
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Eh, eh..., bukannya kayak gitu,"
"Tapi, em..., gak sopan aja, sayang," jelas Andra pelan dan lembut, mencoba memberi pengertian pada gadis kecil yang tengah menahan isak nya itu.
" Kan, Najwa, cuma sayang sama Uncle. Najwa masih kangen, tapi Uncle udah mau pergi lagi, huaaa...." Akhirnya, tangis balita itu tumpah juga.
" Kenapa sih, kok Najwa nya dibikin nangis gitu?" Tiba-tiba, Kartika menghampiri mereka.
"Enggak, apa-apa kok, Um." jawabnya sambil mengelus punggung berusaha meredakan tangis balita cantik ini.
"Gak apa-apa gimana? Najwa aja sampe seg-segan gitu," omel Kartika, karena setahu nya, Andra memang paling suka menggoda Najwa. Hingga, akhirnya dia yang akan kerepotan sendiri. Karena, balita itu tidak akan melepaskannya seharian.
"Abang harusnya bikin Najwa seneng dong, kan mau di tinggal lagi tuh seminggu. Nanti, kalo dia nguring, Umma yang kewalahan," cetus Umma Kartika, tanpa tau masalahnya main nyerocos aja.
(Kenapa, umma makin bawel ya?)
Andra tersenyum samar karena pemikirannya sendiri.
"Sini, Najwa sama Umma yuk," bujuk Kartika hendak mengambil Najwa. Namun, balita itu menggeleng sambil memeluk erat pinggang uncle tampannya.
"Gak mau, hiks...." Mau nya... sama... Uncle aja...," tolak Najwa di sela isak tangis nya.
"Ya udah, kalo mau sama Uncle, Najwa yang cantik berhenti ya nangisnya," rayu Andra sambil menyapu air mata yang membasahi seluruh wajah bulat itu.
"Makan es krim di taman gih, sama Uncle," saran Kartika pada kedua orang beda usia yang sedang lengket berpelukan itu.
" Wah, edi bagus tuh!" jawab Andra antusias.
"Ide, Uncle. Bukan edi," protes Najwa, membuat Kartika dan Andra melongo macam sapi ompong.
Najwa pun terkekeh.
" Umma, sama Uncle mukanya lucu, hihihi...!" tawa khas balita pun menggema di ruang tamu sederhana itu.
.
Ini, Najwa waktu enam bulan.
Ini, Najwa pas sembilan bulan.
Kira-kira, beginilah pas uncle Andra ngasuh si Najwa waktu bayi.
Sekarang, mereka lagi di taman. Abis makan es krim, Najwa minta di gendong uncle.
"Najwa, makin berat ih. Uncle hampir gak kuat nih," akting Andra pura-pura kepayahan.
"Ini, gara-gara Umma,"
"Aku di suruh makan yang banyak. Kan jadi berat," sesal nya dengan bibir mengerucut.
"Pokonya, aku gak mau makan banyak-banyak deh, kalo gitu. Biar, Uncle gak keberatan kalo gendong aku nya," janjinya dengan mimik wajah polos, membuat Andra menyesali kata-katanya barusan.
Padahal ia hanya bermaksud menggoda balita ceriwis ini.
"Ish, Najwa. Bukan gitu juga maksud Uncle."
__ADS_1
Andra hanya bisa membuang nafasnya kasar, sambil memikirkan jawaban untuk mengklarifikasi ucapannya tadi.
"Najwa, harus makan yang banyak biar cepat besar." titah nya dengan tegas.
"Tadi, kata Uncle, Najwa berat? Kenapa, malah mau aku cepat besar? Nanti, Uncle gak kuat gendong aku "
"Pokoknya, aku mau makan dikit aja," rengek Najwa, akhirnya membuat kepala Andra kembali tuing-tuing.
(Ini anak, gua gak boleh salah ngomong dikit.)
******
Hideo memeriksa seluruh isi lemari nya dan juga semua laci di nakas. Mencari berkas yang di curiga ikut di bawa oleh Ameera ketika mereka hilang di sekap.
Bahkan, tas branded yang sekiranya pernah di pakai oleh Ameera, tak luput juga dari penggeledahan. Akan tetapi, semua nihil.
Hideo ingat, mungkin berkas itu terbawa di tas bayi, yang sedang Ameera gunakan pada saat itu.
Betapa, ia merutuki dirinya sendiri bila mengingat lagi detik-detik penculikan keduanya. Ia merasa sangatlah gagal dalam melindungi bagian terpenting di dalam hidupnya itu.
Dua sosok,bidadari tanpa sayap. Yang telah merubah keseluruhan hidupnya, bahkan mengubah pandangannya, terhadap Tuhan. Menggiringnya perlahan pada satu titik yang mendamaikan kegamangannya. Hingga, dunianya yang gelap, menemukan secercah cahaya yang menuntun nya pulang.
Mungkin, ini adalah salah satu jalan bagi, Hideo Kaindra. Agar dapat menemukan jejak sang putri suatu saat nanti.
Sampai masa itu tiba, ketika Najwa membutuhkan data-data nya.
Maka secara otomatis, para ahli IT nya akan segera menemukan di manapun putrinya berada.
Serasa menemukan angin segar, Hideo mengucap syukur dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Pria matang dengan wajah yang masih terlihat muda itu, meletakkan bokongnya di ranjang besar. Di mana kala itu, menjadi saksi bisu peraduan kasih nya dengan Ameera.
Hideo, menghembuskan nafasnya kasar. Karena, ia telah merindukan sang istri lagi. Padahal, ia baru saja sampai empat jam yang lalu.
Hideo mengambil benda pipih di dalam kantung jasnya. Mengusap layar dan mulai menghubungi seseorang.
Entah, dorongan dari mana. Pria metro seksual itu meletakkan ponselnya, mulai menghampiri lemari dan membuka kotak perhiasan yang cukup besar itu.
(Ini kan set perhiasan lengkap, mahar pernikahan dari ku. Setahu ku, Ameera selalu mengenakan kalung dengan bandul berlian itu.Tapi...,)
Hideo, kembali menutup kotak itu kemudian mengambil ponsel yang ia letakkan di atas kasur.
Mengusap layar enam inchi tersebut, kemudian menyentuh satu nama dengan ibu jarinya.
Hingga, panggilan itu terhubung.
"Halo, Tuan." suara sang asisten.
"Pesankan aku tiket ke negara S sekarang juga!" suara Hideo penuh penekanan.
"Tapi, Tuan. Kita sudah punya tiket untuk kepulangan sore nanti." suara sang asisten berkepala pelontos berdalih. Karena, saat ini dia tengah menikmati kopi hitam panas dengan singkong goreng kremes.
Setelah, tiga jam ia berkutat dengan laptop demi menyelesaikan masalah di kantor.
"Sekarang, Igun! Kau dengar kan!" suara tegas Hideo mengudara.
"Baik, Tuan!" Igun sontak berdiri di seberang sana.
"Kau, berteriak padaku, hah!" suara Hideo berteriak.
"Tidak, Tuan. Anda yang berteriak pada saya." suara Igun yang terintimidasi.
"Sekali lagi, kau berani teriak padaku. Ku batal kan lamaran mu dengan Ningsih!"
"Tidak,Tuan." suara Igun melemah.
__ADS_1
" Kerjakan perintahku cepat!
"Ba...," Baru saja Igun hendak menjawab, di seberang sana, Hideo telah mematikan panggilannya secara sepihak.
(Sayang, apakah kalung mu? Juga terbawa oleh putri kita?)
Hideo, kembali menghubungi seseorang.
"Halo........"
"Saya, Hideo Kaindra."
"(......)"
"Cek pesanan saya, satu set perhiasan setahun yang lalu,"
"(......)"
...........
"(.........)"
"Iya, mahar."
"(.......)"
"Kirimkan foto kalung itu, lalu kabari saya bila terdeteksi penjualan dari kalung tersebut.
" (........)"
Tuut..
*****
"Aaawkkkkhhhh...!"
Bukk!
Prangg!
Seorang pria bermata sipit menjatuhkan dirinya di depan ranjang besar. Ia menekuk lututnya, kemudian meremas kepalanya.
(Di mana kau, nak?)
(Putri ayah yang cantik?)
(Maafkan, aku! Aku, ayahmu yang tidak berguna!)
Pria berkebangsaan Jepang, seorang pengusaha otomotif dan elektronik terbesar di negara I tersebut. Kembali meremas kuat rambutnya dengan kedua tangan di kanan dan kiri.
Sudah dua tahun berlalu, sejak ia menemukan titik terang itu, kini cahaya itu kembali meredup bahkan hilang sama sekali. Hingga, jalan menuju jejak sang putri kembali gelap gulita.
(Kenapa, KAU menghukum ku seperti ini, ya Allah!)
Brakk!
(Suara pintu di buka paksa.)
"Hubby...!"
Bersambung>>>>>
Note: Yang di dalam kurung adalah suara hati tokoh.
Maaf, bukan mak gak bisa nyetak tulisan italic tapi sistem keypad error mulu, dari pada buang waktu, dan bikin esmoni jiwa merekah mending mak bikin begitu aja🙃😎😌.
__ADS_1
Maklumin dah yak😋