kamu? Hah!" Papi Harsyal mendekat pada salah satu Bodyguard yang baru saja bicara. Lalu ia menamparnya lagi.


Si Bodyguard meringis, memegangi bekas tamparan Papi. "Saya kasih kesempatan satu kali lagi. Temukan mereka! bawa Crystal pulang dan serahkan pria itu ke kantor polisi."


Papi Harsyal berkata dengan tegas. ia betul betul sudah gelap mata! tidak memikirkan keselamatan apalagi kebahagiaan putrinya, misi-nya hanya memisakan mereka berdua. walaupun putrinya harus menderita dan menantunya masuk kantor polisi, dia tidak peduli.


"Ba-baik Tuan!"


**


Nervan telah sampai di Villanya. Untuk sementara Nervan dapat tenang, tinggal di Villa tersebut.


Mobilnya, Nervan sembunyikan di garasi belakang. Dari depan, Villa itu nampak sepi.


"Alhamdulillah Mas! akhirnya kita terbebas dari mereka." Crystal bergelayut manja di pangkuan Nervan, setelah sebelumnya ia mandi, berganti pakaian dan NervanĀ  memasak sesuatu untuknya.


"Ia Sayang! Alhamdulillah." Nervan menatap hangat Crystal. "ngamar yuk!" bisiknya.


"Mau apa ngamar?" tanya Crystal pura-pura tidak paham.


"Sayang! Dek Jhon rindu pada Nduk Jhen." Senyuman mesum nampak dari bibir seksi Nervan.

__ADS_1


"Genit! masih siang kali Mas!" ledek Crystal namun, pelukannya makin erat di leher Nervan. Buah anu yang kini menempel di tubuh Nervan bagian depan dan juga hembusan napas Crystal yang menerpa lehernya malah memacu adrenalin kelelakian Nervan.


Siang itu Nervan dan Crystal tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka kembali menyatukan Dek Jhon dan Nduk Jhen yang sudah agak lama terpisah, lewat asmara menggebu, Crystal mendapatkan kembali kebahagiaannya.


***


Sembilan hari sudah, Crystal dan Nervan tinggal bersama. Kini keduanya sudah tidak berada di Villa lagi. Akan tetapi Nervan berhasil membawa Crystal pulang ke rumahnya, dua hari yang lalu.


Kabar dari Zafier, Papi Harsyal masih terus mencari keberadaan Crystal. Sejak hari itu, di mana Crystal berhasil Nervan bawa pergi. Zafier tidak pernah pulang ke rumahnya.


Keberadaan Zafier pun, belum mereka ketahui ada di mana, hanya yang Crystal dan Nervan tahu, Zafier sedang mencari bukti sebagai kelemahan dari keluarga Gibran, untuk di tunjukan pada Papi, agar Papi Harsyal mau membatalkan ide dalam menjodohkan Crystal.


Siang ini, Zafier terpaksa pulang ke rumahnya, apapun yang terjadi ia tidak peduli. Sang Mami sakit, itu yang Art-nya Katakan di telepon.


Setelah mengucap salam, Zafier langsung menuju ke kamar orang tuanya. Sepertinya sang Papi sedang tidak ada di rumah. Mungkin ia pergi ke kantor.


"Mam ...." ucap Zafier yang melihat Mami terkulai lemah di atas tempat tidur, hanya ditemani para Art.


"Sayang, akhirnya kamu pulang Nak! Mami rindu akan kalian. bagaimana keadaan Cysa?" tanya sang Mami.


"Crystal baik, Mih. Lalu ... Mami sendiri kenapa? Mami sakit apa, Mih!" Zafier duduk di sisi tempat tidur. Lalu ia menggenggam tangan sang Mami.


"Mami tidak apa-apa Kak! hanya mengalami kelelahan, karena kurang tidur. Sejak kalian pergi dari rumah, Mami kesepian dan waktu Istirahat Mami jadi tidak teratur."


"Sudahlah Nak! tidak mengapa. Saat ini Crystal di mana? apakah kehamilannya baik-baik saja, Kak?" tanya Mami Angelita dengan nada lemah.


"Crystal aman bersama Nervan, Mih! kandungannya baik koq." balas Zafier. "Mami harus kembali sehat! atau mau ikut bersama Kakak Mih, pergi dari rumah ini?" tanya Zafier.


Mami Angelita tersenyum agak lemah. "Mami di rumah saja. Menantikan kalian kembali. Selama sikap Papi baik terhadap Mami. Maka tidak ada alasan untuk Mami pergi meninggalkannya Papi, Kak!"


"Baik Mih. Tidak mengapa, yang penting Mami cepat sehat. Kakak akan secepatnya menemukan bukti ketidak beresan dari keluarga Gibran. Sehingga hati Papi luluh jika ia melihat kecurangan Gibran dan keluarganya, Empat puluh persen, bukti sudah di tangan Mih."


"Baiklah! semoga Kakak dapat secepatnya mengumpulkan bukti, untuk membuka mata Papi, agar menyadari kesalahannya."


"Tentu, Mih! maaf Kakak tidak dapat berada lama di sini, Mih!"


"Loh, Mami pikir Kakak kembali dan akan tinggal di sini lagi."


"Tidak Mih, Kakak belum bisa pulang ke rumah ini. Nanti Kakak akan pulang bersama Crystal dan Nervan.


Mami mengangguk paham. Setelah berpamitan dengan di hiasi air mata Mami. Zafier bergegas pergi dari rumah sang Ayah. Ia harus secepatnya pergi dari rumah itu, agar tidak bentrok dengan sang Ayah.

__ADS_1


Zafier baru saja hendak membuka pintu mobil, saat suara bariton sang Ayah, sukses menghentikan pergerakan Zafier untuk membuka pintu mobil.


"Anak kurang ajar! berani juga kamu pulang!" ujar sang Papi dengan nada suara tinggi serta sorot kemarahan.


"Tenang saja Pih! Zafier hanya melihat kedatangan Mami. Setelah ini hendak pergi koq." Zafier nampak cuek. Hilang sudah wibawa sang Ayah di hadapannya.


"Papi tidak peduli. Yang Papi inginkan, Cysa kembali. Katakan dimana Crystal? kemana laki-laki itu membawa dan menyembunyikannya?" sarkas Papi


"Maka, aku tidak akan mengatakannya,"


"Kurang ajar! berani menentang Papi. Ingat Fier, tanpa kamu beri tahukan di mana Cysa. Maka Papi akan menemukannya.


"Silakan Pih! lakukan saja, permisi!" Zafier segera menaiki mobil Jeep kesayangannya.


"Lihat saja Fier, Papi akan menang dari kamu." Papi Harsyal mengepalkan tangannya erat.


Setelah itu Papi Harsyal masuk ke dalam rumah dan segera menemui Mami di kamar. Selain untuk mengecek keadaan Mami. Papi Harsyal juga ingin mengorek keterangan dari Mami, mungkin dia tahu Crystal ada di mana.


Namun, harapan Papi Harsyal pupus sudah. Mami tidak mendapatkan informasi lebih dari Zafier. Jadi, ia pun tidak tahu Crystal dan Nervan berada saat ini.


"Baiklah Mih, Papi masih ada urusan di luar. Papi pergi dulu! Mami baik-baik dan kembali sehat secepatnya ya Mih!" Papi Harsyal mengecup kening Mami dengan khidmat.


Papi Harsyal sebetulnya orang yang baik dan penuh kasih Sayang. Akan tetapi kesalah pahaman terhadap Papi Aarlic di masa lalu yang menyisakan kekecewaan, maka rasa benci akan penghianatan tumbuh menjadi dendam, dan kini telah membuatnya buta perasaan karena tertutup amarah.


"Pergilah, Pih! Mami akan baik-baik saja." Mami Angelita tersenyum dan setelah di jenguk Zafier, keadaannya berangsur membaik. Mungkin itu adalah reaksi dari rasa kehilangan dalam beberapa hari ini, maka saat sang Putra menemuinya, seperti ada kekuatan menguasai tubuh Mami hingga keadaannya kini membaik.


Papi Harsyal pun pergi kembali. Kantor Papi Aarlic tujuannya kali ini. Setelah melalui tiga puluh menit perjalanan. Kini Papi Harsyal sudah berada di gedung perkantoran, milik Papi Aarlic.


Papi Harsyal di persilakan naik ke lantai dua puluh oleh resepsionis, tepatnya kantor Papi Aarlic.


"Hai ... kawan lama ku! akhirnya kamu datang menemui ku, aku rindu bercengkrama dengan mu, kawa!" sambutan baik dari Papi Aarlic dan itu tulus bukan basa-basi.


"Tidak perlu sok bersikap ramah padaku! aku hanya ingin menanyakan keberadaan anakku yang di bawa kabur anak mu!" ketus Papi Harsyal.


Papi Aarlic nampak tertegun sejenak. Ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Papi Harsyal. Karena ia tidak mengetahui jika Nervan membawa Crystal pergi.


"Apa maksudmu?" tanya Papi Aarlic.


"Tidak perlu berpura-pura, jelas-jelas anak mu membawa lari putri ku sejak sembilan hari yang lalu." balas Papi Harsyal masih dengan sikap dingin.


"Aku tidak berpura-pura. Memang aku tidak tahu, jika Nervan membawa Crystal pergi. Sudah sepuluh hari anakku di Bandung. Dia sedang menangani pabrik textile peninggalan Kakeknya."

__ADS_1


"Heh, aku tidak percaya! kamu pura-pura bodoh ya? kembalikan Putriku! katakan kemana anakmu membawanya?" sarkas Papi Harsyal.


Bersambung ...


__ADS_2