Mengasuh Calon Istri

Mengasuh Calon Istri
Anugerah terindah(Jelmaan bidadari)


__ADS_3

🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Iya sayang, kamu mau kan manggilnya jangan tante sama om lagi. Tapi panggilnya seperti itu," pinta Ameera penuh harap.


"Tapi...,"


"Beri Najwa waktu sampai besok pagi," jelasnya.


"Kenapa sayang?" Ameera tak mengerti maksud gadis jelita di hadapannya ini.


"Najwa hanya butuh waktu, untuk meyakinkan hati ini. Jika om dan Tante adalah..., orang tua kandung ku,"


"Najwa mohon, mengertilah. Hati ini hanya perlu membiasakan diri,"


(Sekarang, aku faham kenapa umma membiarkan ku menginap,)


(Aku sangat bahagia telah menemukan mereka. Namun, aku sekaligus sedih bila harus jauh dari umma dan uncle ku.)


(Bagaimana ini, bisakah aku memiliki semuanya ?)


"Baiklah,"


" Kamu begitu dewasa dan bijak,"


"Kartika, sangat luar biasa mendidik mu hingga seperti ini," Ameera tak kuasa menahan rasa, ia merengkuh Najwa ke dalam pelukannya. Mendekap nya erat, menumpahkan semua syukurnya.


"Mommy siap menunggu lagi. Yang terpenting Najwa sekarang ada di sini," bisik nya di samping kepala gadis yang direngkuhnya.


Hideo yang menyaksikan tak jauh dari mereka, terlihat memijat pangkal hidungnya. Namun, tetap saja air mata itu deras membasahi pipi hingga rahang berbulu nya.


Akhirnya, masa ini Allah hadirkan juga di tengah keluarganya. Meski, Najwa belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini. Hideo, faham gadis kecil itu butuh waktu untuk mencerna semuanya.


Jika saja gadis itu bukanlah Najwa, yang telah dididik dengan agama sedari kecil. Mungkin, akan marah bahkan menolak mereka mentah-mentah.


Sekali lagi ia bersyukur, Allah telah menitipkan putri nya pada hamba yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Manusia tulus dan penuh kasih sayang. Hingga, putri nya tumbuh menjadi sosok yang luar biasa.


" Boleh ikutan meluk gak?" tanya Hideo yang tiba-tiba ada di belakang Najwa.


Gadis jelita itu menoleh setelah Ameera melerai pelukan mereka.


Ia pun tersenyum dan mengangguk, kemudian merengkuh tubuh tinggi tegap itu. Hideo pun menyambutnya, tinggi Najwa yang hampir setinggi Ameera, dengan mudah di kecup nya pucuk kepala berkhimar itu.


Mendekap erat sang putri, yang kehilangannya hampir membuat jiwa nya gila. Kini, sang putri telah berada dekat di dalam pelukannya. Putri kecil yang sudah bermetamorfosa layak nya seorang peri, begitu cantik dan baik hati.


Berkali-kali ia mengucap syukur di dalam hatinya, belum cukup rasanya. Karena, Allah begitu sempurna dalam menghadirkan kebahagiaan untuk keluarganya.


Ameera yang tengah bergabung dengan keduanya, tiba-tiba merasa sakit di bawah perutnya.


"Asshh...," desis nya.


"Sayang," panggil Hideo segera melepas pelukannya terhadap Najwa.


"Tan-te..., kenapa?" gusar Najwa melihat Ameera yang pucat menahan sakit.


"Kita bawa Mommy mu ini ke kamar ya," ajak Hideo pada putri nya.

__ADS_1


Najwa pun membantu memapah Ameera, karena letak paviliun ini terpisah dari mansion utama, maka di rumah ini hanya ada mereka tanpa pelayan atau asisten rumah tangga.


Di negara ini jarang sekali keluarga yang memiliki asisten rumah tangga atau maid(pembantu).


Karena mereka mempunyai idealisme untuk mandiri(melakukan semua sendiri).


Kecuali di mansion utama, ada beberapa maid yang bekerja di sana. Terutama, perawat yang mengurus kakek Matsumata.


Di paviliun ini tersedia berbagai macam alat elektronik yang memudah kan pekerjaan rumah tangga. Seperti mesin pencuci piring, mesin cuci dan melipat baju.


Robot yang bisa menyapu dan mengepel lantai.


Setelah mengantar sang istri ke kamar, Hideo pamit untuk membuatkan teh.


"Tan-te, baik-baik sajakah?"


"Kenapa, pucat sekali? Apa ada yang sakit?" cecar Najwa khawatir.


Ameera hanya tersenyum, hati nya menghangat mendapat perhatian kecil dari putrinya itu.


Hideo pun datang dengan membawa teh hijau serta roti lapis.


Najwa segera meraih cangkir yang di bawa Hideo dan menyerahkannya pada Ameera.


"Minum dulu mumpung hangat, sini biar Najwa bantu," tawarnya, menyuguhkan minuman itu ke bibir Ameera.


"Pelan-pelan saja, apa masih sakit?" tanya nya lagi.


Ameera menggeleng, dan menepuk pinggir ranjang agar Najwa ikut duduk di sisinya.


(Ah, ternyata begini rasanya mempunyai putri,) batinnya, sambil memandang Najwa dalam.


"Aku akan panggilkan dokter untuk mu, karena ini sudah kedua kalinya perutmu keram," ucap Hideo.


"Daddy, tinggal dulu ya. Jaga Mommy mu ya sayang." Hideo berlalu setelah mengecup kening kedua nya.


Setelah dokter wanita yang di panggil Hideo memeriksa Ameera.


Ia, meminta bicara empat mata dengan Hideo di depan.


"Sanka-i ni, renraku shita hō ga i," (Sebaiknya, anda menghubungi dokter kandungan,) jelas sang dokter wanita.


"Tsuma wa, ninshin shite imasu ka?'( Apakah, istri ku hamil?) tanya Hideo kaget.


"Kensa, myakuhaku, ketsuatsu kara, kanōsei," (Dari pemeriksaan, denyut nadi dan tekanan darah, ada kemungkinan Tuan,) tambah dokter wanita itu.


"Wakatta," ( Baiklah)


"Arigatōgozaimasu!" (Terima kasih) ucap Hideo, kemudian mengantar sang dokter hingga ke depan paviliun.


Sementara itu di kamar.


"Maaf, ya sayang. Mommy malah merepotkan mu," sesal Ameera.


Najwa menanggapi ucapan Ameera dengan senyum, lalu ia berkata.

__ADS_1


"Tidak apa, Tante...,"


"Syafakillah,"(Semoga Allah menyembuhkan)


" Laa ba-sa  thahuurun, Insyaaallah," (Semoga sakit mu ini membersihkan mu dari dosa-dosa, atas izin Allah)


"Aamiin, terima kasih Najwa cantik," puji Ameera.


Wajah pucat nya kembali merona saat ini, karena perlakuan hangat dari gadis jelitanya.


Hideo memasukkan kembali ponselnya, sesaat setelah ia memasuki kamar.


Matanya seketika menangkap pemandangan langka. Sebuah interaksi yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.


Di mana di atas peraduannya, nampak sang putri tengah tertawa sambil menyuapi Ameera potongan demi potongan roti lapis.


Desiran hangat itu kembali menyapa hati nya, menyentuh dalam relung kalbu nya.


"Masya allah, boleh ganggu sebentar ya," seru Hideo, kedua wanita di hadapannya menoleh bersamaan.


"Ada apa, Dad?" tanya Ameera, membiasakan panggilan tersebut bila sedang bersama putri mereka.


Hideo, berjongkok di hadapan kedua anak dan istrinya. Menatap sebentar ke arah Najwa kemudian beralih menatap dalam kedua mata Ameera.


"A-apa kata dokter? Aku sakit apa?"


"Lalu, kenapa wajah Daddy terlihat senang?" tanya Ameera bingung dengan sikap dan senyum di wajah suaminya itu.


"Nanti sore, kita periksa ke dokter kandungan ya,"


"Aku sudah buat janji, sehabis asar kita berangkat," jawab Hideo, membuat kerutan tiba-tiba muncul di kening mulus Ameera.


"Untuk apa aku ke dokter kandungan, aku kan tidak...,"


"Tu-tunggu dulu!" Ameera mendadak turun dari pembaringannya, membuat Najwa dan Hideo terlonjak.


Tampak Ameera membuka tas nya, dan melihat pada sebuah kalender kecil, yang terdapat beberapa coretan di sana.


"Dua bulan..., aku telat dua bulan!"


Ameera menoleh ke arah Hideo, wajah nya penuh harap dan suka cita. Semoga, prediksi ini benar adanya.


"Kita akan memastikannya, sekarang sebaiknya kita makan siang,"


"Kasian putri kita, dia pasti lapar," ucap Hideo, merangkul pinggang berisi sang istri, kemudian menuntun tangan mungil Najwa.


Betapa bahagia dirinya, akhirnya mereka dapat makan bersama semeja makan.


Duduk di tengah, di apit dua wanita cantik jelmaan bidadari surga, bagi nya ini sudah anugerah yang melebihi apapun juga.


Dan, semoga saja. Allah benar-benar telah menitipkan lagi amanahnya di rahim Ameera.


...Makasi yang udah baca sampe sini......


...Terus dukung yaa......

__ADS_1


...Dengan jempol kalian......


Bersambung>>>>


__ADS_2