
Nervan sudah dalam perjalanan mengikuti rute dalam GPS dari signal ponsel Crystal.
Dengan cepat, Nervan mencari beberapa orang sewaan yang mahir bela diri. Menggunakan Uang segala nya mudah! hanya sepuluh menit, Dua belas orang sudah Nervan dapatkan dan sudah menuju lokasi yang ia sebutkan.
Menurut Crystal, orang yang sedang membawa nya sekitar enam orang. Maka dari itu ia membawa dua kali lipat dari jumlah mereka.
Nervan menelpon para orang sewaan nya.
"Kalian di mana? saya sudah di jalan mengarah titik penjegalan. Kita harus sampai terlebih dulu. Kini mereka masih menuju tol." / Nervan.
"Baik! Kami sedang mengarah ke sana Bos!" / Orang sewaan.
"Ok!" / Nervan.
Setelah sambungan telepon terputus, Nervan menaikan kecepatan kendaraan nya.
"Cysa jangan pergi dari ku! aku tidak sanggup harus kehilangan lagi orang yang aku cintai." Ucap Nervan dengan berlinangan air mata.
Hampir Satu jam. Nervan dan para orang sewaan nya sudah sampai di titik yang Crystal sebutkan.
"Bagaimana Bos?" tanya orang sewaan Nervan.
"Kita harus bersiap! mereka hampir keluar pintu Tol." Jawab Nervan.
Di dalam tol.
Tante Ningsih hampir saja ketahuan sedang membuntuti mereka. Namun dengan sigap ia segera berjalan mengikuti truk yang menjadi penghalang antara mobil nya dan mobil yang membawa Crystal.
Di dalam mobil yang membawa Crystal.
"Hei. Aku tidak mau di bawa jalan kencang seperti tadi yah!" protes Crystal dengan berteriak.
"Baik Nona!" Jawab sang Supir. Crystal sebetulnya hanya mengulur waktu agar Tante Ningsih tidak tertinggal jauh.
"Maaf Nona! Ayah dan Ibu Anda ingin bicara!" Ketua Bodyguard menyodorkan ponsel yang sudah tersambung kepada orang tua Crystal.
"Aku gak mau!" Crystal menolak nya mentah-mentah.
"Cysa sayang! ini Papi Nak! tolong buka Video Call dari Papi! Mami ingin bicara pada mu," Papi Crystal segera bicara karena telepon di loud speaker.
"Ok! sambungkan!" perintah Crystal ketus pada Bodyguard nya.
Sambungan video call pun terbuka. Nampak lah wajah cemas seorang wanita paruh baya yang masih sangat cantik di seberang kamera sana.
"Cysa sayang, kamu baik-baik saja kan? kamu ke mana saja? Mami rindu!" /Mami Crystal.
"Mam! Cysa baik-baik saja!" / Crystal
"Ma'afkan Mami dan Papi! Kami akan pulang besok. Mami dan Papi akan menuruti semua yang kamu inginkan sayang, makan, main, belanja, kita akan melakukan nya, hanya bertiga saja." / Mami Crystal.
"Semoga Mih!" / Crystal (entahlah, Crystal merasa kecewa sekali terhadap kedua orang tua nya.)
"Sayang! jangan bersikap dingin pada Mami." /Mami Crystal.
"Bukan nya Cysa ini hanya mainan Mami! bukan nya Cysa ini hanya Kristal untuk Mami. Cysa bak Kristal yang menjadi panjangan di rumah mewah nya Mami. Baik di Indonesia ataupun saat Cysa di luar Negeri. hiks .... hiks!" / Crystal.
"Ma'af sayang. Ma'af hiks .... hiks ...." / Mami Crystal.
"Cysa, Papi tahu Cysa kecewa! namun Papi mohon, jangan pergi lagi, tunggu Papi dan Mami pulang yah! Ma'afkan Papi sudah sering memaksakan kehendak terhadap Cysa! Papi sayang kamu Nak!" / Papi Crystal.
"Sudahlah Pih! dari kecil hanyalah Kak Zafier yang menjadi nyata untuk Cysa. Papi dan Mami bagai khayalan untuk Cysa! namun naas untuk Cysa, Papi pun memisahkan Aku dengan Kak Zafier. Satu hal lagi, dulu Cysa sempat memiliki pangeran pelindung semasa kecil. Namun pangeran itu pun kini sudah menjadi kisah dalam mimpi Cysa! pangeran Cysa sudah pergi jauh tanpa jejak, saat Keluarga nya, Papi usir dari kediaman nya. Hiks .... hiks ..." / Crystal.
"Sayang!"/ Mami Cysa.
"Sudahlah! berdoa saja, semoga besok masih dapat bertemu Cysa! percuma bicara lewat layar begini. Toh Mami dan Papi tidak merasakan bagaimana Cysa marah, bagaimana Cysa menangis. Cysa pun tidak dapat merasakan pelukan dari kalian. Jujur Cysa sayang terhadap kalian. Namun saat ini hati Cysa sudah mati rasa. Bye," / Crystal.
Buk!
Crystal mengakhiri panggilan video call tersebut dan melemparkan ponsel milik salah satu Bodyguard nya ke sembarang arah.
Aaaarrggghh! Aaarrggghhhh!
hiks .... hiks ....
__ADS_1
Teriak Crystal sembari menangis. Para Bodyguard Crystal sudah terbiasa menghadapi Crystal yang melampiaskan amarah dan rasa kecewa nya dengan menangis dan berteriak. Sebetulnya mereka merasa iba kepada Nona muda nya. Namun ini adalah pekerjaan mereka.
"Minum Nona!" tawar sang ketua Bodyguard.
"Enggak!" walaupun tenggorokan nya terasa kering, namun Crystal tidak menerima tawaran itu. Ia takut minuman itu mengandung bius. Maka Crystal menolak nya dengan kasar. Mata nya menatap tajam ketua Bodyguard itu dengan penuh waspada.
Ckiiittt!
Tiba- tiba saja mobil yang sedang ditumpangi Crystal ngerem mendadak. Crystal dan para Bodyguard merasa terkejut pada awalnya.
Namun senyuman Crystal seketika mengembang, tat kala ia lihat siapa yang sedang berdiri dengan gagah serta tongkat baseball di tangan nya. Nervan sedang menghadang mobil nya, dua belas orang berbadan kekar nampak berdiri di antara Nervan.
Wajah Nervan nampak dingin dengan keangkuhan. Sisi gelap nya nampak sekali. namun sorot matanya memancarkan antara amarah dan khawatir.
"Alhamdulillah, Mas Evan! Pangeran Pelindung ku!" gumam Crystal tanpa sadar, di akhir kalimat. Binar bahagia terpancar dari wajah Crystal.
"Ada apa?" tanya ketua Bodyguard.
"Ada yang menghadang jalan kita." jawab.
"Kurang ajar, apa mau nya mereka?" ucap ketua Bodyguard.
Nervan memberikan isyarat agar penumpang mobil milik Crystal keluar. Namun tidak ada satupun yang keluar.
Nervan memastikan kembali nomor polisi mobil tersebut dan itu betul sesuai yang Crystal kirim di pesan WhatsApp nya.
"Hai keluar kalian! hadapi kami jika berani, jangan hanya berani pada perempuan saja!" teriak lantang Nervan dengan tongkat baseball ia ketuk di aspal.
Para Bodyguard pun saling pandang. "Ada urusan apa dia dengan kita?" tanya Bodyguard yang duduk di depan.
"Entahlah! tabrak saja!" ucap Bodyguard yang duduk di belakang.
"Jangan! kalau kalian memang laki-laki, hadapi mereka," Pekik Crystal.
"Keluar!" Nervan berteriak. Ia menghampiri mobil tersebut.
"Crystal! kamu di dalam kan sayang?" panggil Nervan. Ia melihat dari kaca depan mobil. Crystal sedang duduk di bangku barisan kedua.
Bugh! Bugh! prang!
Kini kaca mobil pun koyak dan bolong. Serpihan kaca pun berhamburan kesegala arah. Termasuk ke dalam mobil bagian depan. Para penumpang bagian depan dengan sigap keluar menyelamatkan diri.
"Gila nih orang. Seperti nya minta di habisi. Hajar!" pekik Ketua Bodyguard.
Para Bodyguard pun akhirnya keluar dari mobil. Ia melupakan Crystal. Merasa aman, Crystal segera keluar dan menghampiri Nervan.
"Mas! Mas Evan! akhirnya kamu datang menyelamatkan aku, Mas!" Crystal berlari dan memeluk Nervan.
para Bodyguard dan para orang sewaan Nervan sudah mulai saling menyerang.
"Iya Sayang! kamu baik-baik saja kan? ma'afkan aku, hampir saja terlambat menjemput mu!" Nervan membungkuk memeriksa keadaan tubuh Crystal.
"Aku baik-baik saja Mas!"
Akhirnya Nervan mengecupi kening Crystal. "Syukurlah, aku fikir akan kehilangan kamu sayang." Nervan memeluk Crystal sekali lagi. "Sekarang cepat masuk ke mobil ku. Aku akan ikut menghajar mereka dulu." Pinta Nervan.
"Ba-baik Mas!" Crystal berlalu dan masuk ke dalam mobil Nervan. Sedangkan Nervan berbaur dengan orang bayaran nya ikut terlibat perkelahian dengan para Bodyguard.
bugh .... pak .... bugh ... wuzzz
suara perkelahian itu. Benar saja, tidak mudah melumpuhkan para Bodyguard Crystal. Hingga Nervan dan dua belas orang bayaran nya harus ekstra keras melumpuhkan mereka.
Crystal yang menyaksikan perkelahian mereka dari dalam mobil pun terlihat cemas. Beberapa kali Nervan terkena bogeman di wajah dan tendangan di bagian belakang. Hingga ia pun beberapa kali terhuyung.
"Heh! menyerah saja kalian! saya hanya ingin membawa Istri saya pulang!" teriak Nervan.
"Tidak akan! kami pun harus membawa Tuan putri kami pulang! untuk di serahkan kepada Tuan kami." Ucap Ketua Bodyguard yang mulai kewalahan menghadapi orang nya Nervan.
"Hah Istri? Sejak kapan Nona Cysa menikah? koq Tuan besar tidak memberitahukan nya kepada kami." Batin Ketua Bodyguard.
"Brengsek!"
Bak buk bak buk .... bugh .... bugh .... brukh!
__ADS_1
Ketua Bodyguard ambruk dengan jurus taekwondo bertubi dari Nervan saat ia sedikit lengah. Para Bodyguard yang lain pun akhirnya tumbang dan bergeletakan di aspal.
Nafas Nervan tersengal. Kini ia sedang menetralkan detak jantung dan nafasnya. Keringat bercucuran dari pelipis dan dahi nya. Kemeja putih yang ia kenakan pun sudah terlihat berantakan serta kotor dan basah karena keringat nya.
Beberapa mobil yang lewat dan ingin mengabadikan momen itu di halau dua orang para orang bayaran Nervan. Karena Nervan yang meminta nya.
Setelah semuanya tergeletak dengan ringisan. Nervan mengeluarkan Cek kosong.
"Siapapun Tuan kalian, aku akan bertanggung jawab atas kerusakan mobil itu. Ini cek kosong! tulis saja jumlah perbaikan mobil kalian."
Dengus Nervan, dengan menaruh lembar cek kosong yang sudah ia tandatangani, menempelkan nya di dahi ketua Bodyguard yang nampak lemah.
"Thanks! Kalian boleh pergi. Bayaran kalian sudah aku Kirim ke account Kalian." Ucap Nervan pada orang bayaran nya dengan berjalan ke arah mobil nya.
"Terima kasih Bos! kalau butuh bantuan lagi, kami siap!" ujar salah satu orang bayaran Nervan.
"Ok!"
Nervan masuk ke dalam mobil nya. "Mas!" Crystal yang dari setadi menanti dengan cemas langsung memeluk Nervan.
"Mas kamu terluka!" pekik Crystal dengan mengecupi wajah Nervan yang nampak memar.
"Sudah! aku tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah selamat." Ucap Nervan sembari mengelus lembut pipi Crystal.
"Ia Mas! Alhamdulillah."
"Kita jalan. Tolong telepon Tante Ningsih, katakan padanya agar merahasiakan kejadian ini dari Mami. Katakan pula, kita tidak akan pulang ke rumah Mami. Aku akan mengajak mu ke villa yang di puncak. Mami pasti akan mengerti." Pinta Nervan.
"Baik Mas!"
Crystal pun menelepon Tante Ningsih dari ponsel nya Nervan. Ia memberitahukan Tante Ningsih, yang Nervan katakan tadi. Setelah beberapa menit bicara, sambungan telepon pun berakhir.
"Aku belum faham! siapa mereka dan mengapa mereka berniat membawa mu, untuk di serahkan kepada Tuan mereka? maksud dari Tuan mereka itu apa? apakah dia laki-laki hidung belang yang mencari mangsa!" tanya Nervan.
"Cukup Mas! apa kamu masih berfikir aku menjual tubuh ku demi uang?" Crystal naik pitam merasa di curigai oleh Nervan.
"Bukan, begitu sayang! ma'af!" rasa sesal Nervan.
"Habis. Aku merasa Mas itu sedang mencurigai aku. Seperti yang Mas bilang dulu. Bahwa aku menjual tubuh ku demi uang! pantas saja, waktu itu Mas urung mempertemukan Dek Jhon dan Nduk Jhen. Mas ragu akan kesucian ku?" nada kekecewaan dari Crystal.
"Sayang!"
Nervan membelai kepada Crystal dengan tangan kirinya secara lembut, tatapan nya fokus ke arah depan. Nervan berusaha menenangkan Crystal yang mulai menangis.
"Mas jahat!"
Crystal terisak. "Bukan itu! kamu kan tahu pasti alasan yang sesungguhnya mengapa Dek Jhon dan Nduk Jhen gagal meetup."
"Bohong!"
"Ya ampun Sayang! iya deh nanti aku buktikan, aku akan membuat Dek Jhon dan Nduk Jhen bertemu. Puas?" tanya Nervan dengan menyeringai.
"Hiks .... hu'uh."
Crystal cemberut lucu di antara anggukan dan isak tangis yang mulai mereda. Nervan menarik bibir Crystal yang maju.
"Mas! tangan kamu berdebu." Ucap malu Crystal dengan salah tingkah.
"Hehe .... habis Istri ku lucu dan gemesin." Ucap Nervan dengan tertawa kecil.
"Uummm." Rajuk Crystal.
"Ok! aku masih penasaran, siapa yang di maksud Tuan oleh mereka?" tanya Nervan kembali dengan memiringkan wajahnya dan memicingkan mata ke arah Crystal.
"Maksud mereka dengan kata 'Tuan' itu adalah Papi Ku!" Ucap Crystal.
"Hah! Papi? Maksudnya Mertua Ku?" tanya Nervan.
"Ia Mas, Papi mertua Mas!" jawab Crystal memperjelas.
"Oh my God, Cysa!" Nervan terkejut dan menginjak pedal rem nya dalam. Mobil berhenti mendadak di tengah jalan. Beruntung jalan alternatif bukan tol.
Ckiiiiitt .... Jbred! Dugh!
__ADS_1
Bersambung ....