Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
73. Pulang.


__ADS_3

Nervan tampak tertegun, dengan perubahan Papi Harsyal yang tiba-tiba baik. Haruskah Nervan percaya atau dia perlu curiga? dengan perubahan drastis Papi mertuanya.


"Langsung saja Van! Papi ... ingin meminta izin bertemu dengan Crystal." ucap Papi Harsyal tanpa basa-basi.


"Oh begitu!" Nervan sedikit terkejut, "bisa kok, P-Pih." ujarnya.


"Baiklah, terima kasih." balas Papi Harsyal.


"Kalau begitu, ke rumah sakit bersama dengan Saya?" tanya Nervan. Papi Harsyal pun mengangguk pertanda setuju.


Tanpa bertele-tele, akhirnya mereka keluar dari ruangan Nervan dan menuju ke parkiran garmen tersebut, Nervan dan Papi Harsyal menaiki mobil masing-masing. Ada sekilas senyum mencurigakan di ujung bibir Papi Harsyal.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit, Nervan bergegas menuju ke kamar Crystal, Nervan berjalan berbarengan dengan papih Harsyal.


Nervan segera masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut, sembari mengucapkan salam setelah memutar handle pintu dan masuk ke dalam.


"Wa'alaikum salam. Mas sudah kembali," Crystal nampak sumringah. Namun, senyumnya tidak berlangsung lama saat ia melihat siapa yang berada di balik Nervan.


"Mas?" Crystal yang sudah berjalan sebanyak dua langkah hendak menyambut suaminya, kini ia mundur perlahan. Nervan paham akan perubahan sikap Crystal.


"Papi ingin bertemu dengan mu, Sayang! tidak apa-apa ya?"


"Tidak! untuk apa Papi ke sini, belum puas membuat aku menderita? aku tidak mau bertemu dengannya, Mas!" Crystal histeris.


"Sayang! ada aku, Papi sudah berubah kok. Tidak seperti kemarin." Bujuk Nervan.


"Tidak Mas. Aku tidak percaya begitu saja, belum lama Papi baru dari sini dan Papi membuat keonaran di depan pintu. Jadi aku tidak percaya,jika Papi bisa berubah baik secepat itu," ucap Crystal.


"Sayang! percayalah kepada Papi. Papi sudah berubah, Papi ingin bertemu kamu Nak!" terdengar suara Papi Harsyal yang mengiba.

__ADS_1


Crystal menggelengkan kepala masih tidak percaya dengan perubahan sang Papi. Ia tahu siapa Papinya, walaupun baik namun, keras kepala. Apalagi jika keinginannya belum terpenuhi.


"Sayang, jangan seperti itu. Tolong sambut Papi mu dengan baik." Nervan mendekati Crystal, lalu ia meraih kedua tangannya, menggenggam erat, menatap Crystal dengan kesungguhan dan penuh cinta.


"Maaf Mas, aku butuh waktu. Tidak mendadak seperti ini. Kamu lupa dengan perlakuan Papi selama ini?" tanya Crystal.


"Iya, aku paham Sayang! tapi tolong, untuk kali ini, terima dulu Papi mu. Beliau sudah datang ke sini dengan niat baik, ingin bertemu dengan mu. Ada aku di sini, di luar penjagaan ketat. Tidak perlu takut." Bisik Nervan.


Pada akhirnya, Crystal mengangguk. "Jangan berjauhan dari ku! selama Papi belum pergi dari sini." Bisik Crystal kembali. Nervan mengangguk dengan tersenyum.


Crystal tersenyum ke arah Papi Harsyal. Papi Harsyal yang mendapat senyuman Crystal. Ia segera menghampiri Crystal setelah mendapatkan anggukan dari Nervan.


"Sayang!" Papi Harsyal memeluk Crystal.


"Pih," Crystal membalas pelukan sang Papi. Namun, ada yang janggal. Papi Harsyal tidak mengucapkan kata maaf, seperti halnya orang yang biasanya menyesal setelah berbuat kesalahan.


Cukup lama Papi Harsyal berada di ruang VVIP tersebut. Hingga akhirnya ia pamit.


"Papi pulang! besok kalau sempat, Papi akan kembali kemari." ucapnya.


"Iya Pih." ucap serempak Nervan dan Crystal.


Malam hari,


"Mas! aku koq khawatir dengan sikap Papi ya." ujar Crystal saat mereka tengah bersantai di atas brangkar pasien, yang sudah seperti tempat tidur di rumah.


"Tidak perlu khawatir, Sayang! aku sudah memperketat penjagaan, beberapa penjaga akan seperti bayangan, mereka tidak akan terlihat."


"Maksudnya?" tanya Crystal.

__ADS_1


"Jadi begini Sayang! mereka akan ada di mana-mana. Tugas mereka melakukan pengawasan dengan pengintaian. Mereka akan segera bertindak jika sesuatu hal akan membahayakan kita." Tutur Nervan.


"Oh begitu, Mas! maaf Mas. karena Papi, Mas Evan harus mengeluarkan uang banyak, demi membayar para penjaga." ujar Crystal menangkup pipi Nervan dengan kedua tangannya.


"Tidak mengapa, Sayang! sebelum ada kisruh dengan Papi pun, aku memang telah menempatkan orang-orang ini, di berbagai sudut. Hanya jumlahnya lebih sedikit, untuk penjagaan saja." ujar Nervan dengan menggenggam tangan Crystal yang masih berada diantara pipinya.


"Terima kasih Mas, kamu memang Suami terbaik." Puji Crystal membuat Nervan tersipu malu.


Hampir satu bulan kemudian,


Papi Harsyal betul-betul tidak menggangu Crystal. Namun, ia hanya sesekali saja menemui Crystal. Orang tua Nervan, Mami Angelita, Zafier dan Verline hampir tiap hari menemani Crystal di rumah sakit. Termasuk orang tuanya Verline, mereka sesekali datang untuk menemui Crystal dan juga bayinya.


Hari ini Baby Akhtar Aileen Skyner, sudah di perbolehkan pulang. Setelah perkembangan pada organ tubuh dan juga berat badannya dinyatakan stabil.


"Baby Akhtar, akhirnya kita pulang ke rumah, Sayang!" ujar Crystal saat Baby Akhtar sudah berada di dalam gendongannya. Ia mengecup gemas pipi yang mulai mengembang itu.


Bayi berusia dua bulan dan berkulit putih itu berparas tampan. Sepertinya mewariskan wajah dari Crystal dan Nervan. Baby Akhtar tersenyum, saat pipinya di kecupi oleh Crystal. Sepertinya ia mengerti, bahwa yang mengajaknya main, adalah ibunya.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Nervan yang baru saja masuk ke dalam ruangan VVIP itu, setelah menyelesaikan segala administrasi.


"Siap dong, Papa." jawab Crystal dengan mengecilkan suaranya, dia melambaikan tangan baby Akhtar ke arah Nervan.


"Ok! mari Papa gendong." Nervan menghampiri Crystal dan bayinya yang berada di atas tempat tidur.


Lalu ia meraih baby Akhtar dari gendongan Crystal dan di bawa ke dalam gendongannya, mereka keluar dengan saling tersenyum, sebelah tangan Nervan merangkul bahu Crystal. Untuk barang-barang Crystal dan baby Akhtar sudah di masukkan ke dalam mobil, oleh para bodyguardnya tadi.


Nervan betul-betul telah menjadi suami sekaligus ayah siaga. Beberapa orang suster yang kebetulan berpapasan dan mengenal mereka, saling menyapa dengan ramah, dan mengucapkan selamat atas kesembuhan mereka.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2