
Sekali lagi Nervan memandang Crystal dengan sendu, sebelum akhirnya beranjak dari sisi tempat tidur. Ia berjalan dengan enggan. Nervan tahu perasaan Crystal tidak baik-baik saja saat ini.
Crystal memang mengangguk ketika ia meminta maaf. Namun apakah itu tandanya ia memaafkan! belum tentu. Nervan akan kembali meminta maaf nanti setelah urusan Cctv itu selesai pikirnya.
"Mas!"
Panggilan pelan Crystal, menghentikan langkah Nervan, ketika tangannya sudah memutar handle pintu dan hendak membuka daun pintu.
"Ya, Sayang!"
Nervan reflek menoleh. Ia masih berdiri di depan pintu yang belum ia buka.
"Terima kasih. Aku memaafkan mu, dan harus kamu tahu, sampai kapan pun aku menyayangi Mas Nervan!" Ujar Crystal. Kini ia telah duduk di sisi tempat tidur.
Nervan kembali menghampiri Crystal. Ia berlutut di hadapan Crystal dengan menggenggam kedua tangan Crystal. "Sayang! terima kasih telah memaafkan kekhilafan ku. Aku juga sayang kamu. Sampai kapan pun. Aku janji, kamulah Cinta terakhir dalam hidupku."
Kemudian Nervan mengecupi tangan dan beralih ke wajah Crystal, dengan beberapa bulir air mata jatuh tanpa permisi.
"Sudah Mas! pergilah untuk membuka pintu, aku akan mandi terlebih dahulu. Lalu menyusul Mas, ke bawah setelah mandi."
"Mau aku temani, setelah membuka pintu. Aku akan kembali kemari untuk membantu Kamu mandi."
"Terima kasih. Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ujar Crystal.
"Yakin bisa sendiri?"
Crystal menggangguk dengan tersenyum. "Baiklah, aku tinggal ke bawah, mandinya jangan lama."
Nervan lagi-lagi memandang sendu wajah Crystal. Dan Crystal pun mengerti akan tatapan dari suaminya itu. Apalagi kalau bukan sebuah penyesalan.
Setelah Nervan berlalu dari kamar mereka. Crystal pun segera pergi mandi. Walaupun kegiatan intim itu belum sepenuhnya terjadi, namun tetap saja membuat Crystal meringis ketika berjalan. Karena dek Jhon Nervan hampir lolos sebetulnya.
Kini ketika guyuran air hangat dari shower menyiram tubuhnya. Di beberapa bagian terasa perih atas perlakuan Nervan. Crystal kembali menangis di bawah guyuran air yang teratur dari Shower. Lebih ke tangisan lega sebetulnya.
Di lantai bawah.
Nervan baru saja membukakan pintu untuk ketiga orang yang kini telah nyelonong masuk tanpa permisi. Nervan sendiri di lupakan begitu saja oleh mereka saat para bawahannya main nyelonong masuk.
"Ya ampun. Hot!" ujar Rendra. Langsung nyelonong ke arah kulkas dan mengambil minuman dingin. Lalu menenggaknya dengan cepat.
"Van, Van, di luar udah Hot. Di dalam jangan ikutan Hot juga dong! tuh Korbannya, jomblo-jomblo akut. Sampai lama nunggu di luar." Tunjuk Rendra pada Rendy dan Satrio.
"Eh koq kita? Mas Rendra kali tuh yang tadi ngedumel." Protes Satrio dan mendapatkan tatapan ancaman dari Rendra.
Sedangkan Rendy dan Nervan mengekek geli.
"Ya lu pada ganggu gue. Gagal dah ritual cari keringat siang-siang." Protes Nervan.
"Hei Bos! Anda lupa? yang nyuruh Kami ke sini itu siapa?" hardik Rendra.
Sedangkan nampak Rendy dan Satrio mengambil minuman kaleng dari tangan Rendra dan mereka membuka lalu meminumnya.
__ADS_1
Keempat laki-laki tampan tersebut kembali duduk di sofa secara berbarengan.
"Gimana?"
Tanya Nervan, yang merasa penasaran dengan hasil rekaman Cctv kantornya.
"Gila! tuh perempuan gila, Van! gue gak habis fikir, koq lo bisa gitu bertahun-tahun jatuh cinta pada perempuan ini." Ujar Rendra.
"Khilaf gue!" tegas Nervan.
"Khilaf, apa enak?" dengus Rendra.
"Sialan lu, gue gak pernah ngapa-ngapain, selain peluk sama ci~"
"Mas..." panggil Crystal di ujung tangga, ia merasa risi ketika hendak turun.
"I~ia, Sayang!" jawab Nervan gugup sambil berdiri.
"Huh elo sih! tuh, bini gue denger gak ya?" gerutu Nervan pada Rendra sembari memukul pelan bahu Rendra.
Rendy dan Satrio nampak cengengesan menyaksikan kedua sahabat yang kadang mirip tom and Jerry tersebut.
"Ya mana gue tahu! lo sendiri yang bongkar aib!" cibir Rendra.
"Elu yang mulai!" sentak Nervan.
"Eh nyolot! urusin bini lu tuh. Tar ngamuk berabe." Rendra mendorong pelan pinggang Nervan.
"Mas... sudah, itu Mbak Cysa manggil!" Satrio memberi peringatan.
"Ia ia ... ini mau jalan, si kampret nih gak mau diem!" Nervan menuding hidung Rendra dengan telunjuknya..
"Pak! kalian seperti anak kecil saja!" Rendy ikut bicara dan tertawa pelan.
"Mas!" terdengar Crystal kembali memanggil Nervan.
"Ia, Sayang!" Nervan segera melangkahkan kaki menuju tempat Crystal sedang berdiri.
"Ia Sayang?" Nervan naik tangga menghampiri Crystal.
"Mas, maaf! aku tidak bisa turun tangga! rasanya risih, tolong bimbing aku."
"Sakit ya?"
"Sedikit!"
"Maafkan aku!"
"Sudah Mas! mari kita selesaikan masalah ini," Crystal tersenyum penuh ketulusan.
Nervan malah makin merasa bersalah. Harusnya Crystal marah padanya. Agar ia merasa lega, jika Crystal berlaku sebaliknya, Nervnan semakin di dera rasa bersalah.
__ADS_1
"Baik! mari." Nervan membimbing Crystal yang nampak meringis. Sesakit itu kah? bagaimana jika Nervan sampai berhasil menjebolnya?
Nervan tersenyum canggung, berusaha menyembunyikan rasa bersalahnya.
Akhirnya mereka sampai di hadapan Rendra, Rendy dan Satrio. "Mana Men, coba putar hasil rekamannya." pinta Nervan pada Rendra.
"Nih!" Rendra memutar video rekaman Cctv tersebut.
Rekaman di ambil dari part Nervan tiba di kantor. Nampak Nervan tiba dengan Rendy, lalu Rendy keluar, sekertaris Nervan masuk dan Nervan memberikan sebuah map. Setelahnya sekretaris itu keluar.
Nervan membuka jasnya, menarik lengan kemejanya dan sempat melihat jam pada pergelangan tangannya. Lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa.
Sekitar lima belas menit, Nervan sepertinya sudah terlelap. Tiba-tiba pintu ruangan Nervan terbuka, seorang perempuan muncul dari arah luar. Ia masuk dengan santai. Di perlihatkan juga rekaman di arah luar pintu kantor Nervan. Nampak sepi, itu sudah masuk jam makan siang. Sepertinya sekretaris Nervan sedang keluar makan siang.
"Lihat Sayang, aku tertidur dan perempuan itu masuk. Lalu dia hampir meruda paksa aku dalam keadaan terlelap." ujar Nervan menunjuk layar monitor
Crystal nampak tersenyum lega, setelah Cctv itu selesai di putar, hingga dirinya yang masuk dan langsung pergi sambil menangis pun tidak luput dari bagian rekaman itu.
"Sapa dia, Mas?" tanya Crystal.
Nervan menelan kelu salivanya, ia bingung harus menjawab apa. Jujur atau tidak?
"Mantan kekasihku." jawab Nervan jujur. "Itu dulu, Sayang! jangan di anggap serius ya. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadapnya. Percayalah hatiku sudah penuh oleh perasaan cinta terhadap mu, mana mungkin ada perempuan lain."Nervan meyakinkan Crystal dan itu memang benar adanya.
Namun Rendra, Rendy dan Satrio memasang wajah jengah dan pura pura hendak muntah. Kelakuan tiga orang tersebut, mendapatkan tatapan yang mengancam dari Nervan
"Ren, Tio... balik yuk! urusan kita dah selesai di sini, takut ganggu yang lagi belajar ngegombal." Rendra berdiri dari duduknya dengan menyindir Nervan.
"Balik sana! ganggu aja kalian!"
seru Nervan. Membuat Rendra, Satrio dan Rendy geleng kepala.
"Dasar Bos gak tahu diri, dah di bantu malah ngusir." sindir Rendra lagi dengan berjalan ke arah pintu di ikuti dengan Rendy dan Satrio.
"Udeh sana! ngedumel aja, cepet tua lu Ren, bonus untuk kalian dah gue transfer, hari ini gue kasih kelonggaran, gak perlu balik kantor!" ujar Nervan.
"Asiiip Bos!" jawab serempak dari mereka dengan sumringah.
"Huh, kalau sudah menyangkut dengan uang baru sumringah," gerutu Nervan. Membuat ketiga bawahnya tertawa sambil berlalu dari rumah Nervan.
"Mas...," Crystal memperhatikan Nervan.
"Hehe bercanda, Sayang!"
"Mas belum menceritakan tentang perempuan itu." Crystal menatap wajah Nervan dengan serius.
"Hem, janji tidak akan cemburu!" pinta Nervan.
"Janji!"
Bersambung....
__ADS_1