
...Akhirnya bisa up juga, huhu......
...Maaf, kenyataan di dunia nyata membuat dunia literasi kemungkinan sedikit terganggu....
...Terima kasih atas kesetiaan kalian semua....
^^^Dukungan kalian menyemangati mak sangat.^^^
...๐...
...Saksikan terus perjalanan Najwa ya......
...Happy reading tayang mak semua๐...
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Ameera dan Hideo, segera meninggalkan meja mereka.Setelah memanggil pelayan dan membayar, mereka segera beranjak dari cafe tersebut.
Tak peduli dengan makanan yang baru di cicipi sedikit itu. Karena, mereka tak ingin lagi kehilangan jejak gadis kecil bermata hijau, Najwa.
Sementara itu, Kartika dan Najwa masuk ke toko buka semakin dalam. Menjelajahi setiap koridor, dengan beberapa rak buku susun setinggi kepala mereka.
Ramai nya pengunjung membuat dua pasang mata itu sibuk mencari. Namun, karena pakaian Kartika dan Najwa yang berbeda dengan kebanyakan pengunjung di sana, membuat kehadiran mereka mencolok.
Ujung gamis dan khimar Ameera bergelombang seiring langkahnya yang cepat. Dadanya semakin berdebar ketika jarak nya dengan Najwa semakin dekat.
Najwa masih terus berjalan, berbelok ke koridor lainnya. Bagai berada di sebuah labirin, Ameera dan Hideo tak kunjung sampai pada target mereka.
Ingin rasanya mereka meneriakkan nama gadis itu agar ia berhenti berjalan.
Namun, itu tidak mungkin bukan?
Hingga, akhirnya mereka kehilangan jejak nya lagi.
Ameera memijat pelipisnya, kepala nya mendadak pusing. Adrenalin nya berpacu kuat, sementara perutnya baru terisi sedikit.
Hideo menghampiri, istrinya itu.
"Sebaiknya, kita tunggu di pintu keluar saja,"
"Wajah mu sudah pucat sayang," ucap Hideo seraya mengusap pipi yang dingin itu.
Ameera akhirnya menurut, ia sempat menoleh ke belakang sebentar.
Ternyata di rak sebelah mereka, tampak Najwa tengah serius mencari buku biografi yang di inginkan nya sejak lama. Sedangkan Kartika ikut membantunya, mencari di rak yang berhadapan dengan mereka.
Ameera dan Hideo benar-benar, menunggu di pintu keluar. Sambil menelisik ke setiap sudut dari toko besar tersebut.
1jam lebih, namun target mereka tak kunjung keluar.
"Sedang apa mereka? Bahkan, aku menahan diri untuk tidak ke toilet sekarang," bisik Ameera pada pria di sebelahnya. Yang berdiri tegak dengan wajah kaku, macam security saja.
"Sabar sayang," gemas Hideo.
"Lihat itu mereka!" pekik Ameera tertahan, karena ia tak bersuara hanya gerak bibirnya saja dan matanya yang membola tentunya.
Lantas ia menarik lengan Hideo, namun pria itu mencekal tangannya.
"Kenapa?" tanya Ameera masih dengan gerakan bibir. Karena posisi target nya makin dekat.
"Kita buat secara elegan sayang, jangan sampai nampak kalau kita mengikuti mereka," bisik Hideo di samping kepala Ameera. Yang, kemudian di tanggapi dengan anggukan dan senyuman olehnya.
__ADS_1
Hideo menarik istrinya itu ke salah satu rak buku, dan mengambil asal beberapa buku tanpa melihat judulnya.
"Ayo, kita ke kasir sekarang," ajaknya kemudian, dan Ameera hanya menurut saja Hideo menuntunnya kesana-kemari.
Jantung kedua berdetak kencang, bahkan Ameera sampai memegangi dadanya.
Kini mereka telah berada di belakang gadis kecil itu, meski terhalang seorang pemuda. Bahkan, mereka berdua dapat mendengar ocehan Najwa yang menggemaskan pada wanita paruh baya di sebelahnya.
Ingin rasanya Ameera menyelak antrian pemuda di depan mereka. Tapi perilaku seperti itu hanya dapat terjadi di negara nya. Sedangkan negara ini, sungguh menjunjung tinggi kedisiplinan dan norma masyarakat, terutama di tempat umum.
Bertepatan dengan Kartika yang telah selesai membayar buku di kasir. Najwa menoleh karena mendengar seseorang menyebut namanya.
Mata besarnya memicing, melihat seorang wanita berpakaian seperti umma Kartika tersenyum ke arahnya.
Ameera segera menghampiri Najwa yang sedang menenteng buku-bukunya. Sedangkan Hideo telah berada di depan kasir.
"Assalamu'alaikum," sapa Ameera dengan senyum merekah.
"Wa'alaikum salam," jawab Najwa sopan.
Kartika segera menghampiri keduanya, kemudian merangkul gadis kecil yang tingginya sudah sampai sebahunya itu.
Ia tersenyum pada kedua orang asing, yang terlihat sangat tertarik dengan anak asuhnya itu.
(Siapa mereka?)
"Maaf, kamu benar Najwa yang menang lomba Qori di CICC kan?" tanya Ameera to the point.
"Iya, benar. Ini putri saya," jawab Kartika seraya mengeratkan rangkulan pada gadis kecilnya.
"Masya allah,"
"Alhamdulillah, terima kasih," balas Kartika.
"Ah, ini dia suami saya," ucap Ameera ketika Hideo telah sampai pada mereka.
"Oh, perkenalkan saya Ameera dan ini Hideo suami saya. Ehm, dia memang terlahir di sini sedangkan saya berasal dari Indonesia," jelas Ameera memperkenalkan diri sekalian mengulik asal negara Najwa.
Ia mengulurkan tangan dan Kartika menyambutnya, begitu pun Najwa. Gadis jelita itu langsung mencium tangan Ameera.
Ada haru dan bahagia yang tiba-tiba menyeruak dalam sudut hatinya.
Sedangkan Hideo hanya menangkupkan kedua tangannya, ia faham bahwa tak baik bersentuhan bila bukan dengan mahrom nya. Bahkan, tertulis dalam firman Tuhannya bahwa, tertusuk besi panas lebih baik untukmu ketimbang bersentuhan dengan yang bukan halal untuk mu.
Kurang lebih begitulah, seingatnya.
Sedikit yang baru ia tau, namun ia langsung mengamalkannya.
Pertama kali mendengar ayat itu, hati nya bergetar dan pikirannya menerawang pada saat masa lalunya.
Di mana kala itu, ia bukan hanya sekedar bersentuhan dengan yang haram, bahkan lebih dari itu. Terjebak dalam kehidupan bebas, hingga label pengusaha arrogan dan cassanova tersemat padanya. Semoga Allah mengampuni semua dosanya di masa lalu.
Kartika dan Najwa pun melakukan hal yang sama dengan nya.
Seketika, Kartika faham. Sepertinya gadis kecil sudah baligh sekarang.
(Kenapa kau tidak mengatakannya pada umma, sayang?) batin Kartika seraya mengelus kepala yang terbalut khimar berwarna senada dengan mata Najwa.
"Saya, Kartika dan dia, kalian sudah kenal kan? Kami berasal dari Indonesia," ucap Kartika memperkenalkan diri dengan gaya bicaranya yang lembut.
Hati Ameera tersentak, ternyata mereka berasal dari negara yang sama dengannya.
__ADS_1
Hideo tau wanita di sisinya sedang gemetar, maka ia mengambil alih obrolan.
"Apakah, kalian ada waktu? Kita bisa mengobrol lebih leluasa. Karena kami sangat senang, menemukan saudara seiman di sini," tutur Hideo, ia berharap tawarannya di terima.
"Bagaimana sayang?" tanya Kartika pada Najwa.
Gadis yang lebih banyak menunduk itu, lantas menoleh ke arah sang umma. Menjawab dengan anggukan dan seulas senyum manisnya.
Ameera hampir saja tak bisa menahan perasaannya, ia hampir saja terlonjak karena kegirangan. Tapi, ia mampu menyembunyikannya dengan menampilkan senyum yang tak kalah manisnya dari Najwa. Hingga lesung di kedua pipinya tercetak jelas.
"Kita, ke cafe di depan toko ini saja," ajak Hideo.
Akhirnya, Allah mempertemukan mereka pada gadis kecil jelita yang membuat mereka penasaran setengah mati.
Kini mereka sedang menikmati minuman hangat, dan duduk berhadapan.
Najwa meminum coklat panas kesukaannya, sedang ketiga orang dewasa itu meminum susu jahe. Minuman yang cocok sekali di cuaca yang dingin.
Hideo, sesekali mencuri pandang pada gadis di hadapannya. Di mana ia sedang menyuapkan satu persatu takoyaki isi gurita, ke dalam mulut mungilnya.
"Mungkin, putri kami saat ini. Sudah sebesar dan secantik dirimu," ucap Hideo tiba-tiba setelah beberapa saat hening, karena mereka sedang menikmati makan.
Bersambung>>>>>
Mampir juga di cerita mak chibi yang satu lagi ya..
Mak kasi cuplikan dikit deh.
Biar nunggu MCI nya gak galau bangett๐
Rojali pun menggamit tangan Ayah dan menciumnya takzim.
Hal yang sama juga ia lakukan kepada wanita anggun yang telah melahirkan gadis luar biasa. Yang saat ini bertahta sebagai ratu di singgasana hatinya.
"Duduk deh, hehehe. Kite lesehan aje ye,"
"Soalnye Ayah, belon mampu beli bangku nyang empuk,"
"Cuma bise ngegelar karpet aje nih buat nyambut kedatengan Nak Rojali,"
kelakar ayah membuka obrolan hangat di malam yang dingin ini.
Ummi dan Fatimah hanya tersenyum simpul menanggapi kelakar ayah.
"Masya allah,Yah. Ini udah lebih dari cukup,"
"Lagian saya mah kagak usah di sambut juga, enggak nape-nape,"
"Asal, jangan di sambit aje,"
ucap Rojali mengimbangi kelakar ayah dengan bercandaannya.
Kemudian mereka pun menertawakannya, dan Rojali pun ikut tertawa bersama keluarga yang penuh cinta dan selalu ceria ini.
"Oh iye, si kembar upin_ipin mane?"
tanyanya kepada dua orang tua paruh baya di hadapannya.
Sambil menengok ke dalam mencari sepasang teman gokilnya.
__ADS_1