Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Membelah hutan tak berpenghuni.


__ADS_3

❤❤❤❤🌸🌸🌸❤❤❤❤


Grepp.


Andra memeluk tubuh ramping itu, mendekap nya erat. Menghujani dengan kecupan di dahi bertubi-tubi.


Ia memutuskan untuk memulai semuanya secara perlahan, biarlah mengalir seperti air. Tanpa ada nya paksaan atau tekanan.


"Akhirnya, aku bisa memelukmu. Menghirup wangi rambutmu, dan merasakan bibir manis ini," tunjuk Andra pada bibir Plum yang senantiasa menggoda itu.


"Aku tidak menyangka, waktu ini akan tiba. Penderitaan demi menahan rindu akhirnya usai juga. Kini, aku dapat melihat wajahmu setiap hari."


Cup.


Cup.


Kening, hidung, kedua pipi dan bibir tak luput dari kecupan basah nan hangat.


Mereka saling lekat memandang, iris mata pun bertabrakan dalam kilau asmara terpendam. Najwa, melihat pria dihadapannya itu telah berselimut kabut gairah.


Nafasnya yang memburu telah menyapu hangat pada wajahnya. Jakunnya yang seksi terlihat turun naik menahan gelora yang memaksa untuk dikeluarkan.


(A-aku mengerti apa yang harusnya terjadi malam ini. Aku pun paham apa kewajibanku serta hak suamiku. Hanya saja, selama mempelajarinya lewat teori sepertinya ini semua akan mudah. Tapi ternyata, keadaan di lapangan sungguh sangat mengancam keselamatan pada jantungku. Karena dia selalu berdetak lebih cepat ketika uncle menyentuhku. Kenapa tidak ada penjelasan seperti itu di buku!) Najwa hanya bisa bicara lewat kalbunya.


Mata hitam pekat yang menatapnya dalam itu, seakan menghipnotisnya. Hingga, lidahnya tak lagi mampu mengeluarkan satu kata pun.


Hanya desah dan lenguhannya saja yang terlepas tanpa mampu di kontrolnya. Ketika, Andra kini mulai menguasai tubuh bagian atasnya.


"U-uncle sudah baca do'a kan?" tanya Najwa parau. Ia mendorong wajah pria itu dari ceruk lehernya. Satu tompel merah tak permanen berhasil Andra cetak di sana.


" Tentu saja sudah, sayang...," jawab Andra serak.


Blush.


Merona di kedua pipi itu semakin menjadi.


(Sayang? Um, manis sekali!)


"Jangan panggil Uncle lagi, pada suamimu ini," ucap Andra dengan suara seperti orang yang meracau.


"Lalu, ahh...! Najwa ha-harus panggil apa?" jawabnya dengan desah yang semakin membuat Andra gerah.


"Uuhh...!" erangnya kecil karena Andra telah membuka seluruh atasannya dan menangkup salah satu buah nya dengan mulut.


Sensasi dan gelenyar aneh yang baru pertama kali ia rasakan membuat intinya berdenyut di bawah sana.


Huh...hah.


Najwa mengatur napasnya, ia merasa oksigen di sekitarnya menipis, namun di beberapa titik tubuhnya ia merasakan sensasi menggelitik dan panas.


Andra asik bermain dengan kedua benda bulat berisi yang sangat pas berada di dalam genggaman tangannya yang besar.


Menarik sisa kain yang menutupi tubuh indah gadis muda di bawah kendali nya itu. Kemudian menebar kain selimut untuk menutupi mereka berdua.


Plupp.


"Panggil apa saja, sayang pun boleh." Setelah mengatakan permintaannya, Andra kembali menyesap biji buah yang berwarna merah jambu itu.


Tubuh Najwa yang berisi dan sudah terbentuk indah layaknya wanita dewasa itu meliuk. Setiap sentuhan di tubuhnya seakan menyengat hingga ke ujung kepala.


Aksinya itu membuat gairah Andra yang selama ini di tahannya semakin memuncak, ia semakin asik memainkan setiap sisi sensitif di tubuh putih nan mulus itu.


Bibir dan jemarinya bergerak seirama erangan dan desah merdu dari Najwa. Suara indah yang mengalun dari bibir manis yang merekah itu. Semakin membuat pasak nya mendesak hendak melesak keluar.


Keinginan dari gelora lelakinya telah mendorongnya untuk melepaskan kain segitiga bermuda itu. Andra tinggal menarik simpul tali pada pinggul kanan dan kiri Najwa.


Kini, nyata sudah sesuatu yang indah tercetak di hadapannya. Najwa spontan menutupi area pribadinya, yang tengah di tatap lamat-lamat oleh imam dunia akhirat nya itu.


"Masya Allah," Andra menatap tubuh tanpa sehelai kain itu dari atas hingga bawah. Mensyukuri nikmat Tuhan atas rejeki yang di limpahkan untuknya.


"Buka sayang, tak perlu malu." Andra menepis pelan tangan mungil Najwa. Mendekatkan wajahnya, mengelus rambut-rambut halus itu. Menghirup aromanya yang khas, kemudian memberi beberapa ciuman hingga gigitan kecil di sana.


Hingga sang pemilik mahkota mengerang penuh nikmat karena ia telah mencapai pada titik geloranya.


Andra terus merayap di tubuh yang lemas itu, tak ingin menghujam nya langsung. Dibiarkannya sang istri istirahat sebentar. Meskipun gairahnya sudah ada di ujung tanduk.


"Lakukanlah, ya Zaujii..., sayangku." Najwa memberanikan diri mengecup bibir sensual pria di atas tubuhnya ini.


Andra pun membalas serangan Najwa penuh gairah, jemarinya perlahan turun menyusuri perut rata itu, melewati pusar hingga ke lembah. Menjelajahi hutan rimba yang belum terjamah siapapun. Mengobrak-abrik isi di dalamnya.


Pekikan, raungan serta desah nikmat dari keduanya, mengalun indah hingga memenuhi ruang kamar yang kedap suara itu.


Andra telah melepas penutup pada area pribadinya, hingga sebuah tongkat sakti panjang dan keras, berdiri dengan gagahnya.


Najwa yang sempat melihat, menahan napasnya seketika. Andra yang melihat kekhawatiran itu, kembali melabuhkan kecupan demi kecupan yang akan kembali membuai istri kecilnya itu.


"Tahan ya sayang."

__ADS_1


Andra kembali membungkam bibir Najwa ketika ia hendak memekik. Lantaran merasa sensasi perih di bawah sana. Ketika selaput mahkotanya di robek oleh kepala serdadu yang perkasa.


Butiran kristal bening telah menggenang di ujung matanya indahnya. Sekuat tenaga ia menahan sakit pada intinya, mencoba menikmati dan menerima hentakan demi hentakan yang membuat perih dan ngilu secara bersamaan.


(Kenapa di buku tidak di jelaskan? Kalau rasanya akan seperti ini? Mommy! Umma!)


(Najwa harus kuat, ini baru di masukkan kepala serdadu kecil, bagaimana nanti kalau harus mengeluarkan kepala Andra junior?)


" Uhhmmm...!"


"Sayaaaaangg...!"


Mereka berdua sampai pada ujung kenikmatan secara bersamaan.


"Alhamdulillah...," lirih Najwa. Ketika Andra telah memisahkan diri dari tubuhnya.


(Tulangku, rasanya seperti remuk saja.)


"Terima kasih, sayang."


"Anna uhibbuki fillah...,"


Muahh.


Setelah mengecup, menutupi tubuh Najwa dengan selimut.


Andra tersenyum ketika di lihat kedua mata itu telah terpejam.


(Maaf, telah membuat mu kesakitan dan lelah)


(Semoga, engkau menjadi istri yang sholihah dan menjadi salah satu wanita penghuni surga nya Allah.)


Andra turun dari peraduan mereka, membersihkan diri dari sisa percintaan mereka.


Meski waktu tengah malam, Andra tetap mandi wajib. Karena ia tak bisa tidur dengan tubuh yang lengket.


Membersihkan bagian inti Najwa, dengan waslap dan air hangat. Mengompresnya sebentar karena agak bengkak akibat ulahnya yang tidak bisa mengontrol diri.


(Aduh, kasian istri ku. Maaf ya sayang...,).


(Darahnya, banyak juga. Aku janji akan menahan diri sebelum kamu pulih.)


Andra kembali menutup tubuh itu, ikut berbaring di sebelahnya. Menarik tubuh hangat itu kedalam pelukannya.


(Enaknya punya istri, jadi punya guling hidup)


******


Najwa terbangun, di lihatnya benda bulat yang menempel pada dinding kamar. Waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi.


"Sudah lewat subuh, harus segera mandi."


"Allah..., aw ..., aw ...," desis nya pelan, mencoba turun perlahan dari pembaringan. Kemudian, tiba-tiba tubuhnya melayang.


"Akhh!"


"Astagfirullah! Kakak!" pekik Najwa kaget. Ketika sepasang tangan kekar telah mengangkatnya dan menggendongnya ala bridal style.


"Jadi, itu panggilan untukku?"


" Emm, boleh juga. Daripada om-om kan?" tanya Andra membuat Najwa menyusupkan kepala pada dada bidangnya.


"Yuk, Kakak bantu kamu mandi."


"Ehh!"


"A-apa!"


Mereka sudah sampai di kamar mandi.


"Eng-enggak usah! Najwa bisa mandi sendiri kok," tolaknya, karena ia masih malu bila tubuhnya di lihat kembali. Apalagi banyak tompel merah di sana.


" Kenapa, kamu lupa ya? Kisah Rosulullah yang mandi junub satu bejana dengan Sayyidatina Aisyah R.A.?" tanya Andra membuat Najwa kikuk.


"Ingat sih, hanya...,"


"Tuh, udah siap airnya. Berendam gih biar tubuh kamu rileks." titah Andra yang telah menyiapkan air hangat di bathup.


"Masih bengkak gak?"


"Sini, Kakak liat!" Menyingkap bathrobe.


"Kyaaa...!" Najwa menepis tangan Andra.


"Maaf, Kak. Tapi aku malu...," gumam Najwa kecil.


"Kan Kakak udah liat. Udah ngerasain juga," goda Andra, tersenyum jahil.

__ADS_1


Suka melihat pipi kemerahan Najwa semakin merona.


"Kakak!" pekik Najwa lagi. Kali ini ia juga merapatkan kedua kakinya.


"Aku cuma lihat aja. Masih bengkak apa enggal? Soalnya semalam udah Kakak kompres sih, tapi sebentar soalnya keburu ngantuk," jelas Andra.


Najwa yang kini mengerti maksud dari suaminya itu, mulai membuka kakinya. Posisi Najwa kini duduk di pinggir bathup.


Andra menelan ludahnya susah, jakunnya turun naik. Seketika gairahnya kembali datang tatkala pemandangan indah itu, tertangkap oleh matanya.


Serdadu nya kembali tegak berdiri, hingga membuat sesak celana boxer nya.


Najwa memalingkan wajahnya, ketika Andra berdiri. Menampakkan tonjolan besar di tengah celananya.


(Makanya aku gak mau gitu, pasti Kakak kepengen lagi. Sementara inti ku masih perih.) batin Najwa.


(Hadeww..., gimana ini? Serdadu kecil mau menyerang negara api lagi. Sedangkan istriku saja masih..., ahh.


"Kak kita bisa kesiangan solat Subuh nya. Najwa mandi sendiri aja ya,"


Andra pun mengangguk dan tersenyum, ia harus bisa menahannya. Lalu Najwa mandi di dalam bathup dan Andra di shower. Keduanya kembali menahan pandangan mereka.


Solat Subuh selesai.


Seperti biasa, Najwa akan muroja'ah.sebentar. sekitar setengah sampai satu jam.


Andra hanya menyimak di atas kasur king size,.dimana bentuknya tak lagi rapi dan kelopak bunganya telah sebagian berhamburan di lantai.


Karena tak tahan mengingat bentuk tubuh Najwa yang membakar gairahnya. Pagi ini, mereka mengulang kisah indah malam pertama.


Najwa yang merasa sudah lebih baik, tak sampai hati menolak keinginan suaminya. Meski rasa takut itu masih ada, ia mencoba menjalani kewajibannya dengan santai.


Karena yang membuat sangat sakit itu ketika kita terlalu tegang.


*******


Lima tahun berlalu.


Seorang wanita muda berpakaian tertutup panjang dengan khimar yang membungkus rapat kepalanya. Teihat tengah mendorong kereta bayi di area taman hijau.


Musim gugur baru saja menyentuh tanah negeri nya para ninja ini.


"Sayang!" panggil seorang pria yang tengah menggendong salah satu putra mereka.


"Es krim?"


"Kalian ini, tidak pernah mendengar apa kata Ima." Najwa membelalakkan kedua mata indahnya. Ketika melihat wajah putra yang penuh noda sisa es krim coklat.


Bocah berusia dua tahun itu hanya tertawa melihat ekspresi Ima nya.


"Yurushite!" ( Maafkan kami ) Ayah dan anak itu menundukkan kepala.


"Imaaaa! Huuwaaa.....!" tangis bocah laki-laki di dalam kereta bayi.


"Sayang...,"


"Sebentar ya, sini berikan Baby El padaku biar ku bersihkan. Lalu, Kakak ajak Baby Al main ya, ingat jangan di beri es krim!" titah Najwa pada Andra.


Ternyata usia semakin dewasa tak menjanjikan bahwa perilaku pun serupa. Buktinya, Andra di usinya yang lebih dari 43 tahun tetap saja tidak ada dewasanya di hadapan kedua anak dan istrinya itu.


"Siap sayang!"


"Watashi no utsukushī!" ( Cantikku! )


以上。


Ijo (Tamat dalam bahasa Jepang )


...End...


...Andra sama Najwa udah bahagia gaes....


...Jadi mak tamatin season satunya sampe sini ya....


...Karena, mak mau fokus sama novel event....


...Mengubah Takdir....


...Mak harap kalian terus mendukung dan ikutin setiap kisah yang mak coret kan disini....


...Mohon maaf bila ada salah-salah kata ya.🙏🤗....


...Terima kasih atas dukungan kalian, cinta kalian, dan doa kalian.🥰...


...Semua sangat berarti bagi mak chibi yang gemoy ini....


Karena, aku tanpa kalian. Bagai sayur asem tanpa kuah. Seret!😇

__ADS_1


...See you di novel selanjutnya ya!!🥰...


__ADS_2