Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji

Mendadak Menikah Karena Sebuah Janji
58. Masih usaha untuk menemui Istri.


__ADS_3

Nervan telah berganti pakaian di rumahnya, ia pun telah mengobati luka, yang ia dapatkan tadi sore, di bantu oleh Rendra.


"Lu yakin Van, ga apa-apa sendirian di sini? gue mau sih nginep di sini, tapi gue harus izin dulu terhadap istri gue." Ujar Rendra.


"Gue ga pa-pa! lo nggak perlu menginap. Lu balik saja, thanks ya Ren, sudah bantuin gue," ucap Nervan.


"Tapi gue khawatir Van sama Lo! kalau begitu, gue telepon Tio ya, buat nemenin lu di sini." tawar Rendra.


"Nggak perlu Ren, gue sendiri aja! lu balik sana," Nervan menyuruh Rendra pulang.


"Oke deh, gue balik ya. Kalau ada apa-apa, hubungi gue." pesan Rendra sebelum pulang.


"Pasti!" jawab Nervan singkat.


Rendra pun pergi, meninggalkan rumah Nervan. Dia kembali ke rumahnya, Kini Nervan sendiri dalam kesepian. Tidak tahu lagi harus berbuat apa, ingin menelepon Zafier tidak enak hati, karena tidak mungkin ia menelpon Zafier setiap saat. Zafier pun memiliki kepentingan tersendiri.


Lalu Nervan mengeluarkan ponselnya, ia memeriksa beberapa photo yang dikirimkan oleh Zafier. Yaitu photo ruangan rumah mereka, bermodalkan photo, Nervan mulai menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


Nervan mulai menyusuri photo itu, dari halaman rumah depan, hingga masuk ke dalam rumah dan naik ke tangga menuju kamar Crystal.


Selain Photo, Zafier juga mengirimkan beberapa video pendek.

__ADS_1


Nervan nampak serius, dia sedang memikirkan, bagaimana caranya masuk dengan mudah, dengan penjagaan yang ketat.


Menurut Zafier, orang tuanya akan berangkat ke luar negeri dua hari lagi. Maka dari itu, ia pun harus secepatnya menggunakan momen itu untuk menemui Crystal.


"Heh, untung pengalaman, menyelinap masuk ke rumah. setidaknya Aku memiliki kemampuan itu." Nervan mengekeh sendiri.


Segala ide telah terkumpul di kepalanya Nervan. akhirnya Nervan merasa lelah dan tidak sadar ketiduran di atas sofa.


Hingga keesokan pagi, Nervan baru terbangun, dia menyadari tidur di atas sofa.


"Sayang... kamu di mana?" panggil Nervan pada Crystal dan tidak ada jawaban. "Sayang...kamu sedang mandi ya?" panggil Nervan lagi dengan nada manja seperti biasanya.


Lama tidak ada jawaban, rumah itu pun terasa sunyi. "Astagfirullah... aku merasa Crystal ada disini. Sayang! biasanya pagi begini, kamu sudah heboh di dapur! akan tetapi sekarang sepi." Nervan menghela napasnya berat. Air matanya berlinangan, lalu ia bangkit dari sofa dan berjalan dengan gontai menuju kearah dapur, tujuannya membuat kopi, untuk menghilangkan pening di kepala.


Dua Minggu sudah. Nervan dan Zafeir belum juga menemukan cara untuk menemui Crystal. Penjagaan rumah Papi Harsyal begitu ketat. Ia menambahkan kembali beberapa Bodyguard, yang ditempatkan di depan pintu utama dan di dekat kamar Crystal. Namun, zafier dengan caranya, bisa menyingkirkan kedua Bodyguard di depan kamar Crystal dengan alasan, dia yang akan menjaganya langsung.


Hari ini, orang tua Crystal berangkat kembali ke luar negeri. Ada pekerjaan urgent di sana, katanya. Sebetulnya, rencana dari satu minggu yang lalu, akan tetapi mundur karena cabang perusahaan yang Indonesia ada masalah.


Zafier pun berkorban untuk Crystal. Ia tidak pernah lagi tidur di kamarnya, ia membawa kasur lantai dan tidur di depan pintu kamar Crystal serta mengerjakan pekerjaannya dari tempat itu, karena pekerjaan yang fleksibel dan bisa di kerjakan dari rumah lewat komputer.


Malam ini, Nervan bertekad untuk menyambangi rumah orang tua Crystal. Hanya untuk menghadapi para bodyguard saja sih ia tidak gentar.

__ADS_1


Nervan sudah berada di gerbang rumah, Papi Harsyal. Ia segera menelepon Zafier, menanyakan keadaan di dalam.


"Kamu, di manan Van?" tanya Zafier dalam telepon.


"Aku sudah di dekat gerbang Kak!" jawab Nervan dalam telepon.


"Van! kamu bisa masuk dari pintu samping, di sana sepertinya aman. Orang yang di depan, aku yang akan mengalihkan mereka." / Zafier.


"Ok, Kak!" /Nervan.


"Kamu siap ya Van! sepertiny harus manjat ke kamar Cysa. Kamu pantengin Chat. Nanti aku kodein, Kalau Cysa sudah menyiapkan alat untuk kamu naik." terdengar Zafier berbisik di telepon, Nervan paham karena takut terdengar oleh Bodyguard-nya Papi Harsyal yang tidak jauh dari sana.


"Baik Kak! apapun akan ku lakukan untuk bertemu Cysa. Walaupun, harus memanjat sekalipun, aku tidak peduli Kak," / Nervan.


"Oke aku tutup teleponnya. Di menit ke-sepuluh, kamu masuk," /Zafier.


Setelah di iyakan oleh Nervan. Akhirnya mereka pun saling menutup telepon. Nervan bersiap-siap di dekat pintu pagar kecil untuk menuju ke arah taman rumah, dan setelahnya ia akan melewati jalan kecil menuju ke arah belakang kamar Crystal di lantai dua.


Sedangkan di tempat Zafier. Ia segera menuliskan sesuatu di secarik kertas, yang di tunjukan untuk Crystal dan ia masukkan ke bawah sela-sela pintu.


Zafier mengetuk pintu kamar Crystal pelan. Crystal yang mendengar ketukan pun, ia tahu itu Kakaknya.

__ADS_1


Crystal beranjak dari tempat tidur, ia melihat ada secarik kertas di bawah sela-sela pintu, segera ia menariknya. Dan membaca pesan Zafier. Senyuman terukir di bibir Crystal.


Bersambung...


__ADS_2