Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Bolehkah aku serakah?(Najwa)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


...Selamat menikmati.......


...Happy reading......


...Selalu dukung yaaa......


...Jangan lupa vote senin nya(ngarep.com)...


...Terimakasih banyakkk...πŸ’πŸ’žπŸ’ž...


POV NAJWA


*****


Ternyata mommy Ameera hamil, ah...mommy.


Panggilan yang cukup asing bagiku, namun terasa hangat ketika aku mengucapkannya.


Dan daddy, sosok yang juga asing untukku. Semua hal ini baru, namun ini adalah berkah dan kuasaNYA. Akhirnya, doa dan pinta ku di setiap sujud telah terwujud.


Aku kangen umma, aku rindu uncle, padahal belum genap sehari aku di sini. Aku ingin berbagi kebahagiaan yang aku rasakan saat ini. Bagaimana perhatiaan nya seorang Daddy Hideo, betapa hangat pelukannya.


Ternyata, mommy dan daddy amat tersiksa ketika terpaksa harus kehilangan diriku. Hampir menyerah dan putus asa karena tak menemukan jejak ku.


Hingga, pada akhirnya perusahaan daddy tumbang karena fokus daddy terbagi antara aku dan mommy yang terbaring sakit kala itu. Harta daddy yang terkuras karena upayanya mencari ku bertahun-tahun, serta pengobatan demi kesembuhan mommy Ameera.


Daddy tidak menyesali itu semua, bagi nya harta itu tidak seberapa. Daddy tidak takut miskin, yang ia takutkan saat itu adalah kehilangan mommy setelah kehilangan diri ku yang belum genap berusia satu bulan.


Daddy bilang, kami adalah hartanya yang paling berharga. Mommy Ameera adalah petunjuk bagi nya, pembuka pintu menuju jalan kembali pada Allah.


Daddy juga mengatakan sangat menyesal, telah begitu mempercayai sahabat sekaligus partner bisnis nya dan tidak mencurigai gelagat liciknya.


Mommy bilang, semua sudah kehendak dan takdir dari Allah, kita harus ikhlas dan mengambil hikmah dari kejadian ini.


Mommy bijak sekali, persis seperti umma Kartika. Umma Kartika juga lembut dan pemaaf, tak pernah sekalipun memarahi ku bahkan berteriak kasar. Hanya dengan uncle Andra saja, umma bisa berubah menjadi galak dan judes. Aku pun tertawa mengingat itu semua.


Bagaimana, uncle yang cool itu, mendadak jadi sosok yang manja dan imut ketika bersama mommy. Berbeda sekali dengan uncle Mau yang dewasa dan perkasa. Sampai-sampai aku memanggilnya sebagai uncle raksasa.


Umma Kartika sosok wanita hebat yang menjadi panutan dan idola ku sejak kecil. Umma wanita yang tangguh dan pantang menyerah.


Entahlah, bagaimana nasibku jika seandainya umma tidak sekuat itu.

__ADS_1


Umma, selamanya dirimu tak akan tergantikan. Kau juga surga ku, tempat ku berbakti meraih ridho nya Allah. Najwa berjanji, akan menemani mu di masa tua nanti. Karena, Najwa juga anak mu kan?


Ketika uncle ganteng menjadi imam ku nanti. Ya Allah, pantaskah aku berpikir sejauh itu, di usiaku yang masih segini?


Bolehkan, aku bermimpi?


Dan, bersama uncle selamanya adalah mimpi ku. Memiliki nya adalah cita-cita ku.


Aku akan memantaskan diri ku, agar serasi kala bersanding dengannya nanti. Ah, aku menghela nafas sekali lagi. Menggelengkan kepala ku demi mengusir keinginan dan pikiran dewasa ku.


Aku tidak mengerti dengan yang ku rasakan ini, hanya saja belakangan ini aku selalu berpikir, bagaimana jika uncle, menemukan wanita sholihah dan menikahinya.


Aku menggeleng cepat kali ini, hati kecilku mengatakan. Uncle adalah milikku, selamanya milikku. Aku takkan rela berbagi senyum nya dengan orang lain.


Separuh hati ku ingin pulang ke rumah umma, tapi aku juga ingin menemani mommy dan calon adikku di dalam perutnya. Senyumku merekah membayangkan, bahwa sebentar lagi aku akan menjadi kakak. Aku akan punya adik bayi yang kecil dan menggemaskan. Lalu, senyumku kembali memudar, bila ingat kata-kata daddy Hideo tadi.


Meski pun, daddy tidak akan memaksa ku ikut bersama mereka. Namun, aku tau kewajiban ku sebagai seorang anak, yang harus berbakti pada kedua orang tuanya.


Ya Allah, aku bingung...


Aku ingin bersama kedua nya, bersama keluarga ku dan juga umma.


Boleh ya, aku serakah?


Uncle, katakan Najwa harus gimana?


Sentuhan lembut di bahu, membuat ku tersadar dari perang pikiran dan batin ini. Aku menoleh, dan tampak senyum yang melelehkan hati ku di pagi buta.


"Najwa, abis solat subuh kok bengong? Emang lagi liatin apa?" tanya nya begitu lembut terdengar di telinga ku. Sentuhan jemarinya di pipi ku begitu hangat, mengalirkan perasaan damai di hati ku.


Sentuhan umma juga hangat dan menentramkan, membuat ku tenang dan nyaman.


Aku menggeleng kecil sambil tersenyum, menjawab pertanyaan dari wanita cantik yang sudah begitu wangi. Aku ingin memeluknya, merasakan hangat dekapannya. Mencium aroma tubuhnya, tapi aku masih malu kalau mau memeluknya lebih dulu.


"Najwa, kangen sama umma ya?" tanya wanita yang telah mengandung dan melahirkan ku ke dunia, serta rela mengorbankan nyawa nya demi keselamatan ku.


Adil kah bagi nya, jika saat ini aku mengatakan bahwa aku merindukan wanita lain? Wanita yang juga telah memperjuangkan ku dengan darah dan nyawanya.


Ingin hati ku menggeleng demi menjaga perasaannya, akan tetapi tubuh ku tak mau di ajak kerja sama. Kepala ku malah mengangguk dengan cepat.


Aneh nya, mommy Ameera malah terkekeh. Kemudian ia mengusap kepala ku, dan mengecup kening ku.


"Setelah sarapan, daddy akan mengantar mu pulang."

__ADS_1


"Kita mampir dulu nanti ke swalayan untuk membelikan umma dan uncle mu oleh-oleh." "Bagaimana? Najwa senang?" tutur mommy sambil terus mengelus pipi kemerahan ku.


Aku menunduk, malu untuk mengiyakan.


Merasa tidak enak hati, pasalnya baru saja semalam disini aku sudah ingat pulang.


Mommy terkekeh lagi, memangnya apa sih yang lucu. Aku bahkan sekarang menatap nya bingung dan mengedipkan mata besar indah ku beberapa kali.


Ternyata, kelakuan ku malah semakin membuat mommy gemas dan geli. Ia tergelak sampai memegangi perutnya.


Hentikan mommy, bagaimana kalau adikku kaget?


Pasti dia sedang tidur sekarang. Aku hanya bisa meringis di dalam hati.


"Kamu tuh, beneran lucu dan ngegemesin bangett," puji mommy sambil tangannya memencet pipi ku.


"Gimana, kalau sekarang Najwa ikut Mommy ke dapur?"


"Bantuin bikin sarapan, mau?" tanya masih dengan senyum di wajah cantik nya.


Aku pun mengangguk dan segera melepas mukena dan melipat nya rapi. Aku hanya memakai piyama tidur lengan panjang. Aku membiarkan rambutku terbuka sama seperti mommy Ameera. Karena di rumah ini hanya ada kami bertiga.


Setelah tau bahwa om Hideo adalah daddy ku, maka aku berusaha tak canggung. Mommy Ameera sekilas melirik kalung ku. Semalam, ia juga menunjukkan foto nya ketika memakai kalung yang menggantung di leher ku ini.


Ternyata, benda indah di leher ku ini harganya selangit. Aku berniat mengembalikannya, namun daddy dan mommy menolaknya. Katanya, ini adalah milikku sejak malam itu.


Aku berpikir, berapa puluh anak yatim dan dhuafa yang bisa aku sekolahkan bila kalung ini di jual. Karena nya, aku menerima pemberian ini dengan senang hati.


Bukan aku tidak menghargai kenangan di dalam kalung ini. Hanya saja, aku tidak ingin karena mempertahankannya justru akan memberatkan hisab ku di akhirat nanti.


Karena harta yang kita miliki, dapat menjadi tameng dari jilatan api neraka. Atau justru sebaliknya, malah akan jadi bahan bakar untuk menggodok kita di neraka. Naudzu billah!


Karena di setiap harta yang Allah titipkan, ada hak orang lain di sana. Jangan pernah berkata, semua harta mu karena berkat kerja keras mu. Jangan lah sampai harta membutakan hati dan nurani mu. Hingga membuat mu takabbur dan sombong. Seakan tidak ada kuasa Allah di sana, padahal sejatinya Allah tidak bersamamu dan membantu mu. Sungguh kau tidak akan meraih kesuksesan dan kemuliaan.


Di balik harta mu, ada tugas mulia untukmu.


Di balik harta mu terdapat ujian terberat dari Allah untuk mu.


Karena, manusia yang paling lama hisabnya. Adalah manusia dengan banyak hartanya.


Jangan sampai harta mu, membuat mu tertunda dan paling akhir menuju gerbang surga. Atau malah harta mu yang membuat mu gagal mencicipi keabadian surgawi.


Bersambung>>>>>

__ADS_1


__ADS_2