
πΌπΌπΌπΌπΌ
Bayi itu membuka mulut kecilnya sedikit demi sedikit. Sehingga, susu itu pun masuk melalui tenggorokan mungilnya hingga, memenuhi lambung kosongnya.
"Alhamdulillah, habis juga 150cc!" seru Kartika girang.
"Alhamdulillah!" seru kedua putra tampannya itu serempak.
"Bang, coba kamu telungkup kan dia di dadamu,"
"Supaya, Najwa sendawa," titah Kartika, yang spontan membuat dahi Andra berkerut tiga garis.
"Abang, ngeri ah. Kalo dia kecengklak gimana?"
"Masih lembek gini tulangnya," tolak Andra halus.
"Gak, coba dulu, ayo!" saran Kartika, dengan penuh kesabaran ia mengarahkan putranya tersebut.
Andra menepuk punggung Najwa pelan, dan....
Aakk..
Bayi itu pun mengeluarkan suara sendawa nya, hingga sontak membuat ketiga orang yang sudah kerepotan karena nya itu, tersenyum lega dan penuh rasa syukur.
πΌπΌπΌπΌ
Najwa terus saja menempel pada Andra, penyelamatnya di malam yang na'as itu.
Di mana orang-orang suruhan dari sahabat daddy nya, menyekap mereka berdua.
Najwa dan sang mommy di bawa ke sebuah bangunan kosong yang terletak di tengah hutan kota, di mana hutan itu adalah hutan buatan yang biasa di gunakan untuk syuting ataupun lahan perkemahan.
Namun, karena tempatnya yang luas, barang siapa yang masuk kedalam sana , pasti akan susah untuk mencari jalan keluar. Karena letaknya yang di tengah-tengah itulah, membuat teriakan Ameera bahkan suara letusan senapan pun tidak bisa di dengar oleh warga sekitar. Karena jarak mereka yang sangat jauh, juga terhalang oleh jalan raya.
Tubuh mungil Najwa, menelusup di bawah ketiak remaja berwajah ketimuran itu. Bayi ini tidak mau di pisah sama sekali.
Bahkan, ia tidak mau di letakkan di kasur. Sampai-sampai Kartika membuat ayunan dari kain jarit yang diikatkan di atas kusen pintu kamarnya.
Tapi, bayi mungil itu tetap saja menangis karena terbangun dari tidurnya. Sepertinya, Najwa sudah menemukan tempat ternyaman nya.
Maulana menahan ketawanya, tatkala ia melihat wajah frustasi sang abang. Bagaimana tidak, untuk ke kemar mandi pun susah. Di gendong yang lain tidak mau, karena otomatis bayi itu pasti akan menjerit alias menangis kencang.
"Umma...," akhirnya rengekan itu keluar juga dari mulut remaja tampan itu. Andra sudah hampir menangis karena sudah hampir asar Najwa masih tidur nyenyak di dalam gendongannya.
Sedangkan tadi ditinggal solat juhur saja, bayi itu mengamuk tak henti, sampai suaranya serak.
(Aih, Najwa? kenapa kau siksa malaikat penolong muπ)
"Bagaimana lagi, kalian pun pernah seperti itu."
__ADS_1
"Sampai-sampai, Seharian Umma tak mandi, mana abuya lagi ke luar kota," kisah Kartika menceritakan pengalamannya kepada kedua putranya.
"Bayi akan seperti itu bila ada di rasa, entah oleh hatinya ataupun tubuhnya,"
" Mungkin, bila di letakkan, ia akan merasa ditinggalkan. Lain halnya bila di dekap dalam gendongan, maka ia akan merasa aman dan tentram."
"Masalahnya, aku...," Andra tidak meneruskan ucapannya karena ada suara lain yang sudah keluar dari belakang tubuhnya.
"Abang, ih!" pekik Maulana dan Kartika serempak sambil menutup hidung mereka.
"Aku udah nahan sedari tadi," ucap Andra dengan wajah memelas.
Melihat ekspresi Andra yang sedemikian tersiksa, sontak membuat Kartika dan Maulana tergelak.
"Kalian bahagia banget liat aku tersiksa," keluh Andra lagi sambil menahan sesuatu, terlihat dari ekspresi wajahnya yang memerah. Bahkan, terlihat bulir-bulir keringat sudah mengaliri pelipisnya.
"Coba kamu bisikin Najwa nya, siapa tau dia mau di tinggal kali ini," saran Kartika sambil memegangi kedua pipinya yang keram, karena terus menertawakan penderitaan putra pertamanya itu.
Tak mau menunggu lagi,Andra langsung mengerjakan apa yang di sarankan sang umma.
"Sayang, Uncle tinggal sebentar jangan nangis ya...,"
"Kamu aman, di sini, kita semua akan jaga kamu. Ya, cantik," bisik Andra di samping telinga kecil bayi mungil yang terlelap pulas itu.
Kemudian, ia melabuhkan kecupan hangat di pipi bulat Najwa, dan meletakkannya perlahan di atas sofa.
Sontak, hal itu membuat Mau dan Kartika menahan tawa mereka dengan membungkam mulut menggunakan bantal sofa.
(Bahagia di atas penderitaan ya, kalian ini)
"Um, kenapa Najwa jadi lengket begitu ya sama Abang?" tanya Mau, setelah gelak nya habis.
"Entahlah, mungkin jodoh," jawab Kartika asal sambil melenggang ke dapur.
Mau, hanya menggaruk kepala tak gatal menanggapi jawaban asal umma nya itu. Remaja 14 tahun itu kemudian memandang lekat ke arah bayi yang akhirnya tenang juga.
"Kamu pasti menjadi gadis yang sangat cantik dewasa nanti, Najwa.
Semoga, Allah mempertemukan lagi engkau dengan keluarga mu.
Namun, sebelum itu terjadi, biarlah kami yang akan menjaga dan melimpahkan kasih sayang untuk mu." batin Mau,kemudian tersenyum dengan manisnya.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Kartika yang sedang di dapur, terlihat sedang membuka kulkas. Kemudian mengambil botol berisi air es dan menuangnya kedalam gelas. Ia meneguknya perlahan membasahi kerongkongannya yang tercekat.
Berharap emosi di dadanya mendingin dan panas yang membakar otaknya berubah menjadi sejuk.
Ia teringat kata-kata Andra tadi siang di ruang tamu.
__ADS_1
Kenapa para tetangga yang telah lama mengenalnya, bisa begitu jelek berpikiran tentangnya. Bahkan, mereka mengatakan kemungkinan hal buruk itu kepada putra pertamanya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Sebentar lagi, pasti kepala rukun tetangga akan mendatangi rumahnya. Karena, ia juga belum sempat lapor mengenai kehadiran bayi malang itu.
Apakah, ia harus mengikuti saran putra keduanya?
" Maulana, tau apa anak itu!" gumam Kartika, kemudian tersenyum penuh arti.
"Bisa-bisanya ia memiliki ide brilian seperti itu," gumam Kartika.
"Andra, kenapa juga ia menyebut dirinya sebagai uncle?"
"Mau tidak mau aku harus berperan sebagai eyang, oma, atau nenek...ah, kenapa tua sekali," protes nya sendirian di dapur sambil duduk di atas kursi depan pantry.
Kartika terlihat terus berpikir sambil memainkan toples cemilan berisi kacang bawang.
"Benar juga, kalau aku mengakui Najwa sebagai keponakan, tentu warga yang sudah mengenalku akan curiga. Secara, mereka pun tau jikalau aku adalah anak tunggal di dalam keluarga." monolognya sendirian sambil ngemil kacang. Santai, damai, tanpa terdengar lagi tangisan yang mengguncang seisi rumah.
"Um, lagi ngapain?" tanya Andra yang hendak membuat kopi di meja pantry.
"Mumpung bayi nya anteng, mau nyantai bentar sambil nunggu asar," jawab Kartika.
"Dari tadi aku dengerin, ngoceh sendirian. Kirain kesambet," ledeknya pada wanita pertama dalam hidupnya itu.
"Anak gak ada akhlak! Kalo ngomong sama orang tua suka sembarangan!" omel Kartika kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri putranya itu.
" Ma'af...,Um. Becanda doang kan,he," kilah Andra sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya ke samping kepala.
Tapi ternyata jemari lentik Kartika lebih cepat dari permintaan maaf yang mencuat dari kedua bibir tipis remaja itu.
Sehingga, kini ia harus pasrah menjadikan salah satu telinga nya sebagai korban.
"Ya Allah, punya umma demen banget kdrt. Kalo gak ngejitak pala pasti ngejewer kuping," batin Andra sambil menatap punggung sang umma yang telah beranjak keluar dari dapur.
Next>>>>>>
Pantengin terus yaa...
Sekarang mak kasih yang ringan dulu haha.
Kalo komennya banyak...next bab mak kasih yang mendebarkan.π
Ya ampun, mak banyak maunya ya?
Enggak, mak cuma mau denger suara kalian aja kok, sueerrr!
Kabooorr.....!
__ADS_1