Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Andra yang ketinggalan Maulana..


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Kartika melepas kepulangan besan, dengan mengantar mereka hanya sampai bandara. Setelahnya, Mau dan Isyana menghabiskan malam mereka di hotel.


Di bandara Andra sekalian memesan tiket untuk empat orang. Dan keberangkatan menuju negara I pada jam penerbangan ketiga.


Andra dan Kartika segera menyiapkan segala keperluan untuk besok, tak lupa untuk mengabari Ameera dan Hideo.


Tuutt...panggilan sedang terhubung.


Kliikk.


"Halo, waalaikum salam."


"Besok, kami akan pulang."


"Jangan katakan pada Najwa, ya biar kami akan menjadi kejutan untuknya."


"Terimakasih, Meera,"


"Assalamu'alaikum!" Kartika memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Kita mau kemana, Bang?" tanya Kartika karena Andra tidak melewati jalan menuju rumah.


"Abang, mau beli cincin Umma," jawab Andra dengan senyum simpulnya.


"Abang...." Kartika menatap heran pada pria di depan kemudi itu.


"Biar kayak di drama gitu, Um,"


"Emang, gak boleh ya?" tanya Andra, mencebikan bibirnya kecewa.


"Itu kan budaya barat, Bang. Sedangkan, cara yang di anjurkan dalam islam gak kayak gitu. Cukup kamu mengkhitbahnya langsung kepada kedua orang tua atau wali nya," jelas Kartika gemas, bisa-bisa nya sang putra kena virus drama bucin.


" Iya deh, Um. Kalo gitu kita beli hadiah lain aja ya. Gimana?" rayu Andra memasang puppy eyes nya.


"Haish, ni anak. Udah tuak juga, masih aja pake jurus itu," gerutu Kartika kemudian melempar pandangannya ke luar jendela.


Di tolak pun, Andra akan mengeluarkan jurus lainnya. Hingga keinginannya terpenuhi oleh sang umma.


****


Mau yang memang telah memesan sebuah kamar pengantin di hotel itu. Di buat terperangah oleh designnya. Serta beberapa ornamen dan hiasan yang membuat bulu kuduknya merinding seketika.


Aroma terapi yang menenangkan, malah membuat pikirannya traveling. Tangannya segera menuntun tubuh langsing yang mematung di depan pintu.



Isyana terlihat sudah membuka kerudungnya, serta mempreteli satu persatu perhiasannya.


"Sini, kok malah bengong," tegur pria dengan tatapan matanya yang bikin meleleh.


__ADS_1


Bahkan Isyana mau pingsan saja, agar malam ini bisa di lewatinya dengan mudah, tanpa perlu senam jantung seperti ini.


"A-aku, mau bersih-bersih dulu ya," ucap wanita keturunan india itu dengan tubuh yang masih terbungkus busana muslimah nya, " sebentar kok."


Tanpa mendengar persetujuan dari sang suami, Isyana langsung ngacir dengan jurus kilat.


"Aduh, aduh...mami. Jantung nana deg-degan. Gimana ini, kok nana jadi gemeteran?" oceh Isyana pelan di balik pintu kamar mandi yang di tutup rapat olehnya.


Sementara di atas kasur king size, Maulana tengah tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan ekspresi Isyana yang merona dan malu.


"Tempo hari kan dia yang ingin buru-buru di lamar. Giliran udah sah, kenapa dia panik sendiri," monolog Mau, sambil terkekeh geli. Sampai-sampai, ia menutupi wajahnya dengan bantal hotel yang empuk.


Ia mendudukkan tubuhnya, membuka beberapa kancing pada kemejanya. Hingga, nampak lah singlet sebagai under wear nya. Mau terus membuka kancingnya hingga bawah. Melempar kemejanya ke ranjang cucian. Sepasang mata hitamnya memandang tak berkedip pada pintu kamar mandi.


5 menit.


10 menit.


"Aih, kenapa dia lama sekali." Maulana kembali ke kasur yang bertabur kelopak mawar itu, merebahkan tubuh tegap nan gagahnya. Ia mencoba memejamkan matanya sebentar, lalu...


Klek.


Suara pintu di buka.


Dan, seketika..., aroma sabun yang wangi menggelitik indera penciumannya.


Saat itu juga pandangannya terfokus pada sosok cantik yang segar berseri. Dengan rambut yang masih sedikit basah dan wajah natural tanpa make up.


Kepala dan rambut yang selama ini tertutup, kini tergerai indah. Betis dan lengan serta leher jenjang yang selama ini terbungkus kain panjang.


Telah terpampang jelas menampilkan keindahan, yang seketika mendatangkan aliran dan sengatan.


Hingga menegakkan sesuatu yang selama ini terkulai.


Membangunkan gelora yang sepanjang usia nya ia tahan. Gairah yang di paksa nya untuk hibernasi panjang, kini telah bangkit menuju kebebasan.


"Sayang, kok lama?" tanya Mau ketika ia telah membawa Isyana ke dalam rengkuhannya.


Dirinya tak tahan, menciumi aroma harum pada rambut dan tubuh itu.


"Mau, kamu..., gak mandi dulu?" elak Isyana yang merasa risih karena ia berada di atas pangkuan Maulana. Dengan hanya terbungkus handuk kimono mini. Hingga, mempertunjukkan paha mulus nya.


"Nanti aja aku mah, sekalian junub,"


"Kamu, gak keberatan kan? tanya Mau dengan kilat gelora yang nampak dari tatapan mata hitamnya, " lagi pula aku gak bau, kok."


Kemudian, Mau melafalkan doa untuk mencampuri istrinya.


Isyana memekik tertahan, ketika Mau membenamkan wajah ke bagian depan tubuhnya. Di mana terdapat sepasang buah kenyal tanpa pembungkus, hingga tercetak jelas bijinya yang sebesar kacang polong.


Mau semakin mengeratkan pelukannya, tangannya mulai aktif menyingkap kimono yang memudahkan pekerjaannya saat ini.


"Aahh...!" suara ajaib itu akhirnya lolos juga dari kedua bibir tebal Isyana. Ketika Maulana berhasil menyingkap kimono nya, dan menangkup buah kenyal dengan biji kacang polong yang sudah berdiri kaku.

__ADS_1


"Mau...,"


"Ehmm...,"


Isyana terus meracau karena merasakan sensasi yang baru pertama ia kecap seumur hidupnya. Pikirannya kosong, rasa malu-malu yang beberapa saat lalu sempat melingkupinya. Kini, entah menguap kemana.


Mau, benar-benar macam bayi besar saat ini.


Bukan hanya mulutnya saja yang beraksi, namun jari-jemarinya juga mulai lihai merambah ke dalam hutan lindung yang tersegel.


Hingga, ia dapat merasakan beberapa helai rambut yang lembut. Isyana secara reflek sedikit melebarkan jalannya. Hingga kini, jemari Mau leluasa menjelajah hutan lindung yang belum pernah terjamah.


Desah, racau dan jerit menjadi satu dan semakin tak terkendali. Hingga kedua tubuh dua insan yang telah halal ini, tanpa benang sehelai pun yang menutupi. Mau merebahkan Isyana, menarik selimut kemudian menutupi tubuh mereka.


"Izinkan aku, melakukan kewajiban ku sekaligus meminta hak ku pada mu, wahai jauzati," ucap Mau.


"Lakukanlah, ya jauzi. Aku milikmu." Kemudian Isyana memejamkan matanya, tatkala bibir Mau menyesap bibirnya pelan dan semakin menuntut.


Hingga kedua nya telah memanas dalam alunan merdu serta irama decapan yang syahdu.


Sampai akhirnya pekikan Isyana melengking ketika gerbang hutan lindung nya terkoyak oleh kepala serdadu kecil.


Mau, mendorongnya perlahan sambil sesekali memberi kecupan di kening, mata dan bibir Isyana. Mengucap maaf berkali-kali, karena ia tak mungkin berhenti saat ini. Meski pun, hatinya tak tega melihat air mata itu luruh membasahi kedua pipi mulus wanita yang telah utuh menjadi miliknya.


Maulana, melakukan aksi terakhirnya. Hingga mereka berdua sampai pada titik ternikmat yang kebanyakan orang bilang surganya dunia.


"Terima kasih, sayang. Kau telah menjaga dan mempersembahkannya untukku." Mau mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada wajah cantik yang sudah lemas itu.


"Aku suka kau memanggil ku seperti itu, sayang," lirih Isyana dengan mata terpejam.


" Kalau, begitu. Aku akan memanggil mu sayang mulai saat ini," sahut Mau yang kini telah bersandar pada kepala dipan.


Isyana tersenyum, tak lama kemudian ia sudah hanyut dalam peraduan.


"Kenapa langsung tidur?"


"Ya sudah biar aku saja yang membersihkan."


Kemudian Mau turun mencari waslap dan air hangat.


Seketika senyumnya mengembang, kala ia melihat bercak merah itu di seprai. Kemudian, ia membasuh dengan lembut pada daerah pribadi istrinya itu. Membersihkannya dari jejak percintaan mereka.


Setelahnya, ia kembali menutupi rapat Isyana dengan selimut. Karena, ia bukan hanya takut istrinya itu kedinginan. Tapi, ia juga takut jika keinginan nya timbul lagi. Sementara, Isyana masih teler seperti itu.


Maaf ya geng's...


Unboxing nya Mau duluan deh....


πŸ˜‚πŸ˜‚


Tuh, mak chibi kasih visual juga...hayoo bilang apa??😁


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2