
___🍁🍁🍁___
Kartika pun meraih gulungan yang di serahkan oleh putra keduanya.
Seorang remaja kelas delapan di sebuah sekolah menengah pertama.
Sekolah terpilih dengan murid yang kapasitas otaknya di atas rata-rata.
Anak keduanya ini ingin meneruskan jejak Syafiq, mendiang suaminya.
Menjadi seorang pengacara atau kuasa hukum, yang adil dan jujur.
Meski Maulana tidak mengenal dengan jelas sosok abuya, karena Syafiq telah meninggalkannya sejak ia masih balita.
Namun, Maulana mengenalnya melalui cerita yang sering di kisah kan oleh sang umma.
Tentang perjuangan abuya seorang penegak hukum yang bersih dan jujur dalam menegakkan kebenaran.
Tentang keberanian abuya, menolak segala jenis suap demi keadilan.
Kartika membuka gulungan kertas yang diikat dengan karet gelang, secara perlahan.
Dan, ternyata itu adalah selembar surat lahir.
Di sana tertera identitasnya dengan sangat jelas.
_____
Surat Keterangan Kelahiran
Telah lahir pada:tanggal,...- bulan...-tahun....,
Seorang bayi yang bernama: _Najwa_
Jenis kelamin: _Perempuan_
Dengan nama Ibu: _Ameera Assidiqia_
Usia: 24 tahun
Dengan nama Ayah: _Hideo Kaindra_
Usia: _32 tahun_
Alamat :_Kota B_
Dilahirkan secara : _Normal_
Berat badan waktu lahir : _3300gram_
Tinggi badan waktu lahir : _51 cm_
Lahir pada pukul: _23,45 wib_
Dilahirkan di: _Klinik Sumber Bahagia_
Di bantu oleh: _Bidan_
Nama bidan: _Bd, Atika Renata.S.Tr.Keb.
______
__ADS_1
Lalu, Kartika membuka gulungan kertas kedua, yang ternyata adalah sebuah surat.
...Assalamu'alaikum....
Bagi siapapun yang telah membaca surat ini, Andalah penyelamat bagi anak perempuanku.
Andalah malaikat yang telah Allah kirim untukku.
Ku mohon, rawatlah ia dengan sepenuh hati, dan kasih sayang.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada kami, tapi aku berharap Najwa putriku akan selamat.
Berikan ia pendidikan ilmu agama sesuai agamaku, yaitu islam.
Anda pasti seorang muslim, aku yakin itu.
Terimakasih ku ucapkan dari lubuk hati terdalam.Semoga Allah memberikan rahmatnya kepada mu.
Jual saja kalung itu, untuk biaya hidup bayiku.
Satu permintaanku, bawalah ia pergi jauh dari kota.Keselamatannya terancam disini.
Tolong, sembunyikan identitasnya. Beri ia identitas baru demi kelangsungan hidupnya.
Tutuplah auratnya ketika ia telah baligh.
Aku Ameera Assidiqia sangat berterimakasih.
Wassalamu'alaikum.
Setelah membaca surat-surat itu, mereka bertiga terdiam, seakan larut dalam pemikirannya masing-masing.
Pertemuan mereka memang sudah skenario dari Allah bukan?
Dan, Kartika lah yang akhirnya terpilih untuk manjadi orang tua tunggal bagi bayi malang itu.
Mungkin, kini bayi itu bisa di katakan beruntung , karena ia telah selamat dan kini berada di tangan orang-orang yang tepat.
Entah, bagaimana nasib sang ibu di luar sana.
"Umma yakin, kejadian ini pasti bermakna sesuatu di kemudian hari. Umma, akan merawat bayi itu, bukankah kalian selalu menginginkan, seorang adik perempuan?" tanya umma yang menyentak lamunan kedua putra beda usia tersebut.
"Adek mau, Um." Maulana menjawab antusias sambil menganggukkan kepalanya serta tersenyum lebar.
"Anak bayik punya dedek bayik?" goda Andra kepada adik lelakinya itu.
Yang kemudian di balas dengan pelototan dari bocah SMP itu.
"Sudah, sudah, sebaiknya kita tidur sebentar supaya bisa bangun tahajud. Nanti baru kita bahas lagi, lagi pula besok kalian harus belanja keperluan bayi itu. Lihatlah, sudah hampir jam 2 dini hari." Kartika mengarahkan pandangannya pada sebuah benda bulat yang menempel didinding. Benda mati yang selalu mengingatkan, bahwa waktu itu, selalu bergerak maju dan tidak bisa mundur.
******
Pagi itu, di rumah minimalis berlantai dua, kehidupan keluarga kecil itu, telah di sambut oleh suara khas, dari tangisan seorang bayi yang belum genap sebulan usianya.
Bayi berjenis kelamin perempuan, yang bernama Najwa. Sudah mulai merasa haus kembali, belum lagi popok nya yang belum di ganti entah sejak kapan. Bayi mungil itu merasa sangat tidak nyaman, karena nya ia meronta dan menangis sedemikian keras.
Kartika yang hanya merasakan tidur selama kurang dari dua jam, terlihat memijat pelipis kirinya.
Ia harus belanja keperluan sang bayi ke pasar. Sedangkan hari ini, adalah hari nya bekerja. Mau tidak mau, ia pun meminta izin kepada atasannya.
Ia memutuskan untuk mengirim chat saja, dan mengatakan bahwa ia izin, di karenakan ada urusan penting.
__ADS_1
Kartika membawa bayi yang menangis itu melewati tangga, untuk menuju ke lantai atas, ke kamar dua perjaka tampannya itu.
Mata Andra pun langsung melebar ketika telinganya menangkap suara pekikan itu lagi.
Ternyata kejadian semalam itu bukan mimpi, begitulah pikirnya.
Sepasang mata hitam pekat itu, menangkap sosok sang umma yang sedang menimang bayi, tepat di depan pintu kamarnya.
"Kenapa lagi bayi nya, Um? Demen amat nangis sih? emang gak capek ya?" tanya Andra polos sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Najwa, nangis karena dia lapar, dia butuh susu, butuh popok bersih!" jawab Kartika gemas dengan kepolosan putra nya itu.
"O, terus gimana, Um?" tanya Andra lagi masih dengan kelemotan yang hakiki.Mungkin karena nyawanya belum kumpul.
"Ya Allah, Abang!" geramnya, ingin rasanya ia memukul kepala yang isinya hanya tentang mesin dan robot itu.
"Bayi ini bisa mati kecapean nangis, udah setengah jam begini!" seru Kartika menyadarkan putranya.
Sontak Andra langsung beranjak dari tempat tidur, kemudian berlari ke kamar mandi.Tapi dia balik lagi, yang ternyata ingin membangunkan sang adik.
"Anak bayik! Bangun!" pekik Andra tepat di telinga Maulana. Ia berencana mengajak sang adik ikut dengannya. Karena tidak terima di bangunkan dengan cara seperti itu, Maulana menghadiahkan pukulan bantal tepat di kepala Andra. Akhirnya mereka pun saling berbalas, hingga terjadilah perang bantal.
Dan, Kartika hanya bisa nyebut. "ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM!!" yang kemudian di sambut tangisan super kencang dari si bayi dalam gendongannya.
"Maaf, Um! ni si Adek yang mukul duluan!" sanggah Andra.
"Apaan? Abang duluan yang teriak di kuping aku!" elak Maulana dengan raut tak terima.
"Abang, kan niat bangunin kamu, mau ngajak ke pasar, tuh adiknya gak punya baju!" dalih Andra sambil menunjuk sosok yang masih terus memekik dalam dekapan umma. Bahkan kini di tambah dengan perdebatan mereka berdua, antara siapa yang salah, makin ramai saja suasana pagi di rumah janda cantik beranak dua itu.
Dengan menahan geram, Kartika pun berjalan cepat menghampiri kedua putranya itu.
Kemudian, ia menyerahkan sosok mungil, yang di balut kain sarung sebagai pengganti kain bedong.Hingga Andra gelagapan di buatnya.
"Loh, Um?" Andra yang tak siap pun melayangkan protesnya. Hingga mata bulat sang umma hampir keluar dari kelopaknya. Sontak, ia pun menghela napas pasrah.
"Dah, jagain tu adik baru kalian! biar, Umma aja yang ke pasar!" Setelah memindahkan bayi itu dari gendongannya, Kartika pun berlalu dengan cepat.
"Yah, Um! Umma...!" teriakan Andra pun sia-sia.
"Jagain baek-baek ya, Bang! Adek tamvan mu ini mau mandi dulu." Maulana pun berlalu dengan cepat sambil tergelak.
"Adek, gak ada akhlak!" umpat Andra, namun sosok sang adik telah menghilang ke dalam kamar mandi.
"Cup, cup, sayang... anak manis, anak pinter, jadilah adik yang baik ya," bujuk nya pada sosok lemah tak berdaya, yang kini berada dalam rengkuhan nya. Di pandangi wajahnya yang memerah karena terus menangis, hingga bibir kecil itu terlihat pucat dan bergetar.
"Sabar ya cantik, sebentar lagi umma kita pulang, bawa susu sama baju baru."
Seperti mengerti, bayi itu terlihat mulai tenang dan berhenti menangis. Kemudian mata bulatnya itu seakan memandangi wajah Andra.
Sekilas bayi itu terlihat tersenyum.
"Anak pinter, nurut ya sama Abang."
"Cantik! Abang akan jagain kamu."
Yang bener ya, bang! Jagain tuh adiknya.
Sapa tau jodoh.😍
Jempol mana jempol??
__ADS_1
Pijit dong ah, biar asoyy😉