
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Drep.
Suara langkah kaki itu berhenti, dan dua orang yang tadinya asik mengobrol sambil bercanda, seketika menoleh secara bersamaan.
Dalam sekejap, Kartika merubah ekspresinya. Menghampiri gadis kecil yang sedang terpaku di antara pintu penghubung ruang dapur dan ruang makan.
" Kamu udah pulang ternyata, kok Umma gak dengar ada yang beri salam?" ucap Kartika lembut, sembari mengelus pipi yang sedikit dingin itu, setelah sebelumnya Najwa mencium tangannya itu.
"Assalamu'alaikum, Umma, Uncle...," salam nya dengan segurat senyum tipis ke arah Andra.
"Waalaikum salam," di jawab serempak oleh ibu dan anak yang tetiba kikuk.
"Ehm, Umma buatin coklat ya. Biar badan kamu hangat dan ilang semua capek nya,"
"Karena, pasti ujiannya melelahkan," tawar Kartika hendak menuntun tangan ramping itu, namun...
"Syukron, Umma. Najwa mau istirahat aja di kamar." Gadis itu berucap setelah melihat sekilas Andra yang memunggunginya. Hatinya bagai di remas, melihat pemuda kesayangannya itu tak menghiraukan kehadirannya. Semangat nya semakin layu saja, ia hanya ingin kembali menangis saja di kamarnya.
Najwa pun berlalu dengan cepat menaiki tangga dengan langkah tegas. Kartika faham dan menyadari, bahwa ada yang secara tanpa sadar telah saling menyakiti.
Ia menoleh, menatap punggung tegap berbalut kemeja biru dongker itu. Semakin ia dekat, semakin nampak bahwa tubuh tegap itu sedikit bergetar.
Wanita dengan pakaian syar'i, menyentuh bahu pemuda itu lembut.
Jangan siksa dirimu, temui dia.
Jadilah, gentle dan tegar
Lakukan, semua demi kebahagiaan nya bukan?"
Andra mendongak, menghalau cairan bening yang dengan kurang ajarnya hendak luruh begitu saja.
Membenahi nafasnya yang sempat sesak, padahal hanya mendengar nada suara kecewa dari gadis kecil manjanya.
Andra menoleh ke samping
"Apa perasaan Abang, salah? Um?" tanya Andra sambil menatap sepasang mata teduh di sebelahnya.
"Abang, kau?" Kartika hanya bisa menatap dalam mata putra nya dan ia melihat sebuah kenyataan di sana.
"Yang Umma khawatirkan,ternyata sungguh terjadi," lirih Kartika, kemudian ia mendudukkan tubuh nya yang mendadak tak bertulang.
"Sejak kapan Abang menyadarinya?"
"Apa yang Abang pikirkan sekarang?"
"Lalu apa yang...?" ucapan Kartika berhenti ketika ia melihat raut wajah datar Andra.
"Ah, iya di jawab satu- satu aja, Bang," ucap Kartika geli sendiri dengan kebiasaannya.
" Sejak Abang membatasi diri dengannya,"
"Aku mulai kehilangan sesuatu, rasa tak biasa yang..., entahlah." Andra menghela nafas sejenak. Dan, kini mereka berdua terdiam.
"Abang, akan menemuinya, Um," ucap Andra kemudian memecah keheningan.
"Oke, Umma, temenin," ucap Kartika.
"Umma, gak percaya sama Abang?" tanya Andra menghentikan langkahnya, karena sang umma mengikutinya.
__ADS_1
Kartika terkesiap, wajahnya mendongak menatap sang putra yang lebih tinggi darinya.
"Kalo Umma gak ikut, Abang yakin bakal di bukain pintu?" tanya Kartika dengan memicingkan matanya, tangannya bersidekap, tubuhnya di condong kan ke depan.
"Eh, iya juga ya? Ya udah, Umma ikut." Mereka pun melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!" Kartika tiba-tiba ingat sesuatu.
"Apa lagi, Um?" tanya Andra bingung.
"Kita bawain coklat sama cemilan ke kamarnya, pasti dia lapar kan pulang sekolah," saran Kartika yang kemudian di setujui Andra.
Mereka berdua menapaki anak tangga yang akab membawa mereka ke lantai atas. Secangkir coklat panas dan sandwich mozzarella kesukaan Najwa.
Sesampainya mereka di atas, Kartika mengetuk pintu yang berbahan kayu mahoni tersebut.
Sekali.
Dua kali..
"Sayang! Ini Umma sama Uncle...!" panggil Kartika pada penghuni kamar itu.
Sedetik.
Lima detik.
"Sebentar...," terdengar jawaban lemah dari dalam kamar.
Ceklekk.
Najwa membuka pintu nya lebar, seulas senyum ia ciptakan dengan susah payah.
Namun, mata sembabnya tak dapat ia tutupi. Ia melihat uncle nya tengah menatapnya dengan senyum, matanya kembali memanas. Namun, Najwa berusaha menahannya.
"Umma tarok atas nakas ya, coklat nya,"
"Ini, juga ada sandwich keju kesukaan kamu. Bikinan Uncle tuh!" ucap Kartika berusaha mencairkan suasana yang membuat siapapun mellow seketika.
Bagaimana tidak, mata Najwa yang sembab serta suaranya yang sedikit serak. Betapa terlukanya hati gadis kecilnya itu.
"Umma tinggal ya, kalian udah lama gak ngobrol kan,"
"Nanti, pintunya di buka aja. Gapapa...," ucap Kartika mengelus pelan pucuk kepala Najwa.
Kartika pun berlalu setelah menyentuh pundak Andra dengan sedikit memberi tekanan, bahkan tatapan mata besar itu bernada ancaman.
Mungkin, mengandung arti. Minta maaf sana!
Andra hanya meringis kecil, kemudian pandangannya kembali pada gadisnya. Ternyata, Najwa tengah membelakangi nya.
Gadis pra remaja itu tengah berada di depan jendela kamarnya yang terbuka. Menikmati udara sore dengan angin pra musim semi yang sepoi-sepoi.
Mendadak gadis itu menjadi pendiam dan dingin.
Apakah ia tengah membalas perlakuan Andra belakangan ini?
Andra benar-benar kehilangan kata-kata, bibirnya beberapa kali buka tutup, tapi tak ada satu pun kalimat yang meluncur dari lidahnya.
"Uncle ada perlu apa?" tanya Najwa datar.
Jleb.
__ADS_1
Dingin dan kaku sekali.
Andra menelan ludah nya susah.
Kenapa hati nya sakit saat ia tidak di anggap seperti ini?
Bagaikan di hujam sembilu tak kasat mata, hanya menyisakan rasa panas dan perih.
Andra berusaha menguasai hatinya, gadisnya ternyata lebih dewasa dari usianya. Pikirnya, ia akan merajuk bahkan marah. Ternyata, Najwa sudah bisa mengendalikan emosinya.
"Ada mau Uncle omongin, tapi sambil makan camilan ya," tawarnya.
Najwa menoleh sesaat, kemudian berpaling lagi. Berjalan ke arah samping ranjang menuju nakas.
Ia membawa gelas coklat nya, duduk di atas ranjangnya. Menyeruput perlahan kemudian mengambil potongan sandwich.
"Makanlah, Uncle,"
"Tundukkan pandangan mu," ucap Najwa lagi, membuat pemuda di hadapannya, yang sedang memperhatikan gerak-geriknya. Mati kutu.
(Anak ini, dari mana dia belajar menyindir seperti itu?
Kenapa tiba-tiba terlihat dewasa sekali?
Hei, kau ini bayi merah yang belum lama menempel terus padaku!
Bisa-bisanya kau, mengatakan hal itu pada uncle mu ini!)
Andra menatap kedua telapak tangannya, di mana belum lama, ia masih bisa menyentuh Najwa sesuka hatinya.
Sekarang, untuk menatapnya lama saja ia sudah kena tegur seperti tadi. Bagaimana tidak, ia juga yang salah. Telah tersepona sesaat oleh gaya anggun gadis jelitanya itu.
Andra ikut mendudukkan bokongnya di atas ranjang dengan kasur busa itu. Menoleh ke samping, di mana terlihat Najwa masih mengunyah rotinya dengan pelan-pelan.
(Aih, kenapa kau semakin imut?)
Andra mengusap wajahnya, ia harus segera keluar dari atmosfir ini. Otaknya lama-lama bisa tak waras.
Mungkin, sudah saatnya ia dan Najwa berada pada frekuensi yang berbeda.
"Uncle, ingin mengajakmu makan takoyaki. Sama Umma juga," ucap Andra akhirnya.
Namun, Najwa tak bergeming. Terlihat ia meneguk kembali coklatnya
"Malam ini, kita keluar,"
"Sebagai permohonan maaf, telah mengacuhkan mu beberapa pekan ini," Tambah pemuda itu terlihat gelisah, karena Najwa tak juga meresponnya.
"Uncle tunggu, selepas solat isya."
"Uncle harap kita bisa bersama,eh. Maksudnya malam nanti kita bisa keluar bersama. Ya, seperti itu," jelas Andra kikuk, padahal hanya sedang berhadapan dengan gadis pitik.
Najwa menatap Andra yang tengah menggaruk tengkuknya, tersenyum simpul kemudian tersadar. Dan, ia pun memalingkan wajahnya.
Menutupi rona itu, karena menatap wajah Andra membuat nya mendadak kembali menginginkan rasa itu.
Rasa, yang belum saatnya ia rasakan.
Rasa, yang belum waktunya ia utarakan.
Rasa, yang belum masanya ia berikan.
__ADS_1
"Baiklah, Uncle," jawab Najwa singkat.
Bersambung>>>>>