Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
55. Cysa Bukan Tahanan.


__ADS_3

Beberapa waktu sebelumnya,


Acara makan malam kali ini sepertinya, terjadi pada sikon yang tidak tepat. Papi Harsyal betul-betul geram saat sang Bodyguard menelponnya yang memberitahukan, bahwa Zafier sedang makan malam dengan keluarga dari musuh bebuyutannya dan parahnya lagi, anak dari musuhnya itu, ternyata yang kini menjadi menantunya.


Maka dari itu Papi Harsyal murka. Tidak berpikir panjang lagi, Papi Harsyal mendatangi restoran tersebut dan mengacaukan acara makan malam dengan menarik pulang Cryrstal.


"Papi...!" Zafier amat memohon agar Sang Papi meredam emosinya.


"Kalian yang sudah menjadi dalang di balik semua ini? kalian mencuci otak anak-anakku, agar menjauhi ku dan lebih dekat kepada kalian?" tunjuk Papi Harsyal yang di tujukan kepada Papi Aarlic atau Papi Nervan.


"Syal... duduk dulu, tolong dengarkan penjelasan dari anak mu dan kami." Pinta Papi Aarlic dengan nada rendah.


"Tidak perlu! aku tidak butuh penjelasan! semuanya sudah jelas! bahwa kalian adalah orang yang telah menghancurkan kami. Dan aku tidak sudi memiliki ikatan apapun dengan kalian. Aku hanya ingin membawa Putriku pulang." ujar Papi Harsyal dengan nada suara yang masih meninggi.


"Cysa, Sayang! mari pulang. Mami menunggu di rumah." Bujuk Papi Harsyal pada akhirnya.


Crystal makin memberontak. Papi Harsyal sudah memanggil orang-orangnya agar membantu dia membawa Crystal pulang.


"Cysa akan pulang Pih! tapi dengan suami Cysa." ucap Crystal penuh keyakinan.


Papi Harsyal mengalihkan pandangannya kepada Nervan, yang dari setadi menggenggam tangan Crystal. Tentu saja Papi Harsyal mengenali Nervan, walaupun ia melihat hanya sekilas. Wajah yang tampan perpaduan antara ketampanan Papi Aarlic dan kecantikan Mami Lethia, nampak jelas terukir di sana.


"Oh jadi kamu orangnya, yang sudah menikahi Putri Saya, tanpa meminta izin kepada orang tuanya?" tunjuk Papi Harsyal pada Nervan.


"I-ia, Maafkan Saya Pih! eh Om," Nervan bingung harus memanggil apa.


"Mari pulang! cukup sampai di sini main-mainnya, Cysa!" ajak Papi Harsyal sekali lagi pada Crystal, "dan untuk kamu...Papi akan membuat perhitungan denganmu!" ancam-nya pada Zafier.


Papi Harsyal menarik Crystal dengan paksa. Ia hendak membawanya pulang. Namun, Crystal yang mendapatkan perlakuan kasar dari Sang Papi, ia pun terus-menerus memberontak.

__ADS_1


"Cysa tidak mau pulang, jika tidak dengan Mas Evan!"


"Cysa...! sentak Sang Papi.


"Mas...!" tatapan penuh harap dari Cysa pada Nervan. Nervan mengangguk pelan.


"Pih marah-lah pada Kakak! please jangan memperlakuan Cysa seperti itu. Terlebih saat ini Cysa tengah hamil," pinta Zafier dengan mengiba.


"Papi tidak peduli! pokoknya, malam ini Cysa harus ikut Papi pulang!" hardik Papi. "Dan untuk kamu... tunggu saja surat gugatan cerai dari anak Saya." Tunjuk Papi Harsyal pada Nervan.


"Pih... jangan bersikap kejam begitu," Zafier mencoba meredam amarah Papi Harsyal.


"Papi apaan sih, lepas!" Crystal pun mencoba memberontak kembali.


Nervan tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini. Papi Crystal sedang di kuasai amarah. Namun, Nervan mencoba untuk melunakkan hati Papi Harsyal.


"Mas Evan, tidak seperti ini. Bangun Mas!" ucap Crystal dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.


"Tidak Sayang! aku harus melakukannya demi untuk menebus kesalahanku. Karena aku yang telah memaksamu menikah dengan ku!"


"Tidak Mas! tidak! Mas Evan tidak memaksa Cysa untuk menikah dengan mu, ini murni karena kemauan Cysa. Mas, aku mencintaimu." Crystal menangis, ia hendak menghampiri Nervan. Akan tetapi, tangannya di tahan oleh Sang Papi.


"Ayo, Cysa!"


Papi Harsyal kembali memaksa agar Crystal ikut pulang dengannya. Bahkan kali ini, ia meminta para bodyguard-nya untuk membantu, membawa Crystal. Ia tidak memedulikan Nervan yang masih dalam posisi berlutut.


"Mas tolong, Mas!" pekik Crystal saat para bodyguard itu memaksa Crystal keluar dari restoran.


"Sayang, ikutlah dulu dengan Papi mu. Mas akan menyusul dengan Kak Zafier. Jaga anak kita," ucap lemah Nervan namun, Crystal masih mendengar.

__ADS_1


Saat ini, Nervan tidak dapat berbuat apapun. Ia memiliki banyak pertimbangan, diantaranya memikiran keadaan Crystal yang sedang hamil, lagi pula dia harus menyelesaikan masalahnya dengan orang tua Crystal. Baru ia akan dapat kembali memiliki Crystal.


Pada akhirnya, Crystal dibawa pulang oleh sang Papi dan Zafier hanya bisa menggeleng kepala, tanpa bisa berbuat lebih. Ia pun memikirkan janin yang ada di dalam perut Crystal.


"Om, Tante! maaf, Aku gagal menjaga Crystal," ucap Zafier dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah, ini bukan kesalahan kamu! memang kejadian ini, sudah Om prediksi sebelumnya. Papi mu, tidak akan menerima begitu saja pernikahan Crystal dan Nervan saat mengetahui siapa orang tua Nervan." ujar Papi Aarlic.


Mami Nervan menangis di atas kursi rodanya, dan sedang di tenangkan oleh Verline, tunangan Zafier. "Lalu bagaimana dengan Cysa?"


"Tenang Mih! kami akan mencoba membujuk Harsyal, agar menerima Nervan, sebagai menantunya." ujar Papi.


Nervan pun duduk di bangku dengan lunglai. Ia sedang memikirkan cara untuk menemui Crystal juga meluluhkan hati sang Ayah mertua.


***


Satu minggu telah berlalu dari kejadian malam itu. Malam itupun Nervan mencoba menemui Papi Harsyal. Akan tetapi, Papi Harsyal tidak mau menemuinya.


Sudah satu minggu pula Crystal dikurung di dalam kamar. "Papi jahat!"


Terdengar suara teriakan dan juga barang-barang yang Crystal banting dari dalam kamarnya. Zafier tidak pernah meninggalkan Crystal dari rumah. Ia senantiasa, akan selalu membuat Crystal tentang dari balik pintu kamar.


"Dek, tolong tenang! Kakak akan mengusahakan, agar kamu bisa keluar dari kamar. Tolong Dek, jaga anakmu baik-baik. Ingat pesan Nervan. Kakak akan selalu memberitahukan kabar mu kepada Nervan. Dan kami sedang mencari cara untuk membujuk Papi, agar mau mempertemukan kamu dengan Nervan," Pinta Zafier.


"Kak! Cysa bukan tahanan. Mengapa harus dikurung di dalam kamar? Cysa ingin keluar Kak!" terdengar samar-samar suara Crystal dari balik pintu kamar dan sepertinya Crystal sedang menangis.


Zafier pun merasa sedih. Ia hanya dapat menghela nafasnya pelan dengan uraian air mata. Ingin sekali mengeluarkan adiknya dari dalam kamar namun, apa daya. Para Bodyguard Papi selalu membayang-bayangi mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2