
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Setelah mereka sarapan, nasi uduk komplit nya pok Jamilah. Andra teringat teman-temannya yang di rawat di rumah sakit. Ia juga harus mengabari orang tua Miko.
"Um, nanti aku mau ke rumah sakit lagi ya, rencana mau ke yayasan Atap Terbuka juga," ucap Andra setelah ia merapikan sisa-sisa sarapan mereka.
"Pergilah, Umma sudah izin ke butik, untuk libur hari ini," izinnya.
"Um, apa kita beneran sanggup merawat Najwa? maksud Abang, gimana dengan pekerjaan Umma dan sekolah ku?" tanya Andra, mengungkapkan beragam pertanyaan yang bersarang, di kepala remaja itu.
"Abang, lanjutkan sekolahmu. Ingat! Beasiswa itu, tetaplah fokus!"
"Biar, Umma saja yang resign dari butik. Dan, Umma akan terima jasa menjahit di rumah saja.
" Tapi, Um?" Andra menarik lagi lidah nya, tak jadi meneruskan pertanyaannya. Meskipun segala kebingungan itu menderanya. Karena umma satu-satu tulang punggung di dalam keluarga itu. Karenanya, Andra bekerja keras belajar, agar ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah jurusan elektro, di salah satu Fakultas ternama di kota B.
Karena Andra ingin memperdalam lagi ilmu basicnya tentang robotik. Beberapa piagam dan sertifikat kemenangan nya, ketika mengikuti olimpiade skala nasional dan asean, akan semakin memudahkan jalannya menuju impiannya, menjadi seorang ahli robotika.
Ahli Robotik dan Kecerdasan Buatan. Sesuai dengan namanya Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, yang mempelajari beberapa gabungan ilmu seperti elektronika, komputer, hingga sistem mekanika. Karena komputer, matematika serta perakitan benda-benda elektronik adalah sesuatu yang sangat di sukai nya sejak masih di bangku taman kanak-kanak. Andra memang memiliki nilai IQ tinggi, di atas 150. Bukankah ia termasuk anak jenius?
Jawabannya, ya. Namun, Andra tidak pernah mau bila ia lompat kelas, ia ingin hidupnya alami seperti kawan-kawannya, ia tidak ingin di bedakan atau terlihat berbeda. Meskipun pelajaran di sekolah adalah hal yang mudah baginya. Andra adalah anak yang supel, ia tidak pernah memilih dengan siapa ia akan berteman.
Begitu pun, dengan Maulana. Adiknya ini juga anak dengan nilai 1Q superior, di atas angka 130. Ketajamannya dalam memindai kasus, serta daya ingatnya yang kuat. Teliti dalam hal apapun. Analisanya yang akurat membuat umma mengarahkannya, agar menjadi ahli penegak hukum. Yang akan meneruskan perjuangan abuya.
Bahkan, kata-katanya saat sarapan, menghentak setiap hati yang melingkari meja makan.
__ADS_1
"Najwa, pasti bukan bayi biasa. Ada hal besar yang telah terjadi di belakangnya, dan akan ada hal besar yang akan juga terjadi di masa depannya.
Tidak, mungkin bila tidak ada yang mencarinya.
Mencari data di kota besar adalah hal yang sangat mudah, bagi orang-orang yang memiliki pengaruh besar. Di lihat dari jenis kalung itu, menandakan siapa keluarganya sebenarnya. Resiko kita sangatlah besar. Menambahkan identitasnya ke dalam keluarga kita, hanya akan memberi jejak yang jelas bagi mereka yang akan mendatangkan hal buruk bagi Najwa." Itulah analisa panjang lebar yang di kemukakan oleh Maulana, remaja berusia 14 tahun.
Kartika dan Andra sejenak terdiam, mereka terbius di dalam pikirannya masing-masing. Ketika mengingat kata-kata Maulana tadi. Hingga tangis bayi perempuan, yang berada di dalam gendongan Maulana, menyentak kesadaran mereka. Karena ternyata setelah sarapan, Maulana menengok adik barunya itu di kamar umma.
"Uhh...anak manis, kamu pasti gerah mau mandi ya?" Kartika segera menghampiri anak keduanya itu, yang sudah berani menggendong bayi yang sangat mungil itu.
"Di gendong sama Abang bayik ya Dek?" goda Kartika pada putra keduanya itu. Dan, itu berhasil membuat Maulana mencebikkan bibirnya ke depan.
Andra yang tadi bengong pun tiba-tiba tergelak.
"Ish, aku udah jadi abang sekarang, jangan ngeledek aku bayik lagi!"
"Andra, kamu rebus air ya, di panci kecil. Buat mandikan Najwa nanti, kasian dia pasti gak betah karena belum ganti baju sejak kemarin." perintah Kartika yang langsung di kerjakan oleh putra pertamanya itu. Sedangkan Kartika berlalu ke kamar, menyiapkan alat-alat mandi serta baju ganti yang baru di belinya tadi.
Kartika bersyukur, kedua anak lelakinya sangat menerima kehadiran bayi ini, tanpa berpikir bagaimana kehidupan mereka ke depannya.
Ia juga bangga, kedua putranya memiliki naluri dan tanggung jawab dalam menolong sesamanya. Darah sosialisme dan rela berkorban, telah diturunkan oleh mendiang suaminya, Syafiq El Barack kepada kedua anak mereka, Andra El Barack dan Maulana El Barack.
Aku seperti melihat sosok mu, pada kepribadian kedua jagoan kita. Tenanglah di sana, karena kami baik-baik saja di sini.
Kartika pun mulai memandikan bayi mungil itu, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu, memiliki kulit yang sangat cantik. Kulit yang putih bersih, hidung mancung kecil, bibir merah yang mungil ,mata berwarna hijau langka, yang sangat jarang di miliki oleh kebanyakan orang. Mungkin sekitar 2% dari jumlah penduduk di seluruh dunia. Ia yakin Najwa adalah keturunan
__ADS_1
dari bibit unggul. Ia semakin yakin untuk menjaga bayi ini, Kartika laksana mendapat berlian tak ternilai. Setiap sentuhan jemarinya yang menyentuh kulit lembut bayi itu, seakan mengalirkan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Inikan rasanya memiliki anak perempuan yang cantik?
Kartika tidak berhenti menyunggingkan senyum di wajah tirus nya itu.
Bahkan,hal serupa pun di lakukan oleh kedua putra tampannya.
Mereka kelihatan seperti mendapat mainan baru, senyum sumringah itu tak lepas dari wajah mereka, hingga Najwa selesai dan sekarang sudah rapih dan cantik dengan baju barunya. Mungkin karena adem setelah di mandikan, ia pun terlelap lagi. Membuat ketiga orang yang bersatu padu mengurusnya ini, terkekeh gemas.
Pipi gembul nya itu, memancing ketiga orang itu untuk menciuminya bergantian.
"Masyaallah, cantiknya putri Umma ni!" ucap Kartika sambil menahan gemasnya. Ia pun men towel pipi yang menggembung kemerahan itu.
"Pipinya kemerah-merahan ya, Um?" ungkap Andra masih terus menjelajahi wajah imut itu dengan jari nya.
"Abang tambahin khumira ya, jadi nama kamu, Najwa Khumaira. Yang mempunyai arti, rahasia dari Allah yang berwujud kemerahan." Andra lantas mengecup kening bayi perempuan, yang sama sekali tidak terusik itu. Senyumnya belum memudar sejak memandangi wajah imut menggemaskan itu.Meski pun jemari ketiga orang di hadapannya ini tak bisa diam. Mencolek, mengelus, mengusap bahkan menciumi gemas.
Najwa tetap saja bergeming dalam lelapnya. Ia terbuai di dalam damai mimpinya.
Sosok yang lemah tak berdaya, suci tanpa dosa ini. Beruntung, telah berada di tangan orang-orang yang berhati baik dan tulus.
Ah, Najwa...
Sepertinya kau akan kelimpahan kasih sayang. Bahkan dari para onty online semua.
__ADS_1
Ikuti terus ya kisah di karya kedua mak chibi...dukung dengan like, hadiah dan vote nya.
Jangan lupa komennya yaa😘😘😘